Sabtu, 27 Juni 2015

Ketika Hati (tak) Berkata

"Merasakan kecewa sudah biasa hingga kelelahan ini yang menjelaskan betapa tak adilnya nasib yang didera. Tetapi kuyakin akan ada satu kata yang mampu menghentikan semuanya, ketika “lepas” tak hanya terucap di bibir, namun hati pun berkata.”

***

Dahulu, berdua saja sungguh terasa indah. Kini, berbeda. Ketika hanya ingin sendiri, merasakan seorang diri, tak ingin berbagi, dan melalui segalanya sendiri, kata ‘berdua’ terasa menjadi pengganggu hidupku. Dahulu, bahagia yang dipuja-puja. Kini, berbeda. Ketika susah derita yang beruntun berdatangan, tak ada lagi kata ‘dia’ yang selalu di sisi. Aku sudah menduga sebelumnya. Aku sudah menduga bakal menjadi manusia-manusia yang lainnya. Pada bagian terakhir sebuah kisah hanya mampu membandingkan soal ‘ dahulu’ dan kini. Ya, aku pun tak luput dari ciri-ciri manusia pada umumnya. Bagian terbaiknya adalah ketika di masa depan, kita mampu melihat kebaikan dan keburukan di masa lalu, berharap kebaikan dipertahankan di masa depan, dan memperbaiki bahkan menghindari keburukan di masa yang akan datang.

Awan adalah sebagian dari ‘dahulu’-ku. Kalau ditanya apakah dia mantan kekasih yang terbaik? Aku akan menjawab, ya! Karena ia berhasil membuatku kehilangan seorang sahabat. Sahabatku, Awan, dahulu. Selain menjadi mantan kekasih, aku sekaligus mempunyai mantan sahabat. Double strikes.

Alasan kami mengakhiri semuanya? Bukan masalah yang rumit. Hanya kesabaran dan keikhlasan yang tak mampu aku dan dia penuhi. Sedikit saja aku dan dia bersabar, sedikit saja aku dan dia mengikhlaskan, hal ini tidak akan berakhir. Aku yakin sekali. Mungkin, begitu pun dia.

***

“Hari ini lo ketemu Aron lagi?”

Entah kenapa akhir-akhir ini Awan selalu menanyakan hal yang sama. “Lo makan bareng Aron?” atau “Tadi kata temen gue, lo di kafe sama Awan”.

“Wan, lo kenapa sih nanya Aron mulu? Gue kan satu kerjaan sama dia, jadi ya jelas lah gue sering ketemu atau ngobrol bareng dia.”

“ Ya kalo gue gak suka gimana?Lo kan pernah bilang ke gue dulu, gak mau ketemu sama mantan lo lagi.”

“Ya ampun, Wan. Itu waktu gue SMA dan masih labil. Sekarang gue harus profesional lah sama kerjaan. Masa lo gak ngerti sih?”

“Nah, ini aja lo gak profesional. Sebelum lo mau jadi seseorang yang profesional, setidaknya lo inget komitmen lo dulu.”

“Duh, kalo bahas ini mulu gak ada habisnya. Udah deh, gue balik kantor dulu.”

“Shan... lo kok pergi gitu aja sih?”

“Lanjutin aja hari-hari lo dengan mikirin hal yang nonsense begitu”

Aku memilih meninggalkan Awan yang sepertinya banyak yang ingin dia sampaikan. Aku sudah sampai di batas muak menghadapi pertanyaan yang sama dari nya.

***

“Mas Awan, katanya mau ngajak Mbak Shania makan bareng di rumah”

Aku merebahkan di sofa. Hari ini perdebatan itu muncul lagi. Dan tidak kunjung usai ataupun menemukan titik temu. Shania selalu menghindar untuk membahas masalah  Aron.

“Mas ih, aku nanya gak dijawab!”

“Apa sih Ann? Mas lagi pusing nih.”

“Gak ada kerjaan lagi di galeri? Malah langsung pulang, bukannya jemput Mbak Shania.”

“Shania lagi sibuk, Ann. Mas gak mau ganggu."

“Ini udah 4 kali loh Mas janji mau ngajak makan malem bareng Mbak Shania”

“Udah deh, jangan bawel. Gue lagi gak mood nih.”

“Idih, malah marah. Ya udah sih biasa aja”


Perdebatan lain di tempat yang berbeda dengan orang yang berbeda tak terelakkan lagi. Suara bel pintu memecahkan keheningan antara aku dengan Anna. Anna lalu bergegas membukakan pintu seperti sedang menanti seseorang. Setelah beberapa menit, benar, Anna membawa seseorang.

“Mas...”

“Hai, Wan!”

“Ron?”

Aku terdiam menatap seseorang yang sama sekali tak pernah kuharapkan untuk hadir di hadapanku.
“Ngapain lo di sini?”

“Ih Mas Awan kok jutek gini sih?”

“Dia ngapain ke sini, Ann?”

“Aku mau ngenalin Mas Awan  sama Aron, tapi kayaknya Mas udah kenal deh.”

“Kenalin ke Mas? Emang dia siapa?”

“Dia..pacar aku Mas.”
***

“Gue denger Aron jadian sama Anna ya?”

“Kok lo tahu?”

“Aron selama ini deketin gue ya karena itu, untuk tahu Anna lebih banyak.”

“Gue gak paham maksud lo. Kenapa untuk tahu tentang Anna, dia ngedeketin lo? Dan satu lagi yang gue heran, lo putus sama Aron dulu karena kelakuannya yang gak bener kan, Shan?”

“Sekarang dia udah beda, Wan.”

“Buat lo mungkin beda. Tapi gue enggak. Gue ngeliat lo digimanain sama Aron, Shan. Dan sekarang lo malah ngorbanin adek gue? Wah, bisa-bisanya lo”

“Kata-kata lo kenapa kasar gitu sih Wan? Ngorbanin? Ini Awan yang gue kenal gak sih? Kenapa sekarang malah ngeliat orang di masa lalu? Kenapa gak bisa ngeliat kebaikan orang lain sedikit aja?”

“Lo jangan nanya balik ke gue, Shan. Jawab pertanyaan gue. Maksud lo apa ngedeketin Aron ke Anna?”

“Gue gak pernah ngedeketin mereka kok. Aron Cuma nanya dan gue bantu jawab. Salah?”

“Salah. Lo ketemu Aron lagi juga salah. Semuanya salah Shan.”

“Ha? Bisa banget lo ngejudge. Mending lo istirahat di rumah , Wan. Pikiran lo lagi kacau banget kayaknya.”

“Enggak. Mending gue akhirin semua ini. Lo jadi pacar gue juga salah. Gue yang begini gak akan bisa klop sama lo. Hmm...”

“Jadi, karena Aron jadian sama Anna, sekarang lo mutusin gue, gitu?Wah, ternyata Awan yang dulu jadi sahabat karib gue sulit menjaga komitmen sepertinya.”

“Gue serius Shan. Sori, gue pulang dulu”

Shania terdiam. Awan meninggalkannya sendiri.

***

Setelah 3 bulan berlalu, Shania dan Awan tidak pernah bertemu lagi. Bahkan selain menjadi mantan kekasih, mereka menjadi mantan sahabat. Benar-benar tidak pernah bertemu lagi. Namun....

“Eh Mas, di sini!”

“Hei, sori telat. Aron mana?”

“Bentar lagi dateng kok Mas”

Lalu Aron tiba sepuluh menit berselang.

“Hei, Wan.”

“Oy, jadi gimana nih, gedung udah direserve? Apalagi yang bisa gue bantu?”

“Apa yah? Paling organize tamu sih Wan. Yah temen kita sama lah yaa ahaha”

“Iya lah, gak nyangka temen SMP gue malah jadi ipar gue. Eh, ini kita gak ke gedung sekarang aja?”

“Eh bentar. Kita masih nunggu orang lagi nih”

“Siapa Ann? Wedding Organizer nya?”

“Yaa, bisa dibilang gitu lah”

Ternyata seseorang yang mungkin tak ingin ditemui Awan, datang menuju ke arah mereka.
“Nah itu dateng, Mbak Shan!!”

“Shania?”

Awan terdiam melihat Shania yang berdiri di depannya.

“Hei, Wan! Udah lama gak ketemu.”

Awan masih terdiam.

Ia masih diam.

(“Hai Shan! Lo apa kabar? Sekarang, lo tambah beda, cantik, gue kangen”)
Awan masih terdiam.

(“Lo masa lalu gue,Wan. Tapi gue gak akan ngejauhin lo kok. Karena gue udah melepaskan lo”)
Shania hanya berdiri sambil tersenyum menatap Awan.

(“Gue kangen, Shan, sungguh...”)

(“Setidaknya lo pernah ada di hidup gue, ngecewain gue, dan di masa depan, lo bukan bagian dari gue lagi, Wan”)




June, 27th 2015


RED


#NulisRandom2015 day 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar