“Ucapnya, ‘aku
pasti kembali pada kalian pada akhirnya, karena sudah lama mencari, sudah lama
berkelana, berakhir pada kalian jua.’ Karena bukan berapa banyak teman yang telah
datang, namun berapa banyak teman yang akan bertahan.”
***
“Udah lama yah kita gak bareng-bareng gini.”
“Iya yah, sekarang udah jarang ngumpul. Tapi, kalau ada
acara penting pasti ingetnya ke kalian terus.”
“Heheh, iya ya... Kadang suka kangen ketawa bareng,
sekarang jarang ketemu.”
“Duh, jadi inget juga waktu itu aku kenalan sama dia 4
tahun yang lalu di halte. Heboh banget lah. Hahaha, padahal aku udah ngeliat
dia sinis loh, tapi masih aja ngedeketin.”
“Iya yahh, kita bertiga di halte waktu itu. Kalo ketemu
kalian waktu itu kayak anak SD. Kenalan terus bilang, Hai aku Syena, ini Tika.
Hhahaha...lucu banget.”
“Wahh udah 4 tahun aja nih, sekarang kudu lulus dan
hengkang dari kampus.”
Kami berlima bagai teman lama yang sudah lama tidak
saling berbincang. Tahun ini bisa dibilang tahun pertama kami berbuka puasa
bersama di tahun terakhir sebagai mahasiswa. Bisa dibilang pertemanan kami
unik. Kami saling berbagi, saling menceritakan kisah susah dan senang, saling
berbagi candaan, pujian bahkan hunian yang secara blak-blakan. Begitulah kami.
Tidak suka ya bilang tidak suka. Membicarakan di depan agar tak ada fitnah di
belakang. Walaupun kami tak selalu berkumpul bersama, pada akhirnya kami
berkumpul lagi. Saling menceritakan saling berbagi, apapun itu.
Seorang teman, yang pertama kali kukenali di kampus ini
ketika masa adaptasi kampus, Hana, ia seorang yang tenang, baik, perhatian, dan
cerdas. Aku selalu berdiskusi masalah mata kuliah. Ia tak segan pula membagi
informasi apapun. Setelah lama berkenalan, dekat dan saling memahami karakter
masing-masing, di balik ketenangannya, ia orang yang blak-blakan. Ciri khas
ketika ia melontarkan candaan adalah dengan kalimat yang dalam dan penuh makna
dan akhirnya memancing gelak tawa. Kami pun terkagum-kagum dengan bakat melawak
yang tenang dan kalem di antara kami yang super heboh.
Lalu, ada seorang teman yang lahir pada tanggal dan tahun
yang sama denganku, Rara. Ia bisa dibilang seorang wanita. Tak pernah sekalipun
aku melihat ia tanpa sebuah keanggunan yang melekat pada dirinya. Ketika kami
cukup sering bertemu, ia teman yang bisa diajak mengobrol apa saja. Namun,
karena jarang bertemu kini kami juga jarang mengobrol. Sifatnya yang supel dan
selalu ikhlas untuk menjadi bahan candaan, selalu kami nantikan ketika kami
jarang bertemu dengannya.
Teman yang sering menjadi teman curhatku adalah Syena.
Ibaratnya, kalo mengobrol dengannya melalui pesan singkat, satu kalimat akan
dibalas satu paragraf. Alhasil, pembicaraan kami tak pernah ada habisnya. Ia
selalu merespon apa yang kukatakan. Begitu juga denganku. Maka, ia cukup cocok
menjadi tempat curhatku, tempat bertanya, tempat kegilaan ketika tidak ada
tempat pelampiasan di saat sendiri. Ia cukup dewasa di antara kami.
Namun, selain Syena, ada seorang teman yang tak
disangka-sangka dibalik keingintahuannya yang melebihi batas wajar dan
terkadang meresahkan orang yang sedang “diseledikinya”, ia menyimpan kedewasaan
yang terkadang bagai bom yang meletus di tengah kekanak-kanakan kami. Ia
terkadang bisa menjadi api dan terkadang bisa menjadi air. Sikap blak-blakannya
selalu kuidolakan, hingga aku ingin seperti Tika. Ia juga teman yang up to
date. Segala apapun ia tahu. Itu yang aku salut dengannya.
Kami berlima sudah berteman dari awal semester di
perkuliahan. Masa mendewasakan kami. Setahun, dua tahun, tiga tahun dan tahun
terakhir ini, banyak yang mengajarkan kami, entah dari setiap kisah yang kami
bagi, semangat yang kami urai, tangis yang terkadang mewarnai, dan akhirnya tertawa
bersama karena telah melewatinya. Walaupun hanya lima, kami bisa bertahan dan
percaya bahwa kami akan kembali lagi, berkumpul seperti ini, karena beginilah
kami.
Waktu yang membentuk suatu “kita”.
June, 26th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar