Minggu, 03 November 2019

Setelah Hujan


Katanya, yang dingin bukan aku.
Keluhnya, yang meredam bukan waktu.
Mungkin saja kita telah berjalan jauh.
Sejauh gerimis yang mengikuti langkah sendiriku.
Bersyukur hujan hari ini.
Menutupi tangis dan basah pipi.
 Akan terus berjalan, mungkin hingga tahun depan.
Beriringan?
Entah kapan.

*
Susah payah untuk bangkit tanpa pegangan. Ia masih berusaha menopang badannya di tiang listrik pinggir jalan. Setiap perjalanan pulang, sesulit apapun yang telah terjadi banyak hal seharian, pemandangan ini membuat rasa bersyukur selalu menjelang. Sedang ia tidak bisa bergerak maju, tertatih lalu terjatuh. Kutengok kaki ini masih kuat,  maka berhenti bukanlah sebuah alasan.
Menunggu jemputan, lima menit, sepuluh menit, hingga setengah jam pun, masih sabar. Kesabaran ini kian teruji. Jika memang rezeki, pasti akan datang. Jika tidak, ya tempuh perjalanan dengan menyisiri petang melewati becekan air hujan, menuju pulang. Berjalan terus hingga ada angkutan yang tidak terlewatkan.
Mawas diri dengan kendaraan yang lalu lalang, merebut jalanan yang seharusnya menjadi hak bagi mereka yang berjalan. Marutnya kota ini tidak disangka makin menjadi-jadi. Entahlah. Apa bedanya dengan ibu kota. Terbayang dahulu jika memulai kehidupan lagi disini, perasaan akan tenang, tenteram dan bahagia. Tapi ternyata tidak juga. Keseharian, dari senin hingga sabtu selalu ricuh. Benar kata seorang teman, bahagia bukan tentang dimana atau tentang apa. Tetapi tentang siapa. Apakah aku akan menciptakan kebahagiaan itu? Atau bahagia akan tercipta jika dengan dia atau mereka? Maka tak tepat jika berkata, aku bahagia jika di .... (suatu tempat idaman yang sebenarnya tak selalu membahagiakan).
Sudah tak sederas setengah jam yang lalu. Berjalan  tidak berlindung dengan payung. Menepi pada suatu tempat yang tidak sepi. Terlihat wajah-wajah orang kelelahan yang tak sabar ingin segera pulang. Dengan segala kegelisahan masing-masing, pengharapan agar lekas sampai mulai berakhir. Satu per satu mereka yang menanti hujan, berkurang, dan menghilang. Tinggal aku seorang. Entah apa yang terjadi seminggu ini. Setelah hujan, pikiran macam-macam singgah tak karuan. Apakah seminggu ini adalah ujian kesabaran. Ditutup dengan akhir hari pada minggu ini dengan tidak bisa pulang karena hujan? Apa yang harus dibenarkan? Apa kesalahan yang membuat segalanya tertahan? Karena hujan apakah harus mengubah tujuan?
*
Setelah hujan, ada sabar yang perlu kau siapkan.
Semisal payung yang biasanya dibawa namun kini ditinggalkan.
Setelah hujan, ada tujuan yang perlu diperbaiki.
Semisal menuju rumah yang mampu meredakan kekesalan.
Setelah hujan, jika tak ada yang menyambutmu pulang.
Semisal cukup bercermin dan mengatakan,
“Kamu kuat, dan teruslah menguatkan.”
***



.red

03112019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar