Minggu, 10 November 2013

BINTANG KINI SENDIRI

“Jangan pernah abaikan orang yang mencintaimu,peduli tentangmu,merindukanmu,karna suatu hari kamu bangun dan tersadar ,kamu kehilangan bulan di kala kamu menghitung bintang-bintang.”


Dan kini,aku seperti sesosok bodoh yang menangisi diri sendiri.Bahkan tak bisa lagi ,tak kuat lagi dan tega lagi menyalahkan orang lain,bukan,dia bukan orang lain,dia orang yang peduli tentang apa yang aku lakukan di hidup ini,peduli ketika aku ada aral yang mencoba menerjangku.Dan ia menahan aral itu,memalingkanku dari aral seakan semua telah terselesaikan,dan aku melanjutkan hidupku tapi dia mengorbankan seluruh hidupnya agar aku tak menghadapi aral itu.Bahkan aku tak menyangka dia melakukannya untukku.Dia pernah bilang tidak peduli denganku,meninggalkanku dan ibuku menjadi sebatang kara,sedang dia,entahlah mungkin hidupnya menyenangkan atau bisa saja dia hidup layaknya menari-nari setiap hari di atas penderitaan kami.Tapi kini semua terlihat seperti jarum jam yang berdetak dan berhenti di  suatu waktu yang tepat untuknya tapi tak tepat untukku ,ya karena masanya telah habis,masanya menjagaku,membantuku,melihatku dari kejauhan.Sosok itu pergi tanpa permisi denganku,setidaknya aku bisa mengatakan terima kasih kepadanya.
***
“Kamu masih belum bisa bayar uang semesteran lagi?Mau sampai kapan saya kasih kamu tenggang waktu ?”

“Pak,tolong sekali ini saja,saya janji  2 hari lagi uang semesteran saya lunas kok,Pak.Yah Pak ,tolong Pak”

“2 hari , setelah itu tunggu saja surat drop out dari saya .”

“Iya,Pak.Terima Kasih Pak,permisi”

Apa lagi hari ini?Apa yang harus kulakukan dalam 2 hari dan 10 juta bisa terlunasi.Sial sekali kamu,Bintang.
Aku berbicara sendiri dalam hati.Berbicara seakan hanya Tuhan dan aku yang tahu masalah apa yang sedang aku hadapi.Mau bicara sama Ibu,sama saja dengan menambahkan beban lain ke pundaknya.Jadi apa yang harus kuperbuat untuk ini?Drop out?

2 hari berikutnya....

Pak,saya siap di-drop out”

Ya,Bintang.Keberanian terbodoh yang aku lakukan sepanjang hidupku.Ibaratnya menyerahkan diri agar diborgol padahal tidak pernah melakukan tindakan kriminal.a sekarang,Bintang yang seharusnya bersinar dan bisa menjadi arsitek kini menyerahkan diri kepada keputusasaan.

“Kamu?Hah,maksud kamu apa?”

“Saya ga bisa melunasi uang semesteran dalam 2 hari dan sebelum Bapak kirim surat drop out ,yah saya seperti orang bodoh yang minta di drop out kepada Bapak.”

“Ah,saya ga tau keajaiban macam apa pagi ini yang terjadi sama kamu,Bintang”

“Keajaiban maksudnya,Pak?”
“Iya,tadi ada seorang Bapak yang melunasi uang semesteran kamu”
Bapak?Siapa “bapak” yang kukenal dan melunasi uang semesteranku?Ya,Bintang,siapapun itu,hari ini aku bersyukur.

Hari ini aku melangkah pulang dengan beban yang ringan.Aku ingin menceritakan pada Ibuku,seorang “bapak” yang bahkan tak kukenali siapa.

“Bu,tadi kepala administrasi kampus aku bilang ada yang bapak-bapak yang ngelunasin uang aku loh Bu”

“Oh ya?Siapa?”

“Ibu udah ga sakit lagi?Mukanya udah ga pucet lagi tuh”

“Oh iya,Bin.Nanti malem Ibu mau pergi ke tempat teman lama Ibu dulu yah,ada urusan “

“Kenapa malem sih Bu?”

“Dia bisanya malem,yaudah Ibu mau siap-siap dulu”

Ibuku seorang kasir di swalayan besar di komplek perumahan orang-orang kaya.Beruntung Ibu masih kuat bekerja,tapi aku terkadang bingun,gajinya cukup besar tapi Ibu tak pernah memberi tahuku berapa dan dikemanakan gajinya,bahkan kami masih tinggal di rumah petak yang sempit dan lama,rumahku dulu bersama Ibu dan Ayah yang tak ingin kupanggil Ayah sampai akhir hayatku.
****
“Kamu masih jadi istri simpanan dia?”

“Apa urusanmu ha?”

“Bahkan ketika aku meninggalkanmu ,kelakuanmu tidak berubah sedikitpun.Apa jadinya kalau Bintang tahu kalau Ibu nya seperti ini?”

“Aku jadi istri simpanan supaya bisa menghidupinya,lalu kamu?”
..................... 

“Istri simpanan?Siapa?Ibu?Apa-apaan ini?”

Badanku lemas,seperti tak ada udara yang bisa aku hirup.Kalut dan sesak.Ibu?Dan kenapa Ayah muncul lagi di hadapanku?

“Bintang?”

“Jangan pernah panggil aku Bintang.Anda siapa ha?Oh,Ayah?Yang meninggalkan kami?Tunggu,Ibu tadi apa?Istri simpanan?Aku ga salah denger kan?”

Malam itu terasa berat,aku bahkan takut menutup mata.Tak henti air mata mengalir.Siapa yang sedang dibodohi kini?Aku?Ibu ku jadi istri simpanan,mengeluh setiap hari tidak punya uang ,hidupnya yang kesusahan dan aku berusaha mati-matian tidak ingin menjadi bebannya dan tunggang langgan bekerja agar kami bisa hidup,tetapi di luar  sana ia mencari kesenangan .Tak habis pikir.Sepuluh tahun lalu aku memutuskan untuk tinggal bersama Ibu karena dia Ibuku,aku tak ingin tinggal bersama Ayah,yang meninggalkan kami.Tapi yang lebih parahnya lagi,hidup Ayah yang kupikir senang,bahagia dan tanpa kesedihan ternyata sama pedihnya denganku.Ia bekerja banting tulang untukku.Dan uang semester itu?Ya,Ayah yang melunasinya.

“Oh,kamu anaknya?”

“Iya,Bu.Memang Ayah saya kerjanya apa?Hidupnya gimana,Bu?”

“Asal kamu tahu,Nak,Ayah kamu ninggalin wanita itu bukan karena dia punya selingkuhan atau pengen ninggalin kamu,Ibu kamu itu udah jadi istri simpanan banyak laki-laki kaya,makanya Bapak kamu ga tahan,kamu juga sih kenapa masih tetap tinggal sama Ibu kamu,kelakuannya gitu,padahal hidup Bapak kamu berubah waktu ketemu wanita itu”

“Berubah gimana,Bu?”

“Ini Ibu bukannya ngegosipin orang tua kamu,ini kenyataan,Nak.Waktu masih muda,Ibu kamu itu wanita malam,kerjaannya yah begitulah,hamil dan ga ada yang mau tanggung jawab.Nah kakek kamu itu deket sama Ayah ,ya bukan Ayah kandung kamulah,jadi Ayah kamu nikahin Ibu kamu,gitu.Setiap hari dia ngumpulin duit buat kuliah kamu.Hmm,waktu sekolah juga,dia ngasih uang ke Ibu kamu untuk uang sekolah kamu.Bukan Ibu kamu yang bayarin uang sekolah kamu dari dulu sampai sekarang.Ya bagus lah kamu udah tahu sekarang.”

Dan apa yang aku dengar tak ada gunanya lagi,Ayah pergi.Bukan pindah ke rumah lain.Tapi dia pindah ke rumah keabadian.Dia pergi selamanya.Dia sakit selama berjuang menghidupiku.Bahkan selama 10 tahun,aku tak pernah lagi memanggilnya Ayah.Dia yang selama ini memperdulikanku,bukan Ibu.Bahkan Ayah yang kusebut abukan Ayah kandungku,dia bagai malaikat yang tak terlihat selalu membantuku tapi pergi meninggalkanku sendiri.
***

Kesalahan terbesarku adalah,membenarkan Ibuku yang sama sekali tak memperdulikanku dan menyalahkan bahkan membenci Ayah yang menolongku di setiap langkahku.
Ayah,kini Bintang sendiri,Yah.Ini salahku selama 10 tahun menghitung bintang-bintang di langit tapi tak pernah melihat bulan yang membantu menerangi bintang-bintang itu.Ayah,maaf........................
***



RED


Nov 10th 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar