Rabu, 08 Januari 2020

Bersedihlah Secukupnya


“ Entah yang kau ucap apa, mungkin tak dibarengi dengan akal sehat. Biarlah yang kau lepas dia,  hingga tersadarlah Tuhan memberikan jawaban, bahwa kau bukan yang tepat.” 
***
Mukanya pucat. Pipinya sembab. Bukan karena menangis semalam, tapi karena tak enak badan. Batinnya, mengapa harus menangis? Apa yang harus ditangisi? Dia tidak pergi. Bahkan tak pernah ada disini. Kuatnya, dia sudah biasa begini. Bedanya, tak seantusias seperti sebelumnya. Bangun pagi tak sesegar biasanya. Malam hari, tidur tidak senyenyak sedia kala. Mencari sebab namun tidak menemukan musabab. Terbangun pada setiap dini hari, bersyukur hikmahnya. Menggerakkannya untuk menjumpai-Nya pada sepertiga malam. Memohon bantuan-Nya agar segera dipertemukan pada sebuah jawaban. Ya, jawaban dari segala tanya yang berbulan-bulan dipertanyakan sendiri dalam pikiran. Kini, ucapnya, Tuhan Maha Penolong, Maha Baik.  
*
“Coba deh Mbak, nonton film ini. Ceritanya tentang Mbak banget.”
“Tentang apa gitu Bu?”
“Pentingnya mendahulukan diri kita Mbak. Entah itu apa yang kita suka, apa yang kita gak suka, apa yang membuat kita gak nyaman. Pokoknya segala tentang diri sendiri ya harus didahulukan.”
“Tapi, aku dulu sering kayak gitu, Bu. Yang ada dibilang egois. Hehe.”
“Gitu ya?”
“Iya, rasa gak enakan, gak mau nyakitin hati orang, ngeduluin apa yang nyaman buat orang, gak mengungkapkan apa yang sebenarnya terpendam yang sebenernya diri sendiri gak nyaman. Itu yang sedang kulatih. Mungkin agar orang bertahan dan gak ninggalin aku lagi. Aku putuskan menjadi seperti itu.”
“Sekarang rasanya gimana Mbak?”
“Lelah yang gak beralasan, Bu.”
“Jadi kembali ke diri sendiri yang dulu, harusnya lebih bahagia gak sih, Mbak?”
“Bener, Bu. Hari ini lebih lega dari hari-hari sebelumnya. Aku bisa control perasaanku lagi dengan pikiranku. Jadi lelah macam dulu gak kerasa lagi.”
“Oh  iya, satu lagi kenapa film itu cocok buat Mbak. “
“Apa tuh, Bu?”
“Mencari orang yang tepat itu penting. Bahagia akan datang  pada segala yang tepat. Waktu, tempat, dan siapa yang menetap. Orang yang tepat itu adalah orang yang segalanya selalu optimis. Kalau sudah menganggap hidupnya susah terus, dia akan merasa begitu. Apalagi yang sudah menghakimi bahwa aku susah dan kamu senang, kamu gak akan ngerti dengan hidupku dan kalimat-kalimat lain yang malah bermakna pesimistis, dia bukan orang yang tepat untuk diajak berjuang.”
“Ibu cenayang, ya? Pas banget apa yang lagi aku hadapin. Hehe.”
“Seumur Mbak memang lagi masa-masanya menjajaki hidup seperti itu. Meraba-raba mana yang selalu ada. Memperjuangkan sampai akhir. Kalau dia udah menyerah di tengah, dipastikan dia tidak pernah serius.”
*
Dua hari yang lalu, aku masih mencari. Mencari kamu pada setiap malam. Mana nyatanya yang tidak ingin hilang. Mana rupanya yang tetap tinggal. Tidak lagi. Cukup sudah menguji hati. Waktunya mengambil kendali. Karena ketika telah mencari dan lelah, kamu ternyata telah berubah.
***


red
09012020