Rabu, 24 Juni 2015

Genggam

“Bukan karena tangguh kami bertahan, tapi karena kami memutuskan untuk bergerak seirama dan melewati bersama. Akan lebih baik dilakukan begini, bukan? Tak merasa sendiri.”

***


Beliau mengajarkan untuk berbagi. Apapun itu. Selepas kami berkelana pada impian masing-masing, kami lupa akan ajaran itu. Masalahnya, bagaimana ingin berbagi apabila jarak memisahkan kami? Ini pesan lain beliau, bahwa berbagi bukan hanya soal berbentuk ataupun berwujud, namun soal hati yang ikhlas membagi apapun itu, bisa berupa cinta kasih, perhatian, dukungan bahkan kritikan. Yang penting berbagi antara kami, agar selalu merasa bersama.

***

15 Januari 1978 - Pak Joko dan Muhfid berbincang di sudut ruang kelas

“Pak, saya ndak usah lanjut aja Pak ke perguruan tinggi”

“Kenapa lagi toh kamu ? Kemarin sudah bulat mau ikut seleksi masuk, nah sekarang kenapa lagi ini?”

“Biaya tesnya saya ndak bayar. Makanya, daripada saya mesti berhutang ke yang lain lebih baik ndak usah, Pak”

“Kamu jangan main-main toh. Masalah biaya, bapak nanti pikirkan. Sekarang belajar dulu.”

16 Januari 1978 – Pak Joko mengajarkan muridnya di kelas

“Semuanya sudah siap untuk ujian seleksi minggu depan?”

“Sudah Pak...”

Muhfid hanya tertunduk diam.
“Muhfid? Siap?"

“Nd...ak... Pak”

Pak Joko terdiam sejenak. Muhfid masih putus asa karena tidak mampu membayar uang seleksi.
“Besok siapa yang ada waktu luang? Ada ndak?”

“Ada apa Pak besok?” Bagus yang duduk di depan Muhfid bertanya kebingungan.

“Besok, siapa yang punya baju ndak muat, sepatu ndak muat, tas yang sudah dibeli tapi ndak kunjung dipakai, bawa besok ke rumah bapak ya. Besok kita jualin. Daripada ndak terpakai, mubazir kan? Tak kurang, tak lebih , namun cukup. Ingat?”

“Memangnya kenapa kita harus jualin besok Pak? Kami lagi ndak butuh uang.”

“Siapa bilang kalian ndak butuh uang?”

Satu kelas terdiam. Mereka kian tak memahami maksud ucapan Pak Joko.
“Bagus, Swara, Dharma, Lintang, Warta, Fahmi?”

“Iya Pak...” jawab mereka serempak

Muhfid terdiam. Namanya tak dipanggil Pak Joko.
Lalu Pak Joko melanjutkan ucapannya.

“Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya bapak bisa mengajar murid lebih dari 2. Kalian lah orangnya. Kalian lah orang yang bertahan di sini. Karena belajar di sini tidak melulu soal pelajaran ilmu matematika, ilmu eksak dan ilm lainnya. Kita juga sembari belajar ilmu hidup, ilmu berbagi. Setiap bapak mengajar, paling banyak 2 orang, mereka tak pernah saling berinteraksi. Sekarang, bapak mengajar 7 murid. Kalian bertahan di sini. Kenapa? Karena kalian belajar beradapatasi, belajar memahami untuk tidak hidup sendiri. “

Pak Joko memegang bahu Muhfid yang masih tertunduk.

“Sekarang, sebelum semuanya ikut serta ujian seleksi, dan sebelum semuanya meninggalkan kampung ini, meninggalkan kelas ini, meninggalkan bapak yang sudah renta ini, maukah kalian ikut berbagi untuk hal yang terakhir? “

Semuanya bingung. Pandangan mereka lalu menuju ke arah Muhfid.

“Biar semuanya bisa ikut ujian seleksi, berarti Muhfid harus ikut juga ya” ucap Pak Joko sambil tersenyum kepada muridnya yang lain.

“Ya jelas Pak, Muhfid harus ikut ujian seleksi, Muhfid udah belajar mati-matian, ngajarin kita juga kalau udah pada pusing. Ya ndak, Muhfid?” ucap Warta

“Tapi, Warta, Muhfid kawan kita ndak bisa bayar uang seleksi. Ada saran dari yang lain biar Muhfid bisa ikut?”

Mereka kini mengerti maksud dari Pak Joko mengajak mereka berjualan barang bekas.
“Yah, Fid..Kamu kenapa ndak bilang sih kalau sedang kesusahan? Kan bisa kita bantu, yo ndak teman-teman?”

“Iya Fid. Pasti kita bantu. Kita mau perang kan, dan harus bersama, ya toh?”

Mereka lalu mengelilingi Muhfid dan menenangkannya. Pak Joko tersenyum bahagia melihat murid-muridnya kini tak perlu dipaksa untuk menolong, karena naluri berbagi mereka mulai bertumbuh.

***

17 Januari 2015 – Rumah Pak Joko

“Ah, kalo siang-siang begini, Pak Joko pasti bawa kita belajar di pohon kelapa yah.”

“Iya nih, terus bukannya belajar malah minum  air kelapa”

“Bukannya ngelanjutin belajar, malah ngejualin batok kelapa jadi kapal, jadi macem-macem barang”

“Bukannya belajar, malah jadi guide turis-turis yah...”

“Rindu Pak Joko, rindu siang- siang begini sama Pak Joko ya”

“Jadi inget juga waktu ninggalin Pak Joko. Semua masuk universitas, Pak Joko malah pergi.”
Muhfid tertegun. Obrolannya dengan Lintang, Dharma, Bagus, Swara, Warta, Fahmi mengenang hari-hari bersama Pak Joko mengingatkannya pada kebaikan Pak Joko. Hal yang paling diingatnya adalah ketika...

“Makasih loh semuanya. Kalo saja berjualan barang bekas itu tidak terlaksana, mungkin saya ndak ada di antara kalian hari ini.”

“Bukan karena kita. Tapi karena Pak Joko. Pak Joko selalu mengingatkan kita untuk berbagi, selalu bersama, selalu menggenggam walau tak harus dari tangan ke tangan.”

“Iyayah... sampai sekarang tuh liat, saya perusahaannya gabung sama Swara, Lintang jadi advokat perusahaan Fahmi, Bagus dan Dharma jadi supplier pabrik Muhfid, ah semua nya jadi bersama yah.”

“Iya, selalu..bersama”




June, 24th  2015


RED


#NulisRandom2015 day 24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar