Minggu, 08 Juni 2014

Antara Aku dan Kamu


Karena kebahagiaan untukku  bukan mengasingkan kamu dari hidup,tapi menghapus jejak masa lalu,antara aku dan kamu.
Karena kebahagiaan untukku bukan ‘sampai jumpa’,tapi ‘selamat tinggal’,antara aku dan kamu.
Karena antara aku dan kamu cukup diam di masa itu,masa kelabu,antara aku dan kamu.
***


-Aurora-

“Bahkan di saat seperti ini dia ga dateng .” Aku bagai membisikkan keluhanku kepada awan kelabu.Sungguh kelabu.Mungkin hujan saat ini akan turun sangat deras.Mereka bergerombol menyatu membentuk awan besar nan gelap seakan siap menghantam aku yang terlalu angkuh berdiri di bawah gejala alam yang sebentar lagi akan menunjukkan aksinya.Keputusanku untuk tetap menunggu-nya di sini mungkin terdengar naif.Jika bisa dihitung,mungkin aku sudah beratus kali , tidak,beribu kali melihat jam tangan.Tidak ada satu sms pun yang kuterima.
Dia benar-benar lupa.
***

-Raam-

“Aargh,kenapa gue harus lembur sih malem ini,aargggh !! “ Hari ini kesialan macam apa yang harus aku laluin.Lembur yang tak diundang menghancurkan rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari pun hancur berantakan.Kesialanku pun  bertambah karena seharusnya aku menghubungi-nya untuk tak menungguku,di sana.Benda mati seperti handphone yang sukses menggagalkan semuanya.Setidaknya dia tidak berdiri di sana sendirian.Sial ! Sepertinya pun akan turun hujan.Aku tak punya pilihan.
Menghampirinya.Diam-diam.
***


-Raam-

Mungkin terdengar konyol ketika seseorang pe-lembur harus keluar diam-diam di saat jam kerja yang genting seperti ini.Tapi aku tak punya pilihan.Sekarang atau tidak sama sekali.
Syukurnya aku tiba di halte dimana aku dan dia berjanji.Hari ini dia melalui tapakan pertama dalam perjalanan kariernya.Dia ingin aku ada untuk menyemangati-nya,mengucapkan selamat jika berhasil atau menjadi sandaran bagi-nya jika gagal.Sial ! Benar-benar sial ! Hujan memang seharusnya turun jika awan sudah sangat kelabu seperti ini.Tapi bukan aku yang menjadi kebiasaan untuk mengecek terlebih dahulu sebelum berangkat kemana pun apakah akan turun hujan atau tidak.Haltenya makin dekat.Aku basah kuyup.Kupercepat langkahku menembus hujan yang saat ini cukup deras.
Langkahku terhenti.Dia....
Masih di sana.
***

-Aurora-

“Si bodoh itu menghampiriku.Dia berdiri di depanku.Dia menatapku.Dia tersenyum padaku?”
“Masih bisakah dia tersenyum padaku?”

Pikiranku seakan sibuk membaca ekspresi-nya.Dia basah kuyup.Hujan kali ini benar-benar luar biasa,penuh pengertian dan memahami harapanku.Aku sangat berharap apabila ia menghampiriku dia basah kuyup.Ya,itu terjadi.Tapi,dia basah kuyup dan tersenyum ? Dia pikir aku badut berhidung merah yang sedang menghiburnya.Dia bisa tersenyum di saat dia seharusnya merasa bersalah padaku ?
Bahkan akal sehatku tak mampu memahami kebodohannya.
***

-Raam-

Aku memberi senyumku,walau tampak terpaksa.Entah mengapa aku tersenyum padanya,padahal aku sang pria yang tidak menepati janji dan membuatnya berdiri di tengah hujan deras dan petir yang saling sahut menyahut.Apa yang ada di pikiranku?Kenapa aku tersenyum?Kenapa bukan kata ‘maaf’ yang aku ucapkan pertama kali.Ya,bodoh.Good job!
Dia hanya menatapku.Cukup tajam.Dan dalam.Aku pun menjadi gagap dan tak dapat berkata-kata.Oh iya,aku harus menanyakannya terlebih dahulu.

“Jadi,gimana tadi?Berhasil?”

Iya!Bodohku semakin menjadi-jadi.Bahkan lebih fatal.Kata ‘maaf’ Raam! Kata ‘maaf’ yang harus kau ucapkan dulu!Oke.Sudah terlanjur.Aku menunggu-nya berbicara.Semoga kau menjawab pertanyaan tak berotak dan tak berperasaanku,Ra.

“Oh,tadi?Emang tadi ada apa?Ada yang penting?Apa urusannya sama kamu?” jawaban Aurora benar-benar membunuh dasar hatiku.Menghujam.Aku tidak berkedip.Dan bersiap menjawab hujaman itu.

“Maaf,Ra.Aku gak tepat waktu.Bahkan aku yang buat janji tapi aku yang gak nepatin.Maaf.Aku bener-bener minta maaf.Tadi...”

Sebelum aku menyelesaikan “pembelaanku”,dia terlebih dulu memgatakan hujaman berikutnya kepadaku.

Tepat kesini.Di hati.
***
-Aurora-

Terlalu banyak alasan.Itu bentuk perkataan yang paling aku benci di dunia ini.Jika salah,sudah.Alasan hanya alat pembual belaka yang sudah disiapkan oleh orang-orang pemberi alasan.Kalau sudah janji tak bisa ditepati?Tak bisakah singkirkan alasan-alasan itu agar janji itu dilakukan ?

“Tadi kamu pergi sama Mila yang ketemu di kantor dan makan siang bareng dan sampai sore pun gak tau kemana.Itu?Atau, tadi kamu sibuk kerja dan lembur jadi gak bisa kemana-mana?Ya kan?Alasan lo basi Raam.Bahkan sebelum lo makan siang di kantor,gak ngehubungin gue dulu atau lembur,lo udah bikin janji ke gue.Seminggu yang lalu,inget?Atau perlu gue ingetin dulu?Ah,gue baru inget,keterima atau enggaknya gue mungkin bukan urusan lo kali ya.Gue cuma apa lo?Ah,temen,gue bahkan gak sanggup bilang gue ini sahabat lo.Gue terlalu buruk jadi sahabat lo.Sahabat,seseorang yang hebat dan gak sekejam gue.Yah,ini salah gue,Raam.Gue yang minta maaf.”

***

-Raam-

Dan ya.Itu hujaman berikutnya.Wanita ini benar-benar mematikan nyaliku untuk berdebat seperti ini.
Aku berusaha meredakan emosi ini.

“Jadi gimana Ra,kamu keterima gak ?”

“Bukan urusan lo,mantan sahabat”

Jawabannya benar-benar.........................................................

Benar-benar menggagalkan usahaku.Dia berbalik dan meninggalkanku.Langkahnya cepat dan tegas.Dia tidak menoleh ke belakang.Sama sekali.Aku ditinggal berdiri sendiri.Di tengah hujan yang dinginnya makin lama makin,.......................................
Perih.
***

Minggu sore,2019.

Derasnya hujan makin menjadi-jadi.Aku tertahan di sini.Sendiri,ya.Cukup banyak yang harus aku selesaikan hari ini,mungkin hujan memahamiku untuk menggunakan waktu sejenak beristirahat dan menikmati kopi lezat ini.Asapnya mengepul dan aromanya yang kuat memang terbukti menenangkan jiwa.Aku duduk di tengah cafe yang berjarak tidak jauh dari kantorku.Duduk di dekat jendela,memandang embun menutupi kehidupan di luar jendela ini hampir menjadikanku gadis yang malang.Tak berkawan.Apalagi pasangan.Sesaat aku malah memikirkan-nya.-Nya adalah panggilan yang tepat untuk-nya karena memang berhasil membuatku kecewa.Hari itu hujan,seperti ini namun lebih gelap,di saat aku terpuruk dan merasa menjadi manusia paling gagal di dunia ini,membutuhkan semangat yang mampu menyusun rasa terpurukku pada saat itu,dan orang yang berjanji malah tak kunjung terlihat batang hidungnya.Dan pada akhirnya ia seperti orang bodoh yang ingin mempedulikanku,atau mungkin ingin menertawakan kegagalanku.Bekerja menjadi jurnalis di majalah kenamaan bukan perkara mudah.Dan setelah 2 tahun mengerahkan usaha,barulah aku mendapat gelar karyawan di sana.Setelah bertahun-tahun,dan tentunya lebih percaya diri tanpa kehadiran-nya,tanpa janji-nya.


Masih belum berhenti.Hujan kini.Tiba-tiba sosok yang aku panggil –nya itu terlihat di cafe ini.Disini.Mataku.Mata-nya.Saling menatap.Seakan terkunci oleh gembok yang kuncinya pun tak dapat kutemukan sendiri.Ingin sesegara mungkin memalingkan tatapanku,sial!Tak bisa!

Dia berjalan ke arahku.Ya,ke arahku!Harus apa?Berdiri dan berjalan menghindarinya.Ah,tak mungkin!
Ya.Sekarang dia berhenti di hadapanku.Dan.....

“Hai,Ra.”

Kata-kata yang dilontarkan kaku.Ya,kaku.Seperti orang yang hendak berkenalan.Bahkan kami telah kenal 19 tahun yang lalu.

“Gak ada yang perlu kita bicarain kayaknya.Menurut gue.Kalo menurut lo ada,ngomong aja sama jendela.Mungkin bakal didengerin.Permisi.”

Yes! Aku memang ahli menghujam hati seseorang dengan kata-kata sakti seperti tadi.

Tapi dia menahan tanganku.Langkahku pun terhenti.

“Oke,sekarang gue lagi ngomong sama jendela.Gue juga gak tau dia bakal jawab atau enggak.Oke,gini loh jendela,gue punya temen ya kira-kira udah 19 tahun kita deket,tapi suatu hari di memutuskan roda kehidupan 19 tahun itu dengan kata-kata mantan teman.Gue gak tau gue sejahat itu.Tapi sekarang gue tau gue memang yang terjahat,bagi hidupnya mungkin.”

Dia melepaskan tanganku.Kami yang saling menampakkan punggung terdiam,tak ada yang berbicara .

Aku bahkan lebih terkejut dengan perkataannya yang begitu klise.Tanpa ada penyesalan sedikit pun.

“Siang di waktu kita 12 tahun,gue dipukulin sama anak-anak dari komplek setelah gue ngerebut remote control lo setelah gue babak belur ,lo baru muncul.Malem di saat orang tua gue ribut dan gue ga nyaman lagi di rumah dan gue butuh temen dan mutusin untuk nunggu lo di depan pintu rumah lo,lo baru muncul besok paginya di hadapan gue yang ketiduran di depan pintu.Waktu nyokap gue koma dan meninggal keesokan harinya gue sendirian,bingung gak tau harus gimana,dan lo sibuk dengan kehidupan bahkan gue udah minta tolong sama lo.Dan waktu itu,ketika gue bener-bener pengen kerja di agensi majalah itu dan gagal untuk kesekian kalinya,lo malah janji untuk minjemin bahu lo untuk jadi sandaran gue.Butuh berapa tahun lagi gue jadi lelucon buat lo?”

Aku mengucapkannya dengan suara yang bergetar.Berusaha menahan tangis yang mungkin sesaat lagi akan tumpah.

Raam terdiam sejenak.

“Iya.Gue bukan seseorang yang ada buat lo.Di saat lo susah,terutama.”

Raam berbalik dan berbicara menghadapku.

“Gue akuin gue yang salah,selalu.Bahkan untuk jadi sahabat lo aja gue ga sanggup.Gue terlalu banyak kekurangan buat lo”

Dia menatapku dalam.

“Kalau ada kesempatan lain untuk mengubah itu semua mungkin itu bisa jadi penebus dosa buat gue,Ra”

Aku pun tak ingin diam mendengar ucapannya yang benar-benar tak ada arah.Masih tak ada,penyesalan.

“Ini bukan dosa lo.Bukan kesalahan lo,gue,gue yang salah selama ini.Percaya kalo gue minta dukungan,perlindungan dan belas kasihan lo,hidup gue bakal tentram.Ternyata semakin gue percaya lo satu-satunya orang yang selalu di hidup gue,di saat itulah gue jatuh di lubang yang sama.”

“Raa.....”

Dia memanggilku dengan tatapan yang dipenuhi harapan untuk dimaafkan.

“Kita jalani masing-masing.Gak ada gunanya nunjuk siapa yang salah ,apa yang salah.Menurut gue,lebih baik apa yang udah terjadi kita lupain sama-sama.”

Jawabku kini lebih yakin.
Raam tersenyum menatapku.Mungkin dia salah mengerti maksudku.

“Lo mau maafin gue?”

“Gue mau lo jadi orang asing bagi hidup gue.”

Aku melangkah kaki.Pergi.Itu yang aku inginkan,antara aku dan dia,inginnya?Entahlah,setidaknya jika tak bertemu dengannya tak akan lagi ada sapaan antara aku dan dia.




RED

JUNE 8th 2014








Tidak ada komentar:

Posting Komentar