“Biasa,rindang tetapi menenangkan.Apakah itu tak cukup
bagimu untuk tetap disini?
Hujan itu ketika menyentuh kulit pedih,sepedih apa yang ku alami pagi tadi.Ia
menusuk lebih tajam ketika aku menyambutnya.Tetapi ketika aku tetap
berjalan,semua baik-baik saja,bahkan bagai kapas lembut yang menyapu
kulitku.Lebih lembut lagi ketika aku berdiri di bawah pohon besar,rindang dan
sepertinya tegap.Hujan yang lebat itu ditampungnya.Ia serap begitu dalam dan ia
jatuhkan setitik ke lenganku.Halus.Tak pedih malah.Rintik itu bagai sahabat
yang mendekat kepadaku.Lebih dekat dan lebih dalam.Tapi,haruskah aku menjadi
tak waras begini.Bahkan punya sahabat saja tidak,haruskah aku berkata,wahai
rintik hujan yang jatuh dari pohon mahoni yang rindang ini,kamu kah
sahabatku?Kamu kah yang tak pernah menyakitiku?Kamu kah yang akan selalu ada
dan menyentuhkan pasti dan tidak pernah membiarkanku jatuh tersungkur?Aku
berlalu.Tak ingin terperangkap dalam permainan “Punyakah aku seorang sahabat?Seorang
saja tidak ada”.
****