“Menulis itu bagian dari mengenal diri, memahami jiwa dan
meresapi pribadi. Bahagia itu bagian dari kehidupan yang dapat diraih, salah satunya
dengan berkarya. Seorang guru pernah berkata, Ingin tahu bagaimana hidupmu tak
sia-sia?Teruslah berkarya, maka Tuhan akan memberikan penghargaan bagi
umat-Nya, dengan telah menghasilkan sesuatu”
Pagi ini saya dibangunkan telepon dari Mama. Beliau
dengan suaranya yang lembut dan tegas, tiba-tiba menanyakanku pertanyaan yang
mengejutkan di pagi hari.
“Na, setelah lulus nanti mau kerja dulu atau lanjut sekolah?”
“Ma..setelah dipikir-pikir, aku mau kerja dulu, Ma.
Sekolah itu perlu, tapi pengalaman itu penting. Boleh ya Ma...”
“Iya, bagus begitu...”
“Kok sepi Ma? Yang lain pada kemana?”
“Pergi semua, Na.”
“Yaudah, aku ke kampus dulu ya, Ma...”
Aku menatap transkrip nilai. Haruskah mengulang mata
kuliah ini? Atau haruskan aku fokus dengan tugas akhirku? Benar-benar dilema,
siang ini.
Setelah dari kampus, aku memutuskan untuk pergi
berbelanja bahan masakan berbuka puasa nanti. Aku sempat berpikir, betapa hebatnya
para ibu yang mampu memasak setiap harinya, pagi, siang hingga malam dengan
menu yang bervariasi, dan rasanya selalu enak. Sedang aku, yang hanya
memikirkan apa yang harus aku masak nanti saja sudah membuat kepalaku pusing.
Akhirnya satu menu diputuskan, dan sesampainya di rumah aku memasak.
Malam pun
tiba, seorang keluarga menghampiriku. Bisa dibilang, beliau ibu kedua bagiku.
Setelah berbincang lama, beliau pulang. Di sinilah aku. Malam ini berniat
menyelesaikan satu komitmen, satu tujuan, menulis. Menulis apa saja itu
menyenangkan. Sebenarnya, sudah semenjak pagi tadi aku hendak menyelesaikan
tulisan ini.
Ini memang tulisan terakhir di Bulan Juni, tulisan yang mengakhiri
sebuah event yang luar biasa yang pada awalnya cukup berat untuk kujalani. Mulai
dari kemauan, ide, inspirasi, waktu, kelelahan, kesakitan, kesedihan,
penderitaan yang selama 30 hari ini aku lewati. Hambatan itu awalnya kujadikan
penghalang untuk menyelesaikan setiap kisah di 30 hari ini.
Namun, setelah aku
berdiam sejenak, berpikir dan meresapi, ternyata semua yang kulalui itu menjadi
inspirasi, ide, kisah yang mampu kuutarakan dalam sebuah cerita pendek. Terlalu
banyak kisah di setiap menit selama 30 hari ini yang membuatku belajar untuk
mengambil hikmah, mengambil pembelajaran. Terlalu banyak orang yang sulit
dilupakan untuk kujadikan peran dalam cerita-cerita selama 30 hari ini. Mereka
luar biasa. Mereka tanpa sengaja membagikan kisah hidupnya kepadaku secara
tersirat, dan menjadi bagian nyawa dari ceritaku.
Pernah di suatu cerita aku
harus menghapus beberapa kalimat, bahkan menghapus semua dan mengulangnya. Ada
kalanya pula aku menulis tanpa henti, ibarat air yang mengalir deras, pada
akhirnya senyum lega menghiasi akhir cerita. Pernah pula di beberapa cerita,
aku menangis. Aku meneteskan air mata tanpa sengaja, tanpa sadar. Tetapi, pada
akhirnya, semua kisah itu selesai.
Pada tulisan terakhir di 30 hari bulan Juni ini, izinkan
saya mengucapkan banyak Terima Kasih yang tak terhingga kepada mereka,
orang-orang yang luar biasa yang tanpa sengaja dan izin terlebih dahulu untuk
dijadikan sebagai ide cerita selama 30 hari ini. Saya menjadi mereka sebagai
cerita bukan tanpa alasan, bukan tanpa pemikiran. Saya sadar, saya tak mungkin
hidup sendiri, tak mungkin menuliskan cerita hanya didasarkan pada pengalaman
saya saja, pastilah ada orang-orang di balik itu yang membuat cerita saya bisa
tersampaikan. Tak sedikit, inspirasi cerita 30 hari ini muncul dari Keluarga,
Sahabat, Teman, Orang-orang Hebat, Orang-orang yang sekedar mampir sejenak di
kehidupan saya, bahkan orang-orang yang tak pernah saya temui atau kenali
sebelumnya.
Tak sedikit pula inspirasi cerita 30 hari ini muncul dari
karya-karya ciptaan seseorang yang telah besar namanya, telah besar karyanya.
Walaupun mereka entah membaca atau tidak tulisan saya ini, yang terpenting,
saya telah merasa bersyukur dan berterima kasih kepada mereka, yang luar biasa.
Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam saya berharap, mereka membacanya.
Setiap cerita 30 hari ini tidak bermaksud untuk
menggurui, mengajari atau bahkan menyindir seseorang atau sekelompok orang. Di
sini, saya benar-benar hanya ingin berbagi pengalaman, kisah hidup dan cerita
orang lain yang secara langsung maupun tidak langsung saya saksikan, saya
dengarkan ataupun saya rasakan. Bagi saya, cerita selama 30 hari ini malah menjadi
pembelajaran bagi saya pribadi.
Bahwa komitmen itu harga mati. Tidak menepati janji pada
orang lain? Pasti menyakitkan dan mungkin bukan hal yang aneh. Tetapi, tidak
menepati janji pada diri sendiri? Sama halnya dengan membohongi diri sendiri,
mengubah diri menjadi seseorang yang lain, dan melarikan diri dari kehidupan
sendiri. Selain berterima kasih pada inspirator-inspirator saya, saya ingin
berterima kasih pada suatu event yang
sangat membantu saya untuk mendisiplinkan diri dalam sebuah komitmen untuk
menulis. #NulisRandom2015 ini adalah event
yang benar-benar luar biasa.
Penggagas @nulisbuku terlebih. Mereka, beliau
adalah orang hebat yang mampu mengajak banyak orang, terkhusus saya untuk
menjadi pribadi yang baru, pribadi yang lebih baik, pribadi yang haus akan
berkarya, pribadi yang ingin maju. Terima Kasih...
Memang, #NulisRandom2015 ini sudah berakhir, tapi hal yang
penting yang harus diingat bahwa, Ini bukan akhir, namun awal untuk melanjutkan
karya-karya berikutnya. Semoga di bulan-bulan berikutnya, saya tetap konsisten
menciptakan suatu karya, dan semoga suatu karya yang besar yang saya impikan
sejak dulu, sebuah novel. Bismillah...
Semoga teman-teman penulis yang membaca ini bisa
merasakan manfaat dan pembelajaran dari event #NulisRandom2015, dan semoga di
lain waktu kita bisa bertemu dan di masa depan bertemu sebagai Penulis-Penulis
Hebat dan Berkomitmen, Komitmen untuk Berkarya, Menulis !!!
“Karena menulis, selesai dan menerbitkannya adalah
kebahagiaan”
June, 30th 2015
Salam
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar