Sudah lama tak berjumpa.
Berjumpa dengan kertas putih kosong.
Kosong menatap kertas putih yang tak kunjung diisi.
Diisi dengan satu tetes air mata.
Mata yang terus mencari kajadian-kejadian.
Kejadian melelahkan tentunya.
Tentunya aku, dia dan mereka yang pernah mengalaminya.
Mengalaminya saja sudah cukup, bagiku.
Bagiku, menyimpan terkadang pilihan yang bijak.
Bijak untuk menghargai diri sendiri.
Sendiri atau bahkan bersama, tapi tetap saja merasa
sendiri.
Sendiri, menghabiskan sebagian waktu.
Waktu yang terasa nyaman dilalui seorang diri.
Diri yang tak bisa berbaur dengan kebisingan dunia luar.
Luar .
(dan aku berhenti menulis, seakan lelah dengan kepalsuan
yang terlihat dari luar.)
Kali ini, izinkan tulisan tak berarah ini mengajarimu
sesuatu.
Dari satu kalimat yang terbungkus dari beberapa kalimat,
kamu mengubah pandangan baik menjadi pandangan buruk. Buruk sekali. Kesan
pertama seseorang benar adanya, penting untuk diingat dan dipatri oleh setiap
kita yang memulai pertemuan. Ingin rasanya menghilangkan kebiasaan spele nan
menyesatkan itu. Sudah beberapa kali ingin mengubah prinsip itu, tapi tak bisa.
Lagi-lagi diyakinkan oleh kenyataan. Ingat sekali kala itu, menyebutnya sombong
lalu lama kelamaan pandangan itu berubah dan yakin kalau orang ini mengagumkan.
Waktu berjalan, asumsi awal malah muncul lagi. Tak sekali ataupun dua kali.
Berkali-kali, hingga setiap hari. Hingga pada suatu hari berubah menjadi suatu
keyakinan. Asumsi ini bukan sekadar asumsi. Tapi suatu kenyataan. Mengusik
kepercayaanku dengan satu kalimat. Lalu membunuh rasa menghargai dan mengagumi
itu, seketika.
Lagi, tak bisa bercerita lebih dalam.
Yang ingin disampaikan di sini sebenarnya sederhana.
Jika ingin membuat seseorang nyaman di samping kita,
berpikirlah untuk orang lain. Bukan untuk diri sendiri, bukan karena diri
sendiri. Suaramu tak akan membuat orang seketika menoleh padamu. Sebesar apapun
suaramu tak akan membuat orang tergerak padamu. Tawamu juga tak akan membuat
orang tertawa denganmu. Sekeras apapun tawamu juga tak akan membuat orang
mendengar kebahagiaan dan kelucuanmu.
Terkadang, sesuatu
yang sederhana itu malah membahagiakan orang. Entah itu perhatian yang
sederhana, atau sedikit senyuman.
Ah! Benar, ada
yang bilang bahwa peduli apa dengan pikiran orang lain atau keberadaan orang
lain.
Tapi kawan, jika kamu berpikir ini ketika berada dengan
orang lain di sekitarmu, tutupi saja dirimu dengan kain hitam biar tidak
terlihat. Atau duduklah sendiri di sudut ruang. Tak perlu bergabung dengan
orang lain dan menyakiti orang lain entah itu dengan satu kalimat yang kamu
ucapkan dengan suara yang menggelegar dan gelak tawa yang membisingkan ruang.
Karena bisa jadi, detik itu, ia akan benar-benar kecewa
dan kehilangan rasa terhadapmu. Rasa menghargai, rasa mengagumi atau rasa lain
yang awalnya menjadikanmu golongan orang yang membuatnya nyaman.
Dan sejak saat itu, tak ada lagi yang benar-benar tulus.
Semua akan berubah menjadi kepalsuan, ketidak-ikhlasan dan hilangnya
kepercayaan. Secepat itu. Karena rupamu yang dibuka tanpa sengaja dan tanpa
berpikir dengan hatimu.
Nov'2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar