Sabtu, 16 Juli 2016

Cerita tentang Air Mata, Tawa dan Dia___

"Tersadar di suatu hari bahwa air mata, tawa dan dia tak pernah berpisah. Mereka selalu apik beriringan, menjadi kawan dan lawan yang sungguh akur bagai menjadi satu dan melebur. " 
***

Jika ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak pernah dihadapkan pada suatu masalah, mungkin ia bukan makhluk hidup.  Jangankan manusia. Makhluk hidup seperti hewan maupun tumbuhan pun mengalami ‘masalah’ hidup juga. ( Term ‘masalah hidup’ bisa digunakan untuk makhluk hidup lain selain manusia, kan? Toh, selama obstacle yang dialami ketika makhluk hidup itu hidup bisa dikategorikan sebagai masalah ketika hidup.) Seperti tadi pagi aku menemukan segerombolan semut berbaris rapi dalam satu garis di lantai dapur sedang “menyantap” sarapan pagi mereka. Mereka bergantian menyantap hidangan gratis yang tergelatak di lantai entah itu sisa makanan yang jatuh tadi malam dan lupa kubereskan. Ketika kehadiranku yang membawa lap untuk  “memusnahakan” sisa makanan yang terjatuh  itu, mungkin saja itu masalah hidup bagai kawanan semut tadi. Mungkin saja mereka lantas mengutuk-ngutuk tindakanku yang mengganggu sarapan pagi mereka. 

Dan seperti itulah, terkadang suatu kejadian bisa menjadi masalah bagi seseorang yang dapat diselesaikan dengan begitu saja, sedangkan bagi yang lain masalah itu tidak dapat diselesaikan dengan enteng. Terkadang timbangan kehidupan tidak selalu sama berat. Tidak selalu seimbang. Dari sana lah pula, air mata bisa jadi output dari masalah hidup yang kita sedang hadapi.

Soal air mata yang tiba-tiba ada dalam hidup kita dengan alur yang biasa, mungkin sudah sering dirasakan oleh kita. Tapi, suatu kejadian ketika kita didera dengan sesuatu yang bahagia, selang beberapa waktu, bahagia itu tiba-tiba menjadi kelam dan awan gelap bernama duka mengambil alih kebahagiaan yang sejenak itu. Sakitnya bukan main. Pedihnya tak dapat diabaikan begitu saja.

Maka, pernah aku mendengar sebuah ucapan yang akhirnya menjadi “prinsip” hidupku yang kerap kuucapkan yaitu “ Udah ah jangan ketawa terus. Ntar nangis loh!”. Dan benar saja, setiap saat aku sedang merasa bahagia dengan tawa yang memuncak, selang beberapa saat ada saja suatu momen yang membuatku seketika menghadapi suatu masalah hingga meneteskan air mata.

Sudah terhitung 2 kali dalam jarak 1 minggu ini. Firasat setelah akhir-akhir ini tertawa yang sangat bahagia dan diiringi dengan sebuah kejadian yang membuatku lemas, pedih dan sakit. Aku tentu tidak akan menceritakannya di sini. Karena menceritakan segala sesuatu dengan abstrak adalah kegemaranku. (hehe). Terkadang, bercerita tak perlu harus selengkap-lengkapnya seperti mendeskripsikan sesuatu. Karena usia yang aku lewati kini adalah ketika menghadapi suatu masalah, lalu berdiam sejenak, merenung dan mengambil hikmah. (Mengucap dan mengingat Allah biasanya seketika setelah mendapat musibah dan masalah itu. Rasa kesal dan sumpah serapah biasanya terlontarkan 5-10 menit setelah dihadapkan dengan situasi itu. Hmm.   :)

Menyambung soal air mata dan tawa, tentu aku dan kalian yang sedang membaca tulisan ini pernah dihadapkan suatu masalah atau musibah dan pada saat itu kita terpikirkan dengan ‘seseorang’ yang tak diundang menghampiri pikiran kita masing-masing. Aku pun begitu. Padahal sedang punya masalah, tiba-tiba saja ‘dia’ muncul di pikiran ini. Mungkin pemikiran “Lo tahu gak sih gue sedang dalam masalah?” atau kekesalan yang berujung pada harapan “Coba aja kamu ada untuk nolongin aku.” Dan pemikiran-pemikiran lainnya.

Tapi kenapa? Kenapa kita harus sampai berpikiran seperti itu? Sederhananya begini, kita mengharapkan lebih kepada seseorang tetapi kita tidak tahu apa kita diharapkan balik oleh seseorang itu. Hingga kita menghadapi masalah sekecil apapun, kita masih berharap untuk dipedulikan olehnya bahkan gilanya kita berharap dia ada untuk menolong kita. Jangan terlalu berekspektasi tinggi dan tak perlu berharap lebih. Kita sudah kena masalah, dan kita juga mengharapkan yang terlalu berlebihan ? You’ll deeply hurt, my friend.

If you let me to give some advice, here it is ; Ceritakan persoalan kita kepada teman yang paling dekat. Kepada teman yang selalu kita keluhkan atau mintakan solusi. Bukan kepada teman atau orang yang kita harapkan menjadi sandaran kita. Apalagi yang udah lama gak berhubungan dengan kita. Yang lebih terpenting lagi, kepada keluarga. It’s just the manual of life. Family is everything. Through the happiness, sadness, and other situations, family just stayed in number one you get to telling first. And above all, Allah. His help is the biggest one through your pray, through your hope. And it means, orang yang gak terlalu tahu siapa kamu, bahkan cuma tahu ketika kamu senang aja, they’re just passer in your life. Let it be. Don’t expect too much.
Last but not least, ini kata-kata yang aku dapat dari seorang dia yang suddenly without permission popped out in my thoughts when terrible problem came to my life

“They know your name, but not your story.”


July, 16th 2016



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar