Sabtu, 06 Februari 2016

Berkah Kemarin Pagi

Teruntuk Orang-Orang yang Baik dan yang Tak Sengaja Berpapasan Denganku...

Kemarin pagi, aku belajar banyak hal. Aku melihat banyak hal. Mana yang memberiku energi, mana yang hanya ingin sekedar ingin tahu atau bahkan awalnya seperti peduli namun tampak acuh. Kemarin pagi, banyak hal yang kusyukuri. Bersyukur untuk segala menit yang kugunakan, walaupun harus dilalui dengan menunggu, berharap dan belajar mengikhlaskan.

Kemarin pagi, kulewati dengan keteguhan. Untuk mengubah diri, kita harus melewati batas. Setiap orang tidak punya batas apapun. Diri kita sendiri-lah yang menjadi batas itu. Batas bukan suatu kata kerja. Batas adalah kata sifat yang mengkarakterisasi diri kita sendiri. Itu yang aku alami dan akhirnya kutembus dengan berbagai keraguan.

Selain itu, aku juga bertemu dengan beragam kemungkinan. Kemungkinan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Sebelum kita mencoba, kita tidak tahu hasilnya. Itu yang kupegang kemarin pagi. Aku yang mendapat berkah kemarin pagi tidak akan mampu sebahagia (sesederahana) ini. Banyak orang-orang yang menguatkanku pagi ini. Di antara mereka ada yang memahami persoalanku kemarin pagi dan ada yang juga tak mengetahui itu.

Tetapi, entah kenapa mereka semua yang memberikan senyuman kemarin pagi. Ketika keraguan yang menderaku pagi itu, seorang sahabat menanyakan ada apa denganku. Ia ingin mengetahui kabarku. Kuberi inisial G, agar (siapa tahu ia membacanya di lain waktu entah kapan itu) tidak perlu diperjelas, hehe. Ia menanyakan kabarku dengan gaya khasnya yang selalu mencelaku, ingin memberikan wejangan tapi dengan gaya candaannya. Ia mengatakan, bukan soal maka teruslah mencoba. Sampai dengan percakapan ngalor ngidul yang kami geluti selama 6 tahun terakhir sebagai teman. 

Lalu, sosok lainnya yang meneguhkan langkahku adalah jelas, Mama. Seketika aku mengabari persoalanku beliau membesarkan hatiku. Pertimbangan harus pulang karena tiket sudah di tangan ditepis dengan sikapnya yang bijak. Cobalah, maka kamu tahu bagaimana nanti. Hingga sore hari pun aku terus mengabari beliau, penyemangatku selama 22 tahun 6 bulan ini.

Lain lagi ketika aku menuju kampus untuk menyelesaikan urusanku. Ada teman yang sangat baik, Billa yang dekat denganku hampir 2 tahun terakhir. Walaupun dia tidak mengetahui persoalanku, tapi dengan gaya khasnya ia memelukku. Setiap bertemu, kami selalu berpelukan seperti sudah lama tak bertemu. Padahal pagi kemarin aku baru bercakap dengannya lewat Line. Tapi, senyuman dan pelukan itu cukup memberi semangat bagiku.

Selain Billa, aku bertemu dengan seorang teman yang berinisial G pula. Ia juga memberikan senyuman hangat kemarin pagi. Dan itu memberiku semangat pula sembari menunggu berjam-jam lainnya. Aku juga bertemu dengan dosen pembimbing selama aku melewati skripsi-thing, Pak Ismadi. Ketika aku menyapanya “Siang, Pak...” , seperti biasa ia membalas dengan senyuman hangat pula “Iya..selamat siang...”. Seketika ia berhenti dan bertanya kepadaku “Eh, kamu mau wisuda ya ? “. Sontak aku menjawab dengan senyuman pula, “Iyaa, Pak...”. Beliau lalu mengucapkan selamat kepadaku. Kemarin pagi, aku dihujani dengan banyak senyuman hangat.

 Selain itu aku juga bertemu dengan teman dekatku pula, Intan yang menemani dan mendengar celotehan panjangku. Hehe...Trims, Tan! Dan, Bapak- Ibu TU yang membantuku dengan baik kemarin. Aku pikir, penyelesaian persoalanku dipersulit. Ternyata tidak! Aku bersyukur sekali kemarin pagi karena seluruh persoalanku selesai.

Mungkin 1 surat ini tidak cukup menjelaskan betapa bahagianya aku walaupun dengan pertemuan singkat dengan beberapa orang. Tetapi, mereka adalah berkah yang kuterima kemarin pagi. Terima Kasih, Semua...Terima Kasih, Ya Allah telah mengirimkan orang-orang yang baik di kehidupanku.



Dari Seseorang yang Tak Ingin Berhenti Bersyukur...


RED

@redinasyafril

Tidak ada komentar:

Posting Komentar