Sabtu, 02 April 2016

Jelma

“Kita bertemu tanpa berkenalan. Kita bertemu tanpa saling memandang. Tapi kamu...merasuk dan mengendalikan setiap emosi dan jiwaku. Bertahun-tahun. Silih berganti. “

***
Ini bukan kisah misteri. Ini bukan pula cerita dari dunia lain. Ini, hanya sebuah kisah yang akan penuh pertanyaan. Ya...karena setiap yang datang selalu dipertanyakan. Kisah ini nyata. Namun setiap nama, tempat, waktu, dan rincian lain yang berkenaan di dalam kisah ini diubah untuk menghargai siapapun dan apapun yang nyata, dan harus dijaga.
|||

Ruangannya gelap. Penuh debu. Seperti gedung lama yang beratus-ratus tahun lamanya tak berpenghuni. Bias wajahnya tertangkap di memorinya. Raina berusaha menjerit. Namun tak bersuara. Ada seseorang yang berusaha mendekap mulutnya. Nyaris tenggorokannya mengering. Karena jeritan yang tertahan itu. Raina berusaha kabur. Tapi, tidak ada pintu di sekelilingnya. Ia berlari menjauh dari bias wajah itu. Sejauh ia berlari, Raina terjatuh.
Matahari yang menembus jendela kamarnya yang sekelilingnya berkaca, membuat bulir-bulir peluh di kening Raina. Ia duduk terhengal. Seakan habis berlari. Ya, Raina tadi memang berlari dan terjatuh, lalu jatuhnya itulah yang membangunkan Raina. Ia mengusap keningnya. Seluruh tubuhnya basah akan keringat. Lututnya pun membiru. Ya, Raina seperti habis berlari, terjatuh dan luka sungguhan. Ia kebingungan. Dan lagi, ia bangun Dari mimpi. Dari segala ketakutan.

|||

“Heii Rainnnnn ! Tumben telat? Eh, tumben juga pucet? Lagi sakit?”

“Heii ! Ah engga pucet kok. Muka gue putihan kali. Haha!”

“Iyaa tau’ ! Lo abis ngeliat setan ya?”

Raina tidak bisa menjawab pertanyaan Maul. Tapi ya, Raina menjawab dalam hatinya.

“Iya Ul...Gue abis ngeliat makhluk gaib di mimpi gue. Karena itu gue pucet.”

Raina, 19 tahun. Ia seorang anak kuliahan biasa dan pada umumnya. Ceria setiap harinya. Menyapa dan menebar senyum kepada setiap teman kampusnya. Setiap hari selalu begitu. Tapi, entah itu bulan ke berapa, minggu ke berapa, atau pun hari ke berapa, Raina bisa berubah drastis. Pendiam, murung, tiba-tiba menarik diri dan ingin menyendiri. Tahun kedua Raina seperti ini. Ini yang selalu ia pertanyakan. Tapi sayangnya, pertanyaan tak bisa dipertanyakan kepada siapapun. Kecuali seorang yang baik, yang telah dipertemukan oleh Tuhan dan mengirimkan seseorang itu sebagai penjaganya dan penjawab setiap yang dipertanyakan Raina.

|||

“Lutut aku sakit banget, Bu. Ini juga masih susah jalan. Tadi di angkot ada yang manggil aku. Padahal gak ada orang yang duduk di belakang.”

Raina menceritakan kejadian yang dialaminya hari ini. Kepada Ibu. Seorang wanita yang dipanggil Ibu, menjadi orang tua kedua selama Raina merantau.

“Raii, kalau denger kayak gitu lagi, baca Ayat Kursi, terus bilang jangan ganggu saya, kita beda dunia. InsyaAllah, dia gak ngikutin Raina. Oh iya, sekarang ada yang ngikutin Raina. Sini kita pindahin dia dulu ya.”
Memindahkan dia? Siapa? Itu yang Raina pertanyakan setiap waktu ketika mengalami “ini”. Kenapa dia mengikuti Raina, kenapa harus Raina dan kenapa selalu saja mengubah sikap Raina secara drastis. Tiga pertanyaan yang entah sampai kapan lambat laun akan Raina lupakan. Dan pada akhirnya, menerima dan berpasrah.
“Sekarang siapa lagi Bu?”

Raina bertanya dengan nada datar.

“Nenek-nenek. Dia ikut di jalan tol. Kemarin Raina ke Jakarta ya?”

“Iya, Bu. Mungkin, Raina lagi ngelamun kemaren.”

“Kaki Rina sakit ya karena kakinya patah. Makanya, Raina juga sakit.”

“Iya, Bu. Makasi ya Bu.”

Raina berjalan lunglai. Setelah “melepaskan” seseorang yang mengikuti dan membuat kakinya sakit, Raina pulang ke rumah.

“Raina...jangan kosong ya. Jangan lupa istighfar. Banyak yang pengen ikut Raina. Kalau Raina kecapean, jangan ngelamun. Ya, Nak?”

Raina mengangguk sambil tersenyum. Wejangan yang sama. Setiap waktu. Ini yang membuat Raina kesal pada dirinya sendiri. Perihal melamun, ada saja yang merasuk dan menjelma ke dalam jiwa Raina.

|||

“Sekarang siapa lagi, Bu?”

“Seumuran Raina. Beberapa hari lalu kecelakaan. Mirip kamu Rai. Cantik. Tapi mukanya sedih dan nangis terus. Hobinya juga marah-marah. Bilang ke dia, jangan ngikut Raina lagi ya.”

“Pantes aja kemaren aku berani marahin dosen aku, Bu. Hmm...Kayaknya, kalau aku diperiksa sama psikolog, aku dibilang multi kepribadian. Hehe. Padahal, memang banyak orang yang masuk ke aku. Ya kan, Bu?”

Sesaat Ibu tersenyum. Lalu memegang bahu Raina.

“Rai, kadang ada yang datang diharapkan dan ada yang datang tak diundang. Semuanya berjumlah sama. Seimbang. Tapi, kita bisa membuatnya untuk gak seimbang. Tetap mengisi pikiran kita. Dengan apa yang kita yakini. Agama. Menyebut nama-Nya. Jadi, jangan nyerah karena satu keadaan. Setiap keadaan itu mendewasakan dan mematangkan. Mungkin besok, Rai gak akan gini lagi. Karena selalu menyebut nama Allah. Percayalah, Nak. Maha Penjaga alam semesta dan semua yang di dalamnya, termasuk makhluk hidup, termasuk manusia, termasuk kamu Rai, pasti akan dijaga oleh-Nya. Dan itu tidak akan pernah terbantahkan.”

|||

Melalui tulisan ini, Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang selalu berbaik hati, selalu ada ketika Penulis butuhkan ketika “ada” yang merasuk entah itu tiba-tiba dan tanpa permisi. Terima kasih atas segala kekuatannya. Dan di atas itu, Terima Kasih kepada Allah SWT untuk selalu mengingatkan hamba-Nya ini bahwa dunia ini penuh dengan berbagai keadaan. Kita tidak bisa memilih keadaan. Tapi kita bisa mengendalikan keadaan itu.



April, 2th 2016


RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar