“Biasa,rindang tetapi menenangkan.Apakah itu tak cukup
bagimu untuk tetap disini?
Hujan itu ketika menyentuh kulit pedih,sepedih apa yang ku alami pagi tadi.Ia
menusuk lebih tajam ketika aku menyambutnya.Tetapi ketika aku tetap
berjalan,semua baik-baik saja,bahkan bagai kapas lembut yang menyapu
kulitku.Lebih lembut lagi ketika aku berdiri di bawah pohon besar,rindang dan
sepertinya tegap.Hujan yang lebat itu ditampungnya.Ia serap begitu dalam dan ia
jatuhkan setitik ke lenganku.Halus.Tak pedih malah.Rintik itu bagai sahabat
yang mendekat kepadaku.Lebih dekat dan lebih dalam.Tapi,haruskah aku menjadi
tak waras begini.Bahkan punya sahabat saja tidak,haruskah aku berkata,wahai
rintik hujan yang jatuh dari pohon mahoni yang rindang ini,kamu kah
sahabatku?Kamu kah yang tak pernah menyakitiku?Kamu kah yang akan selalu ada
dan menyentuhkan pasti dan tidak pernah membiarkanku jatuh tersungkur?Aku
berlalu.Tak ingin terperangkap dalam permainan “Punyakah aku seorang sahabat?Seorang
saja tidak ada”.
****
Tanpa aku bilang “Ya”,ya dia selalu bisa melakukan apa yang dia
inginkan.Pagi ini harus aku selesaikan perkara ini.Harus.Apapun yang aku hadapi
aku,aku tempuh.Apapun itu,itu jalan hidupmu.Wejangan Ibu pagi tadi.
Aku melangkah ragu ke lantai 4 tempat dosen pembimbing yang selama beberapa
bulan selalu setia di kala aku ingin merasakan udara bebas dan dia selalu
menghadiahiku sebuah revisi.Indah,bukan?Kapan aku bisa mendengar kata-kata “Oke,Bagus,Accept it!”.Ah, oh kapan wahai Bumi dan Langit ?
“Pagi,Pak.”
“Oke,pagi.Oh Mel!Wah saya ga nyangka kamu dateng sepagi ini.Rata-rata
mahasiswa bimbingan saya nyerahin revisinya ya sore menjelang malem atau malem
menjelang saya tidur.Untung saya......”
“Untung saya apa Pak?”
“Untung saya ga punya istri,gitu.Ah kamu, serius banget.Yakin revisinya mau
dikumpulin sekarang?”
“Ha?Ga punya istri?Pak,Almarhum Bu Murni kan istri Bapak,maaf maksud Bapak
ga ada lagi gitu ya Pak istri Bapak ,gitu kan Pak yah?”
“Mana revisi kamu?”
“Ha ? Revisi?Aduh Pak,maaf kalo saya nyinggung Bapak,saya cuma mau nanya
aja Pak”
“Iya revisi kamu kasih ke saya,sebelum saya berubah pikiran.”
“Oh iya Pak.Ga mau dibaca dulu,ya saya ga ngarep ada kesalahan fatal atau
kesalahan kecil yang ngeharusin saya revisi lagi gitu pak,tapi kalo....”
“Ga usah,terima kasih sebelumnya.Siap-siap sidang.Saya ga akan mempersulit kamu,saya cuma akan memutar cara berpikir kamu,ya opposite lah,kamu ngerti kan maksud
saya?”
“Ha?Oke,Pak!Siap..Makasi banyak Pak.”
Opposite?Berlawanan maksudnya?Bahkan ketika aku salah bicara pun,beliau
tidak memarahiku.Aku tiba-tiba terdiam.
“Woi!Bengong aja lo!”
Terkejut bukan main ketika Bani datang menghampiriku.Ya,dia memang selalu
datang tak disangka dan berhasil membuyarkan lamunanku yang berdiri terpaku di
depan ruangan Pak Jamal.
“Ah,lo ngagetin aja.Ngapain lo ke ruang Pak Jamal?”
“Ga,gue mau ke Bu Anis,haha cuma mau ngagetin lo aja,makanya lewat sini.”
“Niat lo mau nyabut nyawa gue ya?Parah lo!Udah sana ke Bu Anis,mumpung mukanya
masih baik tuh”
“Ha?Emang kenapa Ibu nya?Wah mampus gue!”
“Tau tuh,samperin gih keburu badmood doi,jangan lupa tanya udah makan apa
belum ke dia,apalagi lo cowok,ampuh loh Ban,hahaha duluan yah!”
“Haha,thankyou tipsnya”
“Mmmm...”
“Eh,Mel!Gue denger-denger,Tania lulus beasiswa yg bulan juni kemaren loh.Lo
bukannya daftar juga yah?”
“Ha?pengumuman nya udah keluar?Tania lulus ?”
“Wah,lo ga tau?Tadi gue ketemu ama Tania,buru-buru gitu,mau ngeliat
hasilnya kali ya,yaudah kesana dulu yah!”
Tertegun lagi.Kedua kalinya.Terlalu banyak pernyataan yang bahkan tak ingin
aku pikirkan jawabannya.Maksudnya apa?Ia sama sekali tidak
memberitahuku.Padahal kami bersama-sama mengajukan beasiswa itu,tapi ini
apa?Kenapa ia menjadi seperti ini?
****
Pagi ini terasa panjang bagiku.Terasa menyesakkan dan membingungkan.Siang
ini terik sekali.Bahkan nyaris menghunus ubun-ubunku.Sambil menenangkan
diri,meneguk juice melon yang segar di persimpangan jalan dekat
kampus.Seharusnya panas siang ini membakar setidaknya semangat ku hari ini,untuk
melewati hari ini.Lamunanku makin panjang.Tetapi buyar ketika 1 pesan masuk ke
handphone-ku.Wah,rupanya Niko.
“...........................................................”
Traktir?Pacar baru?Siapa?Niko?Pandanganku kosong.Pikiranku mengabur.Bahkan
harus sedih atau senang pun,aku tak dapat membedakannya.Haruskan aku senang dan
bersorak sorai?Haruskah aku sedih dan meneteskan air mata?Lalu apa artinya 3
bulan ini?Dia mendekati ku atau apa?Dia menyukai ku sebagai apa?Calon
pacar?Teman lama yang tiba-tiba datang ke kehidupanku kini dan ingin
menjadikanku temannya ketika kesepian?Atau orang yang benar-benar berniat ia
sakiti?Atau apa?Bahkan di posisi apa aku kini di hadapannya saja, aku tak jelas.Tangan
ku seketika mendingin.Aku berjalan menuju rumah,walau tahu arahnya ,tapi seakan
jatuh terhempas ke jalanan.Bukan kaki ku,tapi hati dan perasaanku.Dan siang itu
yang mulai beranjak sore,langit mulai gelap.Aku bahkan tak ingin masuk ke
rumah.Masih buram benak ini untuk memikirkan,aku ini apa?Manusia seperti apa
aku?
Mereka bahkan menganggapku seperti bayangan.Masih tertegun lesu dan terdiam
di bawah pohon rindang mahoni di depan rumahku,kenapa aku dibuat begini oleh
mereka.Tania,sahabat sejati yang awalnya hanya bercerita kisah hidup sederhana
dan kini mulai menata mimpi bersama untuk meraihnya.Niko,kekasih dalam hatiku
yang tak akan menjadi kekasih bagi hatinya,yang setiap hari selalu berbagi
keceriaan di kala kesepian dan selalu berbagi energi di kala kelelahan yang
datang dari masa laluku.Tetapi kini apa yang kusebut sahabat sejati itu telah
berjalan tegap seorang diri di jalan yang bisa aku lalui juga dan apa yang
kusebut kekasih hatiku mematahkan rangkaian indah perasaan yang telah kususun
rapi dan kini lenyap dan hancur begitu saja.Hujan itu datang.Setiap butiran
yang jatuh pun terasa sungguh menyakitkan,bukan hanya raga,tapi jiwa ini
juga.Ia menusuk ke dalam,terasa menyakitkan.
Tapi aku lebih merapatkan diriku ke
bawah pohon mahoni ini.Aku menengok ke daun rindang dan lebat.Kutampung setiap
butiran hujan yang jatuh membasahi wajahku.
“Apakah aku tak pernah menganggapku sahabat?Apakah kamu tidak
menyukaiku?Apakah aku terlalu biasa untuk hidup mereka?Apakah aku tidak pernah
membuat kalian bahagia?Sampai sejauh inikah kalian menyakitiku?Apakah aku bisa
menjadi sepertimu?Biasa saja,tak terlalu istimewa tapi menenangkan dan menjadi
alasan mereka mendekat padamu?Mungkin aku seperti mahoni ini.Bukan
apa-apa,datang ketika mereka butuh,tetapi menyejukkan,menyelamatkan.Apakah itu
tidak bisa menjadi alasan kalian tetap disini?Sahabat,kekasih,tetaplah di
sini,bahkan aku gamang melihat kalian sekejam ini.
Setidaknya mahoni ini memberi aku jawaban yang tak terucap,jangan
berubah,karena aku tak akan berubah.Tetaplah tenang,menenangkan,dan selalu ada
ketika kalian datang lagi padaku suatu saat.Tapi berubahlah kalian,karena aku
tak ingin disakiti lagi seperti waktu ini,nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar