Teruntuk Sentuhan
Mama di Setiap Makanan Sederhana Nan Lezat...
Pagi tadi cukup
dingin. Karena gerimis yang hadir maka Bukittinggi kurang sehangat beberapa
hari yang lalu. Walaupun hujan dan dingin seperti ini, tapi di dalam rumah
tetap hangat. Mungkin karena banyak orang atau memang pagi ini tetap hangat.
Pagi tadi juga dimulai dengan percakapan ringan bersama “ibu-ibu arisan” (baca:
mama, aku bersama kedua kakak-ku). Topiknya beragam. Mulai dari membahas kenduri
yang Mama dan Kakakku hadiri kemarin. Pembicaraan tentang topik itu lalu kamu
simpulkan. Bahkan seindah apapun adat istiadat yang sudah terbentuk, jika
pribadi dan karakter orang yang menjalankannya tidak “mengindahkan” adat
istiadat tersebut maka hilanglah indahnya.
Topik lain yang
kami bahas adalah bagaimana kebiasaan setiap orang yang berbeda. Indahnya
senyum dan tegur sapa menjadi pembicaraan kami. Mama menyematkan pesan dimana
pun dan kepada siapa pun, senyum itu harus disedekahkan agar segala pikiran dan
prasangka buruk entah itu kepada orang yang dikenal ataupun orang yang baru
bertemu dapat terbantahkan. Hidup ya positif-positif aja. Kata Mama tadi pagi.
Setelah pembicaraan ringan tapi cukup banyak pelajaran yang kudapat dari Mama,
seperti biasa pagi-pagi kami langsung memasak.
Memang, kegiatan
pagi-ku di Bukittinggi dimulai dengan memasak. Maklum saja, anggota keluarga di
rumahku cukup banyak. Maka waktu memasak harus dimulai lebih awal. Aku
mengambil posisi membersihkan udang dan ikan mentah. Lalu, Mama membantuku.
Kata Mama agak berbisik “ Kalo dikerjain bareng lebih cepet, Na..”. Dan
benarlah, selesainya pun cepat. Mama seperti biasa, 3-4 masakan selesai dalam
sekejap. Rasanya? Tidak perlu ditanya. Entah kenapa, masakan sederhana seperti
daun singkon rebus yang biasa kami sebut pucuk ubi dimakan bersama cabai hijau
yang digiling kasar lalu disiram minyak panas khas Mama, dan tak lupa disajikan
dengan terong rebus sudah nikmat disantap pagi begini.
Teruntuk masakan
Mama yang lezatnya menjelma bagai disihir terlebih dulu, inilah kenapa aku
menjadi gemar memasak. Walaupun tidak seenak masakan Mama, tapi Mama selalu
mengajarkannya dari hal terkecil sekalipun. Dan memang benar, proses memasak
yang “cantik” pasti akan menghasilkan makanan yang lezat.
Teruntuk pagi
mendung Bukittinggi, entah kenapa di dapur tadi pagi bersama Mama dan Kakak
terasa cerah dan terang. Sembari bersenandung bersama, melempar canda hingga
membuat “rencana event kecil” (aku dan Kakak membuat candaan untuk membuat Best
Menantu Award 2016). Ya ! Pastilah Mama-ku yang menang. Hehe.
Sudah dulu ya,
semoga hari-hari selanjutnya akan sebahagia pagi tadi.
Dari Ina yang Sangat Mengagumi Mama beserta Masakannya
(hehe)
RED
@redinasyafril
Tidak ada komentar:
Posting Komentar