Selasa, 30 Juni 2015

30 Hari

“Menulis itu bagian dari mengenal diri, memahami jiwa dan meresapi pribadi. Bahagia itu bagian dari kehidupan yang dapat diraih, salah satunya dengan berkarya. Seorang guru pernah berkata, Ingin tahu bagaimana hidupmu tak sia-sia?Teruslah berkarya, maka Tuhan akan memberikan penghargaan bagi umat-Nya, dengan telah menghasilkan sesuatu”

***

Pagi ini saya dibangunkan telepon dari Mama. Beliau dengan suaranya yang lembut dan tegas, tiba-tiba menanyakanku pertanyaan yang mengejutkan di pagi hari.

“Na, setelah lulus nanti  mau kerja dulu atau lanjut sekolah?”

“Ma..setelah dipikir-pikir, aku mau kerja dulu, Ma. Sekolah itu perlu, tapi pengalaman itu penting. Boleh ya Ma...”

“Iya, bagus begitu...”

“Kok sepi Ma? Yang lain pada kemana?”

“Pergi semua, Na.”

“Yaudah, aku ke kampus dulu ya, Ma...”

Aku menatap transkrip nilai. Haruskah mengulang mata kuliah ini? Atau haruskan aku fokus dengan tugas akhirku? Benar-benar dilema, siang ini.

Setelah dari kampus, aku memutuskan untuk pergi berbelanja bahan masakan berbuka puasa nanti. Aku sempat berpikir, betapa hebatnya para ibu yang mampu memasak setiap harinya, pagi, siang hingga malam dengan menu yang bervariasi, dan rasanya selalu enak. Sedang aku, yang hanya memikirkan apa yang harus aku masak nanti saja sudah membuat kepalaku pusing. Akhirnya satu menu diputuskan, dan sesampainya di rumah aku memasak. 
Malam pun tiba, seorang keluarga menghampiriku. Bisa dibilang, beliau ibu kedua bagiku. Setelah berbincang lama, beliau pulang. Di sinilah aku. Malam ini berniat menyelesaikan satu komitmen, satu tujuan, menulis. Menulis apa saja itu menyenangkan. Sebenarnya, sudah semenjak pagi tadi aku hendak menyelesaikan tulisan ini. 
Ini memang tulisan terakhir di Bulan Juni, tulisan yang mengakhiri sebuah event yang luar biasa yang pada awalnya cukup berat untuk kujalani. Mulai dari kemauan, ide, inspirasi, waktu, kelelahan, kesakitan, kesedihan, penderitaan yang selama 30 hari ini aku lewati. Hambatan itu awalnya kujadikan penghalang untuk menyelesaikan setiap kisah di 30 hari ini. 
Namun, setelah aku berdiam sejenak, berpikir dan meresapi, ternyata semua yang kulalui itu menjadi inspirasi, ide, kisah yang mampu kuutarakan dalam sebuah cerita pendek. Terlalu banyak kisah di setiap menit selama 30 hari ini yang membuatku belajar untuk mengambil hikmah, mengambil pembelajaran. Terlalu banyak orang yang sulit dilupakan untuk kujadikan peran dalam cerita-cerita selama 30 hari ini. Mereka luar biasa. Mereka tanpa sengaja membagikan kisah hidupnya kepadaku secara tersirat, dan menjadi bagian nyawa dari ceritaku. 

Pernah di suatu cerita aku harus menghapus beberapa kalimat, bahkan menghapus semua dan mengulangnya. Ada kalanya pula aku menulis tanpa henti, ibarat air yang mengalir deras, pada akhirnya senyum lega menghiasi akhir cerita. Pernah pula di beberapa cerita, aku menangis. Aku meneteskan air mata tanpa sengaja, tanpa sadar. Tetapi, pada akhirnya, semua kisah itu selesai.

Pada tulisan terakhir di 30 hari bulan Juni ini, izinkan saya mengucapkan banyak Terima Kasih yang tak terhingga kepada mereka, orang-orang yang luar biasa yang tanpa sengaja dan izin terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai ide cerita selama 30 hari ini. Saya menjadi mereka sebagai cerita bukan tanpa alasan, bukan tanpa pemikiran. Saya sadar, saya tak mungkin hidup sendiri, tak mungkin menuliskan cerita hanya didasarkan pada pengalaman saya saja, pastilah ada orang-orang di balik itu yang membuat cerita saya bisa tersampaikan. Tak sedikit, inspirasi cerita 30 hari ini muncul dari Keluarga, Sahabat, Teman, Orang-orang Hebat, Orang-orang yang sekedar mampir sejenak di kehidupan saya, bahkan orang-orang yang tak pernah saya temui atau kenali sebelumnya. 

Tak sedikit pula inspirasi cerita 30 hari ini muncul dari karya-karya ciptaan seseorang yang telah besar namanya, telah besar karyanya. Walaupun mereka entah membaca atau tidak tulisan saya ini, yang terpenting, saya telah merasa bersyukur dan berterima kasih kepada mereka, yang luar biasa. Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam saya berharap, mereka membacanya.

Setiap cerita 30 hari ini tidak bermaksud untuk menggurui, mengajari atau bahkan menyindir seseorang atau sekelompok orang. Di sini, saya benar-benar hanya ingin berbagi pengalaman, kisah hidup dan cerita orang lain yang secara langsung maupun tidak langsung saya saksikan, saya dengarkan ataupun saya rasakan. Bagi saya, cerita selama 30 hari ini malah menjadi pembelajaran bagi saya pribadi.

Bahwa komitmen itu harga mati. Tidak menepati janji pada orang lain? Pasti menyakitkan dan mungkin bukan hal yang aneh. Tetapi, tidak menepati janji pada diri sendiri? Sama halnya dengan membohongi diri sendiri, mengubah diri menjadi seseorang yang lain, dan melarikan diri dari kehidupan sendiri. Selain berterima kasih pada inspirator-inspirator saya, saya ingin berterima kasih pada suatu event yang sangat membantu saya untuk mendisiplinkan diri dalam sebuah komitmen untuk menulis. #NulisRandom2015 ini adalah event yang benar-benar luar biasa. 
Penggagas @nulisbuku terlebih. Mereka, beliau adalah orang hebat yang mampu mengajak banyak orang, terkhusus saya untuk menjadi pribadi yang baru, pribadi yang lebih baik, pribadi yang haus akan berkarya, pribadi yang ingin maju. Terima Kasih...

Memang, #NulisRandom2015 ini sudah berakhir, tapi hal yang penting yang harus diingat bahwa, Ini bukan akhir, namun awal untuk melanjutkan karya-karya berikutnya. Semoga di bulan-bulan berikutnya, saya tetap konsisten menciptakan suatu karya, dan semoga suatu karya yang besar yang saya impikan sejak dulu, sebuah novel. Bismillah...

Semoga teman-teman penulis yang membaca ini bisa merasakan manfaat dan pembelajaran dari event #NulisRandom2015, dan semoga di lain waktu kita bisa bertemu dan di masa depan bertemu sebagai Penulis-Penulis Hebat dan Berkomitmen, Komitmen untuk Berkarya, Menulis !!!



“Karena menulis, selesai dan menerbitkannya adalah kebahagiaan”


June, 30th 2015

Salam

RED

#NulisRandom2015 day 30 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar