Selasa, 21 Oktober 2014

DEKADE YANG MENJAWAB

Malam ini terasa lebih dingin seakan  hujan badai dengan suhu terdingin menembus bukan hanya tubuh ini,tapi hati yang kini masih dipenuhi kegelisahan. Kegelisahan hati ini luar biasa membebani.Dari tanya yang tak terjawab,dari kata yang sulit terucap,dan dari cinta yang tak kunjung dibalas. Kalau pun ada kontes orang tersabar di dunia ini,mungkin aku-lah  juaranya. Melihatnya,mengangguminya,menyukainya,mencintainya hingga menahannya sendiri dari cinta yang bertepuk sebelah tangan  ini,setidaknya butuh waktu  lebih dari 1 dekade. Ya,aku masih bersabar sembari mengelus hati yang mulai perih karena sakit yang tak dapat kuobati dengan apapun. Klise,hatiku yang awalnya sakit bisa terobati dengan mudah. Caranya? Melihatnya tersenyum,seakan senyum itu untukku.Ah..bukan,senyum itu bukan untukku,tetapi apapun alasannya tersenyum itu,mungkin bahagia dengan hidupnya sendiri ataupun ia sedang bahagia dengan orang lain,itu bukan soal. Yang lebih klise lagi,melihatnya bahagia dengan senyumannya itu,sudah melunasi rasa sakit di hati yang tak kunjung sembuh tadi. Dipikir-pikir lagi,kalau pun ada kontes orang termunafik urusan hati di dunia ini ,mungkin aku-lah juara umumnya. Mengatakan sakitku akan terobati dengan melihat senyumnya,turut bahagia melihatnya bahagia dengan orang lain,ketidakjujuranku itu yang menjerumuskan hatiku sendiri ke jurang curam kesakitan yang tak akan pernah terobati. Adilkah perasaan ini tetap ada di hidupku? Haruskah aku yang menyukainya bertahun-tahun lamanya? Tak pernah-kah ia melihatku sedikit saja yang nyata-nyatanya aku selalu ada di hidupnya? Lama aku tertegun,tapi entah kenapa malam yang dingin ini semakin membekukan perasaanku yang tak jelas arahnya,bisikan angin itu lembut bagai mengucapkan kata demi kata untuk menjawab semua kegelisahannku,” Melihatnya bahagia supaya kamu turut bahagia bukan sebuah kemunafikan,melihatnya tersenyum membuat kamu ikut tersenyum bukanlah  sebuah kebohongan,itulah jawabannya, kamu sedang mencintainya tanpa ia harus ada di dekapmu. Toh itulah cinta sejati yang diidamkan seluruh umat di dunia ini,tulus mencintai.”
*

Entah kenapa akhir-akhir kini langit gemar berubah jadi mendung,padahal ketika aku yang sangat bersemangat menuju tempat dimana kami akan bertemu  hari ini ,langit masih cerah,bahkan panasnya matahari rasanya terasa hangat di wajah ini. Mendungnya seakan tidak biasa,tidak begitu gelap namun ketika melihat menengadah ke langit aku seperti melihat sesuatu yang tertahan begitu menyedihkan dan sebentar lagi kesedihan itu akan tumpah ruah ke bumi. Masih dalam perjalananku menuju tempat yang ia janjikan padaku,kami akan bertemu di kafe “Guitar” yang tak jauh dari rumahku. Walaupun aku tidak begitu tertarik dengan hal-hal tentang musik,tetapi aku selalu bersemangat jika ia ingin bertemu denganku di tempat itu. Pastilah pembicaraan di tempat tak jauh dari perkara musik,yang terkadang membuat aku bingung seperti anak hilang.Jalanan kini mulai ramai,apalagi sore begini,kendaraan seakan tumpah ruah dengan alunan bising bunyi klakson yang bising nan memekakkan gendang telinga yang tak berdosa ini. Sesekali aku berjalan di trotoar yang kini malah dirajai oleh motor-motor yang diletakkan dengan sembarangan dan sungguh mengganggu dan terkadang mengancam keselamatan pejalan kaki seperti diriku yang tidak lagi merasa nyaman berjalan kaki. Dunia sepertinya sedikit kehilangan apa yang menjadi kepunyaannya.Semuanya diambil,semuanya diraup,seakan semua hal milik mereka. Setelah melewati banyak aral,akhirnya aku sampai di kafe itu.Aroma kopi yang seketika menyambut kedatanganku. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri,”Kenapa aku harus menyukai orang seperti dirinya? Bahkan aku tidak punya kesamaan apapun dengannya. Dia supel,aku tidak terlalu. Dia pandai bermain musik,aku sama sekali nihil masalah musik. Dia suka kopi,aku bahkan tak akan seteguk pun meminum kopi.” Bukankah untuk menyukai bahakan mencintai seseorang kita harus memiliki kesamaan,seperti yang orang-orang bilang?.Aku bahkan telah terlanjur se-dekade menganggumi nya sebagai pangeran hatiku.Celakanya aku.


“Hey,Lan!”Dia melambai gagah kepadaku.Dia,Caldo.


“Hey,duh sori ya agak telat,jalanan macet banget,jadi mesti jalan kaki deh.Lama ya nunggunya?”“Ah,enggak kok,aku juga baru dateng kok,nyantai aja.Yuk duduk di luar aja ya,biar adem,anak-anak di sini suka berisik kalo jam segini” ucap Caldo seraya berjalan ke teras depan yang cukup apik untuk sebuah kafe yang pengunjungnya anak muda seperti Caldo.“Emang berisik kenapa?”tanyaku ingin tahu sambil mengikuti Caldo
“Ya di sini bukan tempat makan atau minum kopi aja,tapi mereka pada latihan juga ““Hmm..gitu ya.Tapi aku ga pernah ngeliat kamu latihan di sini,atau emang ga pernah ya?”“Jarang sih,emang.Soalnya kalau di sini kurang konsen aja latihannya.”“Hmm...”


Sejenak suasana hening.Pandangannku pun tertarik dengan hiruk pikuk jalanan.Aku yang sedang duduk di teras yang entah kenapa anginnya terasa sejuk di sini terdiam tak berkata padahal di depanku Caldo menungguku berbicara.Ya,begitulah aku terkadang hobi sekali membisu di tengah percakapan.Biasanya Caldo lah yang memulai pembicaraan.Seperti saat ini juga.

“Oh iya,Lan.Gini,ada yang mau omongin sebenarnya sama kamu,tapi agak berat juga mau ngomongnya.”Caldo seakan berhati-hati ketika memulai pembicaraan.

“Emang mau ngomong apa sih?Sampai rasanya berat kayak gitu”.Aku pun mulai penasaran omongan macam apa yang hendak Caldo katakan padaku sampai-sampai dia merasa berat untuk mengatakannya padaku.“Sekitar 2 hari yang lalu,aku sempet manggung di kampus Tiar,yang waktu itu kamu juga ada nonton band aku di sana,inget ga?”“Hmm..oh iya inget,terus?”“Jadi waktu itu aku juga duet sama penyanyi lain,kalo ga salah namanya Delna.”


Delna?Adik tiriku?Mendadak tanganku gemetar dan mulai dingin entah kenapa.Padahal Caldo hanya menyebut nama yang tidak asing bagiku.


“O-o-h iy-a,terus?”kata-kataku terputus-putus.“Tiar bilang,Delna itu adik kamu ya?Ya,aku tahu sih,kamu anak tunggal,tapi aku bingung aja kenapa Tiar bilangnyka Delna itu adik kamu,Lan”“Ya,hmmm...,iya dia adik tiriku.Namanya Delna,tapi aku sama dia juga ga terlalu akrab.Ya aku berhubungan baik sama dia supaya mama aku ga khawatir aja.Emang kenapa kamu nanyain soal Delna ?”“Sori sebelumnya,aku jadi ga enak sih ngedenger kamu barusan kalo hubungan kamu sama Delna juga ga terlalu akrab,dan aku malah mau ngomongin ini ke kamu.”“Udah bilang aja ada apa,Do”“Ga tau kenapa,pertama kali ngeliat Delna,aku ngeliat dia sebagai perempuan yang beda,bukan cuma cantik sih,tapi dia juga enak kalo diajak ngobrol,dan kita punya hobi yang sama gitu jadi ya nyambung aja kalo di deket dia,aku ngomong gini ga maksud untuk minta tolong ke kamu atau apa,aku cuma mau bilang apa yang aku rasain aja,dan kebetulan Delna sekarang sekeluarga sama kamu,Lan.”


Saat Caldo mengatakan semuanya,apa yang dia rasakan
 dan apa yang diinginkan,mulutku seakan kaku tapi hatiku terasa panas. Entah apa yang harus aku jawab.

Aku mengambil nafas panjang dan di saat itulah apa yang ingin aku katakan dari kepala ,hati dan mulutku seakan tidak sejalan.


“Dua belas tahun yang lalu,aku bertemu seorang teman.Dia biasa,bahkan tak begitu tampan.Tapi semakin dia selalu ada di hadapaku selama dua belas tahun itu ,semakin aku suka bahkan sekarang berubah jadi perasaan cinta.Selama itu pula,aku memupuk harapan yang lama kelamaan kalo aku lihat jadi harapan kosong,Do.Hati seseorang bisa rusak,Do.Bukan hanya barang yang dipergunakan terus menerus.Tapi hati aku juga.Aku pendam dan pendam lagi semuanya,dan rasanya aku ga kuat nahan ini lagi semua.Apa aku ga pernah terlihat ada di hadapan kamu,Do?”


Wajah Caldo tak kalah kaku.Matanya menginsyaratkan keterkejutan yang luar biasa,sampai ia tak berkata-kata selama beberapa menit.


“Lan,aku ga salah denger kan tadi?Kamu....Lan,kalo itu yang kamu rasain selama ini,berarti kamu bukan sahabat yang selama ini ada buat aku.Dengan perasaan kamu sama aku,aku sekarang jadi bingung mesti gimana.Ya selama ini aku nganggap kamu cuma sebagai sahabat,yang dari kecil sampai detik ini ada buat aku Lan.”“Sampai detik ini?Hah...jadi sampai detik ini juga perasaan aku kayaknya sia-sia ya,Do..padahal banyak yang aku korbanin demi perasaan ini.”


Pandanganku menerawang jauh,seperti tak ingin berada di kursi ini,bagai kursi pesakitan aku mendengar perkataan Caldo yang menghujam perasaan tulus ini kata demi katanya.


“Maaf,Lan.Please,jangan kayak gini...”


Caldo meninggalkanku.Mungkin pikirannya seperti kaset yang tiba-tiba kusut dan ditarik mundur untuk dibenarkan lagi.Satu tetes air mata mendadak jatuh.Dan tetesan berikutnya semakin banyak.Aku tak dapat berkata-kata.Mungkin air mata ini jawabannya.Aku mundur dari perasaan ini.

*
Sudah sebulan aku tak pernah menemui Caldo.Ketika awalnya langit cerah kemudian berubah jadi mendung,ketika itulah terakhir kalinya aku melihat,menatap dan berbicara dengannya.


“Kriiiiiing”


Pagi ini seperti biasa.Tapi tak semendung waktu itu.Aku meraih ganggang telepon yang dari tadi berdering kencang.


“Halo?Dengan siapa ya?”“Ini Lana?Ini ibu,Lan”
Aku terdiam.Mengapa Ibu Caldo menelponku sepagi ini.Aku berusaha menanyakan keadaan Caldo.
“Oh,Ibu,iya ini Lana,Bu.Ada apa Bu nelpon ?”“Maaf,pagi-pagi gini Ibu nelpon Lana.Gini,Lan,Ibu mau ngobrol sama Lana boleh?Tapi kita ngobrolnya di rumah Ibu ,gimana Lan?”“Oh gitu,iya Bu,boleh.Lana siap-siap dulu ya Bu”“Iya,Lan,maaf Ibu jadi ngerepotin kamu.Ibu tunggu ya,Nak”


Langkahku berat,seakan dibebani pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan.Kenapa Ibu Caldo yang menelpon?Ada apa dengan Caldo?Apa kesalahanku sampai-sampai Ibu Caldo ingin bicara denganku?.Tak terasa pula aku sampai di rumah Caldo.Rumahnya tak terlalu besar.Apik dan sederhana.


“Assalamualaikum,permisi.”“Walaikumsalam,eh Lana udah datang,ayo masuk,Lan”.Seperti  dulu dan tak pernah berubah,Ibu Caldo selalu ramah kepadaku.Bahkan senyumnya pagi ini masih sehangat dulu.Namun matanya layu tak seterang dulu.Ibu memulai obrolan dengan nada serius tapi menenangkan.Aku pun tak pernah tegang jika Ibu dengan tampang seriusnya menatap dalam mataku.


“Gini,Nak,Ibu sudah tahu kalo Lana ga pernah ketemu Caldo lagi.Tapi Ibu ga tahu alasannya kenapa.Caldo ga pernah mau cerita sama Ibu.Ibu jadi ga enak kenapa kalian ga pernah main bareng lagi kayak dulu.”“Maaf Bu,kalo Ibu jadi kepikiran karena itu,tapi ga ada masalah apa-apa kok,Bu.Kita emang lagi sibuk masing-masing aja,Caldo juga sibuk kerja ,Lana juga sibuk kuliah,jadi emang jarang ketemu aja Bu.Maafin Lana ya Bu”.“Lan,Ibu tahu dengan melihat mata kamu ada yang kamu sembunyikan,Lan.Tapi kamu ga nyembunyiin dari Caldo.Kalau Caldo nyakitin hati kamu,Ibu minta maaf ya Lan.Mungkin Caldo kurang peka aja.”


Aku terdiam dengan perkataan Ibu.Apa mungkin Ibu tahu apa yang terjadi dengan aku dan Caldo?.Kemudian Ibu melanjutkan perkataanya yang membuatku benar-benar terdiam.


“Waktu Lana dan Caldo masih 14 tahun,Ibu sama Caldo rencananya mau pindah rumah ke Solo karena Ayah Caldo juga udah ga ada waktu itu.Kita udah pindah-pindahin barang dan hari itu mau berangkat ke Solo,tapi Lana waktu itu dikabarin kecelekaan deket komplek.Caldo yang lagi bantuin Ibu langsung lari ke rumah sakit ngeliat keadaan Lana.Waktu Lana di rumah sakit 2 minggu,Caldo yang biasanya semangat sekolah mendadak murung dan cuma mau nemenin Lana di rumah sakit.Waktu Lana gagal lomba yang bikin Lana nangis terus,Caldo nemenin Lana sampai Lana ceria lagi,Lana inget kan?Padahal,Caldo juga gagal pas lomba itu.Apa yang Caldo lakuin untuk Lana mungkin Ibu ga tahu semua,tapi menurut Ibu,perhatian,waktu dan apapun itu yang udah Caldo kasih untuk Lana mungkin itu bentuk kasih sayang Caldo ke Lana.Walaupun Lana ngerasain Caldo ga suka sama Lana,tapi sebagian hidupnya Caldo itu untuk Lana.Itu yang Ibu yakinin selama ini.”Dan hal itu yang tak pernah tersadarkan olehku selama ini.Caldo selalu ada di saat aku butuh.Rakusnya aku jika mengharapkan Caldo memahami perasaanku.Pengorbanannya pun selama ini jauh lebih berat dibanding apa yang aku gadang-gadangkan sebagai pengorbanan perasaanku terhadapnya.Mungkin aku bukan hanya sebagai orang yang paling munafik di dunia ini,tapi juga sebagai orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu.Aku tidak pernah meminta Caldo untuk membantu di setiap aku terjatuh,tapi kebodohan yang sungguh fatal yang telah aku lakukan kepada Caldo saat itu.Menyatakan perasaanku kepada Caldo dan merasa paling tersakiti atas perasaan tak terbalas ini.Ternyata,jauh dari apa yang aku bayangkan dan dari yang kutahu selama ini,Caldo terlebih dulu mencintaiku,mencintai yang tak pernah mengungkapkan “Aku cinta padamu” ,tetapi sikapnya itulah yang telah mencintaiku tulus tanpa mengharapkan apapun kembali dariku.Ia mencintaiku lebih dari aku yang memiliki perasaan cinta kepadanya,perasaan ingin memilikinya dan ingin berstatuskan “pacarnya Caldo”.Darinya aku kini mulai belajar mencintai seseorang tak perlu dideklarasikan.Jika sikap,tindakan,dan perbuatan sudah mencerminkan “Aku cinta padamu”,maka cukuplah apa yang disebut sebagai cinta.
Setelah lama terdiam aku bergegas pulang.Seakan banyak hal yang sedang mengejarku namun ingin menyadarkanku,”Ya,kamu salah Lan”.Aku melewati jalan yang dikelilingi pohon rindang yang menghembuskan angin lembut seolah menyentuh hati dan pikiranku.Aku menatap langit,melihat awan putih berarak perlahan.Langit kini cerah tapi matahari tidak seterik biasanya,seakan ingin menenangkan pikiranku yang kalut dan hendak menghapuskan keegoisan hatiku selama ini.Pagi ini seperti memberi jawaban atas kegelisahanku,kekalutan atas berbagai pertanyaan yang sempat tak terjawab selama sedekade ini.Ia akan selalu menjadi orang yang punya tempat di hati ini.Dan aku pun tidak akan pernah mengharapkan ia mencintaiku dan menjadi milikku,tapi yang aku harapkan ia selalu jadi bagian dalam hidupku dan aku akan melanjutkan hidupku tanpa angan-angan itu lagi,untuk memilikinya

***

Cerpen yang dibuat tanggal 9 Februari 2014. Cerpen yang "gagal" menjadi pemenang di suatu kompetisi menulis. Well, lebih baik di-publish daripada disimpan apik di folder laptop yang tak terjamah beberapa bulan ini. 






FEB 9th 2014 - OCT 21th 2014





RED




Tidak ada komentar:

Posting Komentar