“Seliweran manusia sibuk memikirikan hal yang muluk.
Sibuk bertingkah ini itu. Padahal, mereka lupa akan kata sakti pembawa secuil
kebahagiaan, pembawa ke-entengan batin, kata itu. Sebut saja ‘kasih’, yang
selalu ditebar oleh seseorang yang tulus kepada seseorang yang menerima dengan
(semoga) tulus.”
***
Aku
kembali lagi ke rumah ini. Rumah masa kecil. Rumah yang penuh akan kebahagiaan.
Semuanya diletakkan sama. Tanaman, pot-pot mungil berhiaskan lukisan bocah
kecil, ayunan putih yang kini telah berubah warna keemas-karatan, dan kenangan
yang masih terlukis jelas bagai mengendap di rumah-ku yang kini tak terawat.
Mungkin aku bukanlah anak yang mengalami kehidupan masa kecil yang bahagia,
tapi setidaknya aku memahami apa arti bahagia walaupun disadari sesaat setelah
meninggalkan rumah ini. Aku juga bukan bagian dari sebuah keluarga yang utuh.
Utuh baik dalam jumlah maupun ikatan. Ya, begitulah....
***
“Mak,
aku gak mau makan ayam lagi, bosen! “
“Iya,
dek. Tunggu ya, Mak masakin yang lain dulu...”
“Ah,
udah ah, aku jadi gak mau makan! “
Bocah
9 tahun itu berlalu setelah merengek kepada Mak yang selama 2 jam mempersiapkan
makan siangnya. Bukan kali ini saja Mak harus berusaha lebih keras menghadapi
Fini, seorang anak perempuan yang gemar membentak. Namun tetap, Mak tidak
pernah lelah. Setelah aksi mogok makan itu, Mak berusaha membuatkan makanan
yang diinginkan Fini. Ketika Mak menyuguhkan sup daging, barulah bocah Fini 9
tahun itu makan dengan lahapnya. Seperti biasa, setelah makan Fini meninggalkan
piringnya di meja makan dan dalam hitungan detik sudah berada di halaman depan.
Mak hanya tersenyum melihat tingkah Fini. Siang itu selalu berulang dan
berulang. Pulang sekolah, makan siang, bermain di halaman, istirahat, dan
begitu setiap hari. Mak tidak pernah terlihat lelah menghadapi Fini. Fini pun
begitu, walaupun kebalikannya. Fini tidak pernah tidak terlihat bahagia. Ia
selalu menebar tawa, terutama ketika di rumah. Pada suatu ketika, tawa itu sontak
menghilang, tenggelam akan kehadiran seorang wanita berumur 40 tahun. Ia
berbicara pada Mak. Sungguh serius. Mak menatap wanita itu dengan tatapan penuh
ketakutan. Fini yang saat itu lelah bermain di halaman beranjak masuk ke rumah
melewati pintu belakang. Raut wajah Fini berubah kebingungan. Siapa wanita itu?
***
Delapan
tahun berlalu. Kehidupan Mak dan Fini tetap begitu saja. Bedanya, Fini kini
jarang di rumah. Ia menghabiskan waktunya dengan kegiatan di sekolah. Mak
bahagia karena Fini tumbuh menjadi anak yang aktif dan semangat. Ketakutan Mak 8
tahun lalu tidak terjadi hingga kini. Melihat Fini lemah, tidak bersemangat dan
tidak bahagia. Itulah ketakutan Mak. Siang itu Fini pulang lebih awal. Mak
lebih bersemangat lagi menyediakan makan siang untuk Fini.
“Nak,
mau makan apa?”
“Apa
aja, Mak. Orak-arik yang Mak bikin tadi pagi juga enak kok. Hehe”
Mak
tersenyum mendengar ucapan Fini. Wanita yang kian hari makin beranjak tua itu
selalu memperlakukan Fini dengan istimewa. Keinginan untuk menjaga Fini tetap
selalu merasakan kebahagiaan terbayar sudah setiap Fini melahap habis makanannya
dan tersenyum.
Di
tengah makan siang hari itu, Fini berhenti dan menatap Mak.
“Mak,
hmm....jadi gini, Fini baru dapet kabar dari guru Fini tentang beasiswa yang
aku ajuin waktu itu. Dan, ternyata Fini salah satu yang keterima Mak. “
Kalimat
itu membuat Fini tersenyum sumringah. Raut wajahnya gembira. Namun, Mak menangis
mendengar perkataan Fini.
“Mak
bangga sama Fini. Alhamdulillah usaha Fini ndak sia-sia ya...”
Fini
meneteskan air mata mendengar kalimat Mak. Ia tahu maksud kalimat itu. Fini
akan meninggalkan Mak sendiri, dan Mak berusaha bahagia mendengar kabarnya itu.
“Tapi,
kalo Fini pergi, Mak tinggal sama siapa? Mak gak boleh sendiri ya?”
“Udah...ndak
usah mikirin Mak, Mak bisa pulang ke kampung Mak. Nanti kalo Fini pulang ke
rumah, Mak masakin lagi biar Fini bisa makan.”
Tangis
Fini tertahan. Ia tidak ingint terlihat cengeng di depan Mak. Ia menggenggam
tangan Mak erat. Makan siang hari itu menjadi lebih bahagia, namun penuh air
mata. Fini meninggalkan rumah kecilnya.
***
“Assalamualaikum...”
Seorang
wanita paruh baya keluar dari sebuah kamar bertirai. Lantai kayu itu hangat.
Aku berdiri di depan pintu rumah ini dengan perasaan campur aduk. Rindu, ingin
bertemu, dan rasa tak karuan lainnya. Mak, apa kabar? Fini pulang. Itulah
kalimat yang selalu Fini katakan setiap tahun ketika tidak bisa kembali pulang.
“Fini?”
Wanita
paruh baya itu menyebutkan namaku ragu. Kenapa ia bisa tahu namaku?
Seterkenalkah ini aku di kampung ini?
“Iya,
Bu..Saya Fini”
“Alhamdulillah,
akhirnya Fini datang juga. Ayo masuk, Fini”
Ia
mempersilahkanku masuk. Rumah ini sederhana. Hangat, itu yang aku rasakan. Aku
masuk ke sebuah kamar. Barang-barangnya tersusun rapi. Seorang wanita tertidur
di kasur kapuk yang berselimut kain tebal. Mak. Beliau yang tertidur disana.
Bukannya Mak selalu bilang via telepon kalau Mak sehat-sehat saja? Tapi,
kenapa......
“Mak,
Ini Fini datang mau ngeliat Mak.”
Aku
masih kelu untuk berbicara. Entah apa yang harus aku lakukan? Menangis? Memeluk
Mak? Tapi Mak tidak berbicara sedikit pun. Matanya tertutup seperti tertidur
lelap.
“Nak
Fini, Mak akhir-akhir ini suka tidur. Tidurnya pun lama. Kadang bisa sorenya
bangun. Nak Fini di sini dulu aja. Siapa tahu kalau Nak Fini yang duduk di
samping Mak, nanti Mak bangun.”
Aku
menggenggam tangan Mak. Tangannya masih sama seperti dulu. Namun, kini lebih
keriput dan kurus.
“Mak........”
“Mak,
Fini pulang, Mak.”
Mak
tidak menjawabku. Beliau masih tertidur. Seperti pulas karena kelelahan yang
terlalu. Satu jam, dua jam, tiga jam, aku duduk di samping Mak. Sampai aku pun
tertidur. Wanita paruh baya yang menyambutku tadi membangunkanku.
“Nak
Fini. Mungkin Mak bangunnya sore. Nak Fini kalo kecapekan pulang dulu aja ke
Jakarta, nanti bus nya gak ada lagi. “
“Ah,
gitu ya Bu. Tapi Fini ngobrol sama Mak...”
“Besok
lagi aja kesini, tapi sore yah, jadi nanti kalo Mak bangun, Fini udah di sini.”
“Iya
Bu. Besok sore Fini kesini lagi ya. Makasih Bu. Fini pamit pulang dulu.
Assalamualaikum”
“Waallaikumsalam”
Aku
memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Aku tidak kecewa sama sekali ketika Mak
tidak bangun dan menyambutku pulang. Tapi ketika aku melihat wajah Mak saja,
sudah memberi semangat dan kebahagiaan bagiku.
***
Aku
kembali ke rumah ini. Berdiri sejenak. Melihat sekelilingku. Hangat, walau ada
kekosongan yang tertanam di hatiku. Keluarga tidak melulu tentang ayah, ibu,
kakak ataupun adik. Keluarga bagiku orang yang mengisi relung jiwaku ketika jiwa
itu hampa. Keluarga adalah mereka yang setia menampung dan membagikan kesedihan
dan kebahagiaan kapan saja. Mak berhasil menjadi salah satunya. Bahkan menjadi
satu-satunya. Hari ini aku kembali ke rumah ini. Aku teringat saat 8 tahun lalu
saat usiaku 17 tahun, mengabarkan Mak tentang beasiswa yang kuraih. Satu kalimat
yang membuatku terhenyak saat itu.
“Terima
Kasih, Nak. Kamu telah bahagia. Kamu membuktikan kalau kamu bisa hidup bahagia.
Tetaplah seperti ini, Nak. Jangan lupa membahagiakan orang-orang di sekitarmu.
Bukan karena dia siapa, tapi dia adalah orang-orang yang butuh kebahagiaan.
Siapapun dia, bahagiakan. Kamu niscaya akan bahagia juga Nak.”
“Mak...kenapa
Mak yang ngucapin terima kasih ke aku sih Mak? Aku yang harusnya ngucapin
banyak terima kasih ke Mak. Mak segalanya buat Fini.”
“Benar,
tapi tanpa Fini di sini Mak ndak tahu harus berbuat untuk siapa. Karena itu Mak
yang paling pantas untuk ngucapin terima kasih ke Fini. “
Aku
masih ingat tangis kami pecah. Kami berpelukan dan Mak terus mengatakan terima
kasih kepadaku. Entah apa maksudnya. Bukankah aku yang harusnya mengucapkan
terima kasih kepada Mak?
Itulah
pemikiranku 8 tahun yang lalu.
***
“Assalamualaikum,
Bu. Ini Fini, Bu. Maaf sekali Bu, hari
ini Fini gak bisa ke rumah. Ada kerjaan di Surabaya. Fini harus berangkat hari
ini, Bu. Maaf gak bisa nengokin Mak hari ini.”
“Oh
gitu ya Nak Fini? Ya udah gak apa-apa. Hati- hati ya Nak. Hmm...gini Nak, tadi
malem Mak bangun. Dan bilang kalo Mak sadar kemarin Fini ke rumah dan nengokin
Mak. Mak bilang terima kasih ke Nak Fini karena dateng ke rumah. “
“Ah,
sayang banget padahal Fini mau ngobrol sama Mak. Oh iya Bu, maaf ya Bu gak bisa
ke sana lagi. Makasi juga ya Bu. Fini berangkat dulu. Assalamualaikum”
***
Penyesalan
itu terjadi. Fini menyesal tidak kembali ke rumah Mak. Fini tersungkur lemah
menatap Mak. Mak memang sudah beristirahat tenang. Fini menangis di hadapan
Mak, Mak yang sudah tenang di sisi- Nya
“Terima
Kasih Mak, mengajarkanku banyak hal, mengajarkanku untuk bahagia dan kini aku
janji untuk membuat orang di sekitarku bahagia, seperti Mak membahagiakanku.
Terima kasih......”
June
3rd 2015
RED
(#NulisRandom2015 day 3)
Tisu mana tisu. Emaaak T-T
BalasHapusHuhu jangan nangis dong Mbakk , jadi pengen ikutan jugaaa hahaha *tissue mana tissue*
Hapus:D