“Jangan
pernah abaikan orang yang mencintaimu,peduli tentangmu,merindukanmu,karna suatu
hari kamu bangun dan tersadar ,kamu kehilangan bulan di kala kamu menghitung
bintang-bintang.”
Dan kini,aku seperti sesosok bodoh yang menangisi
diri sendiri.Bahkan tak bisa lagi ,tak kuat lagi dan tega lagi menyalahkan
orang lain,bukan,dia bukan orang lain,dia orang yang peduli tentang apa yang
aku lakukan di hidup ini,peduli ketika aku ada aral yang mencoba
menerjangku.Dan ia menahan aral itu,memalingkanku dari aral seakan semua telah
terselesaikan,dan aku melanjutkan hidupku tapi dia mengorbankan seluruh
hidupnya agar aku tak menghadapi aral itu.Bahkan aku tak menyangka dia
melakukannya untukku.Dia pernah bilang tidak peduli denganku,meninggalkanku dan
ibuku menjadi sebatang kara,sedang dia,entahlah mungkin hidupnya menyenangkan
atau bisa saja dia hidup layaknya menari-nari setiap hari di atas penderitaan kami.Tapi
kini semua terlihat seperti jarum jam yang berdetak dan berhenti di suatu waktu yang tepat untuknya tapi tak
tepat untukku ,ya karena masanya telah habis,masanya
menjagaku,membantuku,melihatku dari kejauhan.Sosok itu pergi tanpa permisi
denganku,setidaknya aku bisa mengatakan terima kasih kepadanya.
***
“Kamu masih belum bisa bayar uang semesteran
lagi?Mau sampai kapan saya kasih kamu tenggang waktu ?”
“Pak,tolong sekali ini saja,saya janji 2 hari lagi uang semesteran saya lunas
kok,Pak.Yah Pak ,tolong Pak”
“2 hari , setelah itu tunggu saja surat drop out
dari saya .”
“Iya,Pak.Terima Kasih Pak,permisi”
Apa lagi hari ini?Apa yang harus kulakukan dalam 2
hari dan 10 juta bisa terlunasi.Sial sekali kamu,Bintang.
Aku berbicara sendiri dalam hati.Berbicara seakan
hanya Tuhan dan aku yang tahu masalah apa yang sedang aku hadapi.Mau bicara
sama Ibu,sama saja dengan menambahkan beban lain ke pundaknya.Jadi apa yang
harus kuperbuat untuk ini?Drop out?
2 hari berikutnya....
“Pak,saya siap di-drop out”
Ya,Bintang.Keberanian terbodoh yang aku lakukan
sepanjang hidupku.Ibaratnya menyerahkan diri agar diborgol padahal tidak pernah
melakukan tindakan kriminal.a sekarang,Bintang yang seharusnya bersinar dan bisa
menjadi arsitek kini menyerahkan diri kepada keputusasaan.
“Kamu?Hah,maksud kamu apa?”
“Saya ga bisa melunasi uang semesteran dalam 2
hari dan sebelum Bapak kirim surat drop out ,yah saya seperti orang bodoh yang
minta di drop out kepada Bapak.”
“Ah,saya ga tau keajaiban macam apa pagi ini yang
terjadi sama kamu,Bintang”
“Keajaiban maksudnya,Pak?”
“Iya,tadi ada seorang Bapak yang melunasi uang
semesteran kamu”
Bapak?Siapa “bapak” yang kukenal dan melunasi uang
semesteranku?Ya,Bintang,siapapun itu,hari ini aku bersyukur.
Hari ini aku melangkah pulang dengan beban yang
ringan.Aku ingin menceritakan pada Ibuku,seorang “bapak” yang bahkan tak
kukenali siapa.
“Bu,tadi kepala administrasi kampus aku bilang ada
yang bapak-bapak yang ngelunasin uang aku loh Bu”
“Oh ya?Siapa?”
“Ibu udah ga sakit lagi?Mukanya udah ga pucet lagi
tuh”
“Oh iya,Bin.Nanti malem Ibu mau pergi ke tempat
teman lama Ibu dulu yah,ada urusan “
“Kenapa malem sih Bu?”
“Dia bisanya malem,yaudah Ibu mau siap-siap dulu”
Ibuku seorang kasir di swalayan besar di komplek
perumahan orang-orang kaya.Beruntung Ibu masih kuat bekerja,tapi aku terkadang
bingun,gajinya cukup besar tapi Ibu tak pernah memberi tahuku berapa dan
dikemanakan gajinya,bahkan kami masih tinggal di rumah petak yang sempit dan
lama,rumahku dulu bersama Ibu dan Ayah yang tak ingin kupanggil Ayah sampai
akhir hayatku.
****
“Kamu masih jadi istri simpanan dia?”
“Apa urusanmu ha?”
“Bahkan ketika aku meninggalkanmu ,kelakuanmu
tidak berubah sedikitpun.Apa jadinya kalau Bintang tahu kalau Ibu nya seperti
ini?”
“Aku jadi istri simpanan supaya bisa
menghidupinya,lalu kamu?”
“Istri simpanan?Siapa?Ibu?Apa-apaan ini?”
Badanku lemas,seperti tak ada udara yang bisa aku
hirup.Kalut dan sesak.Ibu?Dan kenapa Ayah muncul lagi di hadapanku?
“Bintang?”
“Jangan pernah panggil aku Bintang.Anda siapa
ha?Oh,Ayah?Yang meninggalkan kami?Tunggu,Ibu tadi apa?Istri simpanan?Aku ga
salah denger kan?”
Malam itu terasa berat,aku bahkan takut menutup
mata.Tak henti air mata mengalir.Siapa yang sedang dibodohi kini?Aku?Ibu ku
jadi istri simpanan,mengeluh setiap hari tidak punya uang ,hidupnya yang
kesusahan dan aku berusaha mati-matian tidak ingin menjadi bebannya dan
tunggang langgan bekerja agar kami bisa hidup,tetapi di luar sana ia mencari kesenangan .Tak habis
pikir.Sepuluh tahun lalu aku memutuskan untuk tinggal bersama Ibu karena dia
Ibuku,aku tak ingin tinggal bersama Ayah,yang meninggalkan kami.Tapi yang lebih
parahnya lagi,hidup Ayah yang kupikir senang,bahagia dan tanpa kesedihan
ternyata sama pedihnya denganku.Ia bekerja banting tulang untukku.Dan uang
semester itu?Ya,Ayah yang melunasinya.
“Oh,kamu anaknya?”
“Iya,Bu.Memang Ayah saya kerjanya apa?Hidupnya
gimana,Bu?”
“Asal kamu tahu,Nak,Ayah kamu ninggalin wanita itu
bukan karena dia punya selingkuhan atau pengen ninggalin kamu,Ibu kamu itu udah
jadi istri simpanan banyak laki-laki kaya,makanya Bapak kamu ga tahan,kamu juga
sih kenapa masih tetap tinggal sama Ibu kamu,kelakuannya gitu,padahal hidup
Bapak kamu berubah waktu ketemu wanita itu”
“Berubah gimana,Bu?”
“Ini Ibu bukannya ngegosipin orang tua kamu,ini
kenyataan,Nak.Waktu masih muda,Ibu kamu itu wanita malam,kerjaannya yah
begitulah,hamil dan ga ada yang mau tanggung jawab.Nah kakek kamu itu deket
sama Ayah ,ya bukan Ayah kandung kamulah,jadi Ayah kamu nikahin Ibu
kamu,gitu.Setiap hari dia ngumpulin duit buat kuliah kamu.Hmm,waktu sekolah
juga,dia ngasih uang ke Ibu kamu untuk uang sekolah kamu.Bukan Ibu kamu yang
bayarin uang sekolah kamu dari dulu sampai sekarang.Ya bagus lah kamu udah tahu
sekarang.”
Dan apa yang aku dengar tak ada gunanya lagi,Ayah
pergi.Bukan pindah ke rumah lain.Tapi dia pindah ke rumah keabadian.Dia pergi
selamanya.Dia sakit selama berjuang menghidupiku.Bahkan selama 10 tahun,aku tak
pernah lagi memanggilnya Ayah.Dia yang selama ini memperdulikanku,bukan
Ibu.Bahkan Ayah yang kusebut abukan Ayah kandungku,dia bagai malaikat yang tak
terlihat selalu membantuku tapi pergi meninggalkanku sendiri.
***
Kesalahan terbesarku adalah,membenarkan Ibuku yang
sama sekali tak memperdulikanku dan menyalahkan bahkan membenci Ayah yang
menolongku di setiap langkahku.
Ayah,kini Bintang sendiri,Yah.Ini salahku selama
10 tahun menghitung bintang-bintang di langit tapi tak pernah melihat bulan
yang membantu menerangi bintang-bintang itu.Ayah,maaf........................
***
RED
Nov 10th 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar