Kamis, 04 Juni 2015

Utara di Pelupuk Mata

“Aku tahu alasan darimana keindahan itu muncul. Kali ini aku yakin itulah alasannya. Aku membayangkan di seluruh dunia ini hanya satu warna. Semua tampak sama, bukan? Nyatanya, dunia ini banyak warna. Keindahan muncul seketika.”
***


Liburan kali ini bebas. Merasa sebebas-bebasnya. Pilihan destinasi-ku kali ini sungguh tepat. Tak bersama keluarga, teman, atau orang lain yang bahkan aku sendiri tidak merasa dekat secara batin (sebut saja keluarga besar yang satu kompi itu lebih dari 20 orang, huh). Segala kebutuhan liburan sudah kupersiapkan matang. Bahkan, 2 bulan sebelumnya tiket, hotel, browsing dan survei tempat wisata pun telah aku persiapkan matang-matang. Ya, aku siap menyegarkan jiwa dan raga ini tanpa harus bertemu dengan orang-orang yang sudah lelah kuhadapi dan melihat dunia luar.

***

Terik matahari sungguh menantang fisikku untuk tetap menatap dan berjalan di tengah lapang bandar udara ini. Aku bergegas mencari taksi dan meluncur seketika ke hotel yang telah aku booking jauh-jauh hari. Macetnya kota ini ternyata disebabkan dengan busy hour. Ya, maklumlah, ini kota besar dan bisa dibilang semaju kota Jakarta. Cukup setengah jam menguji kesabaranku, akhirnya taksi yang kutumpangi sampai di hotel. Jika boleh aku rate, secara penampilan luar dan penampakan dari lobby hotel ini nilainya 8. Lumayan untuk first impression. Beruntungnya tidak mempersulit diri sendiri, aku hanya membawa satu koper saja. Satu koper saja untuk 5 hari.

“Ddddukkkkkkkkkkkk”

Sial! Siapa yang berani merusak mood terbaik sepanjang perjalanan ini? Ah, aku benar-benar tidak sedang ingin meladeni sebuah percekcokan di tanah orang.

“Aaaarhhh.... kalo jalan-jalan hati dong Mas!”

Dan, kali ini mood-ku benar-benar rusak. Karena bentakan itu, ia yang menabrakku dan koperku, menatapku terkejut.

“Duh, Mbak bukannya saya gak hati-hati jalan, Mbak aja yang berdiri di tengah akses jalan, mana koper gede gitu pula. Ya iyalah jatoh. Kok jadi nyalahin saya sih?”

Aku lebih terkejut. Dengan mata terbelalak, dia  balik membentakku. Pertanda peperangan dimulai.

“Heh, asal lo tau ya, jalan ini boleh dipakai untuk berdiri ato jalan ato telentang sekalian, kenapa lo yang ngamuk ke gue sih? Dan kenapa lo harus ngelewatin jalan dimana gue berdiri? Lo bisa lewat sana tuh di jalan yang lebih lowong. Bentak-bentak sembarangan aja lo.
“Lucu juga lo ya. Kalo mau berdiri ato celingak celinguk di lobi, tuh mending di sana tuh lo berdiri, lo gak liat di depan itu lift? Tandanya apa? Orang berhak lewat di jalan tempat lo berdiri sekarang. Ah udah gue capek debat sama lo.”

“Yeee, siapa yang mau debat sama lo? Pake bentak-bentak segala. Hih”

Aku berlalu meninggalkan orang perusak mood-ku. Kuputuskan untuk ke kamarku untuk bersiap melanjutkan liburan yang 10% telah mengalami penurunan kualitasnya. Benar-benar menyebalkan.

***
“Selamat ulang tahun, Mel. Ibu lagi ada rapat di sini. Kalo kamu mau kado, bilang Desi ya, nanti Desi yang  beliin. Ibu mau ada pertemuan lagi. “

Itu pesan singkat. Pesan tersingkat yang kuterima dari Ibu. Yang melahirkanku. Tepat 21 tahun yang lalu. Setiap 14 Agustus, aku berharap ada suatu yang berbeda. Harapan memang hanya harapan. Tapi, seingatku, pesan tersingkat pernah kuterima pada saat aku beranjak 17 tahun, 18 tahun, 19 tahun. Isinya memaksaku untuk memahami keras maksud dan maknanya.

“SUT, Nak.”

Sedetik ketika membuka dan membaca pesan singkat itu, aku tertawa. Semenit, dua menit kemudian aku tertegun. Lima menit kemudian, aku melempar handphone-ku. Kini, 21 tahun akan kuciptkan ulang tahun yang berbeda dan harus luar biasa. Tujuanku adalah Bukit Kasih. Terletak di wilayah Tomohon, Sulawesi Utara, tepatnya di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa. Berjarak sekitar 55 KM dari Manado, Bukit Kasih terletak tepat di kaki gunung Soputan, sebuah gunung berapi yang masih aktif hingga kini.  Entah kenapa, aku ingin sekali ke tempat ini. Aku masih ingat pula perkataan Ayahku 
“Kamu kalo bergaul, cari teman, cari yang setara, cari yang sama. Jangan asal pilih teman. “ 
Kalimat itu cukup membuat ku tertegun. Maksudnya? Aku tidak boleh berteman dengan seseorang yang “berbeda”? Konyol kupikir. 
Mengetahui sejarah Bukit Kasih ini, aku terkesima. Aku kagum akan makna berdirinya tempat ini. Bukit Kasih ini dibangun sebagai simbol toleransi umat beragama di Indonesia, terutama 5 agama yang telah diakui pemerintah, yaitu Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Masing-masing agama mengajarkan kebaikan dan menghendaki umatnya saling mengasihi sesama manusia. Ajaran-ajaran tersebut tertulis indah di sebuah tugu dengan 5 buah sisi, mewakili 5 agama, dikutip dari kitab suci dan firman tiap agama. 

Maka, mustahil kalau warga Indonesia gemar persamaan. Nyata-nyatanya, negara ini memiliki variasi, bukan hanya agama, tapi juga bahasa, suku, adat-istiadat dan perbedaan-perbedaan lain. Setidaknya, apa yang Ayahku katakan terpatahkan dengan sesuatu yang hebat yang kini berada di hadapanku. Aku masih berkeliling di sekitaran tempat wisata ini. Entah keberuntungan atau kesialan, aku bertemu dengan seseorang yang tidak aku harapkan.

Sial! Dia menatapku. Aku mengambil arah berbalik untuk menghindarinya. Dan, dia malah menghampiriku.

“Eh, lo yang tadi di lobi ya?”

Ah, haruskah aku menjawab? Atau kabur saja? Atau pura-pura lupa? Pura-pura tidak kenal? Aku mengalah dengan pikiranku tadi.

“Hmm..kenapa? Lo jangan ganggu liburan gue deh. Gue bener-bener ga mood lagi ngeliat lo di sini.”

“Hahaa....oh lo lagi liburan? Sendirian? Seriusan?”

“Iya, gue di sini liburan sendirian. Masalah?”

“ Ya enggak...jarang aja liat cewek liburan sendirian. Hmm tapi keren kok. Single fighter banget.”

Dia mengucapkan kalimat yang benar-benar membuat harga diriku entah runtuh entah hancur karena ucapannya.

“Dan lo? Kenapa sendirian? Liburan? Seriusan?”

Aku tidak mau kalah membalas cemoohannya.

“Ah, gue bukan liburan ke sini. Cuma kunjungan aja. Refreshing.”

“Sama aja kali sama liburan.”

“Ya beda lah, gue orang sini, jadi udah biasa lah ke sini.”

“Oh, orang asli sini? Tapi bahasa lo kayak udah tinggal di jakarta dari lahir.Ga yakin gue”

“Yah, malah gak percaya. Asli sini gue. Udahh, gak usah musuhan gini. Lo dateng ke tanah leluhur gue malah ngajak perang. Gak sopan lo.”

“Gue juga gak mau perang sama lo. Gue cuma mau liburan di sini. At least, ulang tahun gue bisa berkesan dikit. “

“Wah, lo ulang tahun sekarang? Selamat ulang tahun kalo gitu. Pas banget, Manado sekarang ulang tahun juga. Kok bisa sama-sama gini ya!Hehe”

Peperangan pagi tadi berubah seketika menjadi pertemuan seorang pengunjung dengan warga asli Manado. Bukan, kami bahkan menjadi teman. Setelah dari Bukit Kasih, kami melanjutkan perjalanan bersama. Robby berlagak menjadi tour guide-ku. Tapi kurasa dia cukup pantas menjadi tour guide. Ia seumuran denganku. Kami berbincang banyak hal. Mood-ku kembali baik. Berkat teman baru.

***

Hari beranjak petang. Saatnya kembali pulang. Walaupun tinggal 4 hari lagi aku di sini, namun Robby harus kembali ke Jakarta.  Dia hanya mengunjungi Manado karena hari ini adalah hari jadi kota kelahirannya. Benar-benar cinta tanah air, kupikir. Karena sudah masuk adzan maghrib, aku memutuskan untuk menuju mesjid terdekat. Namun,....

“Mel, sekalian aja gue anterin. Lo mau sholat dulu kan? Yuk gue anter ke mesjid”

Aku terdiam. Ah, aku memang dibesarkan di antara keluarga yang tidak begitu ingin menghadapi perbedaan. Aku dilarang untuk berteman apabila dia berbeda denganku. Entah perbedaan macam apa yang dilarang. Tapi aku malah sebaliknya. Aku bahagia bertemu dengan orang yang berbeda denganku.

“Makasih udah nganterin ya! Hmm..setelah liburan di sini, gue jadi bertekad untuk balik lagi. Kota yang seru!”

“Haha, jelas dong. Anak mudanya aja seru kayak gue. Masa’ kota nya enggak! Haha, oh iya gue besok balik jakarta jadi lo jalan-jalannya sendirian dong berarti?”

“Hmm no problem! Tapi lo janji ya, kalo lo mau liburan dalam jangka waktu yang lama, kabarin gue! Masih banyak tempat-tempat yang harus gue kunjungin di sini. Dan lo tadi udah janji ke gue! Hehe”

“Siaappp! I’ll be back!

Percakapan malam itu kami tutup dengan tawa. Bahagia, itu yang kurasa. Aku dan dia berjanji akan bertemu di kota ini kembali, dan rasanya kota ini sudah terasa dekat denganku. Hari jadi yang sama, kenangan yang luar biasa dan bertemu dengan orang yang berbeda dari biasanya.






June 4th 2015


RED

#NulisRandom2015 day 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar