“kamu dan hatimu penuh dengan sela
yang ternyata hampa.”
***
Senja
di bulan ini yang ia kagumi, kelak akan pergi. Berjuang menghadang hujan sedang
yang lain menunggu dengan tenang hingga badainya hilang. Langkah mereka berebut untuk berada di posisi
terdepan agar lekas tiba pada tujuan. Pundak-pundak lelah harus tegak menghadap
jalan agar awas menahan angin dingin senja itu.
Begitu
juga dengannya. Walau tak ada yang menunggu sesampainya di rumah, ada malam
yang akan ia sambut. Malam tenang yang menyamankannya. Sebelum esok hari
menyambutnya kembali dengan tuntutan hidup, yang berwujud sama dengan hari
tadi. Sembari menguatkan kaki di atas motor besar yang memaksanya duduk dengan
tegap, lusa ia akan kembali pulang. Menuntaskan bulan ini dengan berkumpul lagi
dengan keluarga.
Dahulu,
definisi pulang baginya adalah kembali ke kampung halaman. Namun, setelah acap
kali merantau definisi pulangnya telah berganti. Saat ada mereka yang ia sebut
keluarga, ke sanalah ia pulang. Pulang adalah kembali kepada yang terkasih.
Walau ada sedikit rindu ingin pulang ke kota kelahiran, berkumpul dengan
kawan-kawan lama dan melepas keinginan untuk sekadar berdiam diri di rumah masa
kecil. Tak mengapa, katanya. Setidaknya ada jeda dan rehat yang menenangkannya
selama seminggu nanti. Maka tak soal kemana ia akan pulang.
*
“Aku
pernah lebaran seorang diri.”
Seketika
tenang. Tak mampu memberikan respon yang
cepat saat tiba ia bercerita bagaimana hidupnya selama ini. Aku selalu berpikir
keras. Hingga rasa ibaku sulit diungkapkan dengan kata-kata. Terlebih dari
jarak jauh. Sulit. Aku tidak terbiasa. Jika dekat, mungkin menenangkan dan
membalas ucapannya dengan tatapan yang dalam dan bermakna “Kamu kuat, kamu
hebat. Aku turut bersedih dengan rasa sedihmu.”
Tetapi
ketidakmungkinan itu yang lama-lama membuatku frustasi. Bagaimana memahami
hidupnya yang terlalu jauh berbeda denganku. Selalu melewati banyak fase
kehidupan seorang diri. Entah itu sakit, terjatuh ataupun merasakan sepi. Untukku,
mendengarkannya berkisah seakan menyudutkanku.
“Jika
hidupnya sebegitunya, bagaimana aku? Bagaimana aku yang juga punya kisah miris
yang tak mampu kuceritakan ? Atau, saat aku sedang berbahagia sedang kamu
tidak, bagaimana aku menyampaikan rasa bahagia itu saat kamu tak pernah
merasakannya?”
Itulah
pikiran yang terlintas setiap saat. Setiap keinginanku untuk berkisah, tetapi
lagi-lagi tertahan dan pada akhirnya tak ada lagi yang kubicarakan kepadanya.
Ada sela kosong di antara dia yang tak mampu terisi. Ia terlihat kuat, tapi kerumpangannya
nampak jelas olehku. Ia terlihat tabah tapi kekosongannya terasa di batinku.
Itu yang tak dapat tersentuh. Menjarakkan antara aku dan dia yang kian jauh.
Menghambarkan segala rasa dalam setiap cerita. Pada akhirnya takluk oleh sebuah
kata yang disebut mengalah. Tak lagi apa adanya dan tak lagi saling percaya.
...........
03062019
.red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar