Minggu, 27 Oktober 2013

MAHONI

“Biasa,rindang tetapi menenangkan.Apakah itu tak cukup bagimu untuk tetap disini?

Hujan itu ketika menyentuh kulit pedih,sepedih apa yang ku alami pagi tadi.Ia menusuk lebih tajam ketika aku menyambutnya.Tetapi ketika aku tetap berjalan,semua baik-baik saja,bahkan bagai kapas lembut yang menyapu kulitku.Lebih lembut lagi ketika aku berdiri di bawah pohon besar,rindang dan sepertinya tegap.Hujan yang lebat itu ditampungnya.Ia serap begitu dalam dan ia jatuhkan setitik ke lenganku.Halus.Tak pedih malah.Rintik itu bagai sahabat yang mendekat kepadaku.Lebih dekat dan lebih dalam.Tapi,haruskah aku menjadi tak waras begini.Bahkan punya sahabat saja tidak,haruskah aku berkata,wahai rintik hujan yang jatuh dari pohon mahoni yang rindang ini,kamu kah sahabatku?Kamu kah yang tak pernah menyakitiku?Kamu kah yang akan selalu ada dan menyentuhkan pasti dan tidak pernah membiarkanku jatuh tersungkur?Aku berlalu.Tak ingin terperangkap dalam permainan “Punyakah aku seorang sahabat?Seorang saja tidak ada”.
****

Sabtu, 12 Oktober 2013

PERGI TAK MENGHILANG

Pernah ada kata pergilah , pernah ada kata menghilanglah.Tapi dua kata itu pun tak sama.Berbeda jika bukan mulut yang berkata tapi hati ini.Ia bilang “pergi” ,ia pergi.Namun Ia bilang “hilang”,sial...dia masih ada ,dia yang membuat kaki ini tak dapat tegak berdiri lagi.Memang tidak bisa kulawan tapi ini ada,ada rasanya dan tetap selalu akan ada.Mau kukata aku tidak tapi ya,selalu tak bisa dihindari.Seberat apapun upaya ini ,selalu tidak berhasil.Dan lagi ,ia muncul lagi tapi ya tak bisa juga membuat kita bersama ,sampai kapanpun.