“Kelelahan yang abadi adalah kepedulian yang tidak
diacuhkan. Kepenatan yang hakiki adalah berkali-kali peduli namun diabaikan.”
***
“Gue
gak butuh nasehat lo”
Kalimat dingin itu setidaknya terucap. Seharusnya
itu. Namun, nyatanya ia bungkam seribu bahasa. Terhitung 23 hari sudah tak ada
dialog antara kami. Setiap ia membanting pintu, keluar kamar setelah seharian
bak bertapa di goa, atau sekedar melakukan aktivitas yang memakan waktu 2 menit
di luar kamar ‘pertapaan’-nya, setiap itulah hanya pandangan sinis dan ekspresi
membatu yang tergurat dari wajahnya. Hal ini sudah biasa bagiku. Aku tahu ini
situasinya yang sangat tidak sehat. Tapi, aku selalu jadi pihak yang mengalah.
Aku selalu yang menghampirinya. Aku selalu yang memenangnkan semua dosanya.
Alhasil, aku hanya bisa ber-monolog dalam hati. Menerka-nerka apa yang
tertimbun di hatinya. Marahkah? Frustasikah? Tapi satu yang kuyakin. Dia masih
baik-baik saja. Tandanya dia masih bernyawa hingga kini. Aku masih bersyukur.
***
Siang
beranjak petang, aku duduk di ruang tengah. Kursi empuk merah memang pengobat
kepenatan setelah beraktivitas seharian di dunia perkuliahan. Sambil menukar
siaran televisi yang makin hari makin tak bermutu, pikiranku menggelitik
mengkhayalkan sesuatu. Apa yang sedang mereka lakukan? Apa aktivitas terasyik
yang akhirnya menjadikan “berdiam sebagai kegemaran”? Itu yang ingin kutahu.
Memasang kamera pengintai tidak mungkin, sekedar bertanya sambil melihat apa
jenis kegiatan tak mungkin, apalagi numpang
curhat dengan mereka, adalah hal paling mustahil. Tapi kepastian lain yang
kuyakini adalah, mereka adalah orang yang berbeda.
“Sar,
nanti malem mau makan apa? Biar sekalian gue beliin”
“Loh,
bukannya lo masih sakit bang? Udah gak apa-apa, gue entar masak apa aja yang
ada di kulkas. Lo istrihat sana gih”
“Gue
udah baikan. Ini mau beli cat dulu.”
“Mau
ngapain lo bang?”
“Itu
pager depan udah bulukan, ga enak kalo diliat dari luar. Yaudah, gue pergi dulu
ya “
“Ah....okee"
Karena
speechless, tak tahu harus berkata apa, hanya ‘oke’ yang bisa kuucapkan. Dia
memang luar biasa. Sedang aku hanya sibuk memikirkan diri sendiri, dia banyak
berkontribusi dengan rumah yang kami tinggali. Memang dia seorang pria, tapi
dia berbeda. Kami bisa dikatakan akrab, acap kali berbincang apa saja.
Terkadang untuk bertingkah usil dengannya sering kulakukan, walau kuakui dia
orang yang serius, jarang bercanda. Kembali pada lamunanku tadi, aku masih
bermain di monolog pikiranku. Sekarang, aku penasaran apa yang Tiara lakukan.
Belajar? Tidur? Atau apa?
Tiara yang kukenal adalah orang yang tidak mempunyai
hobi. Mungkin sebagian waktunya digunakan dengan tidur atau berpikir. Setelah
lelah berspekulasi, aku pun menyerah dan tertidur pulas di kursi.
Satu
jam kemudian, aku terbangun dari tidur singkat di sore hari. Ketika bangun, aku
mencium aroma makanan yang diletakkan tepat di atas kepalaku. Ah, ternyata Aria
membelikanku makanan. Padahal sama sekali aku pun tidak memintanya.
“Tuh,
gue nyoba pangsit yang baru buka itu. Cobain deh, kayaknya sih enak”
“Makasi
loh, padahal tadi gak usah dibeliin, lo udah nyobain belum?”
“Lo
aja dulu, gue kan belum boleh makan beginian, hehe”
Kembali,
dia kembali ke kamarnya. Asumsiku adalah dia lelah. Aku benar-benar ingin tahu,
selain tidur, apa yang Aria lakukan . Aku prihatin dengannya yang hanya sibuk
dengan urusan lain sedang urusan pribadinya tidak dihiraukan. Setelah
terbangun, aku masih melihat pintu Tiara tertutup rapat, aku lelah untuk ingin
tahu.
Aku
beranjak ke kamar, menghidupkan musik, agar kamar ini tidak terasa lengang.
Kamarku terletak di ujung rumah. Ibaratnya terletak di luar rumah. Nyatanya?
Memang di luar rumah, yang disulap dari paviliun menjadi kamar. Cukup besar
untuk ukuran kamar, aku bersyukur namun terkadang kesepian. Karena terasing
dengan pintu kamar lainnya. Tapi tak mengapa. Dari kamar ini-lah inspirasiku
bermunculan. Aku gemar menggambar, dan pemandangan di luar kamar cukup
membantuku ketika buntu mencari ide. Pintu kamarku selalu terbuka. Entah kenapa
membuka pintu seakan membiarkan masuk udara segar. Aku perlu itu, agar tidak
merasa sesak melihat tindak tanduk yang membuatku kesal.
***
“Pak,
bungkus dua yah”
“Iya
Mbak..”
Hmm,
setelah diingat di rumah ada tiga orang, kenapa aku membelikan 2 makanan saja?
“Eh,
3 deh, bungkus 3 aja.”
Setelah
membeli sarapan tepat di depan rumah, aku memberikan kepada Aria karena dia
gemar bangun pagi sekali dan lupa untuk sarapan. Aku tidak dapat menjelaskan
karakternya lebih detail. Adakah anak muda yang bangun di pagi buta hanya untuk
memeriksa keadaan rumah setiap harinya? Aria-lah orangnya.
“Bang,
ini sarapan buat lo”
“Hm..makasi
Sar, kalo gitu biar gue aja yang beli, daripada jalan kaki sendiri..Makasi yah”
“Haha,
sekalian olahraga,okee sama-sama”
Aku
juga memberikan sarapan kepada Tiara. Ralat, menggantungkan plastik berisi
makanan di pintu kamarnya. Mustahil ia akan keluar ketika aku mengetuk pintu
dan mengatakan “Kak, ini sarapan...”. Setelah selesai menjadi jasa beli-antar
sarapan, aku bersiap beraktivitas kembali sebagai mahasiswi.
Hari
ini aku pulang cukup larut. Namun, kantuk tidak kunjung menghampiriku. Aku berbaring
di kursi. Namun, ada pemandangan yang membuatku kebingungan, plastik hitam yang
tergantung di pintu? Apakah itu plastik hitam yang tadi pagi aku gantungkan di
pintu kamar Tiara? Aku melihat isinya, dan ternyata sarapan yang tadi pagi aku
beli untuk Tiara masih tersimpan apik dan tidak tersentuh sedikit pun. Aku
tidak habis pikir, kakak yang dari semenjak aku kecil yang selalu menjadi
teman, sahabat, dan orang, kini berubah dingin. Bahkan sedikit kebaikanku tidak
mampu diterimanya. Hanya sebuah sarapan, apalagi yang lain? Aku selalu peduli
kepadanya, ketika dia kesulitan, dia dipojokkan banyak orang, aku beruntung
menjadi orang yang selalu mendukung dan untuknya. Tapi, aku lelah
mempedulikannya. Dia berubah, dan aku benar-benar lelah.
June,
5th 2015
RED
#NulisRandom2015
day 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar