"Tersadar di suatu hari bahwa air mata, tawa dan dia tak
pernah berpisah. Mereka selalu apik beriringan, menjadi kawan dan lawan yang
sungguh akur bagai menjadi satu dan melebur. "
***
Jika ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak pernah
dihadapkan pada suatu masalah, mungkin ia bukan makhluk hidup. Jangankan manusia. Makhluk hidup seperti
hewan maupun tumbuhan pun mengalami ‘masalah’ hidup juga. ( Term ‘masalah hidup’
bisa digunakan untuk makhluk hidup lain selain manusia, kan? Toh, selama obstacle yang dialami ketika makhluk
hidup itu hidup bisa dikategorikan sebagai masalah ketika hidup.) Seperti tadi
pagi aku menemukan segerombolan semut berbaris rapi dalam satu garis di lantai
dapur sedang “menyantap” sarapan pagi mereka. Mereka bergantian menyantap
hidangan gratis yang tergelatak di lantai entah itu sisa makanan yang jatuh
tadi malam dan lupa kubereskan. Ketika kehadiranku yang membawa lap untuk “memusnahakan” sisa makanan yang terjatuh itu, mungkin saja itu masalah hidup bagai
kawanan semut tadi. Mungkin saja mereka lantas mengutuk-ngutuk tindakanku yang
mengganggu sarapan pagi mereka.
Dan seperti itulah, terkadang suatu kejadian
bisa menjadi masalah bagi seseorang yang dapat diselesaikan dengan begitu saja,
sedangkan bagi yang lain masalah itu tidak dapat diselesaikan dengan enteng.
Terkadang timbangan kehidupan tidak selalu sama berat. Tidak selalu seimbang.
Dari sana lah pula, air mata bisa jadi output
dari masalah hidup yang kita sedang hadapi.
Soal air mata yang tiba-tiba ada dalam hidup kita dengan
alur yang biasa, mungkin sudah sering dirasakan oleh kita. Tapi, suatu kejadian
ketika kita didera dengan sesuatu yang bahagia, selang beberapa waktu, bahagia
itu tiba-tiba menjadi kelam dan awan gelap bernama duka mengambil alih
kebahagiaan yang sejenak itu. Sakitnya bukan main. Pedihnya tak dapat diabaikan
begitu saja.
Maka, pernah aku mendengar sebuah ucapan yang akhirnya
menjadi “prinsip” hidupku yang kerap kuucapkan yaitu “ Udah ah jangan ketawa
terus. Ntar nangis loh!”. Dan benar saja, setiap saat aku sedang merasa bahagia
dengan tawa yang memuncak, selang beberapa saat ada saja suatu momen yang
membuatku seketika menghadapi suatu masalah hingga meneteskan air mata.
Sudah terhitung 2 kali dalam jarak 1 minggu ini. Firasat
setelah akhir-akhir ini tertawa yang sangat bahagia dan diiringi dengan sebuah
kejadian yang membuatku lemas, pedih dan sakit. Aku tentu tidak akan
menceritakannya di sini. Karena menceritakan segala sesuatu dengan abstrak adalah
kegemaranku. (hehe). Terkadang, bercerita tak perlu harus selengkap-lengkapnya
seperti mendeskripsikan sesuatu. Karena usia yang aku lewati kini adalah ketika
menghadapi suatu masalah, lalu berdiam sejenak, merenung dan mengambil hikmah.
(Mengucap dan mengingat Allah biasanya seketika setelah mendapat musibah dan
masalah itu. Rasa kesal dan sumpah serapah biasanya terlontarkan 5-10 menit
setelah dihadapkan dengan situasi itu. Hmm. :)
Menyambung soal air mata dan tawa, tentu aku dan kalian
yang sedang membaca tulisan ini pernah dihadapkan suatu masalah atau musibah
dan pada saat itu kita terpikirkan dengan ‘seseorang’ yang tak diundang
menghampiri pikiran kita masing-masing. Aku pun begitu. Padahal sedang punya
masalah, tiba-tiba saja ‘dia’ muncul di pikiran ini. Mungkin pemikiran “Lo tahu
gak sih gue sedang dalam masalah?” atau kekesalan yang berujung pada harapan “Coba
aja kamu ada untuk nolongin aku.” Dan pemikiran-pemikiran lainnya.
Tapi kenapa? Kenapa kita harus sampai berpikiran seperti
itu? Sederhananya begini, kita mengharapkan lebih kepada seseorang tetapi kita
tidak tahu apa kita diharapkan balik oleh seseorang itu. Hingga kita menghadapi
masalah sekecil apapun, kita masih berharap untuk dipedulikan olehnya bahkan
gilanya kita berharap dia ada untuk menolong kita. Jangan terlalu berekspektasi
tinggi dan tak perlu berharap lebih. Kita sudah kena masalah, dan kita juga
mengharapkan yang terlalu berlebihan ? You’ll
deeply hurt, my friend.
If you let me to give some advice, here it is ; Ceritakan
persoalan kita kepada teman yang paling dekat. Kepada teman yang selalu kita
keluhkan atau mintakan solusi. Bukan kepada teman atau orang yang kita harapkan
menjadi sandaran kita. Apalagi yang udah lama gak berhubungan dengan kita. Yang
lebih terpenting lagi, kepada keluarga. It’s
just the manual of life. Family is everything. Through the happiness, sadness,
and other situations, family just stayed in number one you get to telling
first. And above all, Allah. His help is the biggest one through your pray,
through your hope. And it means, orang yang gak terlalu tahu siapa kamu,
bahkan cuma tahu ketika kamu senang aja, they’re
just passer in your life. Let it be. Don’t expect too much.
Last but not least, ini kata-kata yang aku dapat dari
seorang dia yang suddenly without
permission popped out in my thoughts when terrible problem came to my life
“They know your name, but not your story.”
July, 16th
2016
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar