Jumat, 26 Juni 2015

Tentang Kita

“Ucapnya, ‘aku pasti kembali pada kalian pada akhirnya, karena sudah lama mencari, sudah lama berkelana, berakhir pada kalian jua.’ Karena bukan berapa banyak teman yang telah datang, namun berapa banyak teman yang akan bertahan.”

***


“Udah lama yah kita gak bareng-bareng gini.”

“Iya yah, sekarang udah jarang ngumpul. Tapi, kalau ada acara penting pasti ingetnya ke kalian terus.”

“Heheh, iya ya... Kadang suka kangen ketawa bareng, sekarang jarang ketemu.”

“Duh, jadi inget juga waktu itu aku kenalan sama dia 4 tahun yang lalu di halte. Heboh banget lah. Hahaha, padahal aku udah ngeliat dia sinis loh, tapi masih aja ngedeketin.”

“Iya yahh, kita bertiga di halte waktu itu. Kalo ketemu kalian waktu itu kayak anak SD. Kenalan terus bilang, Hai aku Syena, ini Tika. Hhahaha...lucu banget.”

“Wahh udah 4 tahun aja nih, sekarang kudu lulus dan hengkang dari kampus.”

Kami berlima bagai teman lama yang sudah lama tidak saling berbincang. Tahun ini bisa dibilang tahun pertama kami berbuka puasa bersama di tahun terakhir sebagai mahasiswa. Bisa dibilang pertemanan kami unik. Kami saling berbagi, saling menceritakan kisah susah dan senang, saling berbagi candaan, pujian bahkan hunian yang secara blak-blakan. Begitulah kami. Tidak suka ya bilang tidak suka. Membicarakan di depan agar tak ada fitnah di belakang. Walaupun kami tak selalu berkumpul bersama, pada akhirnya kami berkumpul lagi. Saling menceritakan saling berbagi, apapun itu.

Seorang teman, yang pertama kali kukenali di kampus ini ketika masa adaptasi kampus, Hana, ia seorang yang tenang, baik, perhatian, dan cerdas. Aku selalu berdiskusi masalah mata kuliah. Ia tak segan pula membagi informasi apapun. Setelah lama berkenalan, dekat dan saling memahami karakter masing-masing, di balik ketenangannya, ia orang yang blak-blakan. Ciri khas ketika ia melontarkan candaan adalah dengan kalimat yang dalam dan penuh makna dan akhirnya memancing gelak tawa. Kami pun terkagum-kagum dengan bakat melawak yang tenang dan kalem di antara kami yang super heboh.

Lalu, ada seorang teman yang lahir pada tanggal dan tahun yang sama denganku, Rara. Ia bisa dibilang seorang wanita. Tak pernah sekalipun aku melihat ia tanpa sebuah keanggunan yang melekat pada dirinya. Ketika kami cukup sering bertemu, ia teman yang bisa diajak mengobrol apa saja. Namun, karena jarang bertemu kini kami juga jarang mengobrol. Sifatnya yang supel dan selalu ikhlas untuk menjadi bahan candaan, selalu kami nantikan ketika kami jarang bertemu dengannya.

Teman yang sering menjadi teman curhatku adalah Syena. Ibaratnya, kalo mengobrol dengannya melalui pesan singkat, satu kalimat akan dibalas satu paragraf. Alhasil, pembicaraan kami tak pernah ada habisnya. Ia selalu merespon apa yang kukatakan. Begitu juga denganku. Maka, ia cukup cocok menjadi tempat curhatku, tempat bertanya, tempat kegilaan ketika tidak ada tempat pelampiasan di saat sendiri. Ia cukup dewasa di antara kami.

Namun, selain Syena, ada seorang teman yang tak disangka-sangka dibalik keingintahuannya yang melebihi batas wajar dan terkadang meresahkan orang yang sedang “diseledikinya”, ia menyimpan kedewasaan yang terkadang bagai bom yang meletus di tengah kekanak-kanakan kami. Ia terkadang bisa menjadi api dan terkadang bisa menjadi air. Sikap blak-blakannya selalu kuidolakan, hingga aku ingin seperti Tika. Ia juga teman yang up to date. Segala apapun ia tahu. Itu yang aku salut dengannya.

Kami berlima sudah berteman dari awal semester di perkuliahan. Masa mendewasakan kami. Setahun, dua tahun, tiga tahun dan tahun terakhir ini, banyak yang mengajarkan kami, entah dari setiap kisah yang kami bagi, semangat yang kami urai, tangis yang terkadang mewarnai, dan akhirnya tertawa bersama karena telah melewatinya. Walaupun hanya lima, kami bisa bertahan dan percaya bahwa kami akan kembali lagi, berkumpul seperti ini, karena beginilah kami. 

Waktu yang membentuk suatu “kita”.



June, 26th 2015


RED


#NulisRandom2015 day 26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar