Senin, 08 Juni 2015

Ketika Hati (tak) Mendengar

“Dengarkanlah , maka aku menghampirimu lewat suara yang menjelma menjadi udara. Resapilah, seakan udara itu menyentuh hatimu, seakan membangunkanmu dari tidur panjangmu”

***


Semua tampak sibuk. Rumah yang dulunya lengang, kini berubah seperti tempat umum. Banyak yang berdatangan. Tangisan pecah, banyak orang yang meraung. Raungan itu mengguratkan kesedihan. Pakaian yang mereka kenakan pun tidak berwarna. Hanya warna hitam yang mendominasi. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di seantero ruangan ini. Terbaring seorang belia di atas permadani yang ditutupi dengan kain putih. Ia kaku, tak bergerak sama sekali. Nafasnya seperti tak terhembus. Dikelilingi oleh banyak wanita, memegang, mengelus menangisi belia itu. Wajahnya pucat pasi. Matanya tertutup rapat. Seakan ia tak menghiraukan suara bising akan tangisan, raungan yang terdengar lantang di sekitarnya. Ia tak bergeming. Ia diam. Seorang wanita hanya duduk tak bersuara, memandangi belia itu. Seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan belia yang hening itu.

***

“Ana gak apa-apa kok Bu...”

“ Ya udah, kalau Ana gak mau ke dokter, Ibu berangkat dulu ya. Hari ini ibu mau jadi EO di nikahan anak Pak Arif. Ibu pergi dulu ya, Nak”

“Iya, Bu..Hati-hati, Hmm tapi Bu, ...”

“Kenapa, Nak? Ceritanya nanti aja ya?”

“ Iya deh, Bu...”

Ana kembali sendiri. Rumahnya cukup besar untuk ditinggali dia dan Ibunya. Ayahnya acap berpergian ke luar kota atau ke luar negeri. Setelah pulang dari sekolah, ia mengharapkan ada mereka yang menunggunya pulang, mendengarkannya cerita tentang kegiatannya di sekolah. Namun, itu harapan yang tak pernah kejadian. Ia menghabiskan waktu dengan berenang di taman belakang. Ana tidak pernah ingin mengajak teman-temannya bermain, karena akan lebih menyedihkan ketika ada temannya namun orang tuanya tidak ada di rumah. Maka, ia lebih memilih sendiri.  Setelah berenang 2 jam, Ana merasa kelelahan. Ia memutuskan untuk beristirahat di kursi dekat pinggir kolam. Namun, pandangannya kabur, dadanya terasa sesak. Tapi, Ana berpikiran mungkin dia terlalu kelelahan. Tiba-tiba, ketika Ana menuju kamar, langkahnya terhenti. Badannya lemas. Tangan dan kakinya terasa tak sanggup untuk digerakkan.

***

Tangannya penuh akan selang. Ia bernafas dibantu sebuah alat yang diletakkan di sekitar hidungnya. Ketika membuka mata, ia merasa bingung. Ini bukan kolam tempat aku berenang tadi, ucapnya.

“Ana, sudah enakan sekarang?”

Ana semakin bingung. Ia menatap seseorang dengan berpakaian putih dan mulutnya ditutup masker.
“Sudah...” jawab Ana singkat

“Ana istirahat dulu ya. “

“Aku di rumah sakit?”

“Iya, An... 6 jam yang lalu Ana pingsan di pinggir kolam, makanya Ana di bawa kesini.”

“ Terus Ibu mana?”

“Oh, Ana tadi diantar Bu Sarmi. Mungkin Ibu sebentar lagi ke sini”

Ana merasa lebih kebingungan lagi. Ana mengira, Ibulah yang mengantar ke rumah sakit. Tapi, sejak kapan Bu Sarmi ada di rumah?

Bu Sarmi menghampiri Ana yang masih berbaring.

“An, masih pusing? Tadi si mbok ke rumah, mau masakin untuk Ana. Tapi, mbok ngeliat Ana pingsan di pinggir kolam. Makanya mbok langsung bawa ke sini”

“ Ibu mana? Ibu janji mau pulang masakin Ana, Mbok”

“ Ibu lagi sibuk An, makanya Mbok yang dateng ke rumah.”

“Terus sekarang, Ibu gak akan ke sini?”

“ Tunggu ya An ya..Ibu pasti ke sini kok. Ana... tadi pagi udah ceritain ke Ibu belum soal sakitnya Ana?”

“ Hmm...belum Mbok. Ibu tadi buru-buru kerja, jadi gak sempet.”

“ Oh gitu, nanti Mbok yang kasih tahu aja ya, Ana istirahat aja dulu”

“ Eh, jangan Mbok. Biar aku aja yang kasih tahu ke Ibu.”

“Ya sudah, istirahat lagi ya An..”

Bu Sarmi yang dipanggil Mbok oleh Ana adalah pengasuh Ana sejak lahir. Bahkan ketika Ana harus menerima kenyataan bahwa saluran pernapasan yang terganggu dan kini berubah menjadi penyakit mematikan, Mbok-lah yang menemani Ana untuk mendengar kabar tersebut dari dokter.
Ibu akhirnya tiba di rumah sakit larut malam. Mbok yang tertidur di samping Ana, dibangunkan oleh Ibu.

“Mbok, Ana gimana?”

“ Eh neng, sudah selesai kerjanya?”

“Udah Mbok.”

“Ana kecapekan, makanya tadi pingsan.”

“Loh, Mbok kenapa tadi datengnya kesiangan sih? Harusnya datengnya pagi aja Mbok, jadi rumah gak kosong.”

“Neng, Mbok tadi ke tukang urut dulu, kaki Mbok keseleo dari sawah hari minggu kemaren, makanya Mbok bisa masakin Ana nya siang hari.”


“Ya udah, besok jangan gitu lagi Mbok. Aku kan sibuk Mbok, jadi gak mungkin di rumah.”

“ Iya, neng.., hmm Mbok mau ngasi tahu ini neng...”

“Apa lagi Mbok?”

“Tapi, biar Ana aja yang ngasi tau yah..”

“Oh yaudah, aku besok mesti ke Surabaya Mbok, ada pameran, jadi ini mau pulang dulu mau siap-siap”

“ Ha? Neng..ini Ana nya lagi sakit, kok malah ditinggal?”

“ Kan Mbok bisa jagain, ini aku juga udah ngeliat Ana ke sini. Nanti tolong bilang ke Ana ya, Mbok, aku pulang dulu”

***

Tekanan darahnya rendah. Wajahnya makin pucat. Bibirnya hampir membiru. Dokter mengambil langkah untuk melakukan bedah operasi pada Ana.

“ Dok, orang tua nya sedang kerja, kalau dioperasi langsung nanti mereka ndak setuju Dok”

“ Ini langkah terakhir Bu, kami sedang mencoba menghubungi mereka, apabila tidak ada respon, kami akan melakukan langkah ini”

Ana membuka matanya. Ia melihat sekeliling kamarnya, kosong. Tak ada Ayah atau Ibunya. Ia hanya melihat Mbok yang tersenyum kepadanya.

“ Ana kuat yah, Mbok ada di sini kok.”

“I...bu...?”

“Sebentar lagi Ibu kesana, Nak.”

“A...ku.. mau.. ng..omo...ng... sa..ma... ib..u..”

“Ibu udah tahu kok, Nak. Gak usah khawatir ya..”

“Tapi...bany..ak.. cerita..ya.ng...har..us i..bu de..ng..ar..”

“Ibu pasti dengar ya, makanya Ana kuat, Mbok ada di sini juga dengerin Ana...”

***

Mbok terduduk lemas. Ia tak sanggup melihat belia itu ditutupi kain putih, menyerah di meja operasi. Para dokter mengatakan Ana sempat kuat, namun Tuhan berkehendak lain, menjemput Ana yang nampak telah lelah. Sesaat setelah itu, Ibu baru tiba di depan ruang operasi.

Mbok menghampiri Ibu yang nampak tergesa-gesa

“Andai saja kamu ada Nak, banyak yang ingin ia ceritakan padamu. Yang kamu lakukan adalah mendengar, hanya mendengar, tidak perlu yang lain.”

***




June, 8th 2015



RED
#NulisRandom2015 day 8


1 komentar:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Kisah yang bagus, blognya bagus juga. :)
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    BalasHapus