“Jika lima puluh juta orang mengatakan hal yang bodoh,
tetap saja itu bodoh “ –w.s.m-
***
Tidak ada salahnya berbagi dalam sebuah pemikiran yang
baru. Tulisan kali ini bukan sebuah cerita pendek. Tetapi lebih berupa sentilan
kecil yang terkadang sadar atau tidak, kita semua mengalaminya.
Pernah saya membaca sebuah buku beberapa bulan lalu.
Seperti biasa, saya menuliskan kembali hal-hal yang menjadi “sentilan” yang
awalnya hanya menyentil saya dan tentunya benak saya. Ketika membacanya,
sejenak saya tertawa kecil. Kemudian, di menit berikutnya saya terdiam.
Menyunggingkan senyum kecil nan kecut. Ah, saya sedang menertawakan diri saya
sendiri. Saya-lah yang jangan-jangan termasuk kandidat orang “bodoh” dalam
bacaan yang sedang saya baca dan renungi ini.
Setelah menulisnya kembali, saya langsung menutup buku
catatan saya. Melanjutkan kembali aktivitas saya kala itu. Setelah 3 bulan
berikutnya, pada waktu ini saya kembali membacanya.
Yang saya tulis begini,
“Ketika kerumunan orang tertawa, maka bisa jadi anda akan
ikut tertawa. Ketika kerumunan orang berteriak ataupun bergemuruh tanda tidak
setuju, maka kemungkinan anda akan ikut berteriak ataupun bergemuruh. Ketika
anda dihadapkan 3 pilihan dan telah memilih jawaban yang benar, lalu 2 orang
lain datang dan memilih pilihan lain dan salah, lalu anda juga mengikuti
pilihan salah itu “
Sesaat yang saya pikirkan adalah “Persis sekali.”
Atau mungkin anda yang membaca tulisan ini spontan
mengatakan kepada diri sendiri “Wah, benar juga.” Atau “ Iya banget!”
Celaka-kah kita? Tidak. Sama sekali tidak. Bukan suatu
kesalahan atau dosa besar. Tetapi itu lebih kepada sebuah jebakan yang anda
buat sendiri dalam hidup anda. “Pelajaran” ini secara sederhana mengubah saya,
baik itu dari segi perilaku maupun pemikiran. Pernah suatu saat saya mencoba
menerapkan untuk menjadi berbeda. Berbeda dalam hal spontanitas seperti halnya
di atas. Ketika berlawanan dengan orang pada umumnya, saya 180 derajat menjadi
pusat perhatian. Atas apa? Atas perbedaan yang saya ciptakan.
Dan inilah alasan yang saya temukan atas pernyataan dan
umpama yang saya tuliskan di atas. Kita semua telah diajarkan banyak pelajaran
hidup. Entah itu kita peroleh di rumah, di sekolah, di perkumpulan pertemanan,
atau bahkan di kehidupan yang penuh dengan “musuh” atau “lawan”. Kita pastilah
mampu membedakan hal sederhana nan hakiki di kehidupan ini soal baik dan buruk
hingga benar dan salah. Saya pun begitu. Semakin kesini, semakin menginjak usia
dari kanak-kanak ke remaja dan sekarang hingga menuju dewasa, banyak hal yang
harus diputuskan. Banyak hal yang harus dipilih. Banyak hal yang dijawab.
Sedang waktu yang kita miliki tak selalu banyak. Kadang 1 tahun, 1 bulan, 1
hari, 1 jam bahkan 1 menit kita harus bergegas menentukan, apapun itu. Bukan
untuk mengekang, tapi hati nurani yang berbicara. Percayalah, karena berbeda
bukan berarti hal itu salah. Tetapi, ikuti kata hati yang menjadi sangat
penting dalam keadaan seperti itu.
Dan pilihan yang berbeda itu-lah yang menentukan
kehidupan kita berikutnya. Jika tidak berani berbeda maka tak akan ada yang
berubah. Ingat, berbeda bukanlah hal yang salah. Jika kita sadar yang kita tuju
adalah menjadi baik dan benar,
berbeda-lah untuk menjadi itu.
Di akhir kata, jika 50 juta orang mengatakan hal yang
bodoh, tetap saja itu bodoh.
Cobalah menemukan hal yang bodoh itu menjadi sesuatu yang
cerdas. Maka, berbeda-lah kita.
April 27th 2016
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar