Kamis, 21 Mei 2020

Tentang Menyambut Ketiadaan


Memantaskan diri yang tak kunjung ada akhirnya. Merawat hati yang entah akan bagaimana rasanya. ”
*


Ia berpesan untuk cepat pulang.
Jarak ini terlalu melelahkan.
Tak berjumpa akan lebih baik dibanding menunggu kedatangan.
Dibanding membual, ia tak pernah ingin menjanjikan.
Berlalu setiap bulan, ternyata ia tetap ingin tak tergantikan.

Ada seseorang yang menunggunya.
Ingin pula ia bercerita ia akan kembali suatu saat nanti.
Ia adalah alasan untuk setiap penantian.
Rasa itu kian yakin.

Namun pada suatu hari.
Tak lagi ia bersorai gembira.
Saat waktu pulang itu tiba.
Ia pun tak disambut dengan hangat.
Biasa.
Seakan ia tak menyambut dengan rasa.
Untuk apa ia kembali, tapi bukan ia yang dinanti?
Untuk apa ia ada, tapi hanya lamunan yang menyambutnya?
Tak lagi ia menjadikannya alasan kembali.
Pun sepertinya, ia bukan alasan kebahagiaan.
Ia hanya bagai ketiadaan.


red
21052020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar