Sabtu, 20 Februari 2016

Sepiring Dialog Hangat

 Teruntuk Sentuhan Mama di Setiap Makanan Sederhana Nan Lezat...

Pagi tadi cukup dingin. Karena gerimis yang hadir maka Bukittinggi kurang sehangat beberapa hari yang lalu. Walaupun hujan dan dingin seperti ini, tapi di dalam rumah tetap hangat. Mungkin karena banyak orang atau memang pagi ini tetap hangat. Pagi tadi juga dimulai dengan percakapan ringan bersama “ibu-ibu arisan” (baca: mama, aku bersama kedua kakak-ku). Topiknya beragam. Mulai dari membahas kenduri yang Mama dan Kakakku hadiri kemarin. Pembicaraan tentang topik itu lalu kamu simpulkan. Bahkan seindah apapun adat istiadat yang sudah terbentuk, jika pribadi dan karakter orang yang menjalankannya tidak “mengindahkan” adat istiadat tersebut maka hilanglah indahnya.

Topik lain yang kami bahas adalah bagaimana kebiasaan setiap orang yang berbeda. Indahnya senyum dan tegur sapa menjadi pembicaraan kami. Mama menyematkan pesan dimana pun dan kepada siapa pun, senyum itu harus disedekahkan agar segala pikiran dan prasangka buruk entah itu kepada orang yang dikenal ataupun orang yang baru bertemu dapat terbantahkan. Hidup ya positif-positif aja. Kata Mama tadi pagi. Setelah pembicaraan ringan tapi cukup banyak pelajaran yang kudapat dari Mama, seperti biasa pagi-pagi kami langsung memasak.

Memang, kegiatan pagi-ku di Bukittinggi dimulai dengan memasak. Maklum saja, anggota keluarga di rumahku cukup banyak. Maka waktu memasak harus dimulai lebih awal. Aku mengambil posisi membersihkan udang dan ikan mentah. Lalu, Mama membantuku. Kata Mama agak berbisik “ Kalo dikerjain bareng lebih cepet, Na..”. Dan benarlah, selesainya pun cepat. Mama seperti biasa, 3-4 masakan selesai dalam sekejap. Rasanya? Tidak perlu ditanya. Entah kenapa, masakan sederhana seperti daun singkon rebus yang biasa kami sebut pucuk ubi dimakan bersama cabai hijau yang digiling kasar lalu disiram minyak panas khas Mama, dan tak lupa disajikan dengan terong rebus sudah nikmat disantap pagi begini.

Teruntuk masakan Mama yang lezatnya menjelma bagai disihir terlebih dulu, inilah kenapa aku menjadi gemar memasak. Walaupun tidak seenak masakan Mama, tapi Mama selalu mengajarkannya dari hal terkecil sekalipun. Dan memang benar, proses memasak yang “cantik” pasti akan menghasilkan makanan yang lezat.

Teruntuk pagi mendung Bukittinggi, entah kenapa di dapur tadi pagi bersama Mama dan Kakak terasa cerah dan terang. Sembari bersenandung bersama, melempar canda hingga membuat “rencana event kecil” (aku dan Kakak membuat candaan untuk membuat Best Menantu Award 2016). Ya ! Pastilah Mama-ku yang menang. Hehe.

Sudah dulu ya, semoga hari-hari selanjutnya akan sebahagia pagi tadi.


Dari Ina yang Sangat Mengagumi Mama beserta Masakannya (hehe)



RED

@redinasyafril

Tidak ada komentar:

Posting Komentar