Senin, 03 Juni 2019

Rumpang


“kamu dan hatimu penuh dengan sela yang ternyata hampa.”
***

Senja di bulan ini yang ia kagumi, kelak akan pergi. Berjuang menghadang hujan sedang yang lain menunggu dengan tenang hingga badainya hilang.  Langkah mereka berebut untuk berada di posisi terdepan agar lekas tiba pada tujuan. Pundak-pundak lelah harus tegak menghadap jalan agar awas menahan angin dingin senja itu.

Begitu juga dengannya. Walau tak ada yang menunggu sesampainya di rumah, ada malam yang akan ia sambut. Malam tenang yang menyamankannya. Sebelum esok hari menyambutnya kembali dengan tuntutan hidup, yang berwujud sama dengan hari tadi. Sembari menguatkan kaki di atas motor besar yang memaksanya duduk dengan tegap, lusa ia akan kembali pulang. Menuntaskan bulan ini dengan berkumpul lagi dengan keluarga.

Dahulu, definisi pulang baginya adalah kembali ke kampung halaman. Namun, setelah acap kali merantau definisi pulangnya telah berganti. Saat ada mereka yang ia sebut keluarga, ke sanalah ia pulang. Pulang adalah kembali kepada yang terkasih. Walau ada sedikit rindu ingin pulang ke kota kelahiran, berkumpul dengan kawan-kawan lama dan melepas keinginan untuk sekadar berdiam diri di rumah masa kecil. Tak mengapa, katanya. Setidaknya ada jeda dan rehat yang menenangkannya selama seminggu nanti. Maka tak soal kemana ia akan pulang.
*

“Aku pernah lebaran seorang diri.”
Seketika tenang. Tak mampu  memberikan respon yang cepat saat tiba ia bercerita bagaimana hidupnya selama ini. Aku selalu berpikir keras. Hingga rasa ibaku sulit diungkapkan dengan kata-kata. Terlebih dari jarak jauh. Sulit. Aku tidak terbiasa. Jika dekat, mungkin menenangkan dan membalas ucapannya dengan tatapan yang dalam dan bermakna “Kamu kuat, kamu hebat. Aku turut bersedih dengan rasa sedihmu.”
Tetapi ketidakmungkinan itu yang lama-lama membuatku frustasi. Bagaimana memahami hidupnya yang terlalu jauh berbeda denganku. Selalu melewati banyak fase kehidupan seorang diri. Entah itu sakit, terjatuh ataupun merasakan sepi. Untukku, mendengarkannya berkisah seakan menyudutkanku.
“Jika hidupnya sebegitunya, bagaimana aku? Bagaimana aku yang juga punya kisah miris yang tak mampu kuceritakan ? Atau, saat aku sedang berbahagia sedang kamu tidak, bagaimana aku menyampaikan rasa bahagia itu saat kamu tak pernah merasakannya?”

Itulah pikiran yang terlintas setiap saat. Setiap keinginanku untuk berkisah, tetapi lagi-lagi tertahan dan pada akhirnya tak ada lagi yang kubicarakan kepadanya. Ada sela kosong di antara dia yang tak mampu terisi. Ia terlihat kuat, tapi kerumpangannya nampak jelas olehku. Ia terlihat tabah tapi kekosongannya terasa di batinku. Itu yang tak dapat tersentuh. Menjarakkan antara aku dan dia yang kian jauh. Menghambarkan segala rasa dalam setiap cerita. Pada akhirnya takluk oleh sebuah kata yang disebut mengalah. Tak lagi apa adanya dan tak lagi saling percaya.

...........



03062019
.red


Tidak ada komentar:

Posting Komentar