Minggu, 11 Januari 2015

TERUNTUK KAMU

Teruntuk yang selalu ku ragu untuk ku rindu, teruntuk yang kutahu namanya namun tak pernah kutatap matanya.. Teruntuk yang tak mungkin kuraih .... Kamu, Bagaimana kabarmu?
###


Untuk setiap detik yang pernah kita lalui bersama walau  di tempat yang berbeda,
Teruntuk kamu, yang kini semu bagiku ....

Apa kabarmu, detik ini ?

Kuharap bahagia yang selalu mendekapmu, atau mungkin lebih bahagia dibanding detik-detik terdahulu yang pernah diurai dengan tawa dan suka cita yang selalu kamu ciptakan, saat itu. Aku memang tak begitu tahu bagaimana hidupmu, walau tak pernah berjabat tangan, walau tak pernah berkenalan secara langsung, namun setiap kisah tentang hidupmu yang kutahu hanya beberapa saat, aku yakin kamu baik-baik saja. Ya, kamu baik-baik saja. Lebih baik dibanding setelah tanpaku.

 Izinkan aku menanyakan beberapa hal di surat yang khusus kubuat untukmu ini.

Mengapa kamu harus hadir di hidupku pada saat yang tepat, ketika aku membutuhkan seseorang yang memahamiku lebih?
Mengapa kamu berbaik hati padaku, membuat hidupku berubah dari kelam menjadi suatu kegembiraan?
Mengapa kamu selalu ada untuk seorang aku, yang nyata-nyatanya berhati bebal, dan berjanji padamu namun tak ditepati?
Mengapa kamu tetap bersikeras untuk tak meninggalkan aku, yang nyata-nyatanya aku-lah yang berbalik arah dan meninggalkanmu ?
Mengapa ada seseorang seperti kamu ?

Mengapa ...?

Jika aku yang diberikan pertanyaan itu, mungkin aku bisa menjawabnya. Ya, aku sendiri pun mengalami ini. Ketika seseorang pernah berjanji padaku untuk tak pernah melepaskanku, dan beberapa waktu setelah janji itu, ia pergi. Entah kemana dan tentunya dengan alasan yang menyakitkan. Sakit, pasti. Dan saat itu aku menyegerakan untuk melupakannya. Tapi, kamu ? Kamu masih saja ada di hidupku. Layaknya seperti tidak pernah terjadi apa-apa, kamu masih berbaik hati kepadaku.

Satu pertanyaan lagi...

Hati-mu terbuat dari apa?

Surat ini bukan surat tentang penyesalan kehadiranmu, karena kehadiranmu adalah sesuatu yang kusyukuri, ya, aku pernah bertemu seseorang yang hebat, yang mengingatkanku untuk selalu menjalani hidup dengan kebahagiaan dan keikhlasan, mengajariku untuk merangkai hidup dengan 1000 impian, dan mengajariku untuk tetap kuat menjalani hidup yang berat ini, dan banyak hal lagi yang menjadi pelajaran hidup lainnya, dan  surat ini juga bukan tentang permintaan maaf. Ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti meminta maaf padamu. Ini surat pertama yang kubuat untukmu dan entahlah, haruskah ini menjadi surat terakhir untukmu ?

Aku tak berharap balasan surat ini darimu, tapi aku hanya berharap surat ini menjadi tempat dimana aku atau mungkin setiap orang yang selalu bertanya-tanya di dalam hatinya, “Mengapa Tuhan menghadirkan seseorang ke hidupku, seseorang yang tak layak untuk disakiti, mengapa ?”

Sekian surat ini kubuat untukmu. Untuk setiap doa dan harapan, kuselipkan namamu, semoga kamu baik-baik saja...

Ps : Entahlah, satu pertanyaan lagi, pantaskah aku tetap di hidupmu? Mungkin sekedar menjadi teman? Karena aku tak berhak meminta lebih, kini.

Ps. Ps:   Melupakan itu mustahil, aku tahu itu. Terlebih kata-kata ini  :
“Apabila kamu telah berjanji untuk bersama dengan seseorang dan hanya bisa dijalani hanya 3 hari saja, jangan pernah berjanji untuk 30 tahun kemudian.”







RED

11012015
15:45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar