Sesak yang mengkungkung hati ikut merambat ke pikiranku.Seharusnya tidak
begini!Hari ini banyak hal yang disesali,banyak yang dibuang begitu
saja,perhatian mereka,sapaan mereka.Hatiku seperti batu,keras dan gampang
terhempas walau nampak kuat.Apakah aku berusaha sekeras ini untuk mereka?Lalu
untuk siapa sebenarnya?
“Hidup mereka lebih jelas ya daripada kita”.ucap seorang
kawan padaku di siang yang beranjak mendung.
“Setidaknya hidup kita santai,eh tapi jangan salah,aku
punya arah,tapi beda.Cuma itu aja kok” jawabku lebih santai (mungkin )dari
hidupku.
Sekeras apapun aku belajar,ya kapasitasnya cukup.Tidak
lebih.Mungkin.Hidup memang bukan hanya untuk mengejar sesuatu.Meraih lebih dari
mengejar,menggenggam agar bertahan dan cukup berani untuk menerima
kepergian,bukankah hal seperti itu yang dinamakan “belajar hidup” ? Ujian siang
ini kulalui dengan biasa,tak ingin tegang,tak ingin terlalu dipikirkan.Setelah
ujian selesai pun,perasaan enteng tak kalah mengiringi langkah kakiku menuju
rumah.Terlalu banyak pikiran yang lalu lalang sejak tadi.Apa yang kulakukan
setelah ini?Semenit kemudian?Sejam kemudian?Bahkan detik berikutnya aku lelah
berpikir,apa yang ingin aku lakukan.
Sesampainya di rumah,tak kalah bingung mendera
kedatanganku.Ruang tengah sepi.Bahkan di siang hari,lampu rumah hidup seakan
teriak bagai riak kecil namun dapat didengar olehku “Aku kesepian”.Bahkan sinar
lampu bisa sesepi itu,apalagi aku.Kamar di dekat pintu utama tertutup rapat
dengan lampu menyala yang dapat kulihat dari ventilasi.Itu kamar kakakku,kadang
berpihak padaku di saat aku susah dan senang,terkadang berpihak kepada kesusahanku,bukan
kepada aku,si yang merasa kesusahan.Di dekat ruang makan,kamar abangku.Dia
bagai emas 24 karat yang terlalu lama menggulung hidupnya di kamar itu.Hampir
jarang aku bertemunya karena hobinya yang unik,berdiam diri.Bahkan aku duduk di
kursi kelas barang kurang dari 1 jam sudah gelisah macam cacing dibakar oleh
arang.Entahlah,kadang ketika aku ingin diam,aku persis mirip dengannya.Mudah
tak percaya dengan orang,mudah kecewa dengan orang yang tak dipercayai lagi,dan
mudah tak ingin peduli apapun dengan orang yang tidak dipercayai itu.Ya,aku
tahu sekarang,bukan hanya ia tak bisa percaya dengan orang-orang di
sekitarnya,mungkin memang ia tak punya percaya diri untuk mempercayai
orang-orang itu.Tapi aku berbeda.Bedanya aku,muak sekali menoleh ke belakang
karena kemungkinan aku bisa terselip dan jatuh jika aku berjalan ke depan sambil
menoleh ke belakang.Aku bukan orang seperti itu.Itu yang membedakan aku
dengannya.
Aku pun tak punya tempat peraduan lain,selain kamarku
yang berada di ujung dan di pojok lorong.Terdengar horor,kamarku dirombak
karena dulunya menjadi paviliun yang dibangun terpisah dengan pintu rumah
utama.Bagai benang putus yang disambung dengan kumpulannya.Hampir saja aku
dibuat seperti itu.Tapi detik ini itu yang akan kurasakan.
Di sebelah kamar aku mendengar suara berisik tertawa
terbahak-bahak.Mengganggu ketenanganku di siang yang dibalut panas terik.
“Eh nih,Ibu mau ngomong,lain kali telepon jangan dimatiin,udah
ditelepon berapa kali ga diangkat-angkat juga”.
Kakak yang kuceritakan tadi menghampiri kamarku.Dia
selalu punya alasan untuk datang ke kamarku.Ibu menelepon,ibu menelepon,dan
memarahiku.Dan satu lagi,dengan tampang datar dia gemar memerintahku tanpa
memikirkan apa yang sedang aku kerjakan pada saat itu.
“Itu besok pesen makanan jam 3 acara minggu depan ,untuk
30 orang ,nanti dikirimkan uangnya”
Kira-kira itu bentuk telepon yang aku terima setelah
letih ujian dan mencurahkan segala upayaku untuk melewati hari ini.Bahkan aku
belum mencerna baik-baik apa yang Ibu katakan padaku.Yang jelas,namaku tak
disapa,mungkin.
Hening kembali menguasai dinding kamarku.Satu titik air
mata jatuh entah kapan mendaratnya di pipiku.Sudah seminggu ujian,tak pernah
ada yang menanyakan bagaimana ujianku atau hal lain yang biasa ditanyakan.Sebenarnya
ini masalah simple.Se-simple pikiran pendek merasa tak diperhatikan yang muncul
di benak dan perasaanku sesaat lalu.Air mata tak henti-hentinya mewarnai siang
ini.Lelahku walau sedikit tak pernah ada yang tahu,tiba-tiba saja semangat yang
ada di diri ini selalu membangkitkanku.Kadang pernah lelah untuk
melanjutkan,kadang merasa menjadi bodoh jika menyerah.Ini alasan sepele jika
berhenti untuk tetap semangat.Ya,bukan untuk siapa-siapa,ditanya atau
tidak,diperhatikan atau tidak ,didengar atau tidak,bahkan kehadiran ini
diketahui atau tidak,yang pasti,aku ada,ada untuk selalu berbuat agar kaki ini
kokoh berdiri,bukan dia,mereka tapi untuk aku yang sudah berjalan sejauh
ini,berusaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar