“Dia yang kini
bertahan sendiri, dahulu pernah sungguh-sungguh berusaha, sungguh-sungguh
mencintai, pernah menunggu suatu janji untuk ditepati.”
***
Dulu dan sekarang. Benar-benar berbeda. Jika dikisahkan,
dulu, rasa itu menggebu-gebu. Ingin membahagiakan apapun itu caranya, ingin
selalu ada di dekatnya, ingin menjadi kebanggaannya, ingin diharapkan sebagai
seseorang yang istimewa. Jika ada waktu 24 jam, ia mengerahkan seluruh detiknya
hanya untuk dia. Terdengar naif memang. Tapi itulah pengorbanan yang
sungguh-sungguh, pikirnya. Apabila ia telah bersikeras berusaha, ia meyakini
tak akan terlepas. Ternyata,kebalikannya. Harapan bagai ilusi. Tak berbekas dan
tak berasa. Ia dilupakan, dengan mudahnya. Karena terlalu berharap, terlalu
berusaha akan membuat jatuh lebih sakit dari biasanya, ia pun sadar. Dan
sekarang, ia berlalu seakan masa dulu tak ada lagi baginya.
***
“Betah amat sih lo di sini? Mabok kopi lo di sini? Hahaha”
Lawakan ringan di siang ini sudah biasa kudengar dari
pemilik kafe kopi ini, sekaligus ia menjadi penonton kesendirianku, teman dan
rekan ketika didera kegalauan yang tak berkejelasan.
“At least, lo gak jadi jadi bangkrut sampai hari ini,
Bos! Bersyukur dikit lah atas kehadiran gue. Ntar kalo gak ada gue malah mewek.
Hahaha”
“Bisa banget lo doanya. Ya udah gue bawa seember kopi
buat lo ya, biar puas”
Dodi berlalu sambil tertawa kecil. Aku? Masih duduk di
kursi yang sama setiap harinya. Setelah berkuliah, aku selalu mampir ke kafe
kopi ini. Entah menyelesaikan tugas kuliah, menyelesaikan order desain
ilustrasi yang menjadi usaha kecil-kecilan setahun belakangan ini. Dalihku
kepada Dodi untuk seharian di sini, karena inspirasi cukup mengalir jika aku
berdiam di sini, duduk menghadap jendela dengan pemandangan kebun kecil yang
penuh akan serba-serbi dedaunan dan bunga-bunga. Atau terkadang aku duduk
berhadapan dengan Dodi, kalau ini aku berdalih bahwa aku perlu inspirasi dari
sesuatu yang hidup. Mendengar perkataan itu, Dodi beberapa kali marah, karena
menjadikannya “sesuatu” bagiku yang terdengar ambigu dan tidak ada nilainya.
Namun, lama kelamaan Dodi menerima alasan konyolku dan selalu menyajikan berbagai
macam kopi. Bisa dibilang juga, aku menjadi testernya atas kopi temuannya dan
Dodi menjadi sumber inspirasiku untuk dapat menyelesaikan pekerjaanku. Jadi
kami impas. Teman timbal balik. Itu istilah kami. Setiap hari memang sama,
entah itu cuaca, langit bahkan udaranya. Yang berbeda, pelanggan kafe kopi Dodi
yang selalu berbeda, kecuali aku.
Siang ini aku memilih duduk berhadapan dengan jendela.
Kali ini aku butuh inspirasi yang segar. Dodi seperti biasa bercengkrama dengan
pelanggannya. Seorang pria berpakaian rapi, menggunakan jas dengan di dalamnya
dipadupadankan dengan kaos berwarna biru langit dan perawakannya yang nampak
tidak asing. Tidak asing di mataku. Gaya berpakaiannya berbeda, bahkan tidak
seperti seseorang yang kukenal. Namun, ketika melihat lebih dekat, ia.... Bani?
***
“Apa kabar lo?Gilaaa, sekarang udah beda aja nih”
“Hahaha, beda apanya coba? Gini-gini aja sih gue”
“Udah modis banget sekarang, baguslah. Lo terkenal ya
gitu-gitu aja kan yah pas di sekolah dulu”
Rania menghampiri Dodi. Ia tampak gugup. Dugaan Rania
benar. Ia Bani, yang sedang bersama dengan Dodi.
“Di, gue balik dulu”
Rania berpamitan dengan Dodi, namun membelakangi Bani.
“Wei, mau kemana lo Ran? Ini Bani, teman sekelas lo. Inget
gak?”
Langkah Rania terhenti. Ia tak sanggup membalikkan
badannya.
“Ini Bani, Ran..Inget gak?”
“Enggak. Gue balik dulu”
Rania menjawab pertanyaan Dodi dingin. Dodi lalu menahan
tangan Rania yang hendak beranjak pergi.
“Lo kenapa Ran? Main pergi aja lo”
Rania mulai menguatkan diri. Ia tidak ingin diam begitu
saja.
“Kenapa gue harus inget orang ini, Di?Kenapa?”
“Lo ngomong apa sih?Bani temen sekelas kita. Apa salahnya
sih say Hai doang”
“Percuma gue ceritain panjang lebar ke lo Di, lo gak akan
ngerti. Apalagi orang ini, dia juga gak akan paham, bahkan ingat.”
Rania pergi. Ia meninggalkan Dodi dan Bani di situasi
yang tidak mengenakkan.
“Wah, Rania keterlaluan. Masa’ gak ma nyapa temen sendiri
sih. Duh sori ya Ban, emang Rania sekarang kayak gitu. Cuek banget. Beda banget
sama yang dulu.
“Hmm...gue maklum Rania begitu, Di.”
“Maksud lo?”
“Mungkin lo gak tahu cerita waktu jaman sekolah. Lo waktu
itu kan di karantina karena ada lomba. Ceritanya panjang, kayak yang kata Rania
bilang tadi. Tapi yang jelas, gue pantes diginiin sama Rania, karena gue gak
pernah ngertiin dia, gue yang menyakiti, gue yang gak menepati janji.”
***
Aku duduk di sudut kafe ini. Kali ini mendung. Tak
secerah kemarin. Aku menyeduh kopi hangat racikan Dodi, seperti biasa.
Sebenarnya aku bisa berusaha mencari, tapi aku sudah cukup lelah.
“Ran, gue gak paham maksud lo kemarin”
“Lo gak perlu paham kok, Di. Itu masa lalu juga. Lo cuma
perlu memahami gue yang sekarang. Gue pun gak perlu lelah untuk mengingat masa
lalu.”
“Ya udah, kalo lo gak mau cerita, gak apa-apa. Lanjut deh
kerjaan lo”
“Di...”
“Yaa?”
“Lo tahu kenapa gue betah seperti ini? Sendiri begini,
setiap hari?Karena gue, dulu pernah terlalu mencintai, dan akhirnya dikhianati.
Gue gak pernah ingin terikat dengan seseorang yang berjanji sekarang, karena
dulu gue pernah tersakiti karena sebuah janji.”
June, 23th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar