“Jika saja pergi dengan pamit, tak akan terasa begitu
sakit. Jika saja suatu saat akan kembali, menunggumu disini itu pasti. Jika
saja tak ada kata jika di antara kita, kamu tidak akan pergi sejauh ini.”
***
Antara Naya dan Banu hanya tersisa satu kisah. Kisah
seseorang yang menunggu seorang yang lainnya. Selain dari itu, tak ada lagi
cerita yang bisa mereka bagi. Banu bisa saja bungkam selama yang ia ingini.
Tapi Naya tak bisa diam saja dan tetap menunggu Banu di taman yang selalu
menjadi tempat yang selalu membisu dan selalu merekam kenangan mereka, dari
waktu ke waktu.
Janji Naya yang harus ditepatinya kepada Banu sebenarnya
konyol. Naya tidak boleh mengantar atau menjemput Banu yang hendak berlayar
setiap ia bertugas ke negara manapun. Dan Naya yang lebih konyol lagi tetap
bertahan dan menuruti janji itu. Berlayar adalah kehidupan bagi Banu. Sedang
Banu adalah kehidupan bagi Naya. Entah sampai berapa lama lagi Naya sanggup
menahan rasa ingin melepas dan begitu pula menjemput kehidupannya itu. Kali
ini, tidak lagi. Naya bertekad menjemput Banu.
***
“Banu belum menghubungimu juga, Ya?”
“Belum Ambu...”
“Terus kamu ndak akan jemput lagi, Ya?”
Naya terdiam ketika Ambu menanyakan hal yang sama setiap
tahunnya.
“Untuk apa dijemput, Mbu...Toh Banu pulang juga kan
kesini.”
Ambu mulai gelisah dengan Naya yang selalu menuruti
keinginan Banu yang tidak ingin dijemput oleh Naya ketika selesai berlayar.
“Nak...kali ini jangan takut ke pelabuhan. Banu pasti
bisa membuat kamu berani lagi. Apapun caranya, Banu akan menguatkan kamu lagi,
Nak...”
Naya kemudian tertunduk. Suaranya mulai getir.
“Mbu...Naya bukannya takut ke pelabuhan atau gak berani.
Tapi...tapi karena Banu udah janji bakal pulang ke rumah setelah merapat di
pelabuhan, Mbu. Jadi Naya harus menuhin apa yang Banu mau. Itu aja kok.”
“Tapi, Nay...bukan karena Bapak kan?”
Ambu sangat berhati-hati mengucapkan kalimat itu kepada
Naya.
“Bukan, Mbu...Ambu tenang aja...Banu pasti baik-baik aja.”
***
Semalaman Naya tidak bisa tidur. Banu selalu sampai ke
rumah dini hari. Biasanya Naya tidak menunggu dan langsung tidur. Sebelas tahun
hidup sebagai istri seorang pelaut dan terlahir dan dibesarkan dari seorang
ayah yang juga pelaut membuatnya meyakini bahwa takdir lebih kuat dibanding
firasat. Namun firasat tak pernah melawan takdir. Mereka saling bekerja sama
membentuk skenario yang apik mengisahkan sebuah cerita untuk anak manusia.
Rasa gelisah. Itu yang sedang dirasakan Naya. Naya sudah
berjanji untuk tidak menghantui dirinya dengan rasa gelisah yang tidak diundang
ini. Seberapa kuat ia ingin memejamkan mata, sekuat itu rasa gelisah mulai
menyesakkan dadanya. Dua jam sudah. Ia bergegas bersiap dan menuju pelabuhan.
***
“Mbak Naya?”
Rekan Banu menghampiri Naya dengan tampang yang cukup
kacau. Ia gugup ketika melihat Naya muncul di pelabuhan.
“Loh, Mas Dito udah turun dari kapal? Banu di mana ya,
Mas? Emang belum pada turun semua?”
Naya bertanya sembari sibuk mencari keberadaan Banu.
Dito rekan Banu hanya terdiam.
“Saya antar ke sana Mbak.”
Naya mengikuti Dito tanpa banyak bertanya. Dalam pikirannya, Banu sedang menunggu Naya di markas kapten
kapal yang sudah merapat.
Di markas itu tampak ramai. Semua pelaut dan anak buah
kapal tertunduk dan meletakkan topi mereka di dada. Naya mulai menerobos di
kerumunan itu. Sebuah kotak kayu persegi panjang berwarna coklat ketuaan
diletakkan di antara kerumunan itu. Karangan bunga berbentuk lingkaran dengan
sebuah tulisan yang berada di tengah, seketika membuat Naya terdiam.
“Engkau akan
selalu kami kenang, Sahabat. Tetaplah melaut dalam kekalmu.”
ALM. KAPT.BANU PANJA
***
“Kamu bilang aku gak boleh jemput kamu? Padahal aku
pengen melihat kamu pulang dengan gagahnya turun dari kapal yang kamu bawa
kemana-mana. Kamu bilang kalo kamu gak akan pergi seperti Bapak? Padahal aku
udah percaya dengan kata-katamu itu. Kamu bilang, kamu gak akan pergi sejauh
ini, seperti ini? Padahal aku udah yakin kalau kamu gak akan benar-benar pergi
sejauh ini, secepat ini.”
Naya berdiri di depan kapal besar yang membawa Banu
pulang dengan hanya membawa nama. Jiwa dan raganya ? Naya bahkan belum sempat
merangkulnya, memeluknya.
“ Bapak...hari ini, di tempat yang sama, aku harus
melihat sebuah kepergian yang lain, Pak. Kenapa kalian punya cara yang sama
untuk ninggalin aku ?”
Langit
mulai gelap dan Naya hanya mengenal kapal besar itu sebagai tempat terakhir Bapak
dan Banu menjemput lelapnya.
***
July, 22th 2016
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar