Senin, 28 April 2014

1ヶ月後-1-Kagetsu-go. “Another Question:Semangat Ini Untuk Siapa?”

Sesak yang mengkungkung hati ikut merambat ke pikiranku.Seharusnya tidak begini!Hari ini banyak hal yang disesali,banyak yang dibuang begitu saja,perhatian mereka,sapaan mereka.Hatiku seperti batu,keras dan gampang terhempas walau nampak kuat.Apakah aku berusaha sekeras ini untuk mereka?Lalu untuk siapa sebenarnya?


“Hidup mereka lebih jelas ya daripada kita”.ucap seorang kawan padaku di siang yang beranjak mendung.
“Setidaknya hidup kita santai,eh tapi jangan salah,aku punya arah,tapi beda.Cuma itu aja kok” jawabku lebih santai (mungkin )dari hidupku.

Sekeras apapun aku belajar,ya kapasitasnya cukup.Tidak lebih.Mungkin.Hidup memang bukan hanya untuk mengejar sesuatu.Meraih lebih dari mengejar,menggenggam agar bertahan dan cukup berani untuk menerima kepergian,bukankah hal seperti itu yang dinamakan “belajar hidup” ? Ujian siang ini kulalui dengan biasa,tak ingin tegang,tak ingin terlalu dipikirkan.Setelah ujian selesai pun,perasaan enteng tak kalah mengiringi langkah kakiku menuju rumah.Terlalu banyak pikiran yang lalu lalang sejak tadi.Apa yang kulakukan setelah ini?Semenit kemudian?Sejam kemudian?Bahkan detik berikutnya aku lelah berpikir,apa yang ingin aku lakukan.

Sesampainya di rumah,tak kalah bingung mendera kedatanganku.Ruang tengah sepi.Bahkan di siang hari,lampu rumah hidup seakan teriak bagai riak kecil namun dapat didengar olehku “Aku kesepian”.Bahkan sinar lampu bisa sesepi itu,apalagi aku.Kamar di dekat pintu utama tertutup rapat dengan lampu menyala yang dapat kulihat dari ventilasi.Itu kamar kakakku,kadang berpihak padaku di saat aku susah dan senang,terkadang berpihak kepada kesusahanku,bukan kepada aku,si yang merasa kesusahan.Di dekat ruang makan,kamar abangku.Dia bagai emas 24 karat yang terlalu lama menggulung hidupnya di kamar itu.Hampir jarang aku bertemunya karena hobinya yang unik,berdiam diri.Bahkan aku duduk di kursi kelas barang kurang dari 1 jam sudah gelisah macam cacing dibakar oleh arang.Entahlah,kadang ketika aku ingin diam,aku persis mirip dengannya.Mudah tak percaya dengan orang,mudah kecewa dengan orang yang tak dipercayai lagi,dan mudah tak ingin peduli apapun dengan orang yang tidak dipercayai itu.Ya,aku tahu sekarang,bukan hanya ia tak bisa percaya dengan orang-orang di sekitarnya,mungkin memang ia tak punya percaya diri untuk mempercayai orang-orang itu.Tapi aku berbeda.Bedanya aku,muak sekali menoleh ke belakang karena kemungkinan aku bisa terselip dan jatuh jika aku berjalan ke depan sambil menoleh ke belakang.Aku bukan orang seperti itu.Itu yang membedakan aku dengannya.

Aku pun tak punya tempat peraduan lain,selain kamarku yang berada di ujung dan di pojok lorong.Terdengar horor,kamarku dirombak karena dulunya menjadi paviliun yang dibangun terpisah dengan pintu rumah utama.Bagai benang putus yang disambung dengan kumpulannya.Hampir saja aku dibuat seperti itu.Tapi detik ini itu yang akan kurasakan.

Di sebelah kamar aku mendengar suara berisik tertawa terbahak-bahak.Mengganggu ketenanganku di siang yang dibalut panas terik.

“Eh nih,Ibu mau ngomong,lain kali telepon jangan dimatiin,udah ditelepon berapa kali ga diangkat-angkat juga”.

Kakak yang kuceritakan tadi menghampiri kamarku.Dia selalu punya alasan untuk datang ke kamarku.Ibu menelepon,ibu menelepon,dan memarahiku.Dan satu lagi,dengan tampang datar dia gemar memerintahku tanpa memikirkan apa yang sedang aku kerjakan pada saat itu.

“Itu besok pesen makanan jam 3 acara minggu depan ,untuk 30 orang ,nanti dikirimkan uangnya”

Kira-kira itu bentuk telepon yang aku terima setelah letih ujian dan mencurahkan segala upayaku untuk melewati hari ini.Bahkan aku belum mencerna baik-baik apa yang Ibu katakan padaku.Yang jelas,namaku tak disapa,mungkin.


Hening kembali menguasai dinding kamarku.Satu titik air mata jatuh entah kapan mendaratnya di pipiku.Sudah seminggu ujian,tak pernah ada yang menanyakan bagaimana ujianku atau hal lain yang biasa ditanyakan.Sebenarnya ini masalah simple.Se-simple pikiran pendek merasa tak diperhatikan yang muncul di benak dan perasaanku sesaat lalu.Air mata tak henti-hentinya mewarnai siang ini.Lelahku walau sedikit tak pernah ada yang tahu,tiba-tiba saja semangat yang ada di diri ini selalu membangkitkanku.Kadang pernah lelah untuk melanjutkan,kadang merasa menjadi bodoh jika menyerah.Ini alasan sepele jika berhenti untuk tetap semangat.Ya,bukan untuk siapa-siapa,ditanya atau tidak,diperhatikan atau tidak ,didengar atau tidak,bahkan kehadiran ini diketahui atau tidak,yang pasti,aku ada,ada untuk selalu berbuat agar kaki ini kokoh berdiri,bukan dia,mereka tapi untuk aku yang sudah berjalan sejauh ini,berusaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar