Hai, Hallo, Aloha, Guten Tag, Moshi-Moshi, Namaste
Selamat Malam !
Pukul 19:58 WIB posisiku di atas kursi coklat favoritku
yang berumur lebih dari 4 tahun. Setiap pulang, rumah adalah tempat hatiku kembali,
dan setiap pulang, kursi coklat ini adalah tempat ternyaman yang ada di rumahku.
Ketika duduk di bangku SMA, kursi coklat ini bagai sihir yang membagi inspirasi
untukku. Ketika lelah, ingin
beristirahat sejenak, kursi inilah yang paling memahami kepenatanku. Di atas
kursi ini, malam ini, entah kenapa ingin kuramaikan blog yang sudah 5 tahun
menjadi taman bermainku dengan sedikit cerita , dengan sedikit ya bisa kusebut
pelajaran yang kuterima selama 2014 ini.
Mungkin, 2014 adalah tahun terbaik dan terindah bagiku.
Setiap bulannya punya cerita hingga untuk melupakannya saja cukup mustahil. Bulan Januari dimulai dengan sesuatu
yang luar biasa. Memang, bukan kebiasaanku dan keluargaku untuk merayakan
pergantian tahun dengan suatu seremonial khusus atau berkunjung ke suatu tempat
untuk menantikan perpindahan menit 12:59 ke 00:00 di tahun baru. Namun, awal
2014 kulalui berbeda. Tempat dimana aku merantau, Bandung adalah tempat dimana
keluarga keduaku berada .Kusebut keluarga karena bukan lamanya perkenalan kami,
tapi karena ada ikatan lain yang lahir dan tumbuh hingga kami dapat merasakan
suka dan duka bersama. Malam tahun baru kala itu kami lalui dengan doa bersama
dan sekedar bercengkrama. Jamuan makan tengah malamnya pun sederhana namun
mengakrabkan kami untuk menciptakan suasana yang hangat. Aku bertemu dengan
orang-orang yang luar biasa. Entah kenapa aku menyebut mereka luar biasa. Ya,
luar biasa karena mereka punya keinginan untuk menciptakan kebahagiaan, mereka
punya cara tersendiri untuk memaknai hidup dan itu semua bagai pelajaran awal
tahun 2014 yang berharga bagiku. Bahagia itu sederhana, ya. Kalimat itu bagai
mantra bagiku dan kuperoleh dari mereka. Terima
kasih Tuhan, telah memberikan kesempatan bagiku untuk mengenal mereka,
dapat berbagi kebahagiaan bersama mereka. Terima Kasih .....
Bulan Januari bagai penghiburan dan energi baru untuk
memulai segala aktivitas di 2014. Ya, aku percaya di kehidupan ini ada suka
yang dihadiahkan bagi hamba-Nya dan ada duka yang diselipkan bagi hamba-Nya
pula. Karena aku yakin hidup bukan sekedar tawa, namun ada tangis yang menjadi
kawannya.
Hari minggu, 23 Februari 2014,
aku ingat benar, pagi itu bangun dan keresahan, diselimuti awan kelam. Tak
seperti biasanya, aku merasa tidak ingin melakukan apa-apa. Seperti
minggu-minggu biasanya pula, aku dan kakak-kakakku selalu berkumpul sekedar
ngobrol santai di ruang keluarga. Sampai senja itu tiba, ada firasat yang tidak
karuan. Dan, kabar yang tidak pernah ingin kami dengar pun bagai petir di siang
bolong. Ayah. Mungkin bagi sebagian orang, sosok seorang kakek adalah sosok
yang tidak selalu kita jumpai setiap hari, atau mungkin kita jumpai ketika
lebaran tiba atau ketika berlibur, tapi kakek bagiku yaitu Ayah, adalah
seseorang yang kalau disebut adalah bagian dari keluarga kecil kami. Papa,
Mama, dan kami berlima tidak bisa lepas dari Ayah karena keberadaannya memang
benar-benar melengkapi kami semua. Bisa dibilang, Aku lebih akrab dengan Ayah
dibanding Papa. Aku sering curhat, tertawa, bercanda, bertanya hal yang penting
sampai hal yang spele dengan Ayah. Ayah juga sering mengajariku banyak hal,
mulai dari memasak (karena Ayah jago memasak, i admit it), berkebun, menyanyi
lagu jepang, dan hal-hal lain yang tidak pernah diajari oleh siapapun, dan
hanya Ayah yang melakukannya. Ayah itu spesial bagiku, dan bagi kami
sekeluarga. Hingga saat beliau pergi pada tanggal 23 Februari 2014 itu,
disitulah titik dimana kami semua menyesal tidak bisa berada disampingmu. Ayah
itu sahabat, orang tua dan kakek yang luar biasa bagiku.
Terima Kasih
Tuhan, telah memberikan kesempatan
bagiku untuk menjadi seorang cucunya Ayah. Saking rindunya aku, air mata saja
tidak cukup untuk menyampaikan semuanya, selalu Ina kirimkan doa serta Yasin
untuk Ayah....Semoga Ayah tenang disana ya.....Amin.
Bulan Maret,
April, Mei, Juni kulewati dengan kepenatan.
Dunia perkuliahan di kampus mungkin bisa disebut menggila. Entah kenapa
kesibukan akan rutinitas yang aku jalani sampai merenggut apa artinya
kenikmatan hidup. Sampai di suatu titik, aku mengalami kejenuhan dan menahannya
hingga semester itu selesai. Ketika bulan Ramadhan akhirnya tiba, akhirnya aku
dapat menikmati kehidupanku kembali. Jauh dari orang tua dan tetap menjalani
semester pendek cukup menguji ketabahanku untuk menahan rasa ingin pulang ke
rumah dan berkumpul bersama orang tua.
Terkadang, terbersit rasa lelah dan penat yang tak berkesudahan, tapi
ketika belajar untuk menerima dan kuat menghadapi semua, semangat itu timbul kembali.
Dari bulan-bulan luar biasa inilah aku belajar untuk menjadi sesorang yang
tidak gampang lelah, gampang mengeluh dan lebih kuat dan kuat lagi. Terima
Kasih Tuhan karena selalu ada dan memberikanku
kekuatan untuk tetap bertahan di kala merasa ingin menyerah dan merasa tak
berdaya, padahal sebenarnya aku mampu mengalahkan kepenatan ini.
Bulan Juli
2014 bagaikan bulan yang kusebut entah sesuatu yang benar
atau sesuatu yang keliru yang telah aku putuskan. Bergabung dan menjadi bagian
organisasi mahasiswa sebagai badan pengawas harian di tahun akhir mungkin
adalah keputusan gila dan keputusan yang belum dan tidak pernah kubayangkan
sebelumnya. Entahlah, apa yang terbersit di benakku saat itu. Mungkin keinginan
untuk menyibukkan hati dan pikiran dengan ikut organisasi dapat menjadi cara
yang ampuh. Karena merasa tidak melakukan apa-apa itu malah melelahkan
dibanding melakukan sesuatu. Setidaknya, aku mendapat keluarga baru, aktivitas
baru dan ya, semoga pengalaman baru. Dan, tentunya Terima Kasih Tuhan, ada
kesempatan bagiku untuk memperoleh pengalaman baru bersama rekan-rekan yang
menjadi keluarga baruku.
Dan, bulan Agustus
2014 adalah bulan yang paling kutunggu. Ya, setiap orang bahagia ketika
menyambut hari ulang tahunnya. Aku bagian dari orang-orang itu pula. Menjadi
seseorang yang didoakan, diberi selamat dan bersyukur apabila diberi hadiah
ulang tahun adalah hal yang paling membahagiakan. Tetapi, hal yang tidak disadari
ketika bertambah umur dan ketika itulah pertanyaan ini muncul “ Apa yang telah
aku perbuat selama ini? Apa yang akan aku perbuat ketika umurku bertambah dan
jatah hidupku ibarat berkurang?” Terkadang, pertanyaan itulah yang menjadi
renungan dan meredam senyum merekah di hari ulang tahun. Tapi, jauh dari
renungan itu, hari itu hari yang paling kusyukuri, karena keluarga, sahabat
masih ada untuk mendoakanku dan memberi pengharapan bagiku untuk hidup yang
lebih baik di satu tahun ke depan. Terima Kasih Tuhan telah memberikanku hidup
yang bahagia, berkecukupan dan ditempatkan di sekitar orang-orang yang luar
biasa yang ada sampai 21 tahunku ini. Terima Kasih Mama, yang memberikan doa
yang luar biasa di tengah malam ketika bertambahnya usiaku, doa sederhana namun
itulah doa yang terbaik dari seorang ibu. Terima Kasih Geng A6 yang stand by
tengah malam dengan kebisingingan, hiruk pikuk perempuan-perempuan heboh yang
mengucapkan selamat dan doa bagiku, yang sukses mengisi ulang tahunku dengan
kebahagiaan. Terima Kasih untuk seorang kawan yang menyanyikan Happy Birthday
di pukul 02:59 dini hari lengkap dengan alunan gitar yang luar biasa walaupun
kudengar di pagi hari dan sukses membuatku tercengang dan terkagum-kagum.
Terima Kasih untuk seluruh teman, kawan, dan semua yang luar biasa hingga
adik-adik mahasiswa baru yang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun keesokan
harinya. Ya...ulang tahun ke 21 ini adalah ulang tahun yang paling luar biasa
dan yang tak pernah kulupakan, selamanya......
Bulan
September, Oktober hingga November,
mungkin bagaikan reversal dalam kehidupanku. Kebahagiaan di bulan Agustus bak
berbalik 180 derajat yang berubah kelam dan melelahkan. Ya, kata melelahkan itu
muncul lagi. Pikiran dan hati terforsir. Deadline tugas, kegiatan organisasi
dan masalah perasaan dan kehidupan menjadi bumerang bagiku. Mungkin 3 bulan
inilah, masa-masa paling luar biasa aku diuji untuk ketahanan fisik dan mental.
Dan satu kesalahan terbesar yang kubuat di bulan itu, menyakiti perasaan
seseorang. Ya, itu kesalahanku. Selama tiga bulan terakhir aku menyalahkan diri
sendiri. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Baru kali ini aku berbuat “sekejam”
itu. Dan pada akhirnya, aku membaca sebuah buku yang berjudul “Bukan Untuk
Dibaca” dan terdapat suatu cerita, dan mengajarkanku begini, “ Bukan seorang
manusia namanya apabila tidak berbuat kesalahan. Bukan seorang manusia namanya
apabila ia sempurna. Karena pada hakekatnya, semua manusia selalu melakukan
kesalahan, entah kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri. Apabila
kesalahan itu dilakukan terhadap orang lain, maka minta maaflah dengan
sungguh-sungguh hingga kau merasa kesalahan itu memang mengajarkanmu bahwa
betapa sakitnya seseorang itu atas kesalahan. Namun, yang lebih parahnya lagi
apabila kamu tidak mampu memaafkan dirimu sendiri. Bagaikan dibelenggu rantai
besi yang kau lingkarkan sendiri ke tubuhmu dan tak berusaha melepaskannya
lagi. Dan dibiarkan berkarat, berkarat dan berkarat. Begitulah yang akan
terjadi apabila kamu tidak mampu memaafkan dirimu sendiri. “ Dan pada saat
itulah, aku mulai mencoba sedikit demi sedikit untuk memaafkan diri sendiri.
Memaafkan dari kesalahan yang kuperbuat terhadap seseorang itu dan belajar
menjadi kesalahan itu sebagai pelajaran.
Terima Kasih
Tuhan telah memberikan waktu yang
tepat bagiku untuk memperoleh pelajaran dan memberikan kesempatan bagiku untuk
memaafkan apapun kesalahan yang ada pada diriku. Dan, izinkan aku untuk
mengucapkan maaf untuk terakhir kali kepada seseorang yang telah kusakiti, jauh
di lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak pernah berniat menyakiti, membiarkanmu
merasakan sakit yang kuciptakan. Apapun alasannya, semua dirasa tak cukup untuk
menjawab kenapa aku berbuat begini. Maaf. Dan semoga bahagia menyertaimu.
Dan di Bulan
Desember, 31 hari terakhir di tahun 2014, adalah bulan perjuangan bagiku.
Ujian akhir, mengajukan proposal dan deadline-deadline yang menyibukkan di
akhir tahun ini menjadi bumbu pemanis yang tak bisa kulupakan. Tahan banting
sebagai seorang anak kuliahan diuji di semester ini. Memang, semester-semester
sebelumnya juga begitu berat untuk dilalui, namun semester ini bagai
berlipat-lipat ganda lagi dera yang kurasakan. Sampai pada suatu titik dimana
aku merasa jenuh, penat dan suntuk, bagaikan penghiburan diri bagiku dengan ada
kabar gembira yang mengisi bulan Desember ku ini. Cerpen yang kukirimkan di
bulan September untuk diikutsertakan dalam kompetisi menulis sebuah online
publisher ternyata membuahkan hasil manis. Ya, kabar bahagia itu bagaikan
pencapaian puncak yang kuraih selama bertahun-tahun berkecimpung hobi
menulisku. Aku mengirimkan cerpen yang berjudul “Surat Terakhir Untuk Ayah” dan
ternyata cerpen itu diterbitkan di salah satu buku yang berjudul Kumpulan Surat
Untuk Penghuni Surga. Akan selalu kuingat hari itu.... Dan Terima Kasih Tuhan, telah memberikan kebahagiaan yang tidak pernah
kubayangkan sebelumnya. Kebahagiaan ini bukan hanya bahagia sesaat karena ini
adalah langkah awal bagiku untuk memulai semua ini.
Yap, itulah 12 bulan yang terangkum dalam 365 hariku yang
luar biasa. Singkat, memang hanya dalam 1638 kata saja yang bisa kuceritakan
untuk tahun 2014 ini. Tapi, dari 365 hari ini, setiap suka , duka, tangis ,dan
berakhir entah dengan tangis lagi ataupun tawa berhasil membuatku belajar dari
orang-orang hebat yang ada di cerita ini, belajar dari setiap kisah dan
peristiwa yang kulalui dan belajar dari apapun yang kuperoleh di setiap detik
di 2014 ini.
Mungkin, 2015 entah seperti apa nantinya. Semua, kita dan
siapapun itu umat manusia yang ada di dunia ini mempunyai pengharapan yang
sama, tahun baru dengan setiap hal yang terbaik. Tetapi, aku mengharapkan lain.
Apapun yang terjadi di 2015, semoga aku lebih kuat dan lebih kuat lagi untuk
menghadapinya dan semoga di setiap langkah di tahun 2015 selalu diiringi dengan
doa dan perlindungan Yang Maha Kuasa, amin.
Selamat Tahun Baru, Happy New Year, Bonne Année, Akemashite
Omedetô !!
RED
31122014
22:00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar