Teruntuk Langit Bukittinggi yang Masih Mendung...
Pagi ini bangun lebih awal, seperti biasanya. Tetapi yang
tidak biasa adalah keinginan bangun yang mulai berkurang. Kenapa tidak, udara
yang dingin yang menyusup ke seisi ruangan memaksa aku menarik selimut yang
sebenarnya sudah cukup tebal dan berusaha menghangatkan tubuh. Dinginnya bukan
main! Teramat dingin. Biasanya bangun pagi di Bandung, aku sudah melakukan berbagai
aktivitas walaupun masih jam 5 pagi.
Memang ini yang kurindukan. Tapi, fisik yang melemah
menjadikanku flu dan sakit tenggorokan. Ya walaupun sakit, aku merasa nyaman
saja sudah berada di rumah. Air yang menusuk sepedih belati harus
kukuat-kuatkan untuk mencuci muka. Seluar biasa ini dinginnya hingga badanku
tidak bisa beradaptasi.
Ketika keluar rumah pun begitu. Mungkin saja nanti pukul
10 pagi ada matahari yang muncul untuk menghangatkan kota ini. Namun ketika
kakakku mengatakan bahwa jika dinginnya sedingin ini, berarti nanti siang
panasnya sungguh panas. Oke, itulah manusia. Diberikan dingin ingin panas,
diberikan ingin panas ingin lebih sejuk alias dingin. Hehe.
Kalau begitu, teruntuk matahari yang dirindukan olehku
muncullah nanti siang ya, agar tidak terlalu dingin dan bisa membantu ibu-ibu
di setiap rumah untuk mengeringkan pakaiannya yang sedang dijemur.
Teruntuk matahari nanti yang akan muncul, semoga panasnya
tidak membuat mata kami mengernyitkan terlalu dalam dan udaranya bisa sejuk
agar matahari nanti yang muncul bisa menjadi matahari yang panas dan selalu
dirindukan.
Dari Aku yang Masih Kedinginan Ketika Menulis Surat Ini
RED
@redinasyafril
Tidak ada komentar:
Posting Komentar