Jumat, 24 April 2020

Tentang Ranting dan Daun


“Akan jadi apa jika kita terpisah sekian waktu ini? Bagaimana mungkin kamu tak ada untuk menampung segala kesah di antara setiap lelah?”
*

Langit-langit kamar terasa hampa terlihat. Sudah tak lagi tenang untuk tidur, tak lagi bersemangat untuk bangun. Ucapnya, bahwa semakin bertambah umur, semakin berkurang nikmat atas segala bentuk dalam hidup.  Anaknya menuntut untuk lebih bersyukur untuk setiap hal yang mewujud. Tapi tak semudah itu. Ada yang diam-diam terkikis. Ada keinginan dalam hening untuk menangis. Ia bagai hendak mengutuk jarak yang tak enggan memisahkannya dengan belahan hidupnya, yang akhir-akhir ini terasa makin menjauh.  Bahkan bisa jadi, baru pada saat ini, ia menyadari satu hal yang pasti. Ia tak bisa ditinggal sendiri. Padahal, pernah pada suatu saat ia merasa nyaman untuk begini. Semakin tak ada orang di rumah, semakin tenang hidupnya. Lagi-lagi, waktu tak selalu ambil andil perihal keinginan manusia. Waktu akan membolak balikkan sebuah perasaan yang disangka tidak akan berubah.

Berpikir segala yang dikira sudah sesuai ingin, waktu menggoyahkannya. Ia gamang dengan membayangkan harus menghabisi waktu tanpa seseorang di sisi. Ia panggil dalam lirih, namanya. Mengungkap bahwa ia adalah daun. Ia, daun yang butuh tempat untuk bersandar. Tempat untuk menggantungkan hidup. Ia belum siap jatuh terbawa angin dan tersungkur lemah di atas tanah. Ia, masih ingin tegak pada rantingnya. Ia, masih butuh dikuatkan oleh sang ranting agar tetap bernafas lega. Tapi, pernahkah ia berpikir bahwa masih kuatkah ranting membantunya berdiri kokoh? Sedang sang ranting, seandainya ia pun merasa tak kuat dan hendak roboh, apakah sang daun pernah tahu rasanya itu. Tentang ranting dan daun, semoga saling menguatkan. 

Tak baik sebuah ingin hanya ada berat sebelah. Kalian menguatkan. Untuk tetap kuat menghadapi angin, sekencang apapun itu. ***



red
(24042020) #1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar