“Ternyata memaafkan lebih sulit dibanding melupakan
ataupun melepaskan Sejatinya, memaafkan
tak perlu lagi ada sakit, siksa, benci atau amarah yang tersimpan di dalam
hati. Namun, jika semua rasa itu masih ada? Berarti maaf itu belum sepenuhnya
ada, karena masih ada rasa untuk tetap bersama.”
Tepat 5 tahun yang aku berdiri di tempat ini. Semua
begitu asing. Udara, suasana, orang-orang di sekitar, bahkan aku tak pernah
menyangka bisa berdiri di sini. Dulu, aku berharap menjadi seseorang yang baru.
Lima tahun berikutnya, aku mampu mewujudkan harapan itu. Semua berjalan
baik-baik saja. Tapi 5 tahun yang lalu, aku pernah berharap pula, setelah
berhasil di sini aku akan kembali ke rumah, ke negara, ke kota, ke rumah
kehidupanku dulu. Limat tahun berikutnya, aku tak mampu mewujudkan harapan itu.
Bahkan, tak ingin mengingat, tak ingin menjadikan itu sebuah kenyataan. Bukan
karena tak ingin, hanya saja aku tak ingin bertemu seseorang. Seseorang yang
kutekadkan untuk kulupakan. Namun, tekad itu ternyata hanya di bibir saja,
hatiku berkata lain. Hari ini aku pulang, pulang ke rumah.
***
“Assalamualaikum”
Aku berdiri di depan pintu berwarna coklat ini. Rumah ini
masih sama, sama hangatnya, sama cerahnya, dan kenangan yang ada di pikiranku
masih tetap sama. Tetapi, yang kutakutkan, apakah mereka masih sama? Masih
bersikap sama kepadaku? Masih bisa menerimaku? Terang saja, aku “kabur” ke
tempat lain untuk mengejar cita-cita, tanpa memberi kabar sebelumnya, tanpa
menceritakan semuanya. Pada hari H aku langsung terbang ke Belanda, entah
direstui atau tidak oleh mereka, aku bisa dibilang pergi tanpa pamit.
Beliau membukakan pintu. Beliau menatapku kosong. Matanya
mulai berkaca-kaca. Aku belum bisa menggerakan badanku ataupun tanganku, bahkan
tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku langsung jatuh berlutut di
hadapannya. Setidaknya, ketika menatapnya di hadapanku bebalku langsung runtuh,
egoku langsung luluh, dan kini hanya tersungkur lemah.
“Maa, maafin aku yaa...”
Isak tangis pecah. Beliau juga tak berkata. Ia menangis
dan meraih badanku untuk bangun dari jatuhku.
“Maafin aku maa...”
Hanya kata itu yang bisa kuucapkan pada beliau. Beliau
memelukku erat.
***
“Gimana kehidupan di sini? Kampusnya gimana?”
Beliau menanyakan banyak hal hingga aku terdiam tak mampu
menjawabnya. Wajahnya berseri. Aku menyangka beliau tak akan memaafkanku,
ternyata beliau sama sekali tak menyinggung tragedi 5 tahun lalu, tragedi pergi
tanpa pamit.
“Di sana lebih ketat Ma..Aku juga harus kerja di sana
habis kuliah. Sekarang aku di hire law firm di sana. Alhamdulillah, orang di
sana baik-baik.”
“Syukurlah. Jadi, kamu kerja di law firm Belanda?
Kamu....”
“Iyaa, Ma..Tapi, aku masih mengusahakan untuk dipindahin
ke Jakarta Ma...semoga bisa. Kalau untuk sekarang, aku harus berpengalaman dulu
di kantor pusat.”
“Oh gitu...Semoga bisa secepatnya ya, Nak.”
“Iya, Ma...”
“Oh iya, Nak... Tiap hari Dikta datang ke rumah terus.
Dia..”
“Dikta? Ngapain dia masih kesini?”
“Dia yang selalu nemenin Mama kalau sendiri. Kadang
pulang kerja dia ke rumah.”
“Hah...Aku tahu selama 5 tahun ini aku gak di rumah, Ma,
tapi kenapa harus dia yang ...? Ya udah kalau dia ke sini lagi, kasih tahu aku
ya Ma...”
***
Berjalan melalui tempat yang sering kukunjungi
benar-benar membuatku lega. Walaupun kenangan buruk cukup banyak teringat, tapi
setidaknya aku pernah melalui kenangan yang berharga di sini. Duduk di sebuah
lapangan yang dulu menjadi tempat aku dan teman-temanku sering menghabiskan
waktu untuk sekedar bermain, bercengkrama, bahkan belajar bersama dan juga...
Dikta, memanggil rindu itu datang kembali. Di satu sisi aku sangat membenci,
sangat ingin melupakannya, tapi di sisi lain, di pernah melalui semuanya
denganku, Dikta...
Aku duduk di bangku-bangku panjang di sisi lapangan dan
sudah menghabiskan waktu 1 jam di sini. Hanya memandang langit pun aku sudah
merasakan bahagia. Ketika aku sedang menikmati pemandangan indah ini, seseorang
lalu duduk di sampingku, walaupun jarakanya cukup jauh. Aku tidak mempedulikan
orang itu. Tiba-tiba dia duduk mendekat.
“Gak ada yang berubah kan di sini?”
Ia mengucapkan sesuatu. Tapi, suaranya.... Suara Dikta.
“Apa kabar Li?”
Ia, Dikta. Duduk yang di sampingku, dan menanyai kabarku.
Aku masih belum menjawab pertanyaannya. Tanpa pikir panjang, aku beranjak dari
bangku ini. Lalu, ia malah menahan tanganku.
“Li, tunggu.”
Aku berdiri terpaku dan tidak ingin menoleh ke
hadapannya.
“Gak apa-apa kamu gak ngerespon aku. Tapi setidaknya, aku
bisa lihat wajah kamu lagi. Udah lima tahun ini aku rindu sama kamu.”
Bodohnya, air mata tiba-tiba menetes. Bukan air mata yang
harus kusia-siakan untuk dia, dia yang membuat hidupku bagaikan orang paling
bodoh.
“Sori, lo lupa ucapan gue waktu itu? Apa perlu gue
ulangin ucapan 5 tahun lalu?”
“Aku gak tahu harus gimana lagi Li. Tapi kalau pun bisa,
aku akan minta maaf ke kamu setiap hari, setiap detik, setiap menit, setiap
jam.”
“5 tahun lalu, gue bagaikan orang paling bodoh di hadapan
seluruh keluarga gue, oke maaf gue keliru, keluarga angkat gue. Seorang yang 5
tahun lalu gue sebut sahabat, bisa-bisanya menyembunyikan ini semua.”
Dikta hanya terdiam. Aku menoleh menghadapnya.
“5 tahun lalu, gue akhirnya tersakiti akan sebuah
kenyataan. Kebohongan 9 tahun cukup memukul bahkan mencabik gue, Dik. Lo tahu
rasanya hidup selama 5 tahun berikutnya, sendiri, di tempat yang gak pernah gue
bayangkan sebelumnya? Lo pikir gue bahagia? Mungkin lo seneng ngedenger gue
tersiksa begini. Tapi, itu bukan gue. Gue cukup bahagia hidup di antara mereka
yang penuh kejujuran, bukan kebohongan”
“Li, kamu tahu alasannya kenapa jadi begini. Aku harap
kamu ngerti”
“Gimana cara gue buat ngertiin ini semua? Oke, gak
apa-apa ternyata gue hanya anak angkat keluarga gue. Tapi, lo udah tahu selama
9 tahun, Dik, 9 tahun...Dan gue, gue bahkan seperti orang bodoh yang minta
bantuin ke elo selama 4 tahun cari tahu apakah gue anak kandung di keluarga gue
atau bukan. Dan parahnya, cara lo bikin gue tenang, nyaman bener-bener nusuk gue
banget.”
“Li...aku yang salah. Maaf...”
Dikta lalu berlutut di hadapanku. Aku masih saja
meneteskan air mata ini. Entah rasa apa yang sedang mengungkung hatiku. Rasa
marah? Rasa benci? Rasa dendam?
“Tapi, Dik...sebebal-bebalnya hati gue, entah kenapa 5
tahun ini gue gak bisa maafin lo. Ingin lupa, tapi gue gak bisa. Gue udah
berusaha untuk memaafkan, tapi gak bisa. Lo tahu kan, untuk memaafkan sebenarnya
gak ada lagi amarah seperti ini. Lo tahu kenapa? Karena gue mau pulang. Pulang
ke sini, pulang ke lo lagi. Setidaknya gue harus belajar memaafkan lo dulu,
jadi gue gak akan pernah rindu untuk pulang bahkan rindu untuk sama lo lagi.”
“Li...kalau gitu jangan maafin aku, Li. Supaya kami bisa
di sini, bisa pulang lagi ke sini”
“Dik...”
Ternyata, ini alasannya aku tidak bisa memaafkannya. Aku
masih belum bisa lepas, karena untuk lupa itu tidak mudah. Ia, ternyata yang
menjadi alasanku kembali ke sini.
June, 29th 2015
RED
#NulisRandom2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar