"Merasakan
kecewa sudah biasa hingga kelelahan ini yang menjelaskan betapa tak adilnya nasib
yang didera. Tetapi kuyakin akan ada satu kata yang mampu menghentikan
semuanya, ketika “lepas” tak hanya terucap di bibir, namun hati pun berkata.”
Dahulu, berdua saja sungguh terasa indah. Kini, berbeda.
Ketika hanya ingin sendiri, merasakan seorang diri, tak ingin berbagi, dan
melalui segalanya sendiri, kata ‘berdua’ terasa menjadi pengganggu hidupku.
Dahulu, bahagia yang dipuja-puja. Kini, berbeda. Ketika susah derita yang
beruntun berdatangan, tak ada lagi kata ‘dia’ yang selalu di sisi. Aku sudah
menduga sebelumnya. Aku sudah menduga bakal menjadi manusia-manusia yang
lainnya. Pada bagian terakhir sebuah kisah hanya mampu membandingkan soal ‘
dahulu’ dan kini. Ya, aku pun tak luput dari ciri-ciri manusia pada umumnya.
Bagian terbaiknya adalah ketika di masa depan, kita mampu melihat kebaikan dan
keburukan di masa lalu, berharap kebaikan dipertahankan di masa depan, dan
memperbaiki bahkan menghindari keburukan di masa yang akan datang.
Awan adalah sebagian dari ‘dahulu’-ku. Kalau ditanya
apakah dia mantan kekasih yang terbaik? Aku akan menjawab, ya! Karena ia
berhasil membuatku kehilangan seorang sahabat. Sahabatku, Awan, dahulu. Selain
menjadi mantan kekasih, aku sekaligus mempunyai mantan sahabat. Double strikes.
Alasan kami mengakhiri semuanya? Bukan masalah yang
rumit. Hanya kesabaran dan keikhlasan yang tak mampu aku dan dia penuhi.
Sedikit saja aku dan dia bersabar, sedikit saja aku dan dia mengikhlaskan, hal
ini tidak akan berakhir. Aku yakin sekali. Mungkin, begitu pun dia.
***
“Hari
ini lo ketemu Aron lagi?”
Entah
kenapa akhir-akhir ini Awan selalu menanyakan hal yang sama. “Lo makan bareng
Aron?” atau “Tadi kata temen gue, lo di kafe sama Awan”.
“Wan,
lo kenapa sih nanya Aron mulu? Gue kan satu kerjaan sama dia, jadi ya jelas lah
gue sering ketemu atau ngobrol bareng dia.”
“
Ya kalo gue gak suka gimana?Lo kan pernah bilang ke gue dulu, gak mau ketemu
sama mantan lo lagi.”
“Ya
ampun, Wan. Itu waktu gue SMA dan masih labil. Sekarang gue harus profesional
lah sama kerjaan. Masa lo gak ngerti sih?”
“Nah,
ini aja lo gak profesional. Sebelum lo mau jadi seseorang yang profesional,
setidaknya lo inget komitmen lo dulu.”
“Duh,
kalo bahas ini mulu gak ada habisnya. Udah deh, gue balik kantor dulu.”
“Shan...
lo kok pergi gitu aja sih?”
“Lanjutin
aja hari-hari lo dengan mikirin hal yang nonsense begitu”
Aku
memilih meninggalkan Awan yang sepertinya banyak yang ingin dia sampaikan. Aku
sudah sampai di batas muak menghadapi pertanyaan yang sama dari nya.
***
“Mas
Awan, katanya mau ngajak Mbak Shania makan bareng di rumah”
Aku
merebahkan di sofa. Hari ini perdebatan itu muncul lagi. Dan tidak kunjung usai
ataupun menemukan titik temu. Shania selalu menghindar untuk membahas
masalah Aron.
“Mas
ih, aku nanya gak dijawab!”
“Apa
sih Ann? Mas lagi pusing nih.”
“Gak
ada kerjaan lagi di galeri? Malah langsung pulang, bukannya jemput Mbak Shania.”
“Shania
lagi sibuk, Ann. Mas gak mau ganggu."
“Ini
udah 4 kali loh Mas janji mau ngajak makan malem bareng Mbak Shania”
“Udah
deh, jangan bawel. Gue lagi gak mood nih.”
“Idih,
malah marah. Ya udah sih biasa aja”
Perdebatan
lain di tempat yang berbeda dengan orang yang berbeda tak terelakkan lagi.
Suara bel pintu memecahkan keheningan antara aku dengan Anna. Anna lalu
bergegas membukakan pintu seperti sedang menanti seseorang. Setelah beberapa
menit, benar, Anna membawa seseorang.
“Mas...”
“Hai,
Wan!”
“Ron?”
Aku
terdiam menatap seseorang yang sama sekali tak pernah kuharapkan untuk hadir di
hadapanku.
“Ngapain
lo di sini?”
“Ih
Mas Awan kok jutek gini sih?”
“Dia
ngapain ke sini, Ann?”
“Aku
mau ngenalin Mas Awan sama Aron, tapi
kayaknya Mas udah kenal deh.”
“Kenalin
ke Mas? Emang dia siapa?”
“Dia..pacar
aku Mas.”
***
“Gue denger Aron jadian sama
Anna ya?”
“Kok lo tahu?”
“Aron selama ini deketin gue ya
karena itu, untuk tahu Anna lebih banyak.”
“Gue gak paham maksud lo.
Kenapa untuk tahu tentang Anna, dia ngedeketin lo? Dan satu lagi yang gue
heran, lo putus sama Aron dulu karena kelakuannya yang gak bener kan, Shan?”
“Sekarang dia udah beda, Wan.”
“Buat lo mungkin beda. Tapi gue
enggak. Gue ngeliat lo digimanain sama Aron, Shan. Dan sekarang lo malah ngorbanin
adek gue? Wah, bisa-bisanya lo”
“Kata-kata lo kenapa kasar gitu
sih Wan? Ngorbanin? Ini Awan yang gue kenal gak sih? Kenapa sekarang malah
ngeliat orang di masa lalu? Kenapa gak bisa ngeliat kebaikan orang lain sedikit
aja?”
“Lo jangan nanya balik ke gue,
Shan. Jawab pertanyaan gue. Maksud lo apa ngedeketin Aron ke Anna?”
“Gue gak pernah ngedeketin
mereka kok. Aron Cuma nanya dan gue bantu jawab. Salah?”
“Salah. Lo ketemu Aron lagi
juga salah. Semuanya salah Shan.”
“Ha? Bisa banget lo ngejudge.
Mending lo istirahat di rumah , Wan. Pikiran lo lagi kacau banget kayaknya.”
“Enggak. Mending gue akhirin
semua ini. Lo jadi pacar gue juga salah. Gue yang begini gak akan bisa klop
sama lo. Hmm...”
“Jadi, karena Aron jadian sama
Anna, sekarang lo mutusin gue, gitu?Wah, ternyata Awan yang dulu jadi sahabat
karib gue sulit menjaga komitmen sepertinya.”
“Gue serius Shan. Sori, gue
pulang dulu”
Shania terdiam. Awan
meninggalkannya sendiri.
***
Setelah 3 bulan berlalu, Shania
dan Awan tidak pernah bertemu lagi. Bahkan selain menjadi mantan kekasih,
mereka menjadi mantan sahabat. Benar-benar tidak pernah bertemu lagi. Namun....
“Eh Mas, di sini!”
“Hei, sori telat. Aron mana?”
“Bentar lagi dateng kok Mas”
Lalu Aron tiba sepuluh menit
berselang.
“Hei, Wan.”
“Oy, jadi gimana nih, gedung
udah direserve? Apalagi yang bisa gue bantu?”
“Apa yah? Paling organize tamu
sih Wan. Yah temen kita sama lah yaa ahaha”
“Iya lah, gak nyangka temen SMP
gue malah jadi ipar gue. Eh, ini kita gak ke gedung sekarang aja?”
“Eh bentar. Kita masih nunggu
orang lagi nih”
“Siapa Ann? Wedding Organizer
nya?”
“Yaa, bisa dibilang gitu lah”
Ternyata seseorang yang mungkin
tak ingin ditemui Awan, datang menuju ke arah mereka.
“Nah itu dateng, Mbak Shan!!”
“Shania?”
Awan terdiam melihat Shania
yang berdiri di depannya.
“Hei, Wan! Udah lama gak
ketemu.”
Awan masih terdiam.
Ia masih diam.
(“Hai Shan! Lo apa kabar?
Sekarang, lo tambah beda, cantik, gue kangen”)
Awan masih terdiam.
(“Lo masa lalu gue,Wan. Tapi gue
gak akan ngejauhin lo kok. Karena gue udah melepaskan lo”)
Shania hanya berdiri sambil
tersenyum menatap Awan.
(“Gue kangen, Shan, sungguh...”)
(“Setidaknya lo pernah ada di
hidup gue, ngecewain gue, dan di masa depan, lo bukan bagian dari gue lagi, Wan”)
June, 27th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar