Teruntuk yang selalu ku ragu untuk ku rindu, teruntuk
yang kutahu namanya namun tak pernah kutatap matanya.. Teruntuk yang tak
mungkin kuraih .... Kamu, Bagaimana kabarmu?
###
Untuk setiap detik yang pernah kita lalui bersama
walau di tempat yang berbeda,
Teruntuk kamu, yang kini semu bagiku ....
Apa kabarmu, detik ini ?
Kuharap bahagia yang selalu mendekapmu, atau mungkin
lebih bahagia dibanding detik-detik terdahulu yang pernah diurai dengan tawa
dan suka cita yang selalu kamu ciptakan, saat itu. Aku memang tak begitu tahu
bagaimana hidupmu, walau tak pernah berjabat tangan, walau tak pernah
berkenalan secara langsung, namun setiap kisah tentang hidupmu yang kutahu
hanya beberapa saat, aku yakin kamu baik-baik saja. Ya, kamu baik-baik saja.
Lebih baik dibanding setelah tanpaku.
Izinkan aku menanyakan
beberapa hal di surat yang khusus kubuat untukmu ini.
Mengapa kamu harus hadir di hidupku pada saat yang tepat,
ketika aku membutuhkan seseorang yang memahamiku lebih?
Mengapa kamu berbaik hati padaku, membuat hidupku berubah
dari kelam menjadi suatu kegembiraan?
Mengapa kamu selalu ada untuk seorang aku, yang
nyata-nyatanya berhati bebal, dan berjanji padamu namun tak ditepati?
Mengapa kamu tetap bersikeras untuk tak meninggalkan aku,
yang nyata-nyatanya aku-lah yang berbalik arah dan meninggalkanmu ?
Mengapa ada seseorang seperti kamu ?
Mengapa ...?
Jika aku yang diberikan pertanyaan itu, mungkin aku bisa
menjawabnya. Ya, aku sendiri pun mengalami ini. Ketika seseorang pernah
berjanji padaku untuk tak pernah melepaskanku, dan beberapa waktu setelah janji
itu, ia pergi. Entah kemana dan tentunya dengan alasan yang menyakitkan. Sakit,
pasti. Dan saat itu aku menyegerakan untuk melupakannya. Tapi, kamu ? Kamu
masih saja ada di hidupku. Layaknya seperti tidak pernah terjadi apa-apa, kamu
masih berbaik hati kepadaku.
Satu pertanyaan lagi...
Hati-mu terbuat dari apa?
Surat ini bukan surat tentang penyesalan kehadiranmu,
karena kehadiranmu adalah sesuatu yang kusyukuri, ya, aku pernah bertemu
seseorang yang hebat, yang mengingatkanku untuk selalu menjalani hidup dengan
kebahagiaan dan keikhlasan, mengajariku untuk merangkai hidup dengan 1000
impian, dan mengajariku untuk tetap kuat menjalani hidup yang berat ini, dan
banyak hal lagi yang menjadi pelajaran hidup lainnya, dan surat ini juga bukan tentang permintaan maaf.
Ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti meminta maaf padamu.
Ini surat pertama yang kubuat untukmu dan entahlah, haruskah ini menjadi surat
terakhir untukmu ?
Aku tak berharap balasan surat ini darimu, tapi aku hanya
berharap surat ini menjadi tempat dimana aku atau mungkin setiap orang yang
selalu bertanya-tanya di dalam hatinya, “Mengapa Tuhan menghadirkan seseorang
ke hidupku, seseorang yang tak layak untuk disakiti, mengapa ?”
Sekian surat ini kubuat untukmu. Untuk setiap doa dan
harapan, kuselipkan namamu, semoga kamu baik-baik saja...
Ps : Entahlah, satu pertanyaan lagi, pantaskah aku tetap
di hidupmu? Mungkin sekedar menjadi teman? Karena aku tak berhak meminta lebih,
kini.
Ps. Ps: Melupakan itu mustahil, aku tahu itu. Terlebih
kata-kata ini :
“Apabila kamu
telah berjanji untuk bersama dengan seseorang dan hanya bisa dijalani hanya 3
hari saja, jangan pernah berjanji untuk 30 tahun kemudian.”
RED
11012015
15:45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar