Minggu, 15 Maret 2020

Yang Aku Takutkan


“Baru saja mendambakanmu, sungguh. Tak pernah luput segala harap, tentangmu.
Yang aku tahu, mencintai itu indah. Yang aku takutkan, rasa ini takluk atas sebuah keadaan.”
*




Pukul 01:45.

Pada suatu jalanan kosong. Tertunduk hampa. Seperti ada bagian yang hilang. Berat lalu direbahkan. Bukan sekadar jalanan tadi yang terlihat kosong. Ruangan gelap, menyesakkan. Tidak mampu menyerap segala ucapnya yang bohong.  Mengakhiri adalah takdir malam ini. Melepaskannya, tak semudah yang diyakini. Setidaknya, segera beranjak dari sebuah nyata yang terlalu, aku takutkan.

*

Dia titipkan sebuah tulisan. Kepada seseorang. Teristimewa? Sudah jelas. Sungguh istimewa. Namun sayang sekali, rasanya berakhir kecewa.  Ada pesan yang dia sampaikan. Setidaknya untuk menyembuhkan, dia bagikan sebuah cerita. Dimulai dengan sebuah tarikan nafas, dan dituliskan indah namun sebenarnya penuh dengan luka ,yang entah kapan akan reda.

Hari yang sunyi.
Mengiringi langkahku.
Menemani nadi yang kian melemah.
Mengirim sinyal untuk asa-ku yang kian memudar.
Coba ku tatap langit.
Lalu kuhembuskan nafas beratku.
Bak penyesalan.
Ada apa dengan lirih hati ini.

Semua lembar yang kutulis.
Semua tinta telah kuhabiskan.
‘Tuk lukiskan tujuan.
Kini hanya tersisa goresan pilu.
Larut dimana kau ucapkan kata itu.
Isyaratkan dalam gelisahmu.
Perpisahan yang selama ini.
Begitu aku hindarkan, aku takutkan.

Dan semua menjadi nyata.
Kala tangisku pecah di ruang gelap itu.
Setelah kucium lembut dirimu.
Ketika ku memelukmu.
Hingga kusadari ketakutan ini adalah akhir.

Semua menjadi nyata.
Apa arti sebuah janji?
Apa arti sebuah kepercayaan?
Arti sebuah hati?
Yang kini teriris perih.
Dengan alasanmu.

Kataku tak dapat gambarkan semua.
Pikiranku hilang, tatapan ku hampa.
Disaat kau tepis aku tuk berjalan.
Untuk aku memperjuangkan kisah.

*

Setelah segala luka tertulis apik olehnya, tak lupa dia menuliskan sebuah pengharapan. Sebuah akhir sungguh tak adil. Rasa-nya berakhir dengan air mata, tapi tak lupa untuk mendoakanmu, agar tetap bahagia.

Kuharap kau kan selalu bahagia.
Dengan pilihanmu tuk melepasku.
Jalan kita kini telah berbeda.
Tangan kita tak mungkin kan bersatu.
Itu harapmu, jalan yang kau tuju.
Disini. Aku berdiri.
Di atas segala perih yang kau beri.
Kuharap ini tak abadi.
Karna mencintaimu adalah kisah indah yang kini,
harus kuhapus,
 Dengan luka sendiri. (ciwi2020)

***


red
15032020


Tidak ada komentar:

Posting Komentar