“Sehari saja
melewatkan kesempatan, tak akan pernah terungkap kejujuran. Kepada yang paling
menyedihkan, oh perasaan, dapatkah kau berterus terang? Semestinya, ya”
***
“Alyaa, ibu dapet kabar dari tetangga, Ruli katanya
dijodohin sama Irma, ituu anak Bu Gani yang temen arisan Ibu di komplek kita
dulu”
“Ha? Masa sih? Gak mungkin lah, Bu. Aku juga baru banget
kemaren ketemu sama Ruli, dia bilang gak punya pacar kok. Ibu jangan bikin
gosip deh sama tetangga yang lain”
“Gosip apaan sih? Bu Gani kemaren ke tetangga sebelah,
katanya mau mesen catering gitu. Nah, catering itu untuk acara lamaran Ruli sama
Irma. Kamu ih gak percayaan. Katanya Ruli temen deket kamu, masa’ Ruli gak
pernah cerita sih?”
“Idih, emang Ruli gak pernah cerita kok soal itu. Dia
bilang dia mau single aja sampe lulus kuliah. Ya, kalo itu Alya gak tau, Bu..
Udah ah, Alya mau ke kamar dulu. Malah ngegosipin orang deh”
Langkah Alya gontai. Ia menaiki tangga dengan kaki yang
tiba-tiba lemas dan pikirannya tak karuan.
Ia terduduk di kasur dengan
sejuta kemungkinan yang muncul.
“Apakah benar Ruli begitu?”,
“Apakah Ruli tidak ingin menceritakan kepadaku
karena tak ingin kehilangan teman sepertiku?”, “Apakah Ruli begini karena aku
menolaknya semalam untuk menjadi pacarnya?”, “Apakah....”.
Alya lelah
berspekulasi. Ia menutup wajahnya dengan batal dan menangis entah karena kesal,
sedih, kecewa, dan perasaan-perasaan lainnya.
***
“ Siang, Bu Alyanya
ada?”
“ Eh, Ruli. Ada kok, lagi di kamar. Udah masuk aja,
dipanggilin dulu yah ke atas.”
“ Oh iya, Bu...”
Alya yang masih setengah tersadar dibangunkan Ibu-nya
untuk menemui Ruli yang sudah menunggu di ruang tamu.
“Eh, ngapain lo kesini?”
“Galak amat sih, Al. Kan lo janji kemaren mau ke tempat
yang jual kanvas. Tugas kita belum selesai loh.”
“Ah, itu. Lo aja deh yang beli sendiri. Gue lagi cape
banget nih, asli deh. “
“ Yah gimana sih lo. Lo kan yang lebih paham Al soal
kanvas. Buru deh siap-siap ”
Ibu yang melihat percakapan antara Alya dengan Ruli
merasakan sesuatu yang tidak biasa. Alya dan Ruli sudah berteman sejak mereka
di bangku SD. Hingga kuliah pun, mereka di jurusan bahkan di kelas yang sama.
Alya tidak pernah menolak bila diajak Ruli bepergian. Apalagi untuk masalah
tugas. Selelah-lelahnya Alya, ia tidak pernah menolak Ruli. Namun, kali ini
berbeda.
“Yaudah deh, tunggu bentar”
Alya yang kembali ke kamar untuk bersiap, meninggalkan
Ruli beberapa saat dengan Ibu yang masih tidak memahami situasi yang terjadi
beberapa menit yang lalu.
“ Ruli, Ibu mau nanya, tapi jangan marah ya?”
“Kenapa, Bu? Nanya aja sih Bu, masa Ruli marah hehe.”
“ Kamu bener dijodohin sama Irma? “
Sesaat keadaan hening. Ruli belum memberikan jawaban
sesaat pertanyaan Ibu terucap.
“ Ah, itu. Sebenarnya Ruli juga gak mau Bu. Tapi, Mama
punya alasan lain untuk itu. Jadi, sementara ini Ruli belum bisa bilang iya, Bu.
Sebenarnya sih.....”
Sebelum kalimat
Ruli selesai diucapkan, Alya sudah berada di ruang tamu dalam hitungan beberapa
detik. Alya melihat ekspresi Ibu yang tidak biasa.
“ Pada ngomongin apa sih ? Serius amat mukanya.”
“Ah, enggak, Al. Gak ngomongin apa-apa. Ya udah berangkat
gih. Keburu malem.”
“ Hmm...ya udah Alya berangkat dulu ya Bu. Assalamualaikum”
“ Ruli juga berangkat dulu ya, Bu. Assalamualaikum”
“ Waallaikumsalam, hati-hati yaa”
Selama di perjalanan, Ruli dan Alya hanya terdiam. Tidak
ada percakapan di antara mereka. Namun, Alya yang gerah akan situasi ini
akhirnya mulai berbicara.
“Gue gak peduli yah, lo mau tunangan kek, lamaran kek
atau sekalian nikah kek, yang gue peduli adalah kenapa lo gak ngomong ke gue
tentang hal ini? Gue merasa kayak orang paling dungu setelah tau tentang lo
dari sumber yang entah bener atau gak.”
Alya memang selalu berbicara to the point. Tidak pernah basa-basi.
Ruli kini lebih terkejut dengan kalimat serangan dari Alya.
“Hm..Lo kayaknya ngedenger cerita setengah-setengah mulu
nih Al. Emang bener gue dijodohin
dalam tanda kutip sama Irma. Tapi gue sama sekali belum nge-iya-in kok.”
“Belum nge-iya-in, tapi udah mau nyelenggarain acara
segala?Gue masih belum paham, Rul.”
“ Gini deh, kenapa lo sibuk dengan urusan gue?”
“ Gue gak sibuk dan sebenarnya gak mau ikut campur
masalah lo yah. Gue cuma perlu tahu doang kok. Itu aja. Terserah lo mau ngapain
juga.”
“ Terus? Setelah tahu masalah gue, lo mau ngapain?”
“ Ha? Gue udah temenan sama lo sejak ketika masih kecil
ya. Dan gue gak boleh tahu tentang lo?
Sedangkan gue apa-apa juga cerita ke lo
kan. Sekarang gue gak boleh tahu, gitu?”
“Lo salah Al. Lo bahkan belum ceritain semuanya. Lo belum
jujur semua tentang lo ke gue.”
“Jangan mulai sok tahu lo Rul. Apa lagi yang belum gue
kasih tahu ke lo, ha?”
Pertengkaran tidak terelakkan lagi. Alya dan Ruli saling
berdebat, sampai pada akhirnya..
“Tentang perasaan lo sendiri. Lo gak jujur ke gue. Lo gak
bilang apa adanya tentang lo ke gue. Sekarang, gue boleh dong gak ceritain hal
ini ke lo, karena lo sendiri gak terus terang tentang alasan lo nolak gue. “
Alya diam. Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan
apa. Dan omong kosong yang malah terucap dari mulutnya.
“ Gue gak mau jadi pacar lo karena gue emang gak mau.
Kita udah temenan lama, deket sampe sekarang, dan tiba-tiba pacaran? Itu yang
gue gak mau. Lo belum paham juga?”
“ Bukannya lo bilang sendiri, lo lebih milih pacaran
dengan orang yang udah lo kenal lama, deket dan lo lebih nyaman sama orang yang
kayak gitu? Dan sekarang?”
“Bukan lo orangnya, Rul. Oke?”
Alya meninggalkan Ruli. Ia tidak ingin melanjutkan
perdebatan yang selalu dihindari Alya setiap kali bertemu dengan Ruli
akhir-akhir ini.
***
“Siapa bilang aku tidak ingin? Inilah impian terbesarku.
Kamu-lah orangnya, kamu yang seharusnya bersamaku. Benar kamu orangnya. Tapi,
apa yang kurasa tak dapat menjadi kata-kata. Semuanya tertahan. Perasaan ini
juga. Tak mampu berterus terang.”
ps: prosa dalam bahasa Latin
June, 6th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar