Kamis, 18 Februari 2016

Senandung Himalaya

Teruntuk Sebuah Harapan dan Khayalan Pukul Tiga...

         Siang ini jujur saja, aku tidak tahu harus menulis surat untuk siapa ataupun untuk apa. Hari ini tidak ada inspirasi yang singgah di pikiranku. Maka, kuputuskan untuk mendengar sebuah lagu sejenak. Judul lagunya Himalaya. Lirik lagunya pun jika kudengar-dengar adalah sebuah pengharapan, sebuah khayalan, hmm atau mungkin lebih cocok sebagai sebuah janji.
Lagunya berkisah sangat manis sekali. Seperti ingin menaklukan puncak tertinggi Himalaya dan bahkan tidak ada cahaya di kegelapan. Ah, lagu ini luar biasa apik! Luar biasa membuai. Tapi, tak mengapa. Lagu ini memang diperuntukkan sama-sama berharap besar agar selalu bersama dengan seseorang.

Mengingat percakapan melalui chat bersama teman-temanku di Bandung, ada seorang teman yang tiba-tiba menyeletuk begini “Gimana? Udah ada yang “silaturahmi” belum ke rumah?” Hahaha. Aku sontak tertawa. Maksud celetukan temanku itu adalah siapa tahu aku bertemu seseorang yang mapan, soleh dan kriteria-kriteria idaman lainnya. Aku lalu terdiam. Entah aku butuh atau tidak. Entah harus sekarang tidak. Bahkan, saat-saat begini, saat aku harus melakukan pembuktian diri setelah lulus kuliah, tidak terbersit di pikiranku untuk itu.

Entah kapan, tapi aku mengingat ucapan seseorang yang bijak bahwa ketika kita belum dipertemukan dengan pasangan kita, maka waktu itu kita pergunakan sebaik mungkin sembari memperbaiki diri, mengaktualisasi diri dan berserah diri. Karena kualitas diri kitalah yang akan meyakinkan Tuhan bahwa kita sudah waktunya kita bertemu dengan pasangan kita. Dan lebih dari itu, di Kitab Suci Al- Qur’an pun diingatkan bahwa, jangan terlalu sibuk memikirkan jodoh, toh apakah kita yakin yang mana datang duluan? Jika kematian yang terlebih dulu datang dibanding jodoh? Maka, bersiap diri untuk dunia dan juga akhirat. Itu jawaban atas semuanya.

Surat ini kutuliskan untuk setiap keraguan dan pemikiran pendek yang terkadang singgah di pikiranku. Padahal aku sudah tahu jawabannya. Namun, kemarin-kemarin aku belum paham betul makna jawaban itu semua. Maka kini, aku lebih yakin akan hal itu. Tidak ada yang bisa diragukan lagi. Semua tergantung kualitas diri dan waktu.


Dari Aku yang Kini Sudah Cukup Tersadar :)


RED
@redinasyafril


Tidak ada komentar:

Posting Komentar