Jumat, 22 Juli 2016

Jika Ingin Pergi Jauh

“Jika saja pergi dengan pamit, tak akan terasa begitu sakit. Jika saja suatu saat akan kembali, menunggumu disini itu pasti. Jika saja tak ada kata jika di antara kita, kamu tidak akan pergi sejauh ini.”
***

Antara Naya dan Banu hanya tersisa satu kisah. Kisah seseorang yang menunggu seorang yang lainnya. Selain dari itu, tak ada lagi cerita yang bisa mereka bagi. Banu bisa saja bungkam selama yang ia ingini. Tapi Naya tak bisa diam saja dan tetap menunggu Banu di taman yang selalu menjadi tempat yang selalu membisu dan selalu merekam kenangan mereka, dari waktu ke waktu.

Janji Naya yang harus ditepatinya kepada Banu sebenarnya konyol. Naya tidak boleh mengantar atau menjemput Banu yang hendak berlayar setiap ia bertugas ke negara manapun. Dan Naya yang lebih konyol lagi tetap bertahan dan menuruti janji itu. Berlayar adalah kehidupan bagi Banu. Sedang Banu adalah kehidupan bagi Naya. Entah sampai berapa lama lagi Naya sanggup menahan rasa ingin melepas dan begitu pula menjemput kehidupannya itu. Kali ini, tidak lagi. Naya bertekad menjemput Banu.

***

“Banu belum menghubungimu juga, Ya?”
“Belum Ambu...”
“Terus kamu ndak akan jemput lagi, Ya?”

Naya terdiam ketika Ambu menanyakan hal yang sama setiap tahunnya.
“Untuk apa dijemput, Mbu...Toh Banu pulang juga kan kesini.”

Ambu mulai gelisah dengan Naya yang selalu menuruti keinginan Banu yang tidak ingin dijemput oleh Naya ketika selesai berlayar.

“Nak...kali ini jangan takut ke pelabuhan. Banu pasti bisa membuat kamu berani lagi. Apapun caranya, Banu akan menguatkan kamu lagi, Nak...”

Naya kemudian tertunduk. Suaranya mulai getir.

“Mbu...Naya bukannya takut ke pelabuhan atau gak berani. Tapi...tapi karena Banu udah janji bakal pulang ke rumah setelah merapat di pelabuhan, Mbu. Jadi Naya harus menuhin apa yang Banu mau. Itu aja kok.”

“Tapi, Nay...bukan karena Bapak kan?”

Ambu sangat berhati-hati mengucapkan kalimat itu kepada Naya.

“Bukan, Mbu...Ambu tenang aja...Banu pasti baik-baik aja.”

***

Semalaman Naya tidak bisa tidur. Banu selalu sampai ke rumah dini hari. Biasanya Naya tidak menunggu dan langsung tidur. Sebelas tahun hidup sebagai istri seorang pelaut dan terlahir dan dibesarkan dari seorang ayah yang juga pelaut membuatnya meyakini bahwa takdir lebih kuat dibanding firasat. Namun firasat tak pernah melawan takdir. Mereka saling bekerja sama membentuk skenario yang apik mengisahkan sebuah cerita untuk anak manusia.

Rasa gelisah. Itu yang sedang dirasakan Naya. Naya sudah berjanji untuk tidak menghantui dirinya dengan rasa gelisah yang tidak diundang ini. Seberapa kuat ia ingin memejamkan mata, sekuat itu rasa gelisah mulai menyesakkan dadanya. Dua jam sudah. Ia bergegas bersiap dan menuju pelabuhan.

***

“Mbak Naya?”
Rekan Banu menghampiri Naya dengan tampang yang cukup kacau. Ia gugup ketika melihat Naya muncul di pelabuhan.

“Loh, Mas Dito udah turun dari kapal? Banu di mana ya, Mas? Emang belum pada turun semua?”

Naya bertanya sembari sibuk mencari keberadaan Banu.

Dito rekan Banu hanya terdiam.

“Saya antar ke sana Mbak.”
Naya mengikuti Dito tanpa banyak bertanya. Dalam pikirannya,  Banu sedang menunggu Naya di markas kapten kapal yang sudah merapat.

Di markas itu tampak ramai. Semua pelaut dan anak buah kapal tertunduk dan meletakkan topi mereka di dada. Naya mulai menerobos di kerumunan itu. Sebuah kotak kayu persegi panjang berwarna coklat ketuaan diletakkan di antara kerumunan itu. Karangan bunga berbentuk lingkaran dengan sebuah tulisan yang berada di tengah, seketika membuat Naya terdiam.

“Engkau akan selalu kami kenang, Sahabat. Tetaplah melaut dalam kekalmu.”
ALM. KAPT.BANU PANJA
***

“Kamu bilang aku gak boleh jemput kamu? Padahal aku pengen melihat kamu pulang dengan gagahnya turun dari kapal yang kamu bawa kemana-mana. Kamu bilang kalo kamu gak akan pergi seperti Bapak? Padahal aku udah percaya dengan kata-katamu itu. Kamu bilang, kamu gak akan pergi sejauh ini, seperti ini? Padahal aku udah yakin kalau kamu gak akan benar-benar pergi sejauh ini, secepat ini.”

Naya berdiri di depan kapal besar yang membawa Banu pulang dengan hanya membawa nama. Jiwa dan raganya ? Naya bahkan belum sempat merangkulnya, memeluknya.

“ Bapak...hari ini, di tempat yang sama, aku harus melihat sebuah kepergian yang lain, Pak. Kenapa kalian punya cara yang sama untuk ninggalin aku ?”

Langit mulai gelap dan Naya hanya mengenal kapal besar itu sebagai tempat terakhir Bapak dan Banu menjemput lelapnya.
***



July, 22th 2016



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar