“Akan jadi apa jika
kita terpisah sekian waktu ini? Bagaimana mungkin kamu tak ada untuk menampung
segala kesah di antara setiap lelah?”
*
Langit-langit kamar terasa hampa
terlihat. Sudah tak lagi tenang untuk tidur, tak lagi bersemangat untuk bangun.
Ucapnya, bahwa semakin bertambah umur, semakin berkurang nikmat atas segala
bentuk dalam hidup. Anaknya menuntut
untuk lebih bersyukur untuk setiap hal yang mewujud. Tapi tak semudah itu. Ada
yang diam-diam terkikis. Ada keinginan dalam hening untuk menangis. Ia bagai
hendak mengutuk jarak yang tak enggan memisahkannya dengan belahan hidupnya,
yang akhir-akhir ini terasa makin menjauh.
Bahkan bisa jadi, baru pada saat ini, ia menyadari satu hal yang pasti.
Ia tak bisa ditinggal sendiri. Padahal, pernah pada suatu saat ia merasa nyaman
untuk begini. Semakin tak ada orang di rumah, semakin tenang hidupnya.
Lagi-lagi, waktu tak selalu ambil andil perihal keinginan manusia. Waktu akan
membolak balikkan sebuah perasaan yang disangka tidak akan berubah.
Berpikir
segala yang dikira sudah sesuai ingin, waktu menggoyahkannya. Ia gamang dengan
membayangkan harus menghabisi waktu tanpa seseorang di sisi. Ia panggil dalam
lirih, namanya. Mengungkap bahwa ia adalah daun. Ia, daun yang butuh tempat
untuk bersandar. Tempat untuk menggantungkan hidup. Ia belum siap jatuh terbawa
angin dan tersungkur lemah di atas tanah. Ia, masih ingin tegak pada
rantingnya. Ia, masih butuh dikuatkan oleh sang ranting agar tetap bernafas
lega. Tapi, pernahkah ia berpikir bahwa masih kuatkah ranting membantunya
berdiri kokoh? Sedang sang ranting, seandainya ia pun merasa tak kuat dan
hendak roboh, apakah sang daun pernah tahu rasanya itu. Tentang ranting dan
daun, semoga saling menguatkan.
Tak baik sebuah ingin hanya ada berat sebelah. Kalian
menguatkan. Untuk tetap kuat menghadapi angin, sekencang apapun itu. ***
red
(24042020) #1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar