“Kita bertemu tanpa berkenalan. Kita bertemu tanpa saling
memandang. Tapi kamu...merasuk dan mengendalikan setiap emosi dan jiwaku.
Bertahun-tahun. Silih berganti. “
***
Ini bukan kisah misteri. Ini bukan pula cerita dari dunia
lain. Ini, hanya sebuah kisah yang akan penuh pertanyaan. Ya...karena setiap
yang datang selalu dipertanyakan. Kisah ini nyata. Namun setiap nama, tempat,
waktu, dan rincian lain yang berkenaan di dalam kisah ini diubah untuk
menghargai siapapun dan apapun yang nyata, dan harus dijaga.
|||
Ruangannya gelap. Penuh debu. Seperti gedung lama yang
beratus-ratus tahun lamanya tak berpenghuni. Bias wajahnya tertangkap di
memorinya. Raina berusaha menjerit. Namun tak bersuara. Ada seseorang yang
berusaha mendekap mulutnya. Nyaris tenggorokannya mengering. Karena jeritan
yang tertahan itu. Raina berusaha kabur. Tapi, tidak ada pintu di
sekelilingnya. Ia berlari menjauh dari bias wajah itu. Sejauh ia berlari, Raina
terjatuh.
Matahari yang menembus jendela kamarnya yang
sekelilingnya berkaca, membuat bulir-bulir peluh di kening Raina. Ia duduk
terhengal. Seakan habis berlari. Ya, Raina tadi memang berlari dan terjatuh,
lalu jatuhnya itulah yang membangunkan Raina. Ia mengusap keningnya. Seluruh
tubuhnya basah akan keringat. Lututnya pun membiru. Ya, Raina seperti habis
berlari, terjatuh dan luka sungguhan. Ia kebingungan. Dan lagi, ia bangun Dari mimpi.
Dari segala ketakutan.
|||
“Heii Rainnnnn ! Tumben telat? Eh, tumben juga pucet?
Lagi sakit?”
“Heii ! Ah engga pucet kok. Muka gue putihan kali. Haha!”
“Iyaa tau’ ! Lo abis ngeliat setan ya?”
Raina tidak bisa menjawab pertanyaan Maul. Tapi ya, Raina
menjawab dalam hatinya.
“Iya Ul...Gue abis ngeliat makhluk gaib di mimpi gue.
Karena itu gue pucet.”
Raina, 19 tahun. Ia seorang anak kuliahan biasa dan pada
umumnya. Ceria setiap harinya. Menyapa dan menebar senyum kepada setiap teman
kampusnya. Setiap hari selalu begitu. Tapi, entah itu bulan ke berapa, minggu
ke berapa, atau pun hari ke berapa, Raina bisa berubah drastis. Pendiam,
murung, tiba-tiba menarik diri dan ingin menyendiri. Tahun kedua Raina seperti
ini. Ini yang selalu ia pertanyakan. Tapi sayangnya, pertanyaan tak bisa
dipertanyakan kepada siapapun. Kecuali seorang yang baik, yang telah
dipertemukan oleh Tuhan dan mengirimkan seseorang itu sebagai penjaganya dan
penjawab setiap yang dipertanyakan Raina.
|||
“Lutut aku sakit banget, Bu. Ini juga masih susah jalan.
Tadi di angkot ada yang manggil aku. Padahal gak ada orang yang duduk di
belakang.”
Raina menceritakan kejadian yang dialaminya hari ini.
Kepada Ibu. Seorang wanita yang dipanggil Ibu, menjadi orang tua kedua selama
Raina merantau.
“Raii, kalau denger kayak gitu lagi, baca Ayat Kursi,
terus bilang jangan ganggu saya, kita beda dunia. InsyaAllah, dia gak ngikutin
Raina. Oh iya, sekarang ada yang ngikutin Raina. Sini kita pindahin dia dulu
ya.”
Memindahkan dia? Siapa? Itu yang Raina pertanyakan setiap
waktu ketika mengalami “ini”. Kenapa dia mengikuti Raina, kenapa harus Raina dan
kenapa selalu saja mengubah sikap Raina secara drastis. Tiga pertanyaan yang
entah sampai kapan lambat laun akan Raina lupakan. Dan pada akhirnya, menerima
dan berpasrah.
“Sekarang siapa lagi Bu?”
Raina bertanya dengan nada datar.
“Nenek-nenek. Dia ikut di jalan tol. Kemarin Raina ke
Jakarta ya?”
“Iya, Bu. Mungkin, Raina lagi ngelamun kemaren.”
“Kaki Rina sakit ya karena kakinya patah. Makanya, Raina
juga sakit.”
“Iya, Bu. Makasi ya Bu.”
Raina berjalan lunglai. Setelah “melepaskan” seseorang
yang mengikuti dan membuat kakinya sakit, Raina pulang ke rumah.
“Raina...jangan kosong ya. Jangan lupa istighfar. Banyak
yang pengen ikut Raina. Kalau Raina kecapean, jangan ngelamun. Ya, Nak?”
Raina mengangguk sambil tersenyum. Wejangan yang sama.
Setiap waktu. Ini yang membuat Raina kesal pada dirinya sendiri. Perihal
melamun, ada saja yang merasuk dan menjelma ke dalam jiwa Raina.
|||
“Sekarang siapa lagi, Bu?”
“Seumuran Raina. Beberapa hari lalu kecelakaan. Mirip
kamu Rai. Cantik. Tapi mukanya sedih dan nangis terus. Hobinya juga
marah-marah. Bilang ke dia, jangan ngikut Raina lagi ya.”
“Pantes aja kemaren aku berani marahin dosen aku, Bu.
Hmm...Kayaknya, kalau aku diperiksa sama psikolog, aku dibilang multi
kepribadian. Hehe. Padahal, memang banyak orang yang masuk ke aku. Ya kan, Bu?”
Sesaat Ibu tersenyum. Lalu memegang bahu Raina.
“Rai, kadang ada yang datang diharapkan dan ada yang
datang tak diundang. Semuanya berjumlah sama. Seimbang. Tapi, kita bisa membuatnya
untuk gak seimbang. Tetap mengisi pikiran kita. Dengan apa yang kita yakini.
Agama. Menyebut nama-Nya. Jadi, jangan nyerah karena satu keadaan. Setiap
keadaan itu mendewasakan dan mematangkan. Mungkin besok, Rai gak akan gini
lagi. Karena selalu menyebut nama Allah. Percayalah, Nak. Maha Penjaga alam
semesta dan semua yang di dalamnya, termasuk makhluk hidup, termasuk manusia,
termasuk kamu Rai, pasti akan dijaga oleh-Nya. Dan itu tidak akan pernah
terbantahkan.”
|||
Melalui tulisan ini, Penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada seseorang yang selalu berbaik hati, selalu ada ketika Penulis
butuhkan ketika “ada” yang merasuk entah itu tiba-tiba dan tanpa permisi.
Terima kasih atas segala kekuatannya. Dan di atas itu, Terima Kasih kepada
Allah SWT untuk selalu mengingatkan hamba-Nya ini bahwa dunia ini penuh dengan
berbagai keadaan. Kita tidak bisa memilih keadaan. Tapi kita bisa mengendalikan
keadaan itu.
April, 2th 2016
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar