Sabtu, 06 Juni 2015

Prosa Rasa

“Sehari saja melewatkan kesempatan, tak akan pernah terungkap kejujuran. Kepada yang paling menyedihkan, oh perasaan, dapatkah kau berterus terang? Semestinya, ya”
***

“Alyaa, ibu dapet kabar dari tetangga, Ruli katanya dijodohin sama Irma, ituu anak Bu Gani yang temen arisan Ibu di komplek kita dulu”

“Ha? Masa sih? Gak mungkin lah, Bu. Aku juga baru banget kemaren ketemu sama Ruli, dia bilang gak punya pacar kok. Ibu jangan bikin gosip deh sama tetangga yang lain”

“Gosip apaan sih? Bu Gani kemaren ke tetangga sebelah, katanya mau mesen catering gitu. Nah, catering itu untuk acara lamaran Ruli sama Irma. Kamu ih gak percayaan. Katanya Ruli temen deket kamu, masa’ Ruli gak pernah cerita sih?”

“Idih, emang Ruli gak pernah cerita kok soal itu. Dia bilang dia mau single aja sampe lulus kuliah. Ya, kalo itu Alya gak tau, Bu.. Udah ah, Alya mau ke kamar dulu. Malah ngegosipin orang deh”

Langkah Alya gontai. Ia menaiki tangga dengan kaki yang tiba-tiba lemas dan pikirannya tak karuan.  Ia terduduk di kasur  dengan sejuta kemungkinan yang muncul. 
“Apakah benar Ruli begitu?”, 
 “Apakah Ruli tidak ingin menceritakan kepadaku karena tak ingin kehilangan teman sepertiku?”, “Apakah Ruli begini karena aku menolaknya semalam untuk menjadi pacarnya?”, “Apakah....”.

 Alya lelah berspekulasi. Ia menutup wajahnya dengan batal dan menangis entah karena kesal, sedih, kecewa, dan perasaan-perasaan lainnya.

                                                                        ***

“ Siang, Bu Alyanya  ada?”

“ Eh, Ruli. Ada kok, lagi di kamar. Udah masuk aja, dipanggilin dulu yah ke atas.”

“ Oh iya, Bu...”

Alya yang masih setengah tersadar dibangunkan Ibu-nya untuk menemui Ruli yang sudah menunggu di ruang tamu.

“Eh, ngapain lo kesini?”

“Galak amat sih, Al. Kan lo janji kemaren mau ke tempat yang jual kanvas. Tugas kita belum selesai loh.”

“Ah, itu. Lo aja deh yang beli sendiri. Gue lagi cape banget nih, asli deh. “

“ Yah gimana sih lo. Lo kan yang lebih paham Al soal kanvas. Buru deh siap-siap ”

Ibu yang melihat percakapan antara Alya dengan Ruli merasakan sesuatu yang tidak biasa. Alya dan Ruli sudah berteman sejak mereka di bangku SD. Hingga kuliah pun, mereka di jurusan bahkan di kelas yang sama. Alya tidak pernah menolak bila diajak Ruli bepergian. Apalagi untuk masalah tugas. Selelah-lelahnya Alya, ia tidak pernah menolak Ruli. Namun, kali ini berbeda.

“Yaudah deh, tunggu bentar”

Alya yang kembali ke kamar untuk bersiap, meninggalkan Ruli beberapa saat dengan Ibu yang masih tidak memahami situasi yang terjadi beberapa menit yang lalu.

“ Ruli, Ibu mau nanya, tapi jangan marah ya?”

“Kenapa, Bu? Nanya aja sih Bu, masa Ruli marah hehe.”

“ Kamu bener dijodohin sama Irma? “

Sesaat keadaan hening. Ruli belum memberikan jawaban sesaat pertanyaan Ibu terucap.

“ Ah, itu. Sebenarnya Ruli juga gak mau Bu. Tapi, Mama punya alasan lain untuk itu. Jadi, sementara ini Ruli belum bisa bilang iya, Bu. Sebenarnya sih.....”

 Sebelum kalimat Ruli selesai diucapkan, Alya sudah berada di ruang tamu dalam hitungan beberapa detik. Alya melihat ekspresi Ibu yang tidak biasa.

“ Pada ngomongin apa sih ? Serius amat mukanya.”

“Ah, enggak, Al. Gak ngomongin apa-apa. Ya udah berangkat gih. Keburu malem.”

“ Hmm...ya udah Alya berangkat dulu  ya Bu. Assalamualaikum”

“ Ruli juga berangkat dulu ya, Bu. Assalamualaikum”

“ Waallaikumsalam, hati-hati yaa”

Selama di perjalanan, Ruli dan Alya hanya terdiam. Tidak ada percakapan di antara mereka. Namun, Alya yang gerah akan situasi ini akhirnya mulai berbicara.

“Gue gak peduli yah, lo mau tunangan kek, lamaran kek atau sekalian nikah kek, yang gue peduli adalah kenapa lo gak ngomong ke gue tentang hal ini? Gue merasa kayak orang paling dungu setelah tau tentang lo dari sumber yang entah bener atau gak.”

Alya memang selalu berbicara to the point. Tidak pernah basa-basi. Ruli kini lebih terkejut dengan kalimat serangan dari Alya.

“Hm..Lo kayaknya ngedenger cerita setengah-setengah mulu nih Al. Emang bener gue dijodohin dalam tanda kutip sama Irma. Tapi gue sama sekali belum nge-iya-in kok.”

“Belum nge-iya-in, tapi udah mau nyelenggarain acara segala?Gue masih belum paham, Rul.”

“ Gini deh, kenapa lo sibuk dengan urusan gue?”

“ Gue gak sibuk dan sebenarnya gak mau ikut campur masalah lo yah. Gue cuma perlu tahu doang kok. Itu aja. Terserah lo mau ngapain juga.”

“ Terus? Setelah tahu masalah gue, lo mau ngapain?”

“ Ha? Gue udah temenan sama lo sejak ketika masih kecil ya. Dan gue gak boleh tahu tentang lo?
 Sedangkan gue apa-apa juga cerita ke lo kan. Sekarang gue gak boleh tahu, gitu?”

“Lo salah Al. Lo bahkan belum ceritain semuanya. Lo belum jujur semua tentang lo ke gue.”

“Jangan mulai sok tahu lo Rul. Apa lagi yang belum gue kasih tahu ke lo, ha?”

Pertengkaran tidak terelakkan lagi. Alya dan Ruli saling berdebat, sampai pada akhirnya..

“Tentang perasaan lo sendiri. Lo gak jujur ke gue. Lo gak bilang apa adanya tentang lo ke gue. Sekarang, gue boleh dong gak ceritain hal ini ke lo, karena lo sendiri gak terus terang tentang alasan lo nolak gue. “

Alya diam. Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Dan omong kosong yang malah terucap dari mulutnya.

“ Gue gak mau jadi pacar lo karena gue emang gak mau. Kita udah temenan lama, deket sampe sekarang, dan tiba-tiba pacaran? Itu yang gue gak mau. Lo belum paham juga?”

“ Bukannya lo bilang sendiri, lo lebih milih pacaran dengan orang yang udah lo kenal lama, deket dan lo lebih nyaman sama orang yang kayak gitu? Dan sekarang?”

“Bukan lo orangnya, Rul. Oke?”

Alya meninggalkan Ruli. Ia tidak ingin melanjutkan perdebatan yang selalu dihindari Alya setiap kali bertemu dengan Ruli akhir-akhir ini.

***

“Siapa bilang aku tidak ingin? Inilah impian terbesarku. Kamu-lah orangnya, kamu yang seharusnya bersamaku. Benar kamu orangnya. Tapi, apa yang kurasa tak dapat menjadi kata-kata. Semuanya tertahan. Perasaan ini juga. Tak mampu berterus terang.”




 ps:  prosa dalam bahasa Latin

June, 6th 2015


RED

#NulisRandom2015 day 6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar