“
Memantaskan diri yang tak kunjung ada akhirnya. Merawat hati yang entah akan
bagaimana rasanya. ”
*
Ia berpesan untuk cepat pulang.
Jarak ini terlalu melelahkan.
Tak berjumpa akan lebih baik dibanding menunggu kedatangan.
Dibanding
membual, ia tak pernah ingin menjanjikan.
Berlalu
setiap bulan, ternyata ia tetap ingin tak tergantikan.
Ada
seseorang yang menunggunya.
Ingin pula
ia bercerita ia akan kembali suatu saat nanti.
Ia adalah
alasan untuk setiap penantian.
Rasa itu
kian yakin.
Namun pada
suatu hari.
Tak lagi ia
bersorai gembira.
Saat waktu
pulang itu tiba.
Ia pun tak
disambut dengan hangat.
Biasa.
Seakan ia
tak menyambut dengan rasa.
Untuk apa ia
kembali, tapi bukan ia yang dinanti?
Untuk apa ia
ada, tapi hanya lamunan yang menyambutnya?
Tak lagi ia
menjadikannya alasan kembali.
Pun
sepertinya, ia bukan alasan kebahagiaan.
Ia hanya
bagai ketiadaan.
red
21052020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar