Senin, 29 Juni 2015

Sajak Maaf

“Ternyata memaafkan lebih sulit dibanding melupakan ataupun melepaskan  Sejatinya, memaafkan tak perlu lagi ada sakit, siksa, benci atau amarah yang tersimpan di dalam hati. Namun, jika semua rasa itu masih ada? Berarti maaf itu belum sepenuhnya ada, karena masih ada rasa untuk tetap bersama.”
***

Tepat 5 tahun yang aku berdiri di tempat ini. Semua begitu asing. Udara, suasana, orang-orang di sekitar, bahkan aku tak pernah menyangka bisa berdiri di sini. Dulu, aku berharap menjadi seseorang yang baru. Lima tahun berikutnya, aku mampu mewujudkan harapan itu. Semua berjalan baik-baik saja. Tapi 5 tahun yang lalu, aku pernah berharap pula, setelah berhasil di sini aku akan kembali ke rumah, ke negara, ke kota, ke rumah kehidupanku dulu. Limat tahun berikutnya, aku tak mampu mewujudkan harapan itu. Bahkan, tak ingin mengingat, tak ingin menjadikan itu sebuah kenyataan. Bukan karena tak ingin, hanya saja aku tak ingin bertemu seseorang. Seseorang yang kutekadkan untuk kulupakan. Namun, tekad itu ternyata hanya di bibir saja, hatiku berkata lain. Hari ini aku pulang, pulang ke rumah.

***

“Assalamualaikum”

Aku berdiri di depan pintu berwarna coklat ini. Rumah ini masih sama, sama hangatnya, sama cerahnya, dan kenangan yang ada di pikiranku masih tetap sama. Tetapi, yang kutakutkan, apakah mereka masih sama? Masih bersikap sama kepadaku? Masih bisa menerimaku? Terang saja, aku “kabur” ke tempat lain untuk mengejar cita-cita, tanpa memberi kabar sebelumnya, tanpa menceritakan semuanya. Pada hari H aku langsung terbang ke Belanda, entah direstui atau tidak oleh mereka, aku bisa dibilang pergi tanpa pamit.

Beliau membukakan pintu. Beliau menatapku kosong. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku belum bisa menggerakan badanku ataupun tanganku, bahkan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku langsung jatuh berlutut di hadapannya. Setidaknya, ketika menatapnya di hadapanku bebalku langsung runtuh, egoku langsung luluh, dan kini hanya tersungkur lemah.

“Maa, maafin aku yaa...”

Isak tangis pecah. Beliau juga tak berkata. Ia menangis dan meraih badanku untuk bangun dari jatuhku.

“Maafin aku maa...”

Hanya kata itu yang bisa kuucapkan pada beliau. Beliau memelukku erat.

***

“Gimana kehidupan di sini? Kampusnya gimana?”

Beliau menanyakan banyak hal hingga aku terdiam tak mampu menjawabnya. Wajahnya berseri. Aku menyangka beliau tak akan memaafkanku, ternyata beliau sama sekali tak menyinggung tragedi 5 tahun lalu, tragedi pergi tanpa pamit.

“Di sana lebih ketat Ma..Aku juga harus kerja di sana habis kuliah. Sekarang aku di hire law firm di sana. Alhamdulillah, orang di sana baik-baik.”

“Syukurlah. Jadi, kamu kerja di law firm Belanda? Kamu....”

“Iyaa, Ma..Tapi, aku masih mengusahakan untuk dipindahin ke Jakarta Ma...semoga bisa. Kalau untuk sekarang, aku harus berpengalaman dulu di kantor pusat.”

“Oh gitu...Semoga bisa secepatnya ya, Nak.”

“Iya, Ma...”

“Oh iya, Nak... Tiap hari Dikta datang ke rumah terus. Dia..”

“Dikta? Ngapain dia masih kesini?”

“Dia yang selalu nemenin Mama kalau sendiri. Kadang pulang kerja dia ke rumah.”

“Hah...Aku tahu selama 5 tahun ini aku gak di rumah, Ma, tapi kenapa harus dia yang ...? Ya udah kalau dia ke sini lagi, kasih tahu aku ya Ma...”

***

Berjalan melalui tempat yang sering kukunjungi benar-benar membuatku lega. Walaupun kenangan buruk cukup banyak teringat, tapi setidaknya aku pernah melalui kenangan yang berharga di sini. Duduk di sebuah lapangan yang dulu menjadi tempat aku dan teman-temanku sering menghabiskan waktu untuk sekedar bermain, bercengkrama, bahkan belajar bersama dan juga... Dikta, memanggil rindu itu datang kembali. Di satu sisi aku sangat membenci, sangat ingin melupakannya, tapi di sisi lain, di pernah melalui semuanya denganku, Dikta...

Aku duduk di bangku-bangku panjang di sisi lapangan dan sudah menghabiskan waktu 1 jam di sini. Hanya memandang langit pun aku sudah merasakan bahagia. Ketika aku sedang menikmati pemandangan indah ini, seseorang lalu duduk di sampingku, walaupun jarakanya cukup jauh. Aku tidak mempedulikan orang itu. Tiba-tiba dia duduk mendekat.

“Gak ada yang berubah kan di sini?”

Ia mengucapkan sesuatu. Tapi, suaranya.... Suara Dikta.

“Apa kabar Li?”

Ia, Dikta. Duduk yang di sampingku, dan menanyai kabarku. Aku masih belum menjawab pertanyaannya. Tanpa pikir panjang, aku beranjak dari bangku ini. Lalu, ia malah menahan tanganku.

“Li, tunggu.”

Aku berdiri terpaku dan tidak ingin menoleh ke hadapannya.

“Gak apa-apa kamu gak ngerespon aku. Tapi setidaknya, aku bisa lihat wajah kamu lagi. Udah lima tahun ini aku rindu sama kamu.”

Bodohnya, air mata tiba-tiba menetes. Bukan air mata yang harus kusia-siakan untuk dia, dia yang membuat hidupku bagaikan orang paling bodoh.

“Sori, lo lupa ucapan gue waktu itu? Apa perlu gue ulangin ucapan 5 tahun lalu?”

“Aku gak tahu harus gimana lagi Li. Tapi kalau pun bisa, aku akan minta maaf ke kamu setiap hari, setiap detik, setiap menit, setiap jam.”

“5 tahun lalu, gue bagaikan orang paling bodoh di hadapan seluruh keluarga gue, oke maaf gue keliru, keluarga angkat gue. Seorang yang 5 tahun lalu gue sebut sahabat, bisa-bisanya menyembunyikan ini semua.”

Dikta hanya terdiam. Aku menoleh menghadapnya.

“5 tahun lalu, gue akhirnya tersakiti akan sebuah kenyataan. Kebohongan 9 tahun cukup memukul bahkan mencabik gue, Dik. Lo tahu rasanya hidup selama 5 tahun berikutnya, sendiri, di tempat yang gak pernah gue bayangkan sebelumnya? Lo pikir gue bahagia? Mungkin lo seneng ngedenger gue tersiksa begini. Tapi, itu bukan gue. Gue cukup bahagia hidup di antara mereka yang penuh kejujuran, bukan kebohongan”

“Li, kamu tahu alasannya kenapa jadi begini. Aku harap kamu ngerti”

“Gimana cara gue buat ngertiin ini semua? Oke, gak apa-apa ternyata gue hanya anak angkat keluarga gue. Tapi, lo udah tahu selama 9 tahun, Dik, 9 tahun...Dan gue, gue bahkan seperti orang bodoh yang minta bantuin ke elo selama 4 tahun cari tahu apakah gue anak kandung di keluarga gue atau bukan. Dan parahnya, cara lo bikin gue tenang, nyaman bener-bener nusuk gue banget.”

“Li...aku yang salah. Maaf...”

Dikta lalu berlutut di hadapanku. Aku masih saja meneteskan air mata ini. Entah rasa apa yang sedang mengungkung hatiku. Rasa marah? Rasa benci? Rasa dendam?

“Tapi, Dik...sebebal-bebalnya hati gue, entah kenapa 5 tahun ini gue gak bisa maafin lo. Ingin lupa, tapi gue gak bisa. Gue udah berusaha untuk memaafkan, tapi gak bisa. Lo tahu kan, untuk memaafkan sebenarnya gak ada lagi amarah seperti ini. Lo tahu kenapa? Karena gue mau pulang. Pulang ke sini, pulang ke lo lagi. Setidaknya gue harus belajar memaafkan lo dulu, jadi gue gak akan pernah rindu untuk pulang bahkan rindu untuk sama lo lagi.”

“Li...kalau gitu jangan maafin aku, Li. Supaya kami bisa di sini, bisa pulang lagi ke sini”

“Dik...”

Ternyata, ini alasannya aku tidak bisa memaafkannya. Aku masih belum bisa lepas, karena untuk lupa itu tidak mudah. Ia, ternyata yang menjadi alasanku kembali ke sini.



June, 29th 2015


RED


#NulisRandom2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar