Teruntuk
Orang-Orang yang Baik dan yang Tak Sengaja Berpapasan Denganku...
Kemarin pagi,
aku belajar banyak hal. Aku melihat banyak hal. Mana yang memberiku energi,
mana yang hanya ingin sekedar ingin tahu atau bahkan awalnya seperti peduli
namun tampak acuh. Kemarin pagi, banyak hal yang kusyukuri. Bersyukur untuk
segala menit yang kugunakan, walaupun harus dilalui dengan menunggu, berharap
dan belajar mengikhlaskan.
Kemarin pagi,
kulewati dengan keteguhan. Untuk mengubah diri, kita harus melewati batas.
Setiap orang tidak punya batas apapun. Diri kita sendiri-lah yang menjadi batas
itu. Batas bukan suatu kata kerja. Batas adalah kata sifat yang mengkarakterisasi
diri kita sendiri. Itu yang aku alami dan akhirnya kutembus dengan berbagai
keraguan.
Selain itu, aku
juga bertemu dengan beragam kemungkinan. Kemungkinan yang tak pernah
kubayangkan sebelumnya. Sebelum kita mencoba, kita tidak tahu hasilnya. Itu
yang kupegang kemarin pagi. Aku yang mendapat berkah kemarin pagi tidak akan
mampu sebahagia (sesederahana) ini. Banyak orang-orang yang menguatkanku pagi
ini. Di antara mereka ada yang memahami persoalanku kemarin pagi dan ada yang
juga tak mengetahui itu.
Tetapi, entah
kenapa mereka semua yang memberikan senyuman kemarin pagi. Ketika keraguan yang
menderaku pagi itu, seorang sahabat menanyakan ada apa denganku. Ia ingin
mengetahui kabarku. Kuberi inisial G, agar (siapa tahu ia membacanya di lain
waktu entah kapan itu) tidak perlu diperjelas, hehe. Ia menanyakan kabarku
dengan gaya khasnya yang selalu mencelaku, ingin memberikan wejangan tapi
dengan gaya candaannya. Ia mengatakan, bukan soal maka teruslah mencoba. Sampai
dengan percakapan ngalor ngidul yang kami geluti selama 6 tahun terakhir
sebagai teman.
Lalu, sosok lainnya yang meneguhkan langkahku adalah jelas,
Mama. Seketika aku mengabari persoalanku beliau membesarkan hatiku.
Pertimbangan harus pulang karena tiket sudah di tangan ditepis dengan sikapnya
yang bijak. Cobalah, maka kamu tahu bagaimana nanti. Hingga sore hari pun aku
terus mengabari beliau, penyemangatku selama 22 tahun 6 bulan ini.
Lain lagi ketika
aku menuju kampus untuk menyelesaikan urusanku. Ada teman yang sangat baik,
Billa yang dekat denganku hampir 2 tahun terakhir. Walaupun dia tidak
mengetahui persoalanku, tapi dengan gaya khasnya ia memelukku. Setiap bertemu,
kami selalu berpelukan seperti sudah lama tak bertemu. Padahal pagi kemarin aku
baru bercakap dengannya lewat Line. Tapi, senyuman dan pelukan itu cukup
memberi semangat bagiku.
Selain Billa,
aku bertemu dengan seorang teman yang berinisial G pula. Ia juga memberikan
senyuman hangat kemarin pagi. Dan itu memberiku semangat pula sembari menunggu
berjam-jam lainnya. Aku juga bertemu dengan dosen pembimbing selama aku melewati
skripsi-thing, Pak Ismadi. Ketika aku menyapanya “Siang, Pak...” , seperti
biasa ia membalas dengan senyuman hangat pula “Iya..selamat siang...”. Seketika
ia berhenti dan bertanya kepadaku “Eh, kamu mau wisuda ya ? “. Sontak aku
menjawab dengan senyuman pula, “Iyaa, Pak...”. Beliau lalu mengucapkan selamat
kepadaku. Kemarin pagi, aku dihujani dengan banyak senyuman hangat.
Selain itu
aku juga bertemu dengan teman dekatku pula, Intan yang menemani dan mendengar
celotehan panjangku. Hehe...Trims, Tan! Dan, Bapak- Ibu TU yang membantuku
dengan baik kemarin. Aku pikir, penyelesaian persoalanku dipersulit. Ternyata
tidak! Aku bersyukur sekali kemarin pagi karena seluruh persoalanku selesai.
Mungkin 1 surat
ini tidak cukup menjelaskan betapa bahagianya aku walaupun dengan pertemuan
singkat dengan beberapa orang. Tetapi, mereka adalah berkah yang kuterima
kemarin pagi. Terima Kasih, Semua...Terima Kasih, Ya Allah telah mengirimkan
orang-orang yang baik di kehidupanku.
Dari Seseorang
yang Tak Ingin Berhenti Bersyukur...
RED
@redinasyafril
Tidak ada komentar:
Posting Komentar