“
Entah yang kau ucap apa, mungkin tak dibarengi dengan akal sehat. Biarlah yang
kau lepas dia, hingga tersadarlah Tuhan
memberikan jawaban, bahwa kau bukan yang tepat.”
***
Mukanya
pucat. Pipinya sembab. Bukan karena menangis semalam, tapi karena tak enak
badan. Batinnya, mengapa harus menangis? Apa yang harus ditangisi? Dia tidak
pergi. Bahkan tak pernah ada disini. Kuatnya, dia sudah biasa begini. Bedanya,
tak seantusias seperti sebelumnya. Bangun pagi tak sesegar biasanya. Malam
hari, tidur tidak senyenyak sedia kala. Mencari sebab namun tidak menemukan
musabab. Terbangun pada setiap dini hari, bersyukur hikmahnya. Menggerakkannya
untuk menjumpai-Nya pada sepertiga malam. Memohon bantuan-Nya agar segera
dipertemukan pada sebuah jawaban. Ya, jawaban dari segala tanya yang
berbulan-bulan dipertanyakan sendiri dalam pikiran. Kini, ucapnya, Tuhan Maha
Penolong, Maha Baik.
*
“Coba
deh Mbak, nonton film ini. Ceritanya tentang Mbak banget.”
“Tentang
apa gitu Bu?”
“Pentingnya
mendahulukan diri kita Mbak. Entah itu apa yang kita suka, apa yang kita gak
suka, apa yang membuat kita gak nyaman. Pokoknya segala tentang diri sendiri ya
harus didahulukan.”
“Tapi,
aku dulu sering kayak gitu, Bu. Yang ada dibilang egois. Hehe.”
“Gitu
ya?”
“Iya,
rasa gak enakan, gak mau nyakitin hati orang, ngeduluin apa yang nyaman buat
orang, gak mengungkapkan apa yang sebenarnya terpendam yang sebenernya diri
sendiri gak nyaman. Itu yang sedang kulatih. Mungkin agar orang bertahan dan
gak ninggalin aku lagi. Aku putuskan menjadi seperti itu.”
“Sekarang
rasanya gimana Mbak?”
“Lelah
yang gak beralasan, Bu.”
“Jadi
kembali ke diri sendiri yang dulu, harusnya lebih bahagia gak sih, Mbak?”
“Bener,
Bu. Hari ini lebih lega dari hari-hari sebelumnya. Aku bisa control perasaanku
lagi dengan pikiranku. Jadi lelah macam dulu gak kerasa lagi.”
“Oh iya, satu lagi kenapa film itu cocok buat
Mbak. “
“Apa
tuh, Bu?”
“Mencari
orang yang tepat itu penting. Bahagia akan datang pada segala yang tepat. Waktu, tempat, dan
siapa yang menetap. Orang yang tepat itu adalah orang yang segalanya selalu
optimis. Kalau sudah menganggap hidupnya susah terus, dia akan merasa begitu.
Apalagi yang sudah menghakimi bahwa aku susah dan kamu senang, kamu gak akan
ngerti dengan hidupku dan kalimat-kalimat lain yang malah bermakna pesimistis,
dia bukan orang yang tepat untuk diajak berjuang.”
“Ibu
cenayang, ya? Pas banget apa yang lagi aku hadapin. Hehe.”
“Seumur
Mbak memang lagi masa-masanya menjajaki hidup seperti itu. Meraba-raba mana
yang selalu ada. Memperjuangkan sampai akhir. Kalau dia udah menyerah di
tengah, dipastikan dia tidak pernah serius.”
*
Dua hari yang lalu, aku masih
mencari. Mencari kamu pada setiap malam. Mana nyatanya yang tidak ingin hilang.
Mana rupanya yang tetap tinggal. Tidak lagi. Cukup sudah menguji hati. Waktunya
mengambil kendali. Karena ketika telah mencari dan lelah, kamu ternyata telah
berubah.
***
red
09012020