Perdebatan sengit itu mulai diakhiri dengan segelas
selasih dingin yang dikombinasikan dengan sirup pandan. Tidak terlalu suka,
tapi untuk menghargai kami menghabiskannya. Pertemuan kemarin sore menjelang
malam pukul sembilan memang diawali dengan rasa berat hati. Tapi ya, setelah bertemu
sekali lalu bercengkrama toh tidak akan meruntuhkan harga diri. Karena dengan
tatap muka dan bicara semua akan terlihat terang, tak akan ada lagi yang
ditutup-tutupi.
Paling tidak kemarin adalah gambaran sederhana yang bisa
kubagikan kepada anak cucu. Bahwa memaafkan terkadang bisa lewat termaafkannya
sikap dan perbuatan masa lampau yang terlalu menyakitkan. Bahwa termaafkan
semua rasa tak karuan itu hanya dengan bertemu, berbicara lalu semua masa
lampau yang perih itu berguguran, bukan untuk menjadi kalah tapi menjadi menang
tentang apa yang kita ikhlaskan. Bahwa membalas bukan pemenang tapi pecundang.
Bahwa memenangkan perasaan lebih jauh pentingnya ketimbang memenangkan
keegoisan yang merasuk menjadi penyakit hati.
Bagi beliau yang menginspirasiku kemarin sore, mungkin
tak banyak kisah mirisnya yang aku pahami, walaupun aku ketahui. Sekedar
mengetahui ternyata tidak mengajarkanku apa-apa. Menyaksikannya dan
menafsirkannya sendiri ternyata mulai mendewasakanku. Terlambat memang. Tapi
setidaknya pikiranku terbuka. Walau butuh waktu yang lama.
Intinya, semua orang pernah disakiti dan tersakiti. Walau
disengaja atau tidak, tergantung “korbannya”. Membalas, apakah akan terus
begitu? Memaafkan, apakah bisa sekuat itu? Termaafkanlah semua beban sakit itu.
Dengan keikhlasan.
1 Juni 2017
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar