Jumat, 12 Februari 2016

Matahari yang Dirindukan

Teruntuk Langit Bukittinggi yang Masih Mendung...

Pagi ini bangun lebih awal, seperti biasanya. Tetapi yang tidak biasa adalah keinginan bangun yang mulai berkurang. Kenapa tidak, udara yang dingin yang menyusup ke seisi ruangan memaksa aku menarik selimut yang sebenarnya sudah cukup tebal dan berusaha menghangatkan tubuh. Dinginnya bukan main! Teramat dingin. Biasanya bangun pagi di Bandung, aku sudah melakukan berbagai aktivitas walaupun masih jam 5 pagi.

Memang ini yang kurindukan. Tapi, fisik yang melemah menjadikanku flu dan sakit tenggorokan. Ya walaupun sakit, aku merasa nyaman saja sudah berada di rumah. Air yang menusuk sepedih belati harus kukuat-kuatkan untuk mencuci muka. Seluar biasa ini dinginnya hingga badanku tidak bisa beradaptasi.

Ketika keluar rumah pun begitu. Mungkin saja nanti pukul 10 pagi ada matahari yang muncul untuk menghangatkan kota ini. Namun ketika kakakku mengatakan bahwa jika dinginnya sedingin ini, berarti nanti siang panasnya sungguh panas. Oke, itulah manusia. Diberikan dingin ingin panas, diberikan ingin panas ingin lebih sejuk alias dingin. Hehe.

Kalau begitu, teruntuk matahari yang dirindukan olehku muncullah nanti siang ya, agar tidak terlalu dingin dan bisa membantu ibu-ibu di setiap rumah untuk mengeringkan pakaiannya yang sedang dijemur.

Teruntuk matahari nanti yang akan muncul, semoga panasnya tidak membuat mata kami mengernyitkan terlalu dalam dan udaranya bisa sejuk agar matahari nanti yang muncul bisa menjadi matahari yang panas dan selalu dirindukan.



Dari Aku yang Masih Kedinginan Ketika Menulis Surat Ini



RED
@redinasyafril


Tidak ada komentar:

Posting Komentar