Rabu, 03 Juni 2015

Kisah Terima Kasih

“Seliweran manusia sibuk memikirikan hal yang muluk. Sibuk bertingkah ini itu. Padahal, mereka lupa akan kata sakti pembawa secuil kebahagiaan, pembawa ke-entengan batin, kata itu. Sebut saja ‘kasih’, yang selalu ditebar oleh seseorang yang tulus kepada seseorang yang menerima dengan (semoga) tulus.”
***


Aku kembali lagi ke rumah ini. Rumah masa kecil. Rumah yang penuh akan kebahagiaan. Semuanya diletakkan sama. Tanaman, pot-pot mungil berhiaskan lukisan bocah kecil, ayunan putih yang kini telah berubah warna keemas-karatan, dan kenangan yang masih terlukis jelas bagai mengendap di rumah-ku yang kini tak terawat. Mungkin aku bukanlah anak yang mengalami kehidupan masa kecil yang bahagia, tapi setidaknya aku memahami apa arti bahagia walaupun disadari sesaat setelah meninggalkan rumah ini. Aku juga bukan bagian dari sebuah keluarga yang utuh. Utuh baik dalam jumlah maupun ikatan. Ya, begitulah....

***
“Mak, aku gak mau makan ayam lagi, bosen! “

“Iya, dek. Tunggu ya, Mak masakin yang lain dulu...”

“Ah, udah ah, aku jadi gak mau makan! “

Bocah 9 tahun itu berlalu setelah merengek kepada Mak yang selama 2 jam mempersiapkan makan siangnya. Bukan kali ini saja Mak harus berusaha lebih keras menghadapi Fini, seorang anak perempuan yang gemar membentak. Namun tetap, Mak tidak pernah lelah. Setelah aksi mogok makan itu, Mak berusaha membuatkan makanan yang diinginkan Fini. Ketika Mak menyuguhkan sup daging, barulah bocah Fini 9 tahun itu makan dengan lahapnya. Seperti biasa, setelah makan Fini meninggalkan piringnya di meja makan dan dalam hitungan detik sudah berada di halaman depan. Mak hanya tersenyum melihat tingkah Fini. Siang itu selalu berulang dan berulang. Pulang sekolah, makan siang, bermain di halaman, istirahat, dan begitu setiap hari. Mak tidak pernah terlihat lelah menghadapi Fini. Fini pun begitu, walaupun kebalikannya. Fini tidak pernah tidak terlihat bahagia. Ia selalu menebar tawa, terutama ketika di rumah. Pada suatu ketika, tawa itu sontak menghilang, tenggelam akan kehadiran seorang wanita berumur 40 tahun. Ia berbicara pada Mak. Sungguh serius. Mak menatap wanita itu dengan tatapan penuh ketakutan. Fini yang saat itu lelah bermain di halaman beranjak masuk ke rumah melewati pintu belakang. Raut wajah Fini berubah kebingungan. Siapa wanita itu?


***

Delapan tahun berlalu. Kehidupan Mak dan Fini tetap begitu saja. Bedanya, Fini kini jarang di rumah. Ia menghabiskan waktunya dengan kegiatan di sekolah. Mak bahagia karena Fini tumbuh menjadi anak yang aktif dan semangat. Ketakutan Mak 8 tahun lalu tidak terjadi hingga kini. Melihat Fini lemah, tidak bersemangat dan tidak bahagia. Itulah ketakutan Mak. Siang itu Fini pulang lebih awal. Mak lebih bersemangat lagi menyediakan makan siang untuk Fini.

“Nak, mau makan apa?”

“Apa aja, Mak. Orak-arik yang Mak bikin tadi pagi juga enak kok. Hehe”

Mak tersenyum mendengar ucapan Fini. Wanita yang kian hari makin beranjak tua itu selalu memperlakukan Fini dengan istimewa. Keinginan untuk menjaga Fini tetap selalu merasakan kebahagiaan terbayar sudah setiap Fini melahap habis makanannya dan tersenyum.

Di tengah makan siang hari itu, Fini berhenti dan menatap Mak.

“Mak, hmm....jadi gini, Fini baru dapet kabar dari guru Fini tentang beasiswa yang aku ajuin waktu itu. Dan, ternyata Fini salah satu yang keterima Mak. “

Kalimat itu membuat Fini tersenyum sumringah. Raut wajahnya gembira. Namun, Mak menangis mendengar perkataan Fini.

“Mak bangga sama Fini. Alhamdulillah usaha Fini ndak sia-sia ya...”

Fini meneteskan air mata mendengar kalimat Mak. Ia tahu maksud kalimat itu. Fini akan meninggalkan Mak sendiri, dan Mak berusaha bahagia mendengar kabarnya itu.

“Tapi, kalo Fini pergi, Mak tinggal sama siapa? Mak gak boleh sendiri ya?”

“Udah...ndak usah mikirin Mak, Mak bisa pulang ke kampung Mak. Nanti kalo Fini pulang ke rumah, Mak masakin lagi biar Fini bisa makan.”

Tangis Fini tertahan. Ia tidak ingint terlihat cengeng di depan Mak. Ia menggenggam tangan Mak erat. Makan siang hari itu menjadi lebih bahagia, namun penuh air mata. Fini meninggalkan rumah kecilnya.

***

 “Assalamualaikum...”

Seorang wanita paruh baya keluar dari sebuah kamar bertirai. Lantai kayu itu hangat. Aku berdiri di depan pintu rumah ini dengan perasaan campur aduk. Rindu, ingin bertemu, dan rasa tak karuan lainnya. Mak, apa kabar? Fini pulang. Itulah kalimat yang selalu Fini katakan setiap tahun ketika tidak bisa kembali pulang.

“Fini?”

Wanita paruh baya itu menyebutkan namaku ragu. Kenapa ia bisa tahu namaku? Seterkenalkah ini aku di kampung ini?

“Iya, Bu..Saya Fini”

“Alhamdulillah, akhirnya Fini datang juga. Ayo masuk, Fini”

Ia mempersilahkanku masuk. Rumah ini sederhana. Hangat, itu yang aku rasakan. Aku masuk ke sebuah kamar. Barang-barangnya tersusun rapi. Seorang wanita tertidur di kasur kapuk yang berselimut kain tebal. Mak. Beliau yang tertidur disana. Bukannya Mak selalu bilang via telepon kalau Mak sehat-sehat saja? Tapi, kenapa......

“Mak, Ini Fini datang mau ngeliat Mak.”

Aku masih kelu untuk berbicara. Entah apa yang harus aku lakukan? Menangis? Memeluk Mak? Tapi Mak tidak berbicara sedikit pun. Matanya tertutup seperti tertidur lelap.

“Nak Fini, Mak akhir-akhir ini suka tidur. Tidurnya pun lama. Kadang bisa sorenya bangun. Nak Fini di sini dulu aja. Siapa tahu kalau Nak Fini yang duduk di samping Mak, nanti Mak bangun.”
Aku menggenggam tangan Mak. Tangannya masih sama seperti dulu. Namun, kini lebih keriput dan kurus.

“Mak........”

“Mak, Fini pulang, Mak.”

Mak tidak menjawabku. Beliau masih tertidur. Seperti pulas karena kelelahan yang terlalu. Satu jam, dua jam, tiga jam, aku duduk di samping Mak. Sampai aku pun tertidur. Wanita paruh baya yang menyambutku tadi membangunkanku.

“Nak Fini. Mungkin Mak bangunnya sore. Nak Fini kalo kecapekan pulang dulu aja ke Jakarta, nanti bus nya gak ada lagi. “

“Ah, gitu ya Bu. Tapi Fini ngobrol sama Mak...”

“Besok lagi aja kesini, tapi sore yah, jadi nanti kalo Mak bangun, Fini udah di sini.”

“Iya Bu. Besok sore Fini kesini lagi ya. Makasih Bu. Fini pamit pulang dulu. Assalamualaikum”

“Waallaikumsalam”

Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak kecewa sama sekali ketika Mak tidak bangun dan menyambutku pulang. Tapi ketika aku melihat wajah Mak saja, sudah memberi semangat dan kebahagiaan bagiku.

***

Aku kembali ke rumah ini. Berdiri sejenak. Melihat sekelilingku. Hangat, walau ada kekosongan yang tertanam di hatiku. Keluarga tidak melulu tentang ayah, ibu, kakak ataupun adik. Keluarga bagiku orang yang mengisi relung jiwaku ketika jiwa itu hampa. Keluarga adalah mereka yang setia menampung dan membagikan kesedihan dan kebahagiaan kapan saja. Mak berhasil menjadi salah satunya. Bahkan menjadi satu-satunya. Hari ini aku kembali ke rumah ini. Aku teringat saat 8 tahun lalu saat usiaku 17 tahun, mengabarkan Mak tentang beasiswa yang kuraih. Satu kalimat yang membuatku terhenyak saat itu.

“Terima Kasih, Nak. Kamu telah bahagia. Kamu membuktikan kalau kamu bisa hidup bahagia. Tetaplah seperti ini, Nak. Jangan lupa membahagiakan orang-orang di sekitarmu. Bukan karena dia siapa, tapi dia adalah orang-orang yang butuh kebahagiaan. Siapapun dia, bahagiakan. Kamu niscaya akan bahagia juga Nak.”

“Mak...kenapa Mak yang ngucapin terima kasih ke aku sih Mak? Aku yang harusnya ngucapin banyak terima kasih ke Mak. Mak segalanya buat Fini.”

“Benar, tapi tanpa Fini di sini Mak ndak tahu harus berbuat untuk siapa. Karena itu Mak yang paling pantas untuk ngucapin terima kasih ke Fini. “

Aku masih ingat tangis kami pecah. Kami berpelukan dan Mak terus mengatakan terima kasih kepadaku. Entah apa maksudnya. Bukankah aku yang harusnya mengucapkan terima kasih kepada Mak?

Itulah pemikiranku 8 tahun yang lalu.
***

“Assalamualaikum, Bu. Ini Fini, Bu. Maaf sekali Bu,  hari ini Fini gak bisa ke rumah. Ada kerjaan di Surabaya. Fini harus berangkat hari ini, Bu. Maaf gak bisa nengokin Mak hari ini.”

“Oh gitu ya Nak Fini? Ya udah gak apa-apa. Hati- hati ya Nak. Hmm...gini Nak, tadi malem Mak bangun. Dan bilang kalo Mak sadar kemarin Fini ke rumah dan nengokin Mak. Mak bilang terima kasih ke Nak Fini karena dateng ke rumah. “

“Ah, sayang banget padahal Fini mau ngobrol sama Mak. Oh iya Bu, maaf ya Bu gak bisa ke sana lagi. Makasi juga ya Bu. Fini berangkat dulu. Assalamualaikum”

***

Penyesalan itu terjadi. Fini menyesal tidak kembali ke rumah Mak. Fini tersungkur lemah menatap Mak. Mak memang sudah beristirahat tenang. Fini menangis di hadapan Mak, Mak yang sudah tenang di sisi- Nya

“Terima Kasih Mak, mengajarkanku banyak hal, mengajarkanku untuk bahagia dan kini aku janji untuk membuat orang di sekitarku bahagia, seperti Mak membahagiakanku. Terima kasih......”


June 3rd 2015




RED

 (#NulisRandom2015 day 3)

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Huhu jangan nangis dong Mbakk , jadi pengen ikutan jugaaa hahaha *tissue mana tissue*
      :D

      Hapus