Rabu, 31 Desember 2014

365

Hai, Hallo, Aloha, Guten Tag, Moshi-Moshi, Namaste


Selamat Malam !

Pukul 19:58 WIB posisiku di atas kursi coklat favoritku yang berumur lebih dari 4 tahun. Setiap pulang, rumah adalah tempat hatiku kembali, dan setiap pulang, kursi coklat ini adalah tempat ternyaman yang ada di rumahku. Ketika duduk di bangku SMA, kursi coklat ini bagai sihir yang membagi inspirasi untukku.  Ketika lelah, ingin beristirahat sejenak, kursi inilah yang paling memahami kepenatanku. Di atas kursi ini, malam ini, entah kenapa ingin kuramaikan blog yang sudah 5 tahun menjadi taman bermainku dengan sedikit cerita , dengan sedikit ya bisa kusebut pelajaran yang kuterima selama 2014 ini.

Mungkin, 2014 adalah tahun terbaik dan terindah bagiku. Setiap bulannya punya cerita hingga untuk melupakannya saja cukup mustahil. Bulan Januari dimulai dengan sesuatu yang luar biasa. Memang, bukan kebiasaanku dan keluargaku untuk merayakan pergantian tahun dengan suatu seremonial khusus atau berkunjung ke suatu tempat untuk menantikan perpindahan menit 12:59 ke 00:00 di tahun baru. Namun, awal 2014 kulalui berbeda. Tempat dimana aku merantau, Bandung adalah tempat dimana keluarga keduaku berada .Kusebut keluarga karena bukan lamanya perkenalan kami, tapi karena ada ikatan lain yang lahir dan tumbuh hingga kami dapat merasakan suka dan duka bersama. Malam tahun baru kala itu kami lalui dengan doa bersama dan sekedar bercengkrama. Jamuan makan tengah malamnya pun sederhana namun mengakrabkan kami untuk menciptakan suasana yang hangat. Aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Entah kenapa aku menyebut mereka luar biasa. Ya, luar biasa karena mereka punya keinginan untuk menciptakan kebahagiaan, mereka punya cara tersendiri untuk memaknai hidup dan itu semua bagai pelajaran awal tahun 2014 yang berharga bagiku. Bahagia itu sederhana, ya. Kalimat itu bagai mantra bagiku dan kuperoleh dari mereka. Terima kasih Tuhan, telah memberikan kesempatan bagiku untuk mengenal mereka, dapat berbagi kebahagiaan bersama mereka. Terima Kasih .....

Bulan Januari bagai penghiburan dan energi baru untuk memulai segala aktivitas di 2014. Ya, aku percaya di kehidupan ini ada suka yang dihadiahkan bagi hamba-Nya dan ada duka yang diselipkan bagi hamba-Nya pula. Karena aku yakin hidup bukan sekedar tawa, namun ada tangis yang menjadi kawannya. 
Hari minggu, 23 Februari 2014, aku ingat benar, pagi itu bangun dan keresahan, diselimuti awan kelam. Tak seperti biasanya, aku merasa tidak ingin melakukan apa-apa. Seperti minggu-minggu biasanya pula, aku dan kakak-kakakku selalu berkumpul sekedar ngobrol santai di ruang keluarga. Sampai senja itu tiba, ada firasat yang tidak karuan. Dan, kabar yang tidak pernah ingin kami dengar pun bagai petir di siang bolong. Ayah. Mungkin bagi sebagian orang, sosok seorang kakek adalah sosok yang tidak selalu kita jumpai setiap hari, atau mungkin kita jumpai ketika lebaran tiba atau ketika berlibur, tapi kakek bagiku yaitu Ayah, adalah seseorang yang kalau disebut adalah bagian dari keluarga kecil kami. Papa, Mama, dan kami berlima tidak bisa lepas dari Ayah karena keberadaannya memang benar-benar melengkapi kami semua. Bisa dibilang, Aku lebih akrab dengan Ayah dibanding Papa. Aku sering curhat, tertawa, bercanda, bertanya hal yang penting sampai hal yang spele dengan Ayah. Ayah juga sering mengajariku banyak hal, mulai dari memasak (karena Ayah jago memasak, i admit it), berkebun, menyanyi lagu jepang, dan hal-hal lain yang tidak pernah diajari oleh siapapun, dan hanya Ayah yang melakukannya. Ayah itu spesial bagiku, dan bagi kami sekeluarga. Hingga saat beliau pergi pada tanggal 23 Februari 2014 itu, disitulah titik dimana kami semua menyesal tidak bisa berada disampingmu. Ayah itu sahabat, orang tua dan kakek yang luar biasa bagiku.
Terima Kasih Tuhan, telah memberikan kesempatan bagiku untuk menjadi seorang cucunya Ayah. Saking rindunya aku, air mata saja tidak cukup untuk menyampaikan semuanya, selalu Ina kirimkan doa serta Yasin untuk Ayah....Semoga Ayah tenang disana ya.....Amin.

Bulan Maret, April, Mei, Juni kulewati dengan kepenatan. Dunia perkuliahan di kampus mungkin bisa disebut menggila. Entah kenapa kesibukan akan rutinitas yang aku jalani sampai merenggut apa artinya kenikmatan hidup. Sampai di suatu titik, aku mengalami kejenuhan dan menahannya hingga semester itu selesai. Ketika bulan Ramadhan akhirnya tiba, akhirnya aku dapat menikmati kehidupanku kembali. Jauh dari orang tua dan tetap menjalani semester pendek cukup menguji ketabahanku untuk menahan rasa ingin pulang ke rumah dan berkumpul bersama orang tua.  Terkadang, terbersit rasa lelah dan penat yang tak berkesudahan, tapi ketika belajar untuk menerima dan kuat menghadapi semua, semangat itu timbul kembali. Dari bulan-bulan luar biasa inilah aku belajar untuk menjadi sesorang yang tidak gampang lelah, gampang mengeluh dan lebih kuat dan kuat lagi. Terima Kasih Tuhan karena selalu ada  dan memberikanku kekuatan untuk tetap bertahan di kala merasa ingin menyerah dan merasa tak berdaya, padahal sebenarnya aku mampu mengalahkan kepenatan ini.

Bulan Juli 2014 bagaikan bulan yang kusebut entah sesuatu yang benar atau sesuatu yang keliru yang telah aku putuskan. Bergabung dan menjadi bagian organisasi mahasiswa sebagai badan pengawas harian di tahun akhir mungkin adalah keputusan gila dan keputusan yang belum dan tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Entahlah, apa yang terbersit di benakku saat itu. Mungkin keinginan untuk menyibukkan hati dan pikiran dengan ikut organisasi dapat menjadi cara yang ampuh. Karena merasa tidak melakukan apa-apa itu malah melelahkan dibanding melakukan sesuatu. Setidaknya, aku mendapat keluarga baru, aktivitas baru dan ya, semoga pengalaman baru. Dan, tentunya Terima Kasih Tuhan, ada kesempatan bagiku untuk memperoleh pengalaman baru bersama rekan-rekan yang menjadi keluarga baruku.

Dan, bulan Agustus 2014 adalah bulan yang paling kutunggu. Ya, setiap orang bahagia ketika menyambut hari ulang tahunnya. Aku bagian dari orang-orang itu pula. Menjadi seseorang yang didoakan, diberi selamat dan bersyukur apabila diberi hadiah ulang tahun adalah hal yang paling membahagiakan. Tetapi, hal yang tidak disadari ketika bertambah umur dan ketika itulah pertanyaan ini muncul “ Apa yang telah aku perbuat selama ini? Apa yang akan aku perbuat ketika umurku bertambah dan jatah hidupku ibarat berkurang?” Terkadang, pertanyaan itulah yang menjadi renungan dan meredam senyum merekah di hari ulang tahun. Tapi, jauh dari renungan itu, hari itu hari yang paling kusyukuri, karena keluarga, sahabat masih ada untuk mendoakanku dan memberi pengharapan bagiku untuk hidup yang lebih baik di satu tahun ke depan. Terima Kasih Tuhan telah memberikanku hidup yang bahagia, berkecukupan dan ditempatkan di sekitar orang-orang yang luar biasa yang ada sampai 21 tahunku ini. Terima Kasih Mama, yang memberikan doa yang luar biasa di tengah malam ketika bertambahnya usiaku, doa sederhana namun itulah doa yang terbaik dari seorang ibu. Terima Kasih Geng A6 yang stand by tengah malam dengan kebisingingan, hiruk pikuk perempuan-perempuan heboh yang mengucapkan selamat dan doa bagiku, yang sukses mengisi ulang tahunku dengan kebahagiaan. Terima Kasih untuk seorang kawan yang menyanyikan Happy Birthday di pukul 02:59 dini hari lengkap dengan alunan gitar yang luar biasa walaupun kudengar di pagi hari dan sukses membuatku tercengang dan terkagum-kagum. Terima Kasih untuk seluruh teman, kawan, dan semua yang luar biasa hingga adik-adik mahasiswa baru yang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun keesokan harinya. Ya...ulang tahun ke 21 ini adalah ulang tahun yang paling luar biasa dan yang tak pernah kulupakan, selamanya......

Bulan September, Oktober hingga November, mungkin bagaikan reversal dalam kehidupanku. Kebahagiaan di bulan Agustus bak berbalik 180 derajat yang berubah kelam dan melelahkan. Ya, kata melelahkan itu muncul lagi. Pikiran dan hati terforsir. Deadline tugas, kegiatan organisasi dan masalah perasaan dan kehidupan menjadi bumerang bagiku. Mungkin 3 bulan inilah, masa-masa paling luar biasa aku diuji untuk ketahanan fisik dan mental. Dan satu kesalahan terbesar yang kubuat di bulan itu, menyakiti perasaan seseorang. Ya, itu kesalahanku. Selama tiga bulan terakhir aku menyalahkan diri sendiri. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Baru kali ini aku berbuat “sekejam” itu. Dan pada akhirnya, aku membaca sebuah buku yang berjudul “Bukan Untuk Dibaca” dan terdapat suatu cerita, dan mengajarkanku begini, “ Bukan seorang manusia namanya apabila tidak berbuat kesalahan. Bukan seorang manusia namanya apabila ia sempurna. Karena pada hakekatnya, semua manusia selalu melakukan kesalahan, entah kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri. Apabila kesalahan itu dilakukan terhadap orang lain, maka minta maaflah dengan sungguh-sungguh hingga kau merasa kesalahan itu memang mengajarkanmu bahwa betapa sakitnya seseorang itu atas kesalahan. Namun, yang lebih parahnya lagi apabila kamu tidak mampu memaafkan dirimu sendiri. Bagaikan dibelenggu rantai besi yang kau lingkarkan sendiri ke tubuhmu dan tak berusaha melepaskannya lagi. Dan dibiarkan berkarat, berkarat dan berkarat. Begitulah yang akan terjadi apabila kamu tidak mampu memaafkan dirimu sendiri. “ Dan pada saat itulah, aku mulai mencoba sedikit demi sedikit untuk memaafkan diri sendiri. Memaafkan dari kesalahan yang kuperbuat terhadap seseorang itu dan belajar menjadi kesalahan itu sebagai pelajaran.
Terima Kasih Tuhan telah memberikan waktu yang tepat bagiku untuk memperoleh pelajaran dan memberikan kesempatan bagiku untuk memaafkan apapun kesalahan yang ada pada diriku. Dan, izinkan aku untuk mengucapkan maaf untuk terakhir kali kepada seseorang yang telah kusakiti, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak pernah berniat menyakiti, membiarkanmu merasakan sakit yang kuciptakan. Apapun alasannya, semua dirasa tak cukup untuk menjawab kenapa aku berbuat begini. Maaf. Dan semoga bahagia menyertaimu.

Dan di Bulan Desember, 31 hari terakhir di tahun 2014, adalah bulan perjuangan bagiku. Ujian akhir, mengajukan proposal dan deadline-deadline yang menyibukkan di akhir tahun ini menjadi bumbu pemanis yang tak bisa kulupakan. Tahan banting sebagai seorang anak kuliahan diuji di semester ini. Memang, semester-semester sebelumnya juga begitu berat untuk dilalui, namun semester ini bagai berlipat-lipat ganda lagi dera yang kurasakan. Sampai pada suatu titik dimana aku merasa jenuh, penat dan suntuk, bagaikan penghiburan diri bagiku dengan ada kabar gembira yang mengisi bulan Desember ku ini. Cerpen yang kukirimkan di bulan September untuk diikutsertakan dalam kompetisi menulis sebuah online publisher ternyata membuahkan hasil manis. Ya, kabar bahagia itu bagaikan pencapaian puncak yang kuraih selama bertahun-tahun berkecimpung hobi menulisku. Aku mengirimkan cerpen yang berjudul “Surat Terakhir Untuk Ayah” dan ternyata cerpen itu diterbitkan di salah satu buku yang berjudul Kumpulan Surat Untuk Penghuni Surga. Akan selalu kuingat hari itu.... Dan Terima Kasih Tuhan, telah memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kebahagiaan ini bukan hanya bahagia sesaat karena ini adalah langkah awal bagiku untuk memulai semua ini.

Yap, itulah 12 bulan yang terangkum dalam 365 hariku yang luar biasa. Singkat, memang hanya dalam 1638 kata saja yang bisa kuceritakan untuk tahun 2014 ini. Tapi, dari 365 hari ini, setiap suka , duka, tangis ,dan berakhir entah dengan tangis lagi ataupun tawa berhasil membuatku belajar dari orang-orang hebat yang ada di cerita ini, belajar dari setiap kisah dan peristiwa yang kulalui dan belajar dari apapun yang kuperoleh di setiap detik di 2014 ini.

Mungkin, 2015 entah seperti apa nantinya. Semua, kita dan siapapun itu umat manusia yang ada di dunia ini mempunyai pengharapan yang sama, tahun baru dengan setiap hal yang terbaik. Tetapi, aku mengharapkan lain. Apapun yang terjadi di 2015, semoga aku lebih kuat dan lebih kuat lagi untuk menghadapinya dan semoga di setiap langkah di tahun 2015 selalu diiringi dengan doa dan perlindungan Yang Maha Kuasa, amin.


Selamat Tahun Baru, Happy New Year, Bonne Année, Akemashite Omedetô !!





RED


31122014

22:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar