Selasa, 09 Juni 2015

Kelih

“Mungkin merasakan gelap sudah biasa. Merasakan sesak pun tak mengapa. Menatapmu? Tak perlu ada dua mata, bila Tuhan menciptakan mata hati yang selalu terbuka”
***


“Awannya mendung ya, Kak?”

“ Masa sih? Yang aku rasain malah terang”

“ Duh, Kak...Coba deh lihat langit, gelap...”

“  Enggak kok, terang. Ya udah yuk, berangkat sekarang aja.”

Sima memegang tangan kakakknya. Terkadang orang di sekitarnya menganggap ia adalah kekasih Sima. Malah, Sima dengan entengnya mengatakan kepada orang-orang

“Kenapa sih ngeliatin kita? Sirik kalo ini pacar aku?”

Tora selalu tertawa pelan ketika Sima mulai naik pitam seperti itu.

“Eh, kok pede banget sih bilang aku pacarmu? Kalo jomblo ya jomblo aja sih, gak usah aku yang dijadiin tameng begini.”

“Maunya sih gitu, kak. Tapi ngeliat Kak Tora juga jomblo, ya udah, kita saling membantu lah yah. Hahaha”

Percakapan mereka selalu penuh dengan tawa. Ketika mereka berpisah di tengah jalan karena arah tempat kerja yang berbeda, Sima selalu menjadi adik yang selalu bisa diandalkan. Tora selalu merasa tak enak hati ketika Sima yang harus melepasnya pergi.

“Sim, kamu duluan gih sana jalan. Aku tungguin di sini”

“ Kak Tora jangan bercanda deh. Udah biasanya kan aku yang ngeliat Kak Tora pergi dulu.”

“ Udah sana, kamu duluan. Aku liatin”

“Hmm...ini lagi, udah tahu pake tongkat, mau ngeliatin aku pergi pula. Hahahaaa”

Tora terdiam tanpa ekspresi. Sima acap kali bersenda gurau tentang kondisi Tora, namun entah kenapa Tora terbawa perasaan.

“Sim, walaupun aku gak bisa ngeliat sungguhan ketika kamu pergi, setidaknya aku bisa ngerasain kamu aman-aman aja. Kali ini dengerin aku ngomong, bisa?”

Sima berubah kebingungan. Ia tak mengerti kenapa Tora mendadak berubah menjadi serius memikirkan kata-kata Sima.

“Yah, Kak Tora, biasanya aku becandain juga gak pernah marah. Ya udah deh, Bye!”

Sima beranjak pergi meninggalkan Tora. Ia tidak menoleh ke belakang karena terbawa dengan suasana yang berubah dingin itu.

Tora tidak sanggup mengatakan kebenaran yang harus dihadapinya. Ia tak mungkin menceritakan kepada Sima soal ini.

***

“Kamu yakin mau resign?”

“Yakin, Pak. Saya rasa bekerja di sini dengan keadaan begini akan jadi kendala baik untuk saya maupun untuk kerjaan di kantor ini. Maka, keputusan saya sudah bulat. Ini surat pengunduran diri saya, Pak. Mohon diterima. Terima kasih atas bimbingan bapak selama ini.”

“Ya sudah, Sim. Saya gak bisa maksa kamu juga. Semoga keadaan kamu lekas membaik ya Sim”
“Iya, Pak. Terima Kasih sekali lagi, Pak. Permisi”

Sima meninggalkan kantor tempatnya bekerja selama 4 tahun terakhir. Tidak mudah untuk masuk ke perusahaan besar ini. Ia harus melepaskannya agar keadaannya tidak kian memburuk. Sima kembali ke rumah lebih awal. Tora belum kembali dari tempat kerjanya. Tora memang tidak bisa bekerja di kantor seperti Sima, ia mendapatkan kesempatan kerja di salah satu usaha tingkat menengah bagi tuna netra seperti Tora. Tora tidak pernah merasa kecil hati, terbukti ia menjadi chief creative design untuk produk dari usaha itu.

Sore beranjak petang, Sima telah menyiapkan makan malam, untuknya dan untuk Kakaknya. Hari ini, Sima harus mengontrol mood nya agar tidak terbaca dan terasa oleh Tora. Memang, Tora adalah manusia luar biasa. Ia mampu merasakan atau membaca mood seseorang, padahal dia tidak bisa melihat raut muka Sima. Namun, Sima tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Apakah dia bisa seperti Tora yang hidup seperti orang biasa, dapat bekerja, tertawa, bahagia, tanpa harus mempersoalkan kekurangannya. Tora yang tiba di rumah setelah bekerja duduk di meja makan. Sima hanya diam dan masih memikirkan kekhawatirannya itu.

“Sim, kamu pasti gak nyadar yah aku udah pulang?”

“Eh Kak, ah maaf aku tadi ketiduran.”

“Ketiduran atau ngelamun?”

“Hehe, udah Kak, yok makan”

Suasana makan malam tenang seperti biasa. Seharusnya ayah dan ibu mereka duduk di antara mereka. Namun, karena kecelakaan mobil 5 tahun yang lalu, Tora dan Sima kini hidup berdua saja. Sima penuh keraguan ingin menceritakan semuanya. Tora yang juga merasakan ada keganjalan dengan Sima akhirnya membuka percakapan.

“Sim, gimana, akhir-akhir ini masih pusing gak?”

“Kak Tora, aku gak tahu harus gimana. “

“Gak apa-apa, Sim. Awalnya memang berat. Tapi setelah dijalani, semua terasa bukan menjadi beban lagi kok. Aku pasti bantuin kamu kok.”

Sima menangis tak terhenti. Tora memeluknya erat. Ia tidak ingin melepaskan Sima yang kini benar-benar butuh dukungan.

“Nanti yang masakin Kak Tora siapa? Aku gak mungkin bisa masak lagi atau nunjukin jalan buat Kak Tora lagi...”

Tora menenangkan Sima yang kini lemah tak berdaya.

“ Berarti aku yang masakin kamu sekarang Sim, nah kamu yang sekarang aku jagain. Kita gantian yah.”

***

Mereka berjalan beriringan. Kini dua tongkat menuntun mereka untuk menuju tujuan. Kini, tujuan mereka sama. Mereka tak perlu terpisah lagi, kini. Bedanya, Tora yang memegang tangan Sima, karena ia mulai menyesuaikan diri untuk berjalan. Vonis penyakit kebutaan yang dialami Sima memang tak jauh beda dengan Tora. Karena kecelekaan yang mereka alami bersama ayah dan ibu mereka, mengakibatkan Tora kehilangan penglihatannya, dan kini Sima pun begitu.

“Kak, awan gelap gak yah sekarang? Aku gak bawa payung nih”

“Rasain anginnya. Gimana? Kalo kerasa dingin, berarti ada kemungkinan hujan hari ini.”

“Kak, kalo mau ngeliat ada mobil atau enggak di depan kita gimana Kak?”

“Pake perasaan ya Sim. Perasaan itu mata hati kita. Walaupun mata kita gak bisa melihat, setidaknya rasa kita bisa melihat. Oke?”


ps: kelih 


June, 8th 2015


RED

#NulisRandom2015 day 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar