Selasa, 18 Februari 2014

1日目-1-Nichi-me “The Question:Am I really Nothing?”

Hari  Selasa.Panas.Ketika Aku Tersadar Lambat Laun Menjadi Seorang yang Bodoh.


Aku pikir kelas pukul 09.00 kali ini aku terlambat.Ternyata tidak!Sungguh lega.Keberuntunganku ketika berangkat,angkutan umum yang aku naiki tidak memakan waktu yang lama untuk sekedar berhenti di tengah jalan menunggu penumpang lain.Aku duduk sendiri di bangku belakang.Dan di depan,seorang laki-laki duduk tepat di sebelah supir angkutan.Lama aku melihat dan mengingat sepertinya seseorang yang familiar bagiku.Apa ini dejavu?Semacam pernah melihat dan bertemu dia?Tidak penting,pikirku begitu.Perjalanan ke kampusku memakan waktu ½ jam.Mungkin lebih dan beruntung jika kurang dari ½ jam.Tapi kini perjalananku  begitu mulus.Di tengah perjalanan,seorang ibu masuk ke dalam angkutan.Nampaknya ia cukup kesulitan untuk naik ke angkutan ini.Sedang aku saja tadi cukup sulit karena tingginya jarak trotoar dengan tangga mobil itu.Ibu tadi berusaha cukup kuat,ingin aku menolong ibu,tapi sepertinya ia tidak cukup menyambut sedikit pertolonganku.Angkutan yang aku tumpangi pun melanjutkan perjalanannya.Ternyata Ibu itu berhenti di persimpangan jalan.Dan tetap aku ingin menolongnya,tapi ia berusaha sendiri seperti tak ingin menerima tanganku yang siap memegangi tangannya yang agak sedikit goyang.Entah ini perasaanku atau bagaimana,sepertinya Ibu itu tidak ingin pertolongan dariku.Sampailah aku di kampus dengan tingkat kecemasan yang berkurang.Jam tanganku belum menunjukkan pukul 09.00.Aku menggunakan waktu dengan cukup santai ,berjalan sedikit melenggang karena tidak takut untuk terlambat.Aku melewati selasar gedung fakultasku,melewati kantor tata usaha yang dari luar tidak pernah tampak sibuk,cukup sepi.Aku menuruni tangga ke lantai bawah, dan di tangga akhir,aku bertemu 2 teman,mungkin mereka pikir mereka sahabatku,tapi tidak untukku.Mereka,Nora dan Aidi duduk di bangku dekat tangga terakhir yang aku turuni.Jujur,aku tidak pernah melihat mereka sebagai sahabatku.Mungkin jika aku bisa meminta,biarlah aku berhadapan dengan musuh yang berdiri jelas-jelas di depanku,di banding aku berhadapan dengan teman di depan sahabatku tapi jelas-jelas ia menikamku dari belakangku.Rasanya?Seperti dikhianati seumur hidup.Hal yang tidak ingin aku lakukan pagi ini adalah berbicara dengannya,tapi...

“Hey,ada kelas?” tanya Aidi kepadaku
“Oh,Hai Di,iya ini mau kelas.”
“Ih,SMS aku gak dibales ya tadi?”
“Oh,sori,tadi gak ada pulsa,cuma bisa ngebales pake paket,ya udah duluan ya,mau kelas dulu”

Ketika aku berusaha melambaikan tangan yang tandanya aku tidak ingin melanjutkan percakapan dengannya pagi ini,ia malah melanjutkan dengan pertanyaan lain.

“Oh iya,tugas presentasi,aku ngerjain yang mana?Atau mau dibagi?”
“Dibagi aja ya,aku udah ngerjain bagian awalnya,ya udah,aku buru-buru nih,duluan ya”

Aku cepat mengakhiri percakapan itu,dulu ketika semuanya masih terlihat palsu,aku pun antusias berbicara dengannya,karena aku tulus menganggapnya sahabat,tapi sekarang melihat matanya saja,semua kepalsuan itu tergurat jelas sampai aku pun benci untuk menatap kenyataan mengapa dia ada di hidupku.Sesampainya di kelas..

“Eh,Nik,untung ga telat!” sapa Bianka,seorang sahabat yang aku anggap tapi entah kenapa akhir-akhir ini terasa jauh dari kata sahabat.
“Hey,iya nih,ternyata pas waktunya ya Ka.” 

Aku mengambil nafas sejenak karena mesti naik turun tangga karena kelas mata kuliah ini yang sesak akan banyak siswa harus dipindah ke ruangan yang lebih luas.Berbicara tentang Bianka,hari itu hari kamis.Aku ingat jelas hari itu.Setelah aku cukup lelah pikiran dan fisik,aku masih harus melanjutkan kelas lain pada hari itu.Bianka menungguku di depan pintu kelas,duduk bersama temannya,Narsha.Mereka sangat dekat karena pacarnya Bianka adalah keluarga jauh Narsha.Bisa dibilang,mereka sering bersama.Aku yang datang dari lantai bawah dengan nafas terhengal-hengal ikut duduk di samping Bianka.Aku dengan Narsha tidak begitu dekat.Aku tipe orang yang tidak ingin sok dekat dengan orang lain jika tidak begitu akrab,cukup aku sapa dan senyum kepada orang itu.Setelah duduk beberapa saat,aku pun menyimpan buku di dalam kelas dan pergi ke toilet yang jaraknya tak jauh dari kursi yang kami,aku,Bianka dan Narsha duduki.Lima menit di toilet aku pun keluar,mungkin karena langkahku yang tidak begitu terdengar dari mereka,dari apa yang aku lihat sepintas,Bianka seperti sedang berbisik dengan Narsha,mungkin sedang membicarakan yang penting,sampai aku pun seperti tidak mendengar suara mereka lagi,namun setelah langkahku yang cukup cepat,Bianka langsung mengubah posisi duduknya yang santai lalu mengeraskan suaranya lagi dan tampak jelas sedang mengalihkan pembicaraan.Apa yang aku lihat bukan bentuk dari prasangka buruk.Apa yang aku lihat langsung aku simpulkan sendiri dalam pikiranku,”Ah,dia bukan sahabatku lagi.Dia selalu bercerita apa saja tentang siapapun,termasuk Narsha,teman yang baru dekat dengannya kepadaku.Tapi sepertinya ada yang lain yang akan menikamku dari belakang.”Duduk terdiam di kelas,15 menit kemudian Bianka masuk dan duduk di sebelahku.Ketika ada yang aneh yang terjadi antara aku dan seseorang,aku tidak bisa menyimpan perubahan sikap itu.Terkadang aku tidak begitu mendengar ucapannya,atau tidak merespon seantusias biasanya.Ya,aku terdiam saat itu.Apakah hari ini aku tidak akan memakai label “sahabat” lagi untuk teman-teman yang biasanya dekat denganku untuk seterusnya ? Bisa jadi tidak.
Kelas hari ini selesai.Aku dan Bianka ke luar kampus.Bianka membeli minuman yang baru aku dengar namanya kali ini dan aku berdiri menunggu sembari melihat-lihat menunya.Lalu,dia berjalan 5 meter di hadapanku.Siapa dia?Dia,kudeskripsikan mungkin bukan sejenis gebetan,tapi seperti pemandangan yang melunakkan hati dan jiwaku.Pada awalnya aku kesal dengan kehambaran hidupku,tapi semenjak “dia” selalu lalu lalang di hadapanku akhir-akhir ini,semuanya terasa berwarna.Mungkin aku tahu namanya.Dia itu Giyo.Tapi lebih mungkin lagi,dia tidak tahu namaku.Ibaratnya “Apalah aku ini,hanya butiran debu”.Hanya melihatnya saja,cukup memberi warna pada hidupku yang membosankan ini.”Dia tak perlu tahu namaku”,ucap hatiku.
Setelah melihat sedikit pemandangan yang mencuci mataku,aku dan Bianka makan siang di kantin yang tak jauh dari tempat yang aku singgahi tadi.Aku memesan makanan dan duduk berhadapan dengan Bianka.Kami,ketika makan selalu mengobrol dengan hangatnya.Lalu Bianka mulai bercerita,tentang Narsha yang bertanya kepada Bianka kenapa ia belum kunjung dikenalkan kepada keluarga besar Narsha.Ia bercerita panjang,aku meresponnya datar dan biasa berusaha menjaga ucapan agak tak terkesan menyudutkan Narsha.Yang aku takutkan adalah bisa saja suatu saat Bianka menceritakan apa yang aku ucapkan tentang Narsha kepada Narsha.Bisa dibilang “politik adu domba”.Mungkin semenjak kejadian sepintas lalu di hari kamis itu cukup mengubah pandanganku kepada Bianka.Ia bukan teman,ia bukan sahabat.Ia hanya orang yang sedang menemanimu makan siang dan sekedar haha-hihi sejenak karena setelah itu dia pun tak akan mempedulikan apa yang kamu lakukan.Setelah cukup panjang bercerita tentang Narsha,datanglah seorang teman yang dulunya cukup dekat dengan Bianka,namanya Tara.Bianka mengenalkannya kepadaku.
Mereka bercerita sungguh akrab sekali,sedangkan aku melanjutkan makan siangku dan hanya sebagai pendengar bodoh di antara mereka.Menit berlalu,mereka terdiam.Tara yang awalnya berdiri di sebelah Bianka,lalu memiringkan badannya dan sepertinya Bianka dan Tara sedang berbisik.Aku tidak terlalu menghiraukan.Tara pergi.Lalu Biankaa mengatakan padaku

“Tara nanya,kamu anak jurusan kita atau enggak,gitu”

Aku hanya merespon dengan tawa kecil yang mungkin seperti kebingungan.Tepat pada suapan terakhir,di benakku terpikir “Wah,sebegitu tak terlihatkah aku di sini?Padahal kami,aku dan Tara sering berpapasan,bahkan saling melihat dari mata ke mata.Sebegitu kecilnya aku?Apakah aku terlihat seperti debu yang bahkan tak dapat terlihat oleh kasat mata?
Sepanjang perjalanan pulang aku terdiam.Yang aku teriakkan dalam hatiku adalah,”Namaku,wajahku,kehadiranku mungkin tak pernah kalian sadari hari ini.Tapi suatu saat aku yakin,namaku mungkin didengar oleh ribuan orang nanti dibanding kalian yang namanya nanti hanya didengar oleh puluhan orang saja.”.Tapi jauh dari lubuk hatiku rasanya ingin menangis,dan teriakan kecil menyesakkan hati ini dan bilang “Bodoh,kenapa kamu dulu menutup diri.Inilah akibatnya kamu bahkan tidak pernah dikenal orang banyak.I’m Nothing.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar