“Aku tahu
alasan darimana keindahan itu muncul. Kali ini aku yakin itulah alasannya. Aku
membayangkan di seluruh dunia ini hanya satu warna. Semua tampak sama, bukan?
Nyatanya, dunia ini banyak warna. Keindahan muncul seketika.”
***
Liburan kali ini bebas. Merasa sebebas-bebasnya. Pilihan
destinasi-ku kali ini sungguh tepat. Tak bersama keluarga, teman, atau orang
lain yang bahkan aku sendiri tidak merasa dekat secara batin (sebut saja
keluarga besar yang satu kompi itu lebih dari 20 orang, huh). Segala kebutuhan
liburan sudah kupersiapkan matang. Bahkan, 2 bulan sebelumnya tiket, hotel, browsing dan survei tempat wisata pun
telah aku persiapkan matang-matang. Ya, aku siap menyegarkan jiwa dan raga ini
tanpa harus bertemu dengan orang-orang yang sudah lelah kuhadapi dan melihat
dunia luar.
***
Terik matahari sungguh menantang fisikku untuk tetap
menatap dan berjalan di tengah lapang bandar udara ini. Aku bergegas mencari
taksi dan meluncur seketika ke hotel yang telah aku booking jauh-jauh hari. Macetnya kota ini ternyata disebabkan
dengan busy hour. Ya, maklumlah, ini
kota besar dan bisa dibilang semaju kota Jakarta. Cukup setengah jam menguji
kesabaranku, akhirnya taksi yang kutumpangi sampai di hotel. Jika boleh aku
rate, secara penampilan luar dan penampakan dari lobby hotel ini nilainya 8. Lumayan untuk first impression. Beruntungnya tidak mempersulit diri sendiri, aku
hanya membawa satu koper saja. Satu koper saja untuk 5 hari.
“Ddddukkkkkkkkkkkk”
Sial! Siapa yang berani merusak mood terbaik sepanjang
perjalanan ini? Ah, aku benar-benar tidak sedang ingin meladeni sebuah
percekcokan di tanah orang.
“Aaaarhhh.... kalo jalan-jalan hati dong Mas!”
Dan, kali ini mood-ku benar-benar rusak. Karena bentakan
itu, ia yang menabrakku dan koperku, menatapku terkejut.
“Duh, Mbak bukannya saya gak hati-hati jalan, Mbak aja
yang berdiri di tengah akses jalan, mana koper gede gitu pula. Ya iyalah jatoh.
Kok jadi nyalahin saya sih?”
Aku lebih terkejut. Dengan mata terbelalak, dia balik membentakku. Pertanda peperangan
dimulai.
“Heh, asal lo tau ya, jalan ini boleh dipakai untuk
berdiri ato jalan ato telentang sekalian, kenapa lo yang ngamuk ke gue sih? Dan
kenapa lo harus ngelewatin jalan dimana gue berdiri? Lo bisa lewat sana tuh di
jalan yang lebih lowong. Bentak-bentak sembarangan aja lo.
”
“Lucu juga lo ya. Kalo mau berdiri ato celingak celinguk
di lobi, tuh mending di sana tuh lo berdiri, lo gak liat di depan itu lift?
Tandanya apa? Orang berhak lewat di jalan tempat lo berdiri sekarang. Ah udah
gue capek debat sama lo.”
“Yeee, siapa yang mau debat sama lo? Pake bentak-bentak
segala. Hih”
Aku berlalu meninggalkan orang perusak mood-ku.
Kuputuskan untuk ke kamarku untuk bersiap melanjutkan liburan yang 10% telah
mengalami penurunan kualitasnya. Benar-benar menyebalkan.
***
“Selamat ulang tahun, Mel. Ibu lagi ada rapat di sini.
Kalo kamu mau kado, bilang Desi ya, nanti Desi yang beliin. Ibu mau ada pertemuan lagi. “
Itu pesan singkat. Pesan tersingkat yang kuterima dari
Ibu. Yang melahirkanku. Tepat 21 tahun yang lalu. Setiap 14 Agustus, aku
berharap ada suatu yang berbeda. Harapan memang hanya harapan. Tapi, seingatku,
pesan tersingkat pernah kuterima pada saat aku beranjak 17 tahun, 18 tahun, 19
tahun. Isinya memaksaku untuk memahami keras maksud dan maknanya.
“SUT, Nak.”
Sedetik ketika membuka dan membaca pesan singkat itu, aku
tertawa. Semenit, dua menit kemudian aku tertegun. Lima menit kemudian, aku
melempar handphone-ku. Kini, 21 tahun
akan kuciptkan ulang tahun yang berbeda dan harus luar biasa. Tujuanku adalah
Bukit Kasih. Terletak di wilayah Tomohon, Sulawesi Utara, tepatnya di Desa
Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa. Berjarak sekitar 55 KM dari Manado, Bukit Kasih terletak tepat di kaki gunung Soputan, sebuah gunung berapi yang
masih aktif hingga kini. Entah kenapa,
aku ingin sekali ke tempat ini. Aku masih ingat pula perkataan Ayahku
“Kamu
kalo bergaul, cari teman, cari yang setara, cari yang sama. Jangan asal pilih
teman. “
Kalimat itu cukup membuat ku tertegun. Maksudnya? Aku tidak boleh
berteman dengan seseorang yang “berbeda”? Konyol kupikir.
Mengetahui sejarah
Bukit Kasih ini, aku terkesima. Aku kagum akan makna berdirinya tempat ini. Bukit
Kasih ini dibangun sebagai simbol toleransi umat beragama di Indonesia,
terutama 5 agama yang telah diakui pemerintah, yaitu Islam, Kristen, Hindu,
Buddha, dan Kong Hu Cu. Masing-masing agama mengajarkan kebaikan dan
menghendaki umatnya saling mengasihi sesama manusia. Ajaran-ajaran tersebut
tertulis indah di sebuah tugu dengan 5 buah sisi, mewakili 5 agama, dikutip
dari kitab suci dan firman tiap agama.
Maka, mustahil kalau warga Indonesia gemar
persamaan. Nyata-nyatanya, negara ini memiliki variasi, bukan hanya agama, tapi
juga bahasa, suku, adat-istiadat dan perbedaan-perbedaan lain. Setidaknya, apa
yang Ayahku katakan terpatahkan dengan sesuatu yang hebat yang kini berada di
hadapanku. Aku masih berkeliling di sekitaran tempat wisata ini. Entah
keberuntungan atau kesialan, aku bertemu dengan seseorang yang tidak aku
harapkan.
Sial! Dia menatapku. Aku mengambil arah berbalik untuk
menghindarinya. Dan, dia malah menghampiriku.
“Eh, lo yang tadi di lobi ya?”
Ah, haruskah aku menjawab? Atau kabur saja? Atau
pura-pura lupa? Pura-pura tidak kenal? Aku mengalah dengan pikiranku tadi.
“Hmm..kenapa? Lo jangan ganggu liburan gue deh. Gue
bener-bener ga mood lagi ngeliat lo di sini.”
“Hahaa....oh lo lagi liburan? Sendirian? Seriusan?”
“Iya, gue di sini liburan sendirian. Masalah?”
“ Ya enggak...jarang aja liat cewek liburan sendirian.
Hmm tapi keren kok. Single fighter banget.”
Dia mengucapkan kalimat yang benar-benar membuat harga
diriku entah runtuh entah hancur karena ucapannya.
“Dan lo? Kenapa sendirian? Liburan? Seriusan?”
Aku tidak mau kalah membalas cemoohannya.
“Ah, gue bukan liburan ke sini. Cuma kunjungan aja.
Refreshing.”
“Sama aja kali sama liburan.”
“Ya beda lah, gue orang sini, jadi udah biasa lah ke
sini.”
“Oh, orang asli sini? Tapi bahasa lo kayak udah tinggal
di jakarta dari lahir.Ga yakin gue”
“Yah, malah gak percaya. Asli sini gue. Udahh, gak usah
musuhan gini. Lo dateng ke tanah leluhur gue malah ngajak perang. Gak sopan lo.”
“Gue juga gak mau perang sama lo. Gue cuma mau liburan di
sini. At least, ulang tahun gue bisa
berkesan dikit. “
“Wah, lo ulang tahun sekarang? Selamat ulang tahun kalo
gitu. Pas banget, Manado sekarang ulang tahun juga. Kok bisa sama-sama gini
ya!Hehe”
Peperangan pagi tadi berubah seketika menjadi pertemuan
seorang pengunjung dengan warga asli Manado. Bukan, kami bahkan menjadi teman.
Setelah dari Bukit Kasih, kami melanjutkan perjalanan bersama. Robby berlagak
menjadi tour guide-ku. Tapi kurasa dia cukup pantas menjadi tour guide. Ia
seumuran denganku. Kami berbincang banyak hal. Mood-ku kembali baik. Berkat
teman baru.
***
Hari beranjak petang. Saatnya kembali pulang. Walaupun
tinggal 4 hari lagi aku di sini, namun Robby harus kembali ke Jakarta. Dia hanya mengunjungi Manado karena hari ini
adalah hari jadi kota kelahirannya. Benar-benar cinta tanah air, kupikir.
Karena sudah masuk adzan maghrib, aku memutuskan untuk menuju mesjid terdekat.
Namun,....
“Mel, sekalian aja gue anterin. Lo mau sholat dulu kan?
Yuk gue anter ke mesjid”
Aku terdiam. Ah, aku memang dibesarkan di antara keluarga
yang tidak begitu ingin menghadapi perbedaan. Aku dilarang untuk berteman
apabila dia berbeda denganku. Entah perbedaan macam apa yang dilarang. Tapi aku
malah sebaliknya. Aku bahagia bertemu dengan orang yang berbeda denganku.
“Makasih udah nganterin ya! Hmm..setelah liburan di sini,
gue jadi bertekad untuk balik lagi. Kota yang seru!”
“Haha, jelas dong. Anak mudanya aja seru kayak gue. Masa’
kota nya enggak! Haha, oh iya gue besok balik jakarta jadi lo jalan-jalannya
sendirian dong berarti?”
“Hmm no problem!
Tapi lo janji ya, kalo lo mau liburan dalam jangka waktu yang lama, kabarin
gue! Masih banyak tempat-tempat yang harus gue kunjungin di sini. Dan lo tadi
udah janji ke gue! Hehe”
“Siaappp! I’ll be back!”
Percakapan malam itu kami tutup dengan tawa. Bahagia, itu
yang kurasa. Aku dan dia berjanji akan bertemu di kota ini kembali, dan rasanya
kota ini sudah terasa dekat denganku. Hari jadi yang sama, kenangan yang luar
biasa dan bertemu dengan orang yang berbeda dari biasanya.
June 4th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar