Malam ini
terasa lebih dingin seakan hujan badai
dengan suhu terdingin menembus bukan hanya tubuh ini,tapi hati yang kini masih
dipenuhi kegelisahan. Kegelisahan hati ini luar biasa membebani.Dari tanya yang
tak terjawab,dari kata yang sulit terucap,dan dari cinta yang tak kunjung
dibalas. Kalau pun ada kontes orang
tersabar di dunia ini,mungkin aku-lah
juaranya. Melihatnya,mengangguminya,menyukainya,mencintainya hingga
menahannya sendiri dari cinta yang bertepuk sebelah tangan ini,setidaknya butuh waktu lebih dari 1 dekade. Ya,aku masih bersabar
sembari mengelus hati yang mulai perih karena sakit yang tak dapat kuobati
dengan apapun. Klise,hatiku yang awalnya sakit bisa terobati dengan
mudah. Caranya? Melihatnya tersenyum,seakan senyum itu untukku.Ah..bukan,senyum itu
bukan untukku,tetapi apapun alasannya tersenyum itu,mungkin bahagia dengan
hidupnya sendiri ataupun ia sedang bahagia dengan orang lain,itu bukan
soal. Yang lebih klise lagi,melihatnya bahagia dengan senyumannya itu,sudah
melunasi rasa sakit di hati yang tak kunjung sembuh tadi. Dipikir-pikir
lagi,kalau pun ada kontes orang termunafik urusan hati di dunia ini ,mungkin
aku-lah juara umumnya. Mengatakan sakitku akan terobati dengan melihat
senyumnya,turut bahagia melihatnya bahagia dengan orang lain,ketidakjujuranku
itu yang menjerumuskan hatiku sendiri ke jurang curam kesakitan yang tak akan
pernah terobati. Adilkah perasaan ini tetap ada di hidupku? Haruskah aku yang
menyukainya bertahun-tahun lamanya? Tak pernah-kah ia melihatku sedikit saja
yang nyata-nyatanya aku selalu ada di hidupnya? Lama aku tertegun,tapi entah
kenapa malam yang dingin ini semakin membekukan perasaanku yang tak jelas
arahnya,bisikan angin itu lembut bagai mengucapkan kata demi kata untuk
menjawab semua kegelisahannku,” Melihatnya bahagia supaya kamu turut bahagia
bukan sebuah kemunafikan,melihatnya tersenyum membuat kamu ikut tersenyum
bukanlah sebuah kebohongan,itulah
jawabannya, kamu sedang mencintainya tanpa ia harus ada di dekapmu. Toh itulah
cinta sejati yang diidamkan seluruh umat di dunia ini,tulus mencintai.”
*
Entah kenapa
akhir-akhir kini langit gemar berubah jadi mendung,padahal ketika aku yang
sangat bersemangat menuju tempat dimana kami akan bertemu hari ini ,langit masih cerah,bahkan panasnya
matahari rasanya terasa hangat di wajah ini. Mendungnya seakan tidak biasa,tidak
begitu gelap namun ketika melihat menengadah ke langit aku seperti melihat
sesuatu yang tertahan begitu menyedihkan dan sebentar lagi kesedihan itu akan
tumpah ruah ke bumi. Masih dalam perjalananku menuju tempat yang ia janjikan
padaku,kami akan bertemu di kafe “Guitar” yang tak jauh dari rumahku. Walaupun
aku tidak begitu tertarik dengan hal-hal tentang musik,tetapi aku selalu
bersemangat jika ia ingin bertemu denganku di tempat itu. Pastilah pembicaraan
di tempat tak jauh dari perkara musik,yang terkadang membuat aku bingung
seperti anak hilang.Jalanan kini mulai ramai,apalagi sore begini,kendaraan
seakan tumpah ruah dengan alunan bising bunyi klakson yang bising nan
memekakkan gendang telinga yang tak berdosa ini. Sesekali aku berjalan di
trotoar yang kini malah dirajai oleh motor-motor yang diletakkan dengan
sembarangan dan sungguh mengganggu dan terkadang mengancam keselamatan pejalan
kaki seperti diriku yang tidak lagi merasa nyaman berjalan kaki. Dunia sepertinya
sedikit kehilangan apa yang menjadi kepunyaannya.Semuanya diambil,semuanya
diraup,seakan semua hal milik mereka. Setelah melewati banyak aral,akhirnya aku
sampai di kafe itu.Aroma kopi yang seketika menyambut kedatanganku. Terkadang
aku bertanya pada diriku sendiri,”Kenapa aku harus menyukai orang seperti
dirinya? Bahkan aku tidak punya kesamaan apapun dengannya. Dia supel,aku tidak
terlalu. Dia pandai bermain musik,aku sama sekali nihil masalah musik. Dia suka
kopi,aku bahkan tak akan seteguk pun meminum kopi.” Bukankah untuk menyukai
bahakan mencintai seseorang kita harus memiliki kesamaan,seperti yang
orang-orang bilang?.Aku bahkan telah terlanjur se-dekade menganggumi nya
sebagai pangeran hatiku.Celakanya aku.
“Hey,Lan!”Dia melambai
gagah kepadaku.Dia,Caldo.
“Hey,duh
sori ya agak telat,jalanan macet banget,jadi mesti jalan kaki deh.Lama ya
nunggunya?”“Ah,enggak
kok,aku juga baru dateng kok,nyantai aja.Yuk duduk di luar aja ya,biar
adem,anak-anak di sini suka berisik kalo jam segini” ucap Caldo seraya berjalan
ke teras depan yang cukup apik untuk sebuah kafe yang pengunjungnya anak muda
seperti Caldo.“Emang
berisik kenapa?”tanyaku ingin tahu sambil mengikuti Caldo
“Ya di sini
bukan tempat makan atau minum kopi aja,tapi mereka pada latihan juga ““Hmm..gitu ya.Tapi
aku ga pernah ngeliat kamu latihan di sini,atau emang ga pernah ya?”“Jarang
sih,emang.Soalnya kalau di sini kurang konsen aja latihannya.”“Hmm...”
Sejenak
suasana hening.Pandangannku pun tertarik dengan hiruk pikuk jalanan.Aku yang
sedang duduk di teras yang entah kenapa anginnya terasa sejuk di sini terdiam
tak berkata padahal di depanku Caldo menungguku berbicara.Ya,begitulah aku
terkadang hobi sekali membisu di tengah percakapan.Biasanya Caldo lah yang
memulai pembicaraan.Seperti saat ini juga.
“Oh iya,Lan.Gini,ada yang mau omongin sebenarnya sama kamu,tapi agak berat juga mau ngomongnya.”Caldo seakan berhati-hati ketika memulai pembicaraan.
“Emang mau ngomong apa sih?Sampai rasanya berat kayak gitu”.Aku pun mulai penasaran omongan macam apa yang hendak Caldo katakan padaku sampai-sampai dia merasa berat untuk mengatakannya padaku.“Sekitar 2 hari yang lalu,aku sempet manggung di kampus Tiar,yang waktu itu kamu juga ada nonton band aku di sana,inget ga?”“Hmm..oh iya inget,terus?”“Jadi waktu itu aku juga duet sama penyanyi lain,kalo ga salah namanya Delna.”
Delna?Adik
tiriku?Mendadak tanganku gemetar dan mulai dingin entah kenapa.Padahal Caldo
hanya menyebut nama yang tidak asing bagiku.
“O-o-h
iy-a,terus?”kata-kataku terputus-putus.“Tiar bilang,Delna
itu adik kamu ya?Ya,aku tahu sih,kamu anak tunggal,tapi aku bingung aja kenapa
Tiar bilangnyka Delna itu adik kamu,Lan”“Ya,hmmm...,iya
dia adik tiriku.Namanya Delna,tapi aku sama dia juga ga terlalu akrab.Ya aku
berhubungan baik sama dia supaya mama aku ga khawatir aja.Emang kenapa kamu
nanyain soal Delna ?”“Sori
sebelumnya,aku jadi ga enak sih ngedenger kamu barusan kalo hubungan kamu sama
Delna juga ga terlalu akrab,dan aku malah mau ngomongin ini ke kamu.”“Udah bilang
aja ada apa,Do”“Ga tau
kenapa,pertama kali ngeliat Delna,aku ngeliat dia sebagai perempuan yang
beda,bukan cuma cantik sih,tapi dia juga enak kalo diajak ngobrol,dan kita
punya hobi yang sama gitu jadi ya nyambung aja kalo di deket dia,aku ngomong
gini ga maksud untuk minta tolong ke kamu atau apa,aku cuma mau bilang apa yang
aku rasain aja,dan kebetulan Delna sekarang sekeluarga sama kamu,Lan.”
Saat Caldo
mengatakan semuanya,apa yang dia rasakan dan apa yang diinginkan,mulutku seakan
kaku tapi hatiku terasa panas. Entah apa yang harus aku jawab.
Aku mengambil nafas panjang dan di saat itulah apa yang ingin aku katakan dari kepala ,hati dan mulutku seakan tidak sejalan.
“Dua belas
tahun yang lalu,aku bertemu seorang teman.Dia biasa,bahkan tak begitu
tampan.Tapi semakin dia selalu ada di hadapaku selama dua belas tahun itu
,semakin aku suka bahkan sekarang berubah jadi perasaan cinta.Selama itu
pula,aku memupuk harapan yang lama kelamaan kalo aku lihat jadi harapan
kosong,Do.Hati seseorang bisa rusak,Do.Bukan hanya barang yang dipergunakan
terus menerus.Tapi hati aku juga.Aku pendam dan pendam lagi semuanya,dan
rasanya aku ga kuat nahan ini lagi semua.Apa aku ga pernah terlihat ada di
hadapan kamu,Do?”
Wajah Caldo
tak kalah kaku.Matanya menginsyaratkan keterkejutan yang luar biasa,sampai ia
tak berkata-kata selama beberapa menit.
“Lan,aku ga
salah denger kan tadi?Kamu....Lan,kalo itu yang kamu rasain selama ini,berarti
kamu bukan sahabat yang selama ini ada buat aku.Dengan perasaan kamu sama
aku,aku sekarang jadi bingung mesti gimana.Ya selama ini aku nganggap kamu cuma
sebagai sahabat,yang dari kecil sampai detik ini ada buat aku Lan.”“Sampai
detik ini?Hah...jadi sampai detik ini juga perasaan aku kayaknya sia-sia
ya,Do..padahal banyak yang aku korbanin demi perasaan ini.”
Pandanganku
menerawang jauh,seperti tak ingin berada di kursi ini,bagai kursi pesakitan aku
mendengar perkataan Caldo yang menghujam perasaan tulus ini kata demi katanya.
“Maaf,Lan.Please,jangan
kayak gini...”
Caldo
meninggalkanku.Mungkin pikirannya seperti kaset yang tiba-tiba kusut dan
ditarik mundur untuk dibenarkan lagi.Satu tetes air mata mendadak jatuh.Dan
tetesan berikutnya semakin banyak.Aku tak dapat berkata-kata.Mungkin air mata
ini jawabannya.Aku mundur dari perasaan ini.
*
Sudah
sebulan aku tak pernah menemui Caldo.Ketika awalnya langit cerah kemudian
berubah jadi mendung,ketika itulah terakhir kalinya aku melihat,menatap dan
berbicara dengannya.
“Kriiiiiing”
Pagi ini
seperti biasa.Tapi tak semendung waktu itu.Aku meraih ganggang telepon yang dari
tadi berdering kencang.
“Halo?Dengan
siapa ya?”“Ini
Lana?Ini ibu,Lan”
Aku
terdiam.Mengapa Ibu Caldo menelponku sepagi ini.Aku berusaha menanyakan keadaan
Caldo.
“Oh,Ibu,iya
ini Lana,Bu.Ada apa Bu nelpon ?”“Maaf,pagi-pagi
gini Ibu nelpon Lana.Gini,Lan,Ibu mau ngobrol sama Lana boleh?Tapi kita
ngobrolnya di rumah Ibu ,gimana Lan?”“Oh gitu,iya
Bu,boleh.Lana siap-siap dulu ya Bu”“Iya,Lan,maaf
Ibu jadi ngerepotin kamu.Ibu tunggu ya,Nak”
Langkahku
berat,seakan dibebani pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan.Kenapa Ibu Caldo
yang menelpon?Ada apa dengan Caldo?Apa kesalahanku sampai-sampai Ibu Caldo
ingin bicara denganku?.Tak terasa pula aku sampai di rumah Caldo.Rumahnya tak
terlalu besar.Apik dan sederhana.
“Assalamualaikum,permisi.”“Walaikumsalam,eh
Lana udah datang,ayo masuk,Lan”.Seperti
dulu dan tak pernah berubah,Ibu Caldo selalu ramah kepadaku.Bahkan
senyumnya pagi ini masih sehangat dulu.Namun matanya layu tak seterang dulu.Ibu
memulai obrolan dengan nada serius tapi menenangkan.Aku pun tak pernah tegang
jika Ibu dengan tampang seriusnya menatap dalam mataku.
“Gini,Nak,Ibu
sudah tahu kalo Lana ga pernah ketemu Caldo lagi.Tapi Ibu ga tahu alasannya
kenapa.Caldo ga pernah mau cerita sama Ibu.Ibu jadi ga enak kenapa kalian ga
pernah main bareng lagi kayak dulu.”“Maaf
Bu,kalo Ibu jadi kepikiran karena itu,tapi ga ada masalah apa-apa kok,Bu.Kita
emang lagi sibuk masing-masing aja,Caldo juga sibuk kerja ,Lana juga sibuk
kuliah,jadi emang jarang ketemu aja Bu.Maafin Lana ya Bu”.“Lan,Ibu
tahu dengan melihat mata kamu ada yang kamu sembunyikan,Lan.Tapi kamu ga
nyembunyiin dari Caldo.Kalau Caldo nyakitin hati kamu,Ibu minta maaf ya
Lan.Mungkin Caldo kurang peka aja.”
Aku terdiam
dengan perkataan Ibu.Apa mungkin Ibu tahu apa yang terjadi dengan aku dan
Caldo?.Kemudian Ibu melanjutkan perkataanya yang membuatku benar-benar terdiam.
“Waktu Lana
dan Caldo masih 14 tahun,Ibu sama Caldo rencananya mau pindah rumah ke Solo
karena Ayah Caldo juga udah ga ada waktu itu.Kita udah pindah-pindahin barang
dan hari itu mau berangkat ke Solo,tapi Lana waktu itu dikabarin kecelekaan
deket komplek.Caldo yang lagi bantuin Ibu langsung lari ke rumah sakit ngeliat
keadaan Lana.Waktu Lana di rumah sakit 2 minggu,Caldo yang biasanya semangat
sekolah mendadak murung dan cuma mau nemenin Lana di rumah sakit.Waktu Lana
gagal lomba yang bikin Lana nangis terus,Caldo nemenin Lana sampai Lana ceria
lagi,Lana inget kan?Padahal,Caldo juga gagal pas lomba itu.Apa yang Caldo
lakuin untuk Lana mungkin Ibu ga tahu semua,tapi menurut Ibu,perhatian,waktu
dan apapun itu yang udah Caldo kasih untuk Lana mungkin itu bentuk kasih sayang
Caldo ke Lana.Walaupun Lana ngerasain Caldo ga suka sama Lana,tapi sebagian
hidupnya Caldo itu untuk Lana.Itu yang Ibu yakinin selama ini.”Dan hal itu
yang tak pernah tersadarkan olehku selama ini.Caldo selalu ada di saat aku
butuh.Rakusnya aku jika mengharapkan Caldo memahami perasaanku.Pengorbanannya
pun selama ini jauh lebih berat dibanding apa yang aku gadang-gadangkan sebagai
pengorbanan perasaanku terhadapnya.Mungkin aku bukan hanya sebagai orang yang
paling munafik di dunia ini,tapi juga sebagai orang yang tidak tahu diri dan
tidak tahu malu.Aku tidak pernah meminta Caldo untuk membantu di setiap aku
terjatuh,tapi kebodohan yang sungguh fatal yang telah aku lakukan kepada Caldo
saat itu.Menyatakan perasaanku kepada Caldo dan merasa paling tersakiti atas
perasaan tak terbalas ini.Ternyata,jauh dari apa yang aku bayangkan dan dari
yang kutahu selama ini,Caldo terlebih dulu mencintaiku,mencintai yang tak
pernah mengungkapkan “Aku cinta padamu” ,tetapi sikapnya itulah yang telah
mencintaiku tulus tanpa mengharapkan apapun kembali dariku.Ia mencintaiku lebih
dari aku yang memiliki perasaan cinta kepadanya,perasaan ingin memilikinya dan
ingin berstatuskan “pacarnya Caldo”.Darinya aku kini mulai belajar mencintai
seseorang tak perlu dideklarasikan.Jika sikap,tindakan,dan perbuatan sudah
mencerminkan “Aku cinta padamu”,maka cukuplah apa yang disebut sebagai cinta.
Setelah lama
terdiam aku bergegas pulang.Seakan banyak hal yang sedang mengejarku namun
ingin menyadarkanku,”Ya,kamu salah Lan”.Aku melewati jalan yang dikelilingi
pohon rindang yang menghembuskan angin lembut seolah menyentuh hati dan
pikiranku.Aku menatap langit,melihat awan putih berarak perlahan.Langit kini
cerah tapi matahari tidak seterik biasanya,seakan ingin menenangkan pikiranku
yang kalut dan hendak menghapuskan keegoisan hatiku selama ini.Pagi ini seperti
memberi jawaban atas kegelisahanku,kekalutan atas berbagai pertanyaan yang sempat
tak terjawab selama sedekade ini.Ia akan selalu menjadi orang yang punya tempat
di hati ini.Dan aku pun tidak akan pernah mengharapkan ia mencintaiku dan
menjadi milikku,tapi yang aku harapkan ia selalu jadi bagian dalam hidupku dan
aku akan melanjutkan hidupku tanpa angan-angan itu lagi,untuk memilikinya
***
Cerpen yang dibuat tanggal 9 Februari 2014. Cerpen yang "gagal" menjadi pemenang di suatu kompetisi menulis. Well, lebih baik di-publish daripada disimpan apik di folder laptop yang tak terjamah beberapa bulan ini.
FEB 9th 2014 - OCT 21th 2014
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar