Jumat, 05 Juni 2015

3 PINTU

“Kelelahan yang abadi adalah kepedulian yang tidak diacuhkan. Kepenatan yang hakiki adalah berkali-kali peduli namun diabaikan.”

***


“Gue gak butuh nasehat lo”

 Kalimat dingin itu setidaknya terucap. Seharusnya itu. Namun, nyatanya ia bungkam seribu bahasa. Terhitung 23 hari sudah tak ada dialog antara kami. Setiap ia membanting pintu, keluar kamar setelah seharian bak bertapa di goa, atau sekedar melakukan aktivitas yang memakan waktu 2 menit di luar kamar ‘pertapaan’-nya, setiap itulah hanya pandangan sinis dan ekspresi membatu yang tergurat dari wajahnya. Hal ini sudah biasa bagiku. Aku tahu ini situasinya yang sangat tidak sehat. Tapi, aku selalu jadi pihak yang mengalah. Aku selalu yang menghampirinya. Aku selalu yang memenangnkan semua dosanya. Alhasil, aku hanya bisa ber-monolog dalam hati. Menerka-nerka apa yang tertimbun di hatinya. Marahkah? Frustasikah? Tapi satu yang kuyakin. Dia masih baik-baik saja. Tandanya dia masih bernyawa hingga kini. Aku masih bersyukur.

***

Siang beranjak petang, aku duduk di ruang tengah. Kursi empuk merah memang pengobat kepenatan setelah beraktivitas seharian di dunia perkuliahan. Sambil menukar siaran televisi yang makin hari makin tak bermutu, pikiranku menggelitik mengkhayalkan sesuatu. Apa yang sedang mereka lakukan? Apa aktivitas terasyik yang akhirnya menjadikan “berdiam sebagai kegemaran”? Itu yang ingin kutahu. Memasang kamera pengintai tidak mungkin, sekedar bertanya sambil melihat apa jenis kegiatan tak mungkin, apalagi numpang curhat dengan mereka, adalah hal paling mustahil. Tapi kepastian lain yang kuyakini adalah, mereka adalah orang yang berbeda.

“Sar, nanti malem mau makan apa? Biar sekalian gue beliin”

“Loh, bukannya lo masih sakit bang? Udah gak apa-apa, gue entar masak apa aja yang ada di kulkas. Lo istrihat sana gih”

“Gue udah baikan. Ini mau beli cat dulu.”

“Mau ngapain lo bang?”

“Itu pager depan udah bulukan, ga enak kalo diliat dari luar. Yaudah, gue pergi dulu ya “

“Ah....okee"

Karena speechless, tak tahu harus berkata apa, hanya ‘oke’ yang bisa kuucapkan. Dia memang luar biasa. Sedang aku hanya sibuk memikirkan diri sendiri, dia banyak berkontribusi dengan rumah yang kami tinggali. Memang dia seorang pria, tapi dia berbeda. Kami bisa dikatakan akrab, acap kali berbincang apa saja. Terkadang untuk bertingkah usil dengannya sering kulakukan, walau kuakui dia orang yang serius, jarang bercanda. Kembali pada lamunanku tadi, aku masih bermain di monolog pikiranku. Sekarang, aku penasaran apa yang Tiara lakukan. Belajar? Tidur? Atau apa?

Tiara yang kukenal adalah orang yang tidak mempunyai hobi. Mungkin sebagian waktunya digunakan dengan tidur atau berpikir. Setelah lelah berspekulasi, aku pun menyerah dan tertidur pulas di kursi.

Satu jam kemudian, aku terbangun dari tidur singkat di sore hari. Ketika bangun, aku mencium aroma makanan yang diletakkan tepat di atas kepalaku. Ah, ternyata Aria membelikanku makanan. Padahal sama sekali aku pun tidak memintanya.

“Tuh, gue nyoba pangsit yang baru buka itu. Cobain deh, kayaknya sih enak”

“Makasi loh, padahal tadi gak usah dibeliin, lo udah nyobain belum?”

“Lo aja dulu, gue kan belum boleh makan beginian, hehe”

Kembali, dia kembali ke kamarnya. Asumsiku adalah dia lelah. Aku benar-benar ingin tahu, selain tidur, apa yang Aria lakukan . Aku prihatin dengannya yang hanya sibuk dengan urusan lain sedang urusan pribadinya tidak dihiraukan. Setelah terbangun, aku masih melihat pintu Tiara tertutup rapat, aku lelah untuk ingin tahu.

Aku beranjak ke kamar, menghidupkan musik, agar kamar ini tidak terasa lengang. Kamarku terletak di ujung rumah. Ibaratnya terletak di luar rumah. Nyatanya? Memang di luar rumah, yang disulap dari paviliun menjadi kamar. Cukup besar untuk ukuran kamar, aku bersyukur namun terkadang kesepian. Karena terasing dengan pintu kamar lainnya. Tapi tak mengapa. Dari kamar ini-lah inspirasiku bermunculan. Aku gemar menggambar, dan pemandangan di luar kamar cukup membantuku ketika buntu mencari ide. Pintu kamarku selalu terbuka. Entah kenapa membuka pintu seakan membiarkan masuk udara segar. Aku perlu itu, agar tidak merasa sesak melihat tindak tanduk yang membuatku kesal.


***

“Pak, bungkus dua yah”

“Iya Mbak..”

Hmm, setelah diingat di rumah ada tiga orang, kenapa aku membelikan 2 makanan saja?

“Eh, 3 deh, bungkus 3 aja.”

Setelah membeli sarapan tepat di depan rumah, aku memberikan kepada Aria karena dia gemar bangun pagi sekali dan lupa untuk sarapan. Aku tidak dapat menjelaskan karakternya lebih detail. Adakah anak muda yang bangun di pagi buta hanya untuk memeriksa keadaan rumah setiap harinya? Aria-lah orangnya.

“Bang, ini sarapan buat lo”

“Hm..makasi Sar, kalo gitu biar gue aja yang beli, daripada jalan kaki sendiri..Makasi yah”

“Haha, sekalian olahraga,okee sama-sama”

Aku juga memberikan sarapan kepada Tiara. Ralat, menggantungkan plastik berisi makanan di pintu kamarnya. Mustahil ia akan keluar ketika aku mengetuk pintu dan mengatakan “Kak, ini sarapan...”. Setelah selesai menjadi jasa beli-antar sarapan, aku bersiap beraktivitas kembali sebagai mahasiswi.

Hari ini aku pulang cukup larut. Namun, kantuk tidak kunjung menghampiriku. Aku berbaring di kursi. Namun, ada pemandangan yang membuatku kebingungan, plastik hitam yang tergantung di pintu? Apakah itu plastik hitam yang tadi pagi aku gantungkan di pintu kamar Tiara? Aku melihat isinya, dan ternyata sarapan yang tadi pagi aku beli untuk Tiara masih tersimpan apik dan tidak tersentuh sedikit pun. Aku tidak habis pikir, kakak yang dari semenjak aku kecil yang selalu menjadi teman, sahabat, dan orang, kini berubah dingin. Bahkan sedikit kebaikanku tidak mampu diterimanya. Hanya sebuah sarapan, apalagi yang lain? Aku selalu peduli kepadanya, ketika dia kesulitan, dia dipojokkan banyak orang, aku beruntung menjadi orang yang selalu mendukung dan untuknya. Tapi, aku lelah mempedulikannya. Dia berubah, dan aku benar-benar lelah.






June, 5th 2015



RED
#NulisRandom2015 day 5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar