Hari
Selasa.Panas.Ketika Aku Tersadar Lambat Laun Menjadi Seorang yang Bodoh.
Aku pikir kelas pukul 09.00 kali ini aku
terlambat.Ternyata tidak!Sungguh lega.Keberuntunganku ketika berangkat,angkutan
umum yang aku naiki tidak memakan waktu yang lama untuk sekedar berhenti di
tengah jalan menunggu penumpang lain.Aku duduk sendiri di bangku belakang.Dan
di depan,seorang laki-laki duduk tepat di sebelah supir angkutan.Lama aku
melihat dan mengingat sepertinya seseorang yang familiar bagiku.Apa ini dejavu?Semacam pernah melihat dan
bertemu dia?Tidak penting,pikirku begitu.Perjalanan ke kampusku memakan waktu ½
jam.Mungkin lebih dan beruntung jika kurang dari ½ jam.Tapi kini perjalananku begitu mulus.Di tengah perjalanan,seorang ibu
masuk ke dalam angkutan.Nampaknya ia cukup kesulitan untuk naik ke angkutan
ini.Sedang aku saja tadi cukup sulit karena tingginya jarak trotoar dengan
tangga mobil itu.Ibu tadi berusaha cukup kuat,ingin aku menolong ibu,tapi
sepertinya ia tidak cukup menyambut sedikit pertolonganku.Angkutan yang aku
tumpangi pun melanjutkan perjalanannya.Ternyata Ibu itu berhenti di
persimpangan jalan.Dan tetap aku ingin menolongnya,tapi ia berusaha sendiri
seperti tak ingin menerima tanganku yang siap memegangi tangannya yang agak
sedikit goyang.Entah ini perasaanku atau bagaimana,sepertinya Ibu itu tidak
ingin pertolongan dariku.Sampailah aku di kampus dengan tingkat kecemasan yang
berkurang.Jam tanganku belum menunjukkan pukul 09.00.Aku menggunakan waktu
dengan cukup santai ,berjalan sedikit melenggang karena tidak takut untuk
terlambat.Aku melewati selasar gedung fakultasku,melewati kantor tata usaha
yang dari luar tidak pernah tampak sibuk,cukup sepi.Aku menuruni tangga ke
lantai bawah, dan di tangga akhir,aku bertemu 2 teman,mungkin mereka pikir
mereka sahabatku,tapi tidak untukku.Mereka,Nora dan Aidi duduk di bangku dekat
tangga terakhir yang aku turuni.Jujur,aku tidak pernah melihat mereka sebagai
sahabatku.Mungkin jika aku bisa meminta,biarlah aku berhadapan dengan musuh
yang berdiri jelas-jelas di depanku,di banding aku berhadapan dengan teman di
depan sahabatku tapi jelas-jelas ia menikamku dari belakangku.Rasanya?Seperti
dikhianati seumur hidup.Hal yang tidak ingin aku lakukan pagi ini adalah
berbicara dengannya,tapi...
“Hey,ada kelas?” tanya Aidi kepadaku
“Oh,Hai Di,iya ini mau kelas.”
“Ih,SMS aku gak dibales ya tadi?”
“Oh,sori,tadi gak ada pulsa,cuma bisa ngebales pake
paket,ya udah duluan ya,mau kelas dulu”
Ketika aku berusaha melambaikan tangan yang tandanya aku
tidak ingin melanjutkan percakapan dengannya pagi ini,ia malah melanjutkan
dengan pertanyaan lain.
“Oh iya,tugas presentasi,aku ngerjain yang mana?Atau mau
dibagi?”
“Dibagi aja ya,aku udah ngerjain bagian awalnya,ya
udah,aku buru-buru nih,duluan ya”
Aku cepat mengakhiri percakapan itu,dulu ketika semuanya
masih terlihat palsu,aku pun antusias berbicara dengannya,karena aku tulus
menganggapnya sahabat,tapi sekarang melihat matanya saja,semua kepalsuan itu
tergurat jelas sampai aku pun benci untuk menatap kenyataan mengapa dia ada di
hidupku.Sesampainya di kelas..
“Eh,Nik,untung ga telat!” sapa Bianka,seorang sahabat yang
aku anggap tapi entah kenapa akhir-akhir ini terasa jauh dari kata sahabat.
“Hey,iya nih,ternyata pas waktunya ya Ka.”
Aku mengambil
nafas sejenak karena mesti naik turun tangga karena kelas mata kuliah ini yang
sesak akan banyak siswa harus dipindah ke ruangan yang lebih luas.Berbicara
tentang Bianka,hari itu hari kamis.Aku ingat jelas hari itu.Setelah aku cukup
lelah pikiran dan fisik,aku masih harus melanjutkan kelas lain pada hari
itu.Bianka menungguku di depan pintu kelas,duduk bersama temannya,Narsha.Mereka
sangat dekat karena pacarnya Bianka adalah keluarga jauh Narsha.Bisa
dibilang,mereka sering bersama.Aku yang datang dari lantai bawah dengan nafas
terhengal-hengal ikut duduk di samping Bianka.Aku dengan Narsha tidak begitu
dekat.Aku tipe orang yang tidak ingin sok
dekat dengan orang lain jika tidak begitu akrab,cukup aku sapa dan senyum
kepada orang itu.Setelah duduk beberapa saat,aku pun menyimpan buku di dalam
kelas dan pergi ke toilet yang jaraknya tak jauh dari kursi yang kami,aku,Bianka dan Narsha duduki.Lima menit di toilet aku pun keluar,mungkin karena langkahku
yang tidak begitu terdengar dari mereka,dari apa yang aku lihat sepintas,Bianka seperti sedang berbisik dengan Narsha,mungkin sedang membicarakan yang
penting,sampai aku pun seperti tidak mendengar suara mereka lagi,namun setelah
langkahku yang cukup cepat,Bianka langsung mengubah posisi duduknya yang santai
lalu mengeraskan suaranya lagi dan tampak jelas sedang mengalihkan pembicaraan.Apa
yang aku lihat bukan bentuk dari prasangka buruk.Apa yang aku lihat langsung
aku simpulkan sendiri dalam pikiranku,”Ah,dia bukan sahabatku lagi.Dia selalu
bercerita apa saja tentang siapapun,termasuk Narsha,teman yang baru dekat
dengannya kepadaku.Tapi sepertinya ada yang lain yang akan menikamku dari
belakang.”Duduk terdiam di kelas,15 menit kemudian Bianka masuk dan duduk di
sebelahku.Ketika ada yang aneh yang terjadi antara aku dan seseorang,aku tidak
bisa menyimpan perubahan sikap itu.Terkadang aku tidak begitu mendengar
ucapannya,atau tidak merespon seantusias biasanya.Ya,aku terdiam saat itu.Apakah
hari ini aku tidak akan memakai label “sahabat” lagi untuk teman-teman yang
biasanya dekat denganku untuk seterusnya ? Bisa jadi tidak.
Kelas hari ini selesai.Aku dan Bianka ke luar kampus.Bianka membeli minuman yang baru aku dengar namanya kali ini dan aku berdiri menunggu
sembari melihat-lihat menunya.Lalu,dia berjalan 5 meter di hadapanku.Siapa
dia?Dia,kudeskripsikan mungkin bukan sejenis gebetan,tapi seperti pemandangan yang melunakkan hati dan
jiwaku.Pada awalnya aku kesal dengan kehambaran hidupku,tapi semenjak “dia”
selalu lalu lalang di hadapanku akhir-akhir ini,semuanya terasa
berwarna.Mungkin aku tahu namanya.Dia itu Giyo.Tapi lebih mungkin lagi,dia
tidak tahu namaku.Ibaratnya “Apalah aku ini,hanya butiran debu”.Hanya
melihatnya saja,cukup memberi warna pada hidupku yang membosankan ini.”Dia tak
perlu tahu namaku”,ucap hatiku.
Setelah melihat sedikit pemandangan yang mencuci
mataku,aku dan Bianka makan siang di kantin yang tak jauh dari tempat yang aku
singgahi tadi.Aku memesan makanan dan duduk berhadapan dengan Bianka.Kami,ketika
makan selalu mengobrol dengan hangatnya.Lalu Bianka mulai bercerita,tentang
Narsha yang bertanya kepada Bianka kenapa ia belum kunjung dikenalkan kepada
keluarga besar Narsha.Ia bercerita panjang,aku meresponnya
datar dan biasa berusaha menjaga ucapan agak tak terkesan menyudutkan
Narsha.Yang aku takutkan adalah bisa saja suatu saat Bianka menceritakan apa yang
aku ucapkan tentang Narsha kepada Narsha.Bisa dibilang “politik adu domba”.Mungkin
semenjak kejadian sepintas lalu di hari kamis itu cukup mengubah pandanganku
kepada Bianka.Ia bukan teman,ia bukan sahabat.Ia hanya orang yang sedang
menemanimu makan siang dan sekedar haha-hihi sejenak karena setelah itu dia pun
tak akan mempedulikan apa yang kamu lakukan.Setelah cukup panjang bercerita
tentang Narsha,datanglah seorang teman yang dulunya cukup dekat dengan
Bianka,namanya Tara.Bianka mengenalkannya kepadaku.
Mereka bercerita sungguh akrab
sekali,sedangkan aku melanjutkan makan siangku dan hanya sebagai pendengar
bodoh di antara mereka.Menit berlalu,mereka terdiam.Tara yang awalnya berdiri
di sebelah Bianka,lalu memiringkan badannya dan sepertinya Bianka dan Tara sedang
berbisik.Aku tidak terlalu menghiraukan.Tara pergi.Lalu Biankaa mengatakan padaku
“Tara nanya,kamu anak jurusan kita atau enggak,gitu”
Aku hanya merespon dengan tawa kecil yang mungkin seperti
kebingungan.Tepat pada suapan terakhir,di benakku terpikir “Wah,sebegitu tak
terlihatkah aku di sini?Padahal kami,aku dan Tara sering berpapasan,bahkan
saling melihat dari mata ke mata.Sebegitu kecilnya aku?Apakah aku terlihat
seperti debu yang bahkan tak dapat terlihat oleh kasat mata?
Sepanjang perjalanan
pulang aku terdiam.Yang aku teriakkan dalam hatiku adalah,”Namaku,wajahku,kehadiranku
mungkin tak pernah kalian sadari hari ini.Tapi suatu saat aku yakin,namaku
mungkin didengar oleh ribuan orang nanti dibanding kalian yang namanya nanti
hanya didengar oleh puluhan orang saja.”.Tapi jauh dari lubuk hatiku rasanya
ingin menangis,dan teriakan kecil menyesakkan hati ini dan bilang “Bodoh,kenapa
kamu dulu menutup diri.Inilah akibatnya kamu bahkan tidak pernah dikenal orang
banyak.I’m Nothing.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar