Minggu, 27 Oktober 2013

MAHONI

“Biasa,rindang tetapi menenangkan.Apakah itu tak cukup bagimu untuk tetap disini?

Hujan itu ketika menyentuh kulit pedih,sepedih apa yang ku alami pagi tadi.Ia menusuk lebih tajam ketika aku menyambutnya.Tetapi ketika aku tetap berjalan,semua baik-baik saja,bahkan bagai kapas lembut yang menyapu kulitku.Lebih lembut lagi ketika aku berdiri di bawah pohon besar,rindang dan sepertinya tegap.Hujan yang lebat itu ditampungnya.Ia serap begitu dalam dan ia jatuhkan setitik ke lenganku.Halus.Tak pedih malah.Rintik itu bagai sahabat yang mendekat kepadaku.Lebih dekat dan lebih dalam.Tapi,haruskah aku menjadi tak waras begini.Bahkan punya sahabat saja tidak,haruskah aku berkata,wahai rintik hujan yang jatuh dari pohon mahoni yang rindang ini,kamu kah sahabatku?Kamu kah yang tak pernah menyakitiku?Kamu kah yang akan selalu ada dan menyentuhkan pasti dan tidak pernah membiarkanku jatuh tersungkur?Aku berlalu.Tak ingin terperangkap dalam permainan “Punyakah aku seorang sahabat?Seorang saja tidak ada”.
****
“Duh,sori nih!Bukannya ga mau nemenin,aku mau rapat nih.Kamu bisa sendiri kan?Bisa yah please!Aku duluan kalo gitu!Daah!”

Tanpa aku bilang “Ya”,ya dia selalu bisa melakukan apa yang dia inginkan.Pagi ini harus aku selesaikan perkara ini.Harus.Apapun yang aku hadapi aku,aku tempuh.Apapun itu,itu jalan hidupmu.Wejangan Ibu pagi tadi.

Aku melangkah ragu ke lantai 4 tempat dosen pembimbing yang selama beberapa bulan selalu setia di kala aku ingin merasakan udara bebas dan dia selalu menghadiahiku sebuah revisi.Indah,bukan?Kapan aku bisa mendengar kata-kata “Oke,Bagus,Accept it!”.Ah, oh kapan wahai Bumi dan Langit ?

“Pagi,Pak.”
“Oke,pagi.Oh Mel!Wah saya ga nyangka kamu dateng sepagi ini.Rata-rata mahasiswa bimbingan saya nyerahin revisinya ya sore menjelang malem atau malem menjelang saya tidur.Untung saya......”
“Untung saya apa Pak?”
“Untung saya ga punya istri,gitu.Ah kamu, serius banget.Yakin revisinya mau dikumpulin sekarang?”
“Ha?Ga punya istri?Pak,Almarhum Bu Murni kan istri Bapak,maaf maksud Bapak ga ada lagi gitu ya Pak istri Bapak ,gitu kan Pak yah?”
“Mana revisi kamu?”
“Ha ? Revisi?Aduh Pak,maaf kalo saya nyinggung Bapak,saya cuma mau nanya aja Pak”
“Iya revisi kamu kasih ke saya,sebelum saya berubah pikiran.”
“Oh iya Pak.Ga mau dibaca dulu,ya saya ga ngarep ada kesalahan fatal atau kesalahan kecil yang ngeharusin saya revisi lagi gitu pak,tapi kalo....”
“Ga usah,terima kasih sebelumnya.Siap-siap sidang.Saya ga akan mempersulit kamu,saya cuma akan memutar cara berpikir kamu,ya opposite lah,kamu ngerti kan maksud saya?”
“Ha?Oke,Pak!Siap..Makasi banyak Pak.”

Opposite?Berlawanan maksudnya?Bahkan ketika aku salah bicara pun,beliau tidak memarahiku.Aku tiba-tiba terdiam.

“Woi!Bengong aja lo!”

Terkejut bukan main ketika Bani datang menghampiriku.Ya,dia memang selalu datang tak disangka dan berhasil membuyarkan lamunanku yang berdiri terpaku di depan ruangan Pak Jamal.

“Ah,lo ngagetin aja.Ngapain lo ke ruang Pak Jamal?”
“Ga,gue mau ke Bu Anis,haha cuma mau ngagetin lo aja,makanya lewat sini.”
“Niat lo mau nyabut nyawa gue ya?Parah lo!Udah sana ke Bu Anis,mumpung mukanya masih baik tuh”
“Ha?Emang kenapa Ibu nya?Wah mampus gue!”
“Tau tuh,samperin gih keburu badmood doi,jangan lupa tanya udah makan apa belum ke dia,apalagi lo cowok,ampuh loh Ban,hahaha duluan yah!”
“Haha,thankyou tipsnya”
“Mmmm...”
“Eh,Mel!Gue denger-denger,Tania lulus beasiswa yg bulan juni kemaren loh.Lo bukannya daftar juga yah?”
“Ha?pengumuman nya udah keluar?Tania lulus ?”
“Wah,lo ga tau?Tadi gue ketemu ama Tania,buru-buru gitu,mau ngeliat hasilnya kali ya,yaudah kesana dulu yah!”
Tertegun lagi.Kedua kalinya.Terlalu banyak pernyataan yang bahkan tak ingin aku pikirkan jawabannya.Maksudnya apa?Ia sama sekali tidak memberitahuku.Padahal kami bersama-sama mengajukan beasiswa itu,tapi ini apa?Kenapa ia menjadi seperti ini?
****
Pagi ini terasa panjang bagiku.Terasa menyesakkan dan membingungkan.Siang ini terik sekali.Bahkan nyaris menghunus ubun-ubunku.Sambil menenangkan diri,meneguk juice melon yang segar di persimpangan jalan dekat kampus.Seharusnya panas siang ini membakar setidaknya semangat ku hari ini,untuk melewati hari ini.Lamunanku makin panjang.Tetapi buyar ketika 1 pesan masuk ke handphone-ku.Wah,rupanya Niko.

“...........................................................”

Traktir?Pacar baru?Siapa?Niko?Pandanganku kosong.Pikiranku mengabur.Bahkan harus sedih atau senang pun,aku tak dapat membedakannya.Haruskan aku senang dan bersorak sorai?Haruskah aku sedih dan meneteskan air mata?Lalu apa artinya 3 bulan ini?Dia mendekati ku atau apa?Dia menyukai ku sebagai apa?Calon pacar?Teman lama yang tiba-tiba datang ke kehidupanku kini dan ingin menjadikanku temannya ketika kesepian?Atau orang yang benar-benar berniat ia sakiti?Atau apa?Bahkan di posisi apa aku kini di hadapannya saja, aku tak jelas.Tangan ku seketika mendingin.Aku berjalan menuju rumah,walau tahu arahnya ,tapi seakan jatuh terhempas ke jalanan.Bukan kaki ku,tapi hati dan perasaanku.Dan siang itu yang mulai beranjak sore,langit mulai gelap.Aku bahkan tak ingin masuk ke rumah.Masih buram benak ini untuk memikirkan,aku ini apa?Manusia seperti apa aku?
Mereka bahkan menganggapku seperti bayangan.Masih tertegun lesu dan terdiam di bawah pohon rindang mahoni di depan rumahku,kenapa aku dibuat begini oleh mereka.Tania,sahabat sejati yang awalnya hanya bercerita kisah hidup sederhana dan kini mulai menata mimpi bersama untuk meraihnya.Niko,kekasih dalam hatiku yang tak akan menjadi kekasih bagi hatinya,yang setiap hari selalu berbagi keceriaan di kala kesepian dan selalu berbagi energi di kala kelelahan yang datang dari masa laluku.Tetapi kini apa yang kusebut sahabat sejati itu telah berjalan tegap seorang diri di jalan yang bisa aku lalui juga dan apa yang kusebut kekasih hatiku mematahkan rangkaian indah perasaan yang telah kususun rapi dan kini lenyap dan hancur begitu saja.Hujan itu datang.Setiap butiran yang jatuh pun terasa sungguh menyakitkan,bukan hanya raga,tapi jiwa ini juga.Ia menusuk ke dalam,terasa menyakitkan.

Tapi aku lebih merapatkan diriku ke bawah pohon mahoni ini.Aku menengok ke daun rindang dan lebat.Kutampung setiap butiran hujan yang jatuh membasahi wajahku.

“Apakah aku tak pernah menganggapku sahabat?Apakah kamu tidak menyukaiku?Apakah aku terlalu biasa untuk hidup mereka?Apakah aku tidak pernah membuat kalian bahagia?Sampai sejauh inikah kalian menyakitiku?Apakah aku bisa menjadi sepertimu?Biasa saja,tak terlalu istimewa tapi menenangkan dan menjadi alasan mereka mendekat padamu?Mungkin aku seperti mahoni ini.Bukan apa-apa,datang ketika mereka butuh,tetapi menyejukkan,menyelamatkan.Apakah itu tidak bisa menjadi alasan kalian tetap disini?Sahabat,kekasih,tetaplah di sini,bahkan aku gamang melihat kalian sekejam ini.


Setidaknya mahoni ini memberi aku jawaban yang tak terucap,jangan berubah,karena aku tak akan berubah.Tetaplah tenang,menenangkan,dan selalu ada ketika kalian datang lagi padaku suatu saat.Tapi berubahlah kalian,karena aku tak ingin disakiti lagi seperti waktu ini,nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar