“Bukan karena
tangguh kami bertahan, tapi karena kami memutuskan untuk bergerak seirama dan
melewati bersama. Akan lebih baik dilakukan begini, bukan? Tak merasa sendiri.”
***
Beliau mengajarkan untuk berbagi. Apapun itu. Selepas
kami berkelana pada impian masing-masing, kami lupa akan ajaran itu.
Masalahnya, bagaimana ingin berbagi apabila jarak memisahkan kami? Ini pesan
lain beliau, bahwa berbagi bukan hanya soal berbentuk ataupun berwujud, namun
soal hati yang ikhlas membagi apapun itu, bisa berupa cinta kasih, perhatian,
dukungan bahkan kritikan. Yang penting berbagi antara kami, agar selalu merasa
bersama.
***
15 Januari 1978 - Pak Joko dan Muhfid berbincang di sudut
ruang kelas
“Pak,
saya ndak usah lanjut aja Pak ke perguruan tinggi”
“Kenapa
lagi toh kamu ? Kemarin sudah bulat mau ikut seleksi masuk, nah sekarang kenapa
lagi ini?”
“Biaya
tesnya saya ndak bayar. Makanya, daripada saya mesti berhutang ke yang lain
lebih baik ndak usah, Pak”
“Kamu
jangan main-main toh. Masalah biaya, bapak nanti pikirkan. Sekarang belajar
dulu.”
16
Januari 1978 – Pak Joko mengajarkan muridnya di kelas
“Semuanya
sudah siap untuk ujian seleksi minggu depan?”
“Sudah
Pak...”
Muhfid
hanya tertunduk diam.
“Muhfid?
Siap?"
“Nd...ak...
Pak”
Pak
Joko terdiam sejenak. Muhfid masih putus asa karena tidak mampu membayar uang
seleksi.
“Besok
siapa yang ada waktu luang? Ada ndak?”
“Ada
apa Pak besok?” Bagus yang duduk di depan Muhfid bertanya kebingungan.
“Besok,
siapa yang punya baju ndak muat, sepatu ndak muat, tas yang sudah dibeli tapi
ndak kunjung dipakai, bawa besok ke rumah bapak ya. Besok kita jualin. Daripada
ndak terpakai, mubazir kan? Tak kurang, tak lebih , namun cukup. Ingat?”
“Memangnya
kenapa kita harus jualin besok Pak? Kami lagi ndak butuh uang.”
“Siapa
bilang kalian ndak butuh uang?”
Satu
kelas terdiam. Mereka kian tak memahami maksud ucapan Pak Joko.
“Bagus,
Swara, Dharma, Lintang, Warta, Fahmi?”
“Iya
Pak...” jawab mereka serempak
Muhfid
terdiam. Namanya tak dipanggil Pak Joko.
Lalu
Pak Joko melanjutkan ucapannya.
“Setelah
bertahun-tahun lamanya, akhirnya bapak bisa mengajar murid lebih dari 2. Kalian
lah orangnya. Kalian lah orang yang bertahan di sini. Karena belajar di sini
tidak melulu soal pelajaran ilmu matematika, ilmu eksak dan ilm lainnya. Kita
juga sembari belajar ilmu hidup, ilmu berbagi. Setiap bapak mengajar, paling
banyak 2 orang, mereka tak pernah saling berinteraksi. Sekarang, bapak mengajar
7 murid. Kalian bertahan di sini. Kenapa? Karena kalian belajar beradapatasi,
belajar memahami untuk tidak hidup sendiri. “
Pak
Joko memegang bahu Muhfid yang masih tertunduk.
“Sekarang,
sebelum semuanya ikut serta ujian seleksi, dan sebelum semuanya meninggalkan
kampung ini, meninggalkan kelas ini, meninggalkan bapak yang sudah renta ini,
maukah kalian ikut berbagi untuk hal yang terakhir? “
Semuanya
bingung. Pandangan mereka lalu menuju ke arah Muhfid.
“Biar
semuanya bisa ikut ujian seleksi, berarti Muhfid harus ikut juga ya” ucap Pak
Joko sambil tersenyum kepada muridnya yang lain.
“Ya
jelas Pak, Muhfid harus ikut ujian seleksi, Muhfid udah belajar mati-matian,
ngajarin kita juga kalau udah pada pusing. Ya ndak, Muhfid?” ucap Warta
“Tapi,
Warta, Muhfid kawan kita ndak bisa bayar uang seleksi. Ada saran dari yang lain
biar Muhfid bisa ikut?”
Mereka
kini mengerti maksud dari Pak Joko mengajak mereka berjualan barang bekas.
“Yah,
Fid..Kamu kenapa ndak bilang sih kalau sedang kesusahan? Kan bisa kita bantu,
yo ndak teman-teman?”
“Iya
Fid. Pasti kita bantu. Kita mau perang kan, dan harus bersama, ya toh?”
Mereka
lalu mengelilingi Muhfid dan menenangkannya. Pak Joko tersenyum bahagia melihat
murid-muridnya kini tak perlu dipaksa untuk menolong, karena naluri berbagi
mereka mulai bertumbuh.
***
17
Januari 2015 – Rumah Pak Joko
“Ah,
kalo siang-siang begini, Pak Joko pasti bawa kita belajar di pohon kelapa yah.”
“Iya
nih, terus bukannya belajar malah minum
air kelapa”
“Bukannya
ngelanjutin belajar, malah ngejualin batok kelapa jadi kapal, jadi macem-macem
barang”
“Bukannya
belajar, malah jadi guide turis-turis yah...”
“Rindu
Pak Joko, rindu siang- siang begini sama Pak Joko ya”
“Jadi
inget juga waktu ninggalin Pak Joko. Semua masuk universitas, Pak Joko malah
pergi.”
Muhfid
tertegun. Obrolannya dengan Lintang, Dharma, Bagus, Swara, Warta, Fahmi
mengenang hari-hari bersama Pak Joko mengingatkannya pada kebaikan Pak Joko.
Hal yang paling diingatnya adalah ketika...
“Makasih
loh semuanya. Kalo saja berjualan barang bekas itu tidak terlaksana, mungkin
saya ndak ada di antara kalian hari ini.”
“Bukan
karena kita. Tapi karena Pak Joko. Pak Joko selalu mengingatkan kita untuk
berbagi, selalu bersama, selalu menggenggam walau tak harus dari tangan ke
tangan.”
“Iyayah...
sampai sekarang tuh liat, saya perusahaannya gabung sama Swara, Lintang jadi
advokat perusahaan Fahmi, Bagus dan Dharma jadi supplier pabrik Muhfid, ah
semua nya jadi bersama yah.”
“Iya,
selalu..bersama”
June,
24th 2015
RED
#NulisRandom2015
day 24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar