Kamis, 20 Februari 2014

3日目-3-Nichi-me “Budaya Bebek”

Kepala serasa mau pecah.Hampir tak karuan.Berharap menit berikutnya tak ada yang mencoba meruntuhkan ketegaran yang aku bangun dari rasa pusing ini.


“Kalian tahu toh apa yang kewajiban yang paling penting sebagai warga negara?Bayar pajak.Ya walaupun misalnya saya udah bayar pajak,tapi ga tau di kemanain itu uangnya yang terpenting saya sudah menjalankan kewajiban.Nanti kita bisa merasakan fasos,fasilitas sosial,fasum,fasilitas umum.Saya punya cerita soal pajak,kan pajak itu terbagi dua tingkatannya,yang dipungut berdasarkan warisan jika mereka punya sama pajak yang dihitung berdasarkan usaha.Mau dengerin?”

“Mau...” ucap kami satu suara bagaikan koor yang mengikuti konduktornya.

Aku melihat dalam-dalam mata beliau ketika sedang bercerita.Perawakannya tinggi dan besar,dengan rambut sebahu ,lurus dan berwarna hitam,pipinya yang berwarna pink muda dipadukan dengann warna kulit putihnya,dan juga warna bibir yang sama pink nya dengan warna pipinya.Entah kenapa baru sekali ini aku memerhatikan betul fisik dosen yang berdiri di depanku ini.Mungkin aku tidak pernah secermat ini.Tapi,dosen ini berbeda.Iya dikenal galak,moody-an,dan disiplin.Hari ini,seperti mitos itu dipatahkan dengan cara beliau mengajar,gaya beliau bercanda dan memberi wejangan.Jauh dari kata menyeramkan.Iya menerangkan se-detail mungkin materi kali ini.Di sisi lain,entah kenapa Tuhan mungkin merasakan pahitnya hidupku dari awal tadi pagi.Masuk ke kelas yang dosennya sedang tak enak hati.Ah membahasnya saja kakiku sudah lemas.Dan kelas mata kuliah yang konon dosennya sulit untuk ditaklukkan ini,malah menyejukkan hati dan pikiranku.Nyaris pula aku yang jadi moody-an kalau saja beliau kembali ke kegemarannya,marah tiada akhir.

“Saya mau cerita tentang musik dulu.Ga apa-apa ya saya cerita musik?Walaupun ga ada hubungannya tapi ini penting sekali sebagai contoh buat kalian.Kalian tau kan kiblat musik zaman-zaman dulu yang pusatnya itu di Amerika?Iyak,Elvis Presley.Siapa yang ga tahu?Semua remaja pada bergaya kayak dia.Tapi berubah tahun langsung kiblat nya berganti,tahu siapa?”  tanya Ibu Fidel kepada kami

The Beatles ....!” jawab kami serempak

“Wes,benar!Udah ganteng-ganteng,lagunya sampai detik masih melegenda,gaya berpakaian semuanya jadi panutan,benar-benar hebat The Fab Four ini yah!Inti yang mau saya sampaikan ini ya itu tadi ,warisan artis-artis besar itu tentunya banyak kan,itu mesti bayar pajak.Sama dengan Bill Gates,ah tapi walaupun nanti harus bayar pajak pun dari warisan Bill Gates ga akan habis-habis hartanya yah.Makanya,sekarang pikirkan,mending pajak banyak dari warisan atau dari usaha?Tergantung seberapa besar kamu nanti.Ya toh?” jelas panjang Ibu Fidel

“Iyaa..” jawab kami kembali koor.

“Satu hal lagi,kalo ngomongin fasum sama fasos.Saya kadang geleng-geleng kepala,kemarin saya jalan kaki itu ,udah bener jalan di pinggir ,masih aja di klakson sama mobil-motor edan.Dimana lagi saya mau jalan,wong itu trotoar udah dipake sama makhluk-makhluk besi lain,motor lah,gerobak lah.Saya bingung,hak kita sebagai pejalan kaki dikemanakan ya?Aduh pusing saya.Satu hal lagi yang bikin saya pusing ngeliatnya,main motong antrean,waduh itu manusian-manusia sekarang paling hobi.Sekali-sekali kalian lihat itu negara tetangga,mau naik MRT misalnya,duh barisnya rapi,lah kita boro-boro MRT,itu motor-motor pada nyempil sana,nyempil sini,bo’ ya baris teratur jangan main ke tengah aja haduh .Inget pesen guru saya dulu waktu masih sekolah di Jawa,pinteran bebek kalo masalah antri-mengantri itu.Jalannya itu rapi satu baris,ga ada main motong.Ya sekarang ibaratnya,mending angon bebek daripada ngatur manusia.Brutal kesadarannya.”

Benar,budaya.Itu namanya budaya.Haruskah kita dikatakan sebagai manusia yang uncivilized?Sebegitu rendahnya perilaku dan kebiasaan dewasa kini ,wahai manusia?Itu pikiranku sesaat setelah mendengar fenomena yang sedang dipaparkan Ibu Fidel.
Dosen yang sangat disegani itu pun melanjutkan wejangannya .

“Terakhir,saya mau mengingatkan saudara-saudara sekalian tentang sebuah kalimat yang saya tahu dengan Bahasa Jawa,karena saya lahir di Jawa ,begini katanya “Jaman udah semakin edan,banyak orang yang edan dan yang lainnya jangan sampai ga kebagian.Tapi semujur-mujurnya orang edan,lebih bagus lagi orang yang selalu ingat dirinya dan waspada akan hidupnya”,itu maknanya tahu kan?Artikan sendiri “ ucapnya singkat mengakhiri kelas hari ini.Kelas yang penuh makna,menurutku.

Wejangan yang beliau sampaikan tadi memang bermakna dalam,kuartikan begini “Jangan ikutan ke jurang kalo tahu itu  jurang jangan takut untuk ga kebagian,karena lebih baik kita tetap di mulut jurang itu”.

Entah kenapa hari ini begitu bermakna.Tadi pagi pun “dia” duduk disampingku.Itu pun baru kusadari beberapa menit setelah itu.Di akhir kelas dia juga meminjam buku catatanku untuk dilihat sebentar.

“Boleh liat ga?”

“Oh iya,boleh” jawabku sambil tersenyum kecil

“Dia” lihat beberapa menit,dan mengembalikannya padaku

“Ini,makasi ya”


Aku mengangguk dan meng-iya-kan ucapan terima kasihnya.Kelas dibubarkan,dia berjalan di belakangku.Entah apa yang ada di pikiranku.”Dia” ibarat manisan,enak dipandang,ya hanya itu.Untuk sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar