Sabtu, 20 September 2014

KUKAYUH MENJAUH

Tak kurang dari dua puluh empat jam, semua bisa berubah.Dari rasa bahagia menjadi sedih,dari rasa suka menjadi duka, dari rasa nyaman menjadi terancam, dari rasa percaya menjadi kecewa.Semuanya begitu singkat, sesingkat rasa hati ini dibolak-balik tak karuan.Tak sanggup? Kupilih, mengayuh menjauh dari semua rasa perih itu.

***


Tepat setahun.Rasa itu sama sakitnya seperti kala itu, kebahagiaan yang diraih namun tak kuat genggamannya, dan kini lepas.Sekarang? Telah berharap begitu jauh, namun kesalahannya yang membuat aku mundur dari semua ini.Skenarionya pun begitu apik disusun demi merangkai “kebahagiaan kita”.Namun, aku disadarkan pada satu hal dan menarik diri dari “kebahagiaan kita”. Aku lebih memilih “kebahagiaan-ku”. Setelah memilih begini, aku mulai tersadar “Apakah ini kegemaranku menyakiti diri sendiri seperti sekarang?”. Tetapi yang menguatkan langkahku kini adalah lebih baik merasakan kecewa hari ini daripada harus kecewa nanti, di masa depan.

***

Duma menunggu di persimpangan jalan. Sosok yang diharapkan tak kunjung menampakkan wujudnya.Duma kini pantang menyerah.Batinnya bertekad bahwa ia harus bertemu dengannya, kini atau tidak sama sekali. Siapa dia? Seseorang yang telah berjanji untuk menemuinya.Ia sebut sahabat penanya. Mungkin terdengar sedikit klasik. Di zaman modern begini, masih adakah yang disebut sahabat pena? Mungkin Duma sendiri heran mengapa ia harus menunggu seseorang yang seperti “itu”. Satu jam, dua jam, dan tiga jam berlalu. Duma yang biasanya tak sabaran, kini berubah menjinak, sabar menunggu seseorang itu. Lelah menunggu, Duma beranjak dari persimpangan ke suatu taman yang tak jauh dari sana. Tempatnya hangat. Daun-daun yang berguguran dibiarkan berserakan di sepanjang jalan taman itu. Duma berjalan menuju kursi batu di bawah pepohonan rindang berniat mendinginkan hati dan pikirannya yang tak karuan karena telah lama menunggu seseorang itu.
Beberapa saat menunggu, sosok itu muncul juga.

“Duma ? “

Suaranya berat bersahaja. Duma terdiam tak berkutik. Ia melihat dalam-dalam sosok yang berdiri di depannya. Duma masih belum percaya sosok ini yang tunggu 5 tahun lamanya. Duma benar-benar diam terpaku.

***

“Aku yakin 5 tahun lagi aku bakal jadi seseorang yang luar biasa! “ ucap  Duma yang berbaring di atas bukit rerumputan yang berada tak jauh dari rumahnya.

“Oh ya ? Gimana caranya ? Kok aku ga yakin ya ? “ balas Tio dengan nada merendahkankan Duma yang juga berbaring sambil menatap langit yang diterangi sinar terik matahari di hari minggu itu.

“Caranya? Itu rahasia! Pokoknya aku pasti jadi orang yang luar biasa, tunggu aja!” ucap Duma dengan suaranya yang melengking.

“Duma, setidaknya untuk jadi seseorang yang di luar dari biasanya, kita udah nyiapin planning untuk itu semua. Buktinya, kamu lagi nyiapin apa? Bukannya kamu cuma mengejar “pangeran” impianmu yang kamu khayalin tiap hari? Nah ! Bener kan? “ ucap Tio seraya bangkit dari posisi berbaringnya.

“Yo, aku ngomong ini serius. Kalo masalah itu, ga usah kamu pikirin. Aku tahu apa yang aku jalani dan apa yang aku raih. Jangan merasa paling tahu deh.” 
Duma beranjak dari bukit itu seraya pergi meninggalkan Tio.

“Duma, tunggu. Aku bukannya sok tahu yah. Aku tahu apa yang kamu lakuin, apa yang kamu harapin, dan apa yang sedang kamu raih. Aku kan? “. Perkataan Tio menghentikan langkah Duma yang telah setengah jalan meninggalkan bukit rerumputan itu. 
Duma berhenti dan terdiam, tak berkutik sekali pun.

“Iya, kenapa? Ada yang salah ? “. Kata-kata yang diucapkan Duma tegas namun terdengar getir. 

Tio yang berjarak tak jauh dengan Duma juga ikut terdiam. Tio tidak merespon.

“Lima tahun lagi. Ingat, Yo. Aku bisa jadi seseorang yang luar biasa. Seseorang yang hebat dan seseorang yang menganggumkan, untukmu. “.

Duma beranjak pergi. Benar-benar pergi. Menoleh ke belakang bukan pilihan Duma saat itu karena ia yakin wajah yang ia lihat 5 tahun lagi bukan wajah yang begini, wajah yang tidak pernah menganggap seorang Duma menjadi istimewa bagi seorang Tio, harapannya.Karena Duma yakin, wajah yang akan ia tatap nanti, adalah wajah yang menerima Duma karena ia ingin menerimanya.

***

Kini, seseorang yang diharapkan Duma selama 5 tahun dengan sosok “sahabat pena” yang selalu diterka siapakah dia ternyata Tio yang seharusnya 5 tahun kemudian juga bertemu dengannya. Duma masih belum percaya. Keberadaan Tio memang bukan yang diharapkan Duma sebagai seseorang itu. Orang yang menjadi sahabat penanya selama ini adalah orang yang selalu memberikan perhatian, selalu peduli pada Duma dan memberikan dukungan padanya, selama 5 tahun walau tak pernah bertemu secara langsung. Kenyataan yang Duma lihat hari itu benar-benar membuat sekujur tubuhnya lemas.

“Hai, udah 5 tahun nih gak ketemu kamu. Apa kabar ? “ ucap Tio menyapa Duma seraya memberikan tangannya untuk bersalaman.

“Oh, Hai, kabar baik “ balas Duma singkat

“Hmm oh iya, aku mau ngenalin kamu nih, ini Astri, aku mau nikah bulan depan, jadi ya pas banget ketemu kamu setelah sekian lama dan ngenalin langsung ke kamu. “

Duma terdiam untuk sekian kalinya. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Duma berpikir, penantiannya 5 tahun akan terbayar indah dengan pertemuannya hari ini bersama sahabat penanya. Duma hanya bisa tertawa kecil.

“Maksud kamu apa? Jadi selama 5 tahun ini aku bicara sama bayangan ? Sama khayalan ? Kenapa kamu yang harus jadi sahabat pena aku selama ini ? Untuk ngehancurin aku ? “. Kesabaran Duma tak bisa ditahannya lagi.

“Bukan gitu, Duma.Aku ga maksud untuk bikin kamu kayak gini. Kita udah temenan lama dan aku gak mau ngecewain kamu,  itu aja kok dan selama kita masih komunikasi 5 tahun ini aku bisa jagain kamu kan sebagai sahabat. “ ucap Tio

“Kamu malah sebaliknya. Kamu bener-bener ngecewain aku, Yo. Aku nunggu kamu kayak orang paling bodoh sedunia. Oke, trims!”

Duma meninggalkan taman yang hangat itu. Taman itu terasa hampa mungkin, bagi Duma.Selama 5 tahun daun-daun yang tumbuh segar kini tinggal berguguran dan jatuh ke tanah. Sama seperti perasaan Duma. Apa yang dirangkainya selama 5 tahun, apa yang diharapkannya untuk menjadi seseorang yang diinginkan pujaan hatinya kini bagi dedaunan itu.Berserakan dan terinjak-injak.

***


Apa yang kau nanti, apa yang kau harapkan, dan apa yang kau percayakan, janganlah terlalu menguras hati dan waktumu.Karna sesungguhnya, semua itu bisa berbalik menjadi penantian yang sia-sia, harapan yang kosong, dan kepercayaan yang runtuh begitu saja. Apabila kecewa, segerakan untuk beranjak pergi, jangan hanya diam. Kayuh roda kehidupanmu sejauh mungkin, sejauh kau meninggalkan luka kekecewaan di belakangmu.Tetaplah mengayuh, menjauh dan lebih menjauh.





RED


Sept 20th 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar