Karena kebahagiaan untukku bukan mengasingkan kamu dari hidup,tapi
menghapus jejak masa lalu,antara aku dan kamu.
Karena kebahagiaan untukku bukan ‘sampai jumpa’,tapi ‘selamat
tinggal’,antara aku dan kamu.
Karena antara aku dan kamu cukup diam di masa itu,masa
kelabu,antara aku dan kamu.
***
-Aurora-
“Bahkan
di saat seperti ini dia ga dateng .” Aku bagai membisikkan keluhanku kepada
awan kelabu.Sungguh kelabu.Mungkin hujan saat ini akan turun sangat
deras.Mereka bergerombol menyatu membentuk awan besar nan gelap seakan siap
menghantam aku yang terlalu angkuh berdiri di bawah gejala alam yang sebentar
lagi akan menunjukkan aksinya.Keputusanku untuk tetap menunggu-nya di sini mungkin terdengar naif.Jika
bisa dihitung,mungkin aku sudah beratus kali , tidak,beribu kali melihat jam
tangan.Tidak ada satu sms pun yang
kuterima.
Dia
benar-benar lupa.
***
-Raam-
“Aargh,kenapa
gue harus lembur sih malem ini,aargggh !! “ Hari ini kesialan macam apa yang
harus aku laluin.Lembur yang tak diundang menghancurkan rencana yang sudah
disusun jauh-jauh hari pun hancur berantakan.Kesialanku pun bertambah karena seharusnya aku menghubungi-nya untuk tak menungguku,di sana.Benda
mati seperti handphone yang sukses
menggagalkan semuanya.Setidaknya dia tidak berdiri di sana sendirian.Sial !
Sepertinya pun akan turun hujan.Aku tak punya pilihan.
Menghampirinya.Diam-diam.
***
-Raam-
Mungkin
terdengar konyol ketika seseorang pe-lembur harus keluar diam-diam di saat jam
kerja yang genting seperti ini.Tapi aku tak punya pilihan.Sekarang atau tidak
sama sekali.
Syukurnya
aku tiba di halte dimana aku dan dia berjanji.Hari
ini dia melalui tapakan pertama dalam
perjalanan kariernya.Dia ingin aku ada untuk menyemangati-nya,mengucapkan selamat jika berhasil atau menjadi sandaran bagi-nya jika gagal.Sial ! Benar-benar sial !
Hujan memang seharusnya turun jika awan sudah sangat kelabu seperti ini.Tapi
bukan aku yang menjadi kebiasaan untuk mengecek terlebih dahulu sebelum
berangkat kemana pun apakah akan turun hujan atau tidak.Haltenya makin
dekat.Aku basah kuyup.Kupercepat langkahku menembus hujan yang saat ini cukup
deras.
Langkahku
terhenti.Dia....
Masih
di sana.
***
-Aurora-
“Si
bodoh itu menghampiriku.Dia berdiri di depanku.Dia menatapku.Dia tersenyum
padaku?”
“Masih
bisakah dia tersenyum padaku?”
Pikiranku
seakan sibuk membaca ekspresi-nya.Dia basah kuyup.Hujan kali ini benar-benar
luar biasa,penuh pengertian dan memahami harapanku.Aku sangat berharap apabila
ia menghampiriku dia basah kuyup.Ya,itu terjadi.Tapi,dia basah kuyup dan tersenyum ? Dia pikir aku badut
berhidung merah yang sedang menghiburnya.Dia bisa tersenyum di saat dia seharusnya
merasa bersalah padaku ?
Bahkan
akal sehatku tak mampu memahami kebodohannya.
***
-Raam-
Aku
memberi senyumku,walau tampak terpaksa.Entah mengapa aku tersenyum
padanya,padahal aku sang pria yang tidak menepati janji dan membuatnya berdiri
di tengah hujan deras dan petir yang saling sahut menyahut.Apa yang ada di
pikiranku?Kenapa aku tersenyum?Kenapa bukan kata ‘maaf’ yang aku ucapkan
pertama kali.Ya,bodoh.Good job!
Dia
hanya menatapku.Cukup tajam.Dan dalam.Aku pun menjadi gagap dan tak dapat
berkata-kata.Oh iya,aku harus menanyakannya terlebih dahulu.
“Jadi,gimana
tadi?Berhasil?”
Iya!Bodohku
semakin menjadi-jadi.Bahkan lebih fatal.Kata ‘maaf’ Raam! Kata ‘maaf’ yang
harus kau ucapkan dulu!Oke.Sudah terlanjur.Aku menunggu-nya berbicara.Semoga
kau menjawab pertanyaan tak berotak dan tak berperasaanku,Ra.
“Oh,tadi?Emang
tadi ada apa?Ada yang penting?Apa urusannya sama kamu?” jawaban Aurora
benar-benar membunuh dasar hatiku.Menghujam.Aku tidak berkedip.Dan bersiap
menjawab hujaman itu.
“Maaf,Ra.Aku
gak tepat waktu.Bahkan aku yang buat janji tapi aku yang gak nepatin.Maaf.Aku
bener-bener minta maaf.Tadi...”
Sebelum
aku menyelesaikan “pembelaanku”,dia terlebih dulu memgatakan hujaman berikutnya
kepadaku.
Tepat
kesini.Di hati.
***
-Aurora-
Terlalu
banyak alasan.Itu bentuk perkataan yang paling aku benci di dunia ini.Jika
salah,sudah.Alasan hanya alat pembual belaka yang sudah disiapkan oleh
orang-orang pemberi alasan.Kalau sudah janji tak bisa ditepati?Tak bisakah
singkirkan alasan-alasan itu agar janji itu dilakukan ?
“Tadi
kamu pergi sama Mila yang ketemu di kantor dan makan siang bareng dan sampai
sore pun gak tau kemana.Itu?Atau, tadi kamu sibuk kerja dan lembur jadi gak
bisa kemana-mana?Ya kan?Alasan lo basi Raam.Bahkan sebelum lo makan siang di
kantor,gak ngehubungin gue dulu atau lembur,lo udah bikin janji ke gue.Seminggu
yang lalu,inget?Atau perlu gue ingetin dulu?Ah,gue baru inget,keterima atau
enggaknya gue mungkin bukan urusan lo kali ya.Gue cuma apa lo?Ah,temen,gue
bahkan gak sanggup bilang gue ini sahabat lo.Gue terlalu buruk jadi sahabat
lo.Sahabat,seseorang yang hebat dan gak sekejam gue.Yah,ini salah gue,Raam.Gue
yang minta maaf.”
***
-Raam-
Dan
ya.Itu hujaman berikutnya.Wanita ini benar-benar mematikan nyaliku untuk
berdebat seperti ini.
Aku
berusaha meredakan emosi ini.
“Jadi
gimana Ra,kamu keterima gak ?”
“Bukan
urusan lo,mantan sahabat”
Jawabannya
benar-benar.........................................................
Benar-benar
menggagalkan usahaku.Dia berbalik dan meninggalkanku.Langkahnya cepat dan
tegas.Dia tidak menoleh ke belakang.Sama sekali.Aku ditinggal berdiri
sendiri.Di tengah hujan yang dinginnya makin lama
makin,.......................................
Perih.
***
Minggu sore,2019.
Derasnya
hujan makin menjadi-jadi.Aku tertahan di sini.Sendiri,ya.Cukup banyak yang
harus aku selesaikan hari ini,mungkin hujan memahamiku untuk menggunakan waktu sejenak
beristirahat dan menikmati kopi lezat ini.Asapnya mengepul dan aromanya yang
kuat memang terbukti menenangkan jiwa.Aku duduk di tengah cafe yang berjarak
tidak jauh dari kantorku.Duduk di dekat jendela,memandang embun menutupi
kehidupan di luar jendela ini hampir menjadikanku gadis yang malang.Tak
berkawan.Apalagi pasangan.Sesaat aku malah memikirkan-nya.-Nya adalah panggilan yang tepat untuk-nya karena memang berhasil membuatku kecewa.Hari itu hujan,seperti
ini namun lebih gelap,di saat aku terpuruk dan merasa menjadi manusia paling
gagal di dunia ini,membutuhkan semangat yang mampu menyusun rasa terpurukku
pada saat itu,dan orang yang berjanji malah tak kunjung terlihat batang
hidungnya.Dan pada akhirnya ia seperti orang bodoh yang ingin
mempedulikanku,atau mungkin ingin menertawakan kegagalanku.Bekerja menjadi
jurnalis di majalah kenamaan bukan perkara mudah.Dan setelah 2 tahun
mengerahkan usaha,barulah aku mendapat gelar karyawan di sana.Setelah
bertahun-tahun,dan tentunya lebih percaya diri tanpa kehadiran-nya,tanpa janji-nya.
Masih
belum berhenti.Hujan kini.Tiba-tiba sosok yang aku panggil –nya itu terlihat di
cafe ini.Disini.Mataku.Mata-nya.Saling menatap.Seakan terkunci oleh gembok yang
kuncinya pun tak dapat kutemukan sendiri.Ingin sesegara mungkin memalingkan
tatapanku,sial!Tak bisa!
Dia
berjalan ke arahku.Ya,ke arahku!Harus apa?Berdiri dan berjalan
menghindarinya.Ah,tak mungkin!
Ya.Sekarang
dia berhenti di hadapanku.Dan.....
“Hai,Ra.”
Kata-kata
yang dilontarkan kaku.Ya,kaku.Seperti orang yang hendak berkenalan.Bahkan kami
telah kenal 19 tahun yang lalu.
“Gak
ada yang perlu kita bicarain kayaknya.Menurut gue.Kalo menurut lo ada,ngomong
aja sama jendela.Mungkin bakal didengerin.Permisi.”
Yes!
Aku memang ahli menghujam hati seseorang dengan kata-kata sakti seperti tadi.
Tapi
dia menahan tanganku.Langkahku pun terhenti.
“Oke,sekarang
gue lagi ngomong sama jendela.Gue juga gak tau dia bakal jawab atau
enggak.Oke,gini loh jendela,gue punya temen ya kira-kira udah 19 tahun kita
deket,tapi suatu hari di memutuskan roda kehidupan 19 tahun itu dengan
kata-kata mantan teman.Gue gak tau gue sejahat itu.Tapi sekarang gue tau gue
memang yang terjahat,bagi hidupnya mungkin.”
Dia
melepaskan tanganku.Kami yang saling menampakkan punggung terdiam,tak ada yang
berbicara .
Aku bahkan lebih terkejut dengan perkataannya yang begitu
klise.Tanpa ada penyesalan sedikit pun.
“Siang
di waktu kita 12 tahun,gue dipukulin sama anak-anak dari komplek setelah gue ngerebut
remote control lo setelah gue babak belur ,lo baru muncul.Malem di saat orang
tua gue ribut dan gue ga nyaman lagi di rumah dan gue butuh temen dan mutusin
untuk nunggu lo di depan pintu rumah lo,lo baru muncul besok paginya di hadapan
gue yang ketiduran di depan pintu.Waktu nyokap gue koma dan meninggal keesokan
harinya gue sendirian,bingung gak tau harus gimana,dan lo sibuk dengan
kehidupan bahkan gue udah minta tolong sama lo.Dan waktu itu,ketika gue
bener-bener pengen kerja di agensi majalah itu dan gagal untuk kesekian
kalinya,lo malah janji untuk minjemin bahu lo untuk jadi sandaran gue.Butuh
berapa tahun lagi gue jadi lelucon buat lo?”
Aku
mengucapkannya dengan suara yang bergetar.Berusaha menahan tangis yang mungkin
sesaat lagi akan tumpah.
Raam
terdiam sejenak.
“Iya.Gue
bukan seseorang yang ada buat lo.Di saat lo susah,terutama.”
Raam
berbalik dan berbicara menghadapku.
“Gue
akuin gue yang salah,selalu.Bahkan untuk jadi sahabat lo aja gue ga sanggup.Gue
terlalu banyak kekurangan buat lo”
Dia
menatapku dalam.
“Kalau
ada kesempatan lain untuk mengubah itu semua mungkin itu bisa jadi penebus dosa
buat gue,Ra”
Aku
pun tak ingin diam mendengar ucapannya yang benar-benar tak ada arah.Masih tak
ada,penyesalan.
“Ini
bukan dosa lo.Bukan kesalahan lo,gue,gue yang salah selama ini.Percaya kalo gue
minta dukungan,perlindungan dan belas kasihan lo,hidup gue bakal
tentram.Ternyata semakin gue percaya lo satu-satunya orang yang selalu di hidup
gue,di saat itulah gue jatuh di lubang yang sama.”
“Raa.....”
Dia
memanggilku dengan tatapan yang dipenuhi harapan untuk dimaafkan.
“Kita
jalani masing-masing.Gak ada gunanya nunjuk siapa yang salah ,apa yang
salah.Menurut gue,lebih baik apa yang udah terjadi kita lupain sama-sama.”
Jawabku
kini lebih yakin.
Raam
tersenyum menatapku.Mungkin dia salah mengerti maksudku.
“Lo
mau maafin gue?”
“Gue
mau lo jadi orang asing bagi hidup gue.”
Aku
melangkah kaki.Pergi.Itu yang aku inginkan,antara aku dan
dia,inginnya?Entahlah,setidaknya jika tak bertemu dengannya tak akan lagi ada
sapaan antara aku dan dia.
RED
JUNE 8th 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar