Tak kurang dari dua puluh empat jam, semua bisa
berubah.Dari rasa bahagia menjadi sedih,dari rasa suka menjadi duka, dari rasa
nyaman menjadi terancam, dari rasa percaya menjadi kecewa.Semuanya begitu
singkat, sesingkat rasa hati ini dibolak-balik tak karuan.Tak sanggup? Kupilih,
mengayuh menjauh dari semua rasa perih itu.
***
Tepat
setahun.Rasa itu sama sakitnya seperti kala itu, kebahagiaan yang diraih namun
tak kuat genggamannya, dan kini lepas.Sekarang? Telah berharap begitu jauh,
namun kesalahannya yang membuat aku mundur dari semua ini.Skenarionya pun
begitu apik disusun demi merangkai “kebahagiaan kita”.Namun, aku disadarkan
pada satu hal dan menarik diri dari “kebahagiaan kita”. Aku lebih memilih “kebahagiaan-ku”.
Setelah memilih begini, aku mulai tersadar “Apakah ini kegemaranku menyakiti
diri sendiri seperti sekarang?”. Tetapi yang menguatkan langkahku kini adalah
lebih baik merasakan kecewa hari ini daripada harus kecewa nanti, di masa
depan.
***
Duma
menunggu di persimpangan jalan. Sosok yang diharapkan tak kunjung menampakkan
wujudnya.Duma kini pantang menyerah.Batinnya bertekad bahwa ia harus bertemu
dengannya, kini atau tidak sama sekali. Siapa dia? Seseorang yang telah berjanji
untuk menemuinya.Ia sebut sahabat penanya. Mungkin terdengar sedikit klasik. Di
zaman modern begini, masih adakah yang disebut sahabat pena? Mungkin Duma
sendiri heran mengapa ia harus menunggu seseorang yang seperti “itu”. Satu jam,
dua jam, dan tiga jam berlalu. Duma yang biasanya tak sabaran, kini berubah
menjinak, sabar menunggu seseorang itu. Lelah menunggu, Duma beranjak dari
persimpangan ke suatu taman yang tak jauh dari sana. Tempatnya hangat.
Daun-daun yang berguguran dibiarkan berserakan di sepanjang jalan taman itu.
Duma berjalan menuju kursi batu di bawah pepohonan rindang berniat mendinginkan
hati dan pikirannya yang tak karuan karena telah lama menunggu seseorang itu.
Beberapa
saat menunggu, sosok itu muncul juga.
“Duma
? “
Suaranya
berat bersahaja. Duma terdiam tak berkutik. Ia melihat dalam-dalam sosok yang
berdiri di depannya. Duma masih belum percaya sosok ini yang tunggu 5 tahun
lamanya. Duma benar-benar diam terpaku.
***
“Aku
yakin 5 tahun lagi aku bakal jadi seseorang yang luar biasa! “ ucap Duma yang berbaring di atas bukit rerumputan
yang berada tak jauh dari rumahnya.
“Oh
ya ? Gimana caranya ? Kok aku ga
yakin ya ? “ balas Tio dengan nada merendahkankan Duma yang juga berbaring
sambil menatap langit yang diterangi sinar terik matahari di hari minggu itu.
“Caranya?
Itu rahasia! Pokoknya aku pasti jadi orang yang luar biasa, tunggu aja!” ucap Duma dengan suaranya yang
melengking.
“Duma,
setidaknya untuk jadi seseorang yang di luar dari biasanya, kita udah nyiapin planning untuk itu semua.
Buktinya, kamu lagi nyiapin apa?
Bukannya kamu cuma mengejar “pangeran” impianmu yang kamu khayalin tiap hari?
Nah ! Bener kan? “ ucap Tio seraya bangkit dari posisi berbaringnya.
“Yo,
aku ngomong ini serius. Kalo masalah itu, ga usah kamu pikirin. Aku tahu apa
yang aku jalani dan apa yang aku raih. Jangan merasa paling tahu deh.”
Duma
beranjak dari bukit itu seraya pergi meninggalkan Tio.
“Duma,
tunggu. Aku bukannya sok tahu yah.
Aku tahu apa yang kamu lakuin, apa yang kamu harapin, dan apa yang sedang kamu
raih. Aku kan? “. Perkataan Tio menghentikan langkah Duma yang telah setengah
jalan meninggalkan bukit rerumputan itu.
Duma berhenti dan terdiam, tak
berkutik sekali pun.
“Iya,
kenapa? Ada yang salah ? “. Kata-kata yang diucapkan Duma tegas namun terdengar
getir.
Tio yang berjarak tak jauh dengan Duma juga ikut terdiam. Tio tidak
merespon.
“Lima
tahun lagi. Ingat, Yo. Aku bisa jadi seseorang yang luar biasa. Seseorang yang
hebat dan seseorang yang menganggumkan, untukmu. “.
Duma beranjak pergi.
Benar-benar pergi. Menoleh ke belakang bukan pilihan Duma saat itu karena ia
yakin wajah yang ia lihat 5 tahun lagi bukan wajah yang begini, wajah yang
tidak pernah menganggap seorang Duma menjadi istimewa bagi seorang Tio,
harapannya.Karena Duma yakin, wajah yang akan ia tatap nanti, adalah wajah yang
menerima Duma karena ia ingin menerimanya.
***
Kini,
seseorang yang diharapkan Duma selama 5 tahun dengan sosok “sahabat pena” yang
selalu diterka siapakah dia ternyata Tio yang seharusnya 5 tahun kemudian juga
bertemu dengannya. Duma masih belum percaya. Keberadaan Tio memang bukan yang
diharapkan Duma sebagai seseorang itu. Orang yang menjadi sahabat penanya
selama ini adalah orang yang selalu memberikan perhatian, selalu peduli pada
Duma dan memberikan dukungan padanya, selama 5 tahun walau tak pernah bertemu
secara langsung. Kenyataan yang Duma lihat hari itu benar-benar membuat sekujur
tubuhnya lemas.
“Hai,
udah 5 tahun nih gak ketemu kamu. Apa
kabar ? “ ucap Tio menyapa Duma seraya memberikan tangannya untuk bersalaman.
“Oh,
Hai, kabar baik “ balas Duma singkat
“Hmm
oh iya, aku mau ngenalin kamu nih, ini Astri, aku mau nikah bulan depan, jadi
ya pas banget ketemu kamu setelah
sekian lama dan ngenalin langsung ke kamu. “
Duma
terdiam untuk sekian kalinya. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Duma
berpikir, penantiannya 5 tahun akan terbayar indah dengan pertemuannya hari ini
bersama sahabat penanya. Duma hanya bisa tertawa kecil.
“Maksud
kamu apa? Jadi selama 5 tahun ini aku bicara sama bayangan ? Sama khayalan ?
Kenapa kamu yang harus jadi sahabat pena aku selama ini ? Untuk ngehancurin aku
? “. Kesabaran Duma tak bisa ditahannya lagi.
“Bukan
gitu, Duma.Aku ga maksud untuk bikin kamu kayak gini. Kita udah temenan lama
dan aku gak mau ngecewain kamu, itu aja
kok dan selama kita masih komunikasi 5 tahun ini aku bisa jagain kamu kan sebagai sahabat. “ ucap Tio
“Kamu
malah sebaliknya. Kamu bener-bener ngecewain aku, Yo. Aku nunggu kamu kayak
orang paling bodoh sedunia. Oke, trims!”
Duma
meninggalkan taman yang hangat itu. Taman itu terasa hampa mungkin, bagi
Duma.Selama 5 tahun daun-daun yang tumbuh segar kini tinggal berguguran dan
jatuh ke tanah. Sama seperti perasaan Duma. Apa yang dirangkainya selama 5
tahun, apa yang diharapkannya untuk menjadi seseorang yang diinginkan pujaan
hatinya kini bagi dedaunan itu.Berserakan dan terinjak-injak.
***
Apa
yang kau nanti, apa yang kau harapkan, dan apa yang kau percayakan, janganlah
terlalu menguras hati dan waktumu.Karna sesungguhnya, semua itu bisa berbalik
menjadi penantian yang sia-sia, harapan yang kosong, dan kepercayaan yang
runtuh begitu saja. Apabila kecewa, segerakan untuk beranjak pergi, jangan
hanya diam. Kayuh roda kehidupanmu sejauh mungkin, sejauh kau meninggalkan luka
kekecewaan di belakangmu.Tetaplah mengayuh, menjauh dan lebih menjauh.
RED
Sept 20th 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar