Katanya,
yang dingin bukan aku.
Keluhnya,
yang meredam bukan waktu.
Mungkin
saja kita telah berjalan jauh.
Sejauh
gerimis yang mengikuti langkah sendiriku.
Bersyukur
hujan hari ini.
Menutupi
tangis dan basah pipi.
Akan terus berjalan, mungkin hingga tahun
depan.
Beriringan?
Entah
kapan.
*
Susah payah untuk bangkit tanpa
pegangan. Ia masih berusaha menopang badannya di tiang listrik pinggir jalan.
Setiap perjalanan pulang, sesulit apapun yang telah terjadi banyak hal
seharian, pemandangan ini membuat rasa bersyukur selalu menjelang. Sedang ia
tidak bisa bergerak maju, tertatih lalu terjatuh. Kutengok kaki ini masih kuat,
maka berhenti bukanlah sebuah alasan.
Menunggu jemputan, lima menit, sepuluh
menit, hingga setengah jam pun, masih sabar. Kesabaran ini kian teruji. Jika
memang rezeki, pasti akan datang. Jika tidak, ya tempuh perjalanan dengan
menyisiri petang melewati becekan air hujan, menuju pulang. Berjalan terus
hingga ada angkutan yang tidak terlewatkan.
Mawas diri dengan kendaraan yang lalu
lalang, merebut jalanan yang seharusnya menjadi hak bagi mereka yang berjalan.
Marutnya kota ini tidak disangka makin menjadi-jadi. Entahlah. Apa bedanya
dengan ibu kota. Terbayang dahulu jika memulai kehidupan lagi disini, perasaan
akan tenang, tenteram dan bahagia. Tapi ternyata tidak juga. Keseharian, dari
senin hingga sabtu selalu ricuh. Benar kata seorang teman, bahagia bukan
tentang dimana atau tentang apa. Tetapi tentang siapa. Apakah aku akan
menciptakan kebahagiaan itu? Atau bahagia akan tercipta jika dengan dia atau
mereka? Maka tak tepat jika berkata, aku bahagia jika di .... (suatu tempat
idaman yang sebenarnya tak selalu membahagiakan).
Sudah tak sederas setengah jam yang
lalu. Berjalan tidak berlindung dengan
payung. Menepi pada suatu tempat yang tidak sepi. Terlihat wajah-wajah orang
kelelahan yang tak sabar ingin segera pulang. Dengan segala kegelisahan
masing-masing, pengharapan agar lekas sampai mulai berakhir. Satu per satu mereka
yang menanti hujan, berkurang, dan menghilang. Tinggal aku seorang. Entah apa
yang terjadi seminggu ini. Setelah hujan, pikiran macam-macam singgah tak
karuan. Apakah seminggu ini adalah ujian kesabaran. Ditutup dengan akhir hari
pada minggu ini dengan tidak bisa pulang karena hujan? Apa yang harus
dibenarkan? Apa kesalahan yang membuat segalanya tertahan? Karena hujan apakah
harus mengubah tujuan?
*
Setelah hujan,
ada sabar yang perlu kau siapkan.
Semisal payung
yang biasanya dibawa namun kini ditinggalkan.
Setelah hujan,
ada tujuan yang perlu diperbaiki.
Semisal menuju
rumah yang mampu meredakan kekesalan.
Setelah hujan,
jika tak ada yang menyambutmu pulang.
Semisal cukup
bercermin dan mengatakan,
“Kamu kuat, dan
teruslah menguatkan.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar