Mereka beramai-ramai saling merangkul.Seperti sudah lama
tidak bersua,rindu itu terasa lepas terlihat dari eratnya pertemuan itu.Tawa
mereka juga lepas membahana seluruh memori yang tersimpan lama.Aku juga ikut
dirangkul di sana,bersama mereka.
Satu sosok yang aku rindukan,sahabat yang
benar-benar sahabat,Deila,tapi ia tertawa dengan kawannya lainnya.Mereka
mengajakku ke tribun di sebuah lapangan yang luas.Baru kali ini aku
melihatnya.Lagi,aku tidak begitu dihiraukan.Aku pun berlalu menuju ke atas
melewati tangga yang diduduki oleh banyak orang.Aku juga melewati lorong yang sesak akan manusia juga,tapi lorong ini
terasa familiar dan gumaman suaranya,ya seperti pernah aku dengar
sebelumnya.Aku masuk ke sebuah ruangan.Lalu aku malah terdiam,tidak tahu
hendak berbuat apa.Tiba-tiba saja aku memegang sebuah ember besar berisi
pakaian yang cukup banyak.Lalu aku keluar melewati pintu yang sama.Tetapi
semakin aku berjalan,semakin aku mulai berlari sembari memegang pakaian yang
kubentuk jadi bola.Aku berlari makin kencang,menerjang kerumunan orang dan
tiba-tiba sampailah aku di sebuah lapangan bola yang berpasir,aku melihat
sebuah bola melayang ke hadapanku hampir mengenai kepalaku,tetapi aku melihat
sosok sahabatku yang lain,Heski,seperti hendak menangkap bola yang melambung ke
kepalaku,dan sahabat-sahabat kecil ku yang lain pun terlihat sedang berkumpul
di sana.Mereka melemparkan senyum hangat dan tersungging tulus.Aku pun terus
berlari semakin kencang,dengan perasaan lega mereka mendukung dari belakang.
“Duuuuk”
Ah,tanganku seperti membentur kursi keras yang tepat
berada disampingku.Aku membuka mata,dan silaunya mentari sore yang hendak
kembali ke peraduannya menembus jendela kamarku yang memang mudah sekali untuk
menyerap panasnya matahari,dari fajar menyingsing sampai akan tenggelamnya
mentari itu.Ternyata aku tertidur dan bermimpi.Tapi itu mimpi yang cukup
indah.Cukup.
Sore itu aku tidak berniat untuk tidur siang atau sekedar
berleha-leha.Sebelum tidur siang yang tidak direncanakan itu,di meja belajarku
sudah aku persiapkan semuanya,membuka laptop dan memasang chargeran juga siap
dengan lampu meja belajar yang selalu menemaniku setiap hendak berkutat dengan
laptop.Tapi entah kenapa badan begitu lelah,dibaringkan sebentar malah tertidur
sampai petang pukul 18.00.Nyawa belum terkumpul sepenuhnya,masih ingin
meregangkan tubuh yang terasa pegal entah seperti selesai berolahraga atau
apa,namun terasa cukup melelahkan.Sisa sore aku habiskan dengan berbaring dan
bersantai sejenak.Ada dua hal yang daritadi terngiang di pikiranku.Introvert
dan Pendengar yang Baik.
“Iya yah,aku kalo ngobrol ama dia suka ga nyambung,bingung
mau ngomong apa.” Ucapku tadi siang kepada seorang teman,Aisle.
“Bener juga sih,ujung-ujungnya ngobrol tentang cowok lagi
yah kalo sama dia,ya Nik” respon Aisle mengiyakan.
“Jadi ya,aku sering diem kalo bareng Hilsa,itung-itung
jadi good listener lah ya,lagipula
aku gak hobi juga ceritain masalah aku,lebih dipendem sendiri kalo ga terlalu
penting” balas aku lagi.
“Itu bukan good listener namanya,introvert kali” jawab
Aisle singkat
Senyum kecil kusunggingkan.Maksudnya?Aku?Tadi aku
mengatakan padanya kalau aku good listener,yang selalu setia mendengar setiap
cerita,keluh kesah orang-orang yang ada di sampingku.Introvert?Aku-kah?
Perjalanan pulang aku masih berpikir,introvert kah
aku?Kadang pertanyaan itu selalu bermunculan berulang-ulang sepeti tak pernah
terjawab menekankan diriku bahwa aku memang begitu.Semakin lama semakin
terkungkung pada pemikiran itu dan buruknya aku malah tenggelam pada stigma
yang aku tanam sendiri dalam pikiranku.Kadang akal sehatku terkalahkan oleh
persepsi orang-orang dengan pandangannya yang negatif.
Tapi satu hal yang aku tahu tentang apa itu introvert.Ia
diam bukan berarti tak tahu apa-apa.Ia tenang,bukan gemar menyendiri dan memojokkan
dirinya di sudut ruangan.Ia bukan tak berteman,ia selektif mampu memilah mana
yang baik dan mana yang tidak akan memberi pengaruh positif pada hidupnya.Ia
punya segudang ide.Jika ia memilihmu sebagai teman,beruntunglah kamu dipilihnya
sebagai teman berbagi ide.Ia tulus dan setia.Itulah introvert yang aku
tahu.Kalau pun aku introvert di depan mereka,bukan soal.Kelak menjadi jika dunia
tahu isi pikiranku, aku bisa jadi solusi bersama.Karena itu aku,Introvert yang
punya keahlian sebagai The Good Listener.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar