Kamis, 02 November 2017

Rupa


Sudah lama tak berjumpa.
Berjumpa dengan kertas putih kosong.
Kosong menatap kertas putih yang tak kunjung diisi.
Diisi dengan satu tetes air mata.
Mata yang terus mencari kajadian-kejadian.
Kejadian melelahkan tentunya.
Tentunya aku, dia dan mereka yang pernah mengalaminya.
Mengalaminya saja sudah cukup, bagiku.
Bagiku, menyimpan terkadang pilihan yang bijak.
Bijak untuk menghargai diri sendiri.
Sendiri atau bahkan bersama, tapi tetap saja merasa sendiri.
Sendiri, menghabiskan sebagian waktu.
Waktu yang terasa nyaman dilalui seorang diri.
Diri yang tak bisa berbaur dengan kebisingan dunia luar.
Luar .
(dan aku berhenti menulis, seakan lelah dengan kepalsuan yang terlihat dari luar.)

--

Kali ini, izinkan tulisan tak berarah ini mengajarimu sesuatu.
Dari satu kalimat yang terbungkus dari beberapa kalimat, kamu mengubah pandangan baik menjadi pandangan buruk. Buruk sekali. Kesan pertama seseorang benar adanya, penting untuk diingat dan dipatri oleh setiap kita yang memulai pertemuan. Ingin rasanya menghilangkan kebiasaan spele nan menyesatkan itu. Sudah beberapa kali ingin mengubah prinsip itu, tapi tak bisa. Lagi-lagi diyakinkan oleh kenyataan. Ingat sekali kala itu, menyebutnya sombong lalu lama kelamaan pandangan itu berubah dan yakin kalau orang ini mengagumkan. Waktu berjalan, asumsi awal malah muncul lagi. Tak sekali ataupun dua kali. Berkali-kali, hingga setiap hari. Hingga pada suatu hari berubah menjadi suatu keyakinan. Asumsi ini bukan sekadar asumsi. Tapi suatu kenyataan. Mengusik kepercayaanku dengan satu kalimat. Lalu membunuh rasa menghargai dan mengagumi itu, seketika.

Lagi, tak bisa bercerita lebih dalam.

Yang ingin disampaikan di sini sebenarnya sederhana.

Jika ingin membuat seseorang nyaman di samping kita, berpikirlah untuk orang lain. Bukan untuk diri sendiri, bukan karena diri sendiri. Suaramu tak akan membuat orang seketika menoleh padamu. Sebesar apapun suaramu tak akan membuat orang tergerak padamu. Tawamu juga tak akan membuat orang tertawa denganmu. Sekeras apapun tawamu juga tak akan membuat orang mendengar kebahagiaan dan kelucuanmu.

Terkadang, sesuatu  yang sederhana itu malah membahagiakan orang. Entah itu perhatian yang sederhana, atau sedikit senyuman.


 Ah! Benar, ada yang bilang bahwa peduli apa dengan pikiran orang lain atau keberadaan orang lain.
Tapi kawan, jika kamu berpikir ini ketika berada dengan orang lain di sekitarmu, tutupi saja dirimu dengan kain hitam biar tidak terlihat. Atau duduklah sendiri di sudut ruang. Tak perlu bergabung dengan orang lain dan menyakiti orang lain entah itu dengan satu kalimat yang kamu ucapkan dengan suara yang menggelegar dan gelak tawa yang membisingkan ruang.


Karena bisa jadi, detik itu, ia akan benar-benar kecewa dan kehilangan rasa terhadapmu. Rasa menghargai, rasa mengagumi atau rasa lain yang awalnya menjadikanmu golongan orang yang membuatnya nyaman.


Dan sejak saat itu, tak ada lagi yang benar-benar tulus. Semua akan berubah menjadi kepalsuan, ketidak-ikhlasan dan hilangnya kepercayaan. Secepat itu. Karena rupamu yang dibuka tanpa sengaja dan tanpa berpikir dengan hatimu.



Nov'2017


RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar