Kepala serasa mau pecah.Hampir tak karuan.Berharap menit
berikutnya tak ada yang mencoba meruntuhkan ketegaran yang aku bangun dari rasa
pusing ini.
“Kalian tahu toh apa
yang kewajiban yang paling penting sebagai warga negara?Bayar pajak.Ya walaupun
misalnya saya udah bayar pajak,tapi ga tau di kemanain itu uangnya yang
terpenting saya sudah menjalankan kewajiban.Nanti kita bisa merasakan
fasos,fasilitas sosial,fasum,fasilitas umum.Saya punya cerita soal pajak,kan
pajak itu terbagi dua tingkatannya,yang dipungut berdasarkan warisan jika
mereka punya sama pajak yang dihitung berdasarkan usaha.Mau dengerin?”
“Mau...” ucap kami
satu suara bagaikan koor yang mengikuti konduktornya.
Aku melihat dalam-dalam
mata beliau ketika sedang bercerita.Perawakannya tinggi dan besar,dengan rambut
sebahu ,lurus dan berwarna hitam,pipinya yang berwarna pink muda dipadukan
dengann warna kulit putihnya,dan juga warna bibir yang sama pink nya dengan
warna pipinya.Entah kenapa baru sekali ini aku memerhatikan betul fisik dosen
yang berdiri di depanku ini.Mungkin aku tidak pernah secermat ini.Tapi,dosen
ini berbeda.Iya dikenal galak,moody-an,dan
disiplin.Hari ini,seperti mitos itu dipatahkan dengan cara beliau mengajar,gaya
beliau bercanda dan memberi wejangan.Jauh dari kata menyeramkan.Iya menerangkan
se-detail mungkin materi kali ini.Di sisi lain,entah kenapa Tuhan mungkin
merasakan pahitnya hidupku dari awal tadi pagi.Masuk ke kelas yang dosennya
sedang tak enak hati.Ah membahasnya saja kakiku sudah lemas.Dan kelas mata
kuliah yang konon dosennya sulit untuk ditaklukkan ini,malah menyejukkan hati
dan pikiranku.Nyaris pula aku yang jadi moody-an
kalau saja beliau kembali ke kegemarannya,marah tiada akhir.
“Saya mau cerita
tentang musik dulu.Ga apa-apa ya saya cerita musik?Walaupun ga ada hubungannya
tapi ini penting sekali sebagai contoh buat kalian.Kalian tau kan kiblat musik
zaman-zaman dulu yang pusatnya itu di Amerika?Iyak,Elvis Presley.Siapa yang ga tahu?Semua remaja pada bergaya kayak
dia.Tapi berubah tahun langsung kiblat nya berganti,tahu siapa?” tanya Ibu Fidel kepada kami
“The Beatles ....!” jawab kami serempak
“Wes,benar!Udah
ganteng-ganteng,lagunya sampai detik masih melegenda,gaya berpakaian semuanya
jadi panutan,benar-benar hebat The Fab
Four ini yah!Inti yang mau saya sampaikan ini ya itu tadi ,warisan
artis-artis besar itu tentunya banyak kan,itu mesti bayar pajak.Sama dengan Bill Gates,ah tapi walaupun nanti harus
bayar pajak pun dari warisan Bill Gates
ga akan habis-habis hartanya yah.Makanya,sekarang pikirkan,mending pajak banyak
dari warisan atau dari usaha?Tergantung seberapa besar kamu nanti.Ya toh?”
jelas panjang Ibu Fidel
“Iyaa..” jawab kami
kembali koor.
“Satu hal lagi,kalo
ngomongin fasum sama fasos.Saya kadang geleng-geleng kepala,kemarin saya jalan
kaki itu ,udah bener jalan di pinggir ,masih aja di klakson sama mobil-motor edan.Dimana lagi saya mau jalan,wong itu
trotoar udah dipake sama makhluk-makhluk besi lain,motor lah,gerobak lah.Saya
bingung,hak kita sebagai pejalan kaki dikemanakan ya?Aduh pusing saya.Satu hal
lagi yang bikin saya pusing ngeliatnya,main motong antrean,waduh itu
manusian-manusia sekarang paling hobi.Sekali-sekali kalian lihat itu negara
tetangga,mau naik MRT misalnya,duh barisnya rapi,lah kita boro-boro MRT,itu
motor-motor pada nyempil sana,nyempil sini,bo’ ya baris teratur jangan main ke
tengah aja haduh .Inget pesen guru saya dulu waktu masih sekolah di
Jawa,pinteran bebek kalo masalah antri-mengantri itu.Jalannya itu rapi satu
baris,ga ada main motong.Ya sekarang ibaratnya,mending angon bebek daripada ngatur manusia.Brutal kesadarannya.”
Benar,budaya.Itu
namanya budaya.Haruskah kita dikatakan sebagai manusia yang
uncivilized?Sebegitu rendahnya perilaku dan kebiasaan dewasa kini ,wahai
manusia?Itu pikiranku sesaat setelah mendengar fenomena yang sedang dipaparkan
Ibu Fidel.
Dosen yang sangat
disegani itu pun melanjutkan wejangannya .
“Terakhir,saya mau
mengingatkan saudara-saudara sekalian tentang sebuah kalimat yang saya tahu
dengan Bahasa Jawa,karena saya lahir di Jawa ,begini katanya “Jaman udah
semakin edan,banyak orang yang edan dan yang lainnya jangan sampai ga
kebagian.Tapi semujur-mujurnya orang edan,lebih bagus lagi orang yang selalu
ingat dirinya dan waspada akan hidupnya”,itu maknanya tahu kan?Artikan sendiri “
ucapnya singkat mengakhiri kelas hari ini.Kelas yang penuh makna,menurutku.
Wejangan yang beliau
sampaikan tadi memang bermakna dalam,kuartikan begini “Jangan ikutan ke jurang
kalo tahu itu jurang jangan takut untuk
ga kebagian,karena lebih baik kita tetap di mulut jurang itu”.
Entah kenapa hari ini
begitu bermakna.Tadi pagi pun “dia” duduk disampingku.Itu pun baru kusadari
beberapa menit setelah itu.Di akhir kelas dia juga meminjam buku catatanku
untuk dilihat sebentar.
“Boleh liat ga?”
“Oh iya,boleh”
jawabku sambil tersenyum kecil
“Dia” lihat beberapa
menit,dan mengembalikannya padaku
“Ini,makasi ya”
Aku mengangguk dan
meng-iya-kan ucapan terima kasihnya.Kelas dibubarkan,dia berjalan di
belakangku.Entah apa yang ada di pikiranku.”Dia” ibarat manisan,enak
dipandang,ya hanya itu.Untuk sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar