Kamis, 01 Juni 2017

Selasih dan Selisih


Perdebatan sengit itu mulai diakhiri dengan segelas selasih dingin yang dikombinasikan dengan sirup pandan. Tidak terlalu suka, tapi untuk menghargai kami menghabiskannya. Pertemuan kemarin sore menjelang malam pukul sembilan memang diawali dengan rasa berat hati. Tapi ya, setelah bertemu sekali lalu bercengkrama toh tidak akan meruntuhkan harga diri. Karena dengan tatap muka dan bicara semua akan terlihat terang, tak akan ada lagi yang ditutup-tutupi.

Paling tidak kemarin adalah gambaran sederhana yang bisa kubagikan kepada anak cucu. Bahwa memaafkan terkadang bisa lewat termaafkannya sikap dan perbuatan masa lampau yang terlalu menyakitkan. Bahwa termaafkan semua rasa tak karuan itu hanya dengan bertemu, berbicara lalu semua masa lampau yang perih itu berguguran, bukan untuk menjadi kalah tapi menjadi menang tentang apa yang kita ikhlaskan. Bahwa membalas bukan pemenang tapi pecundang. Bahwa memenangkan perasaan lebih jauh pentingnya ketimbang memenangkan keegoisan yang merasuk menjadi penyakit hati.

Bagi beliau yang menginspirasiku kemarin sore, mungkin tak banyak kisah mirisnya yang aku pahami, walaupun aku ketahui. Sekedar mengetahui ternyata tidak mengajarkanku apa-apa. Menyaksikannya dan menafsirkannya sendiri ternyata mulai mendewasakanku. Terlambat memang. Tapi setidaknya pikiranku terbuka. Walau butuh waktu yang lama.

Intinya, semua orang pernah disakiti dan tersakiti. Walau disengaja atau tidak, tergantung “korbannya”. Membalas, apakah akan terus begitu? Memaafkan, apakah bisa sekuat itu? Termaafkanlah semua beban sakit itu. Dengan keikhlasan.





1 Juni 2017




RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar