“Kenangan itu
untuk dikenang, sejak kapan kenangan itu untuk dilupakan?”
Pernah seorang sahabat bertanya kepadaku, “Masih inget
dia? Masih kontak-an sama dia?”. Sejenak aku terdiam. Memikirkan jawaban apa
yang tepat agar aku tak kembali mengingat rupanya yang membekaskan luka
terindah padaku empat bulan lalu.
“Hmm..enggak lah,ngapain juga kan masih kontak doi.Heheh”.
Ekspresi ketika menjawab pertanyaan itu dibarengi dengan senyuman getir yang
membuatku terdiam untuk kedua kalinya. Entah apakah aku sedang sadar, atau
dirasuki makhluk halus di bawah pohon ini, bodohnya aku, aku kembali
mengingatnya!
Kenyataan dimana aku mendeklarasikan bahwa aku
jelas-jelas harus melupakannya sampai dengan kelakuan konyol membuat perjanjian
pada diri sendiri secara tertulis, membalikkan akal sehatku. Akal sehatku
jungkir balik!
Bukan hanya membangkitkan memori akan rupanya, namun
dengan kata-katanya. Wah, dalam hati aku panik, aku linglung. Ada apa aku ? Ini
ingatannku yang tiba-tiba mencuat di akalku yang mulai aral.
“I miss you”
Tiba-tiba kalimat itu muncul di tengah percakapan yang
ringan di pagi hari, kala itu, 4 bulan lalu.
Sontak, aku bingung harus membalas dengan apa. “I miss you too?”. Tidak mungkin,
jelas-jelas dia seorang teman yang seru untuk diajak berbincang pagi, siang,
sore hingga larut malam. Apablila aku ditimpa dengan kalimat itu, aku jelas
tidak tahu harus bagaimana.
Lalu, aku membalas pesannya dengan hati-hati dan kuharap
tepat. Namun, ternyata tidak.
“Hmm..really? Why you miss me?”
“I just....miss you”
Aku terdiam lagi, memikirkan kalimat pamungkas untuk mengelak
membalas kalimat yang sama.
“Gak baek ah pagi-pagi begini kangen sama orang. Gini
aja, mungkin kangennya jangan sampai ke perasaan. Jadi lupain kangennya dari
pikiran, toh kalo kamu kangen, what should I do? Nothing, right? Should I go
there? Impossible,eh? Makanya, jangan dibawa ke perasaan ya.”
Entahlah, pikiranku melayang apakah itu jawaban yang
tepat baginya.
“ Gak harus kesini kok, heheh gak mungkin kan. You just
need replied “ I miss you too”.
Skak mat. Ternyata arah pembicaraannya seperti ini.
Padahal kami belum terlalu kenal lama, dan perlukah aku mengatakan 3 kata itu?
Itulah kesalahan pertama yang kubuat hingga aku sulit melupakannya sekarang.
Aku bagai terjebak di suatu lingkaran yang tak pernah kutahu apakah ada pintu
keluar dari ini semua. Dan pada akhirnya aku terjebak, tanpa sadar.
Dia membalas lagi ;
“You should feel with heart and don’t think with your
logic. That’s how it works”
Itulah kalimat yang mengingatkannya selalu. Namun, semua
cukup mustahil. Apalagi sekarang yang hendak kulakukan adalah melupakan.
Benar kata sahabatku, melepaskannya akan ada penyesalan.
Dia baik, cerdas, menyenangkan, dan satu hal yang menambah nilai plus seseorang
di mataku terutama pria, yaitu caring.
Tapi, aku punya beberapa alasan untuk mantap melepaskannya. Melupakannya. Maka,
pendirian ini kuat hingga kini sampai aku tidak berniat berbalik arah untuk
kembali padanya, bahkan mengingatnya.
Namun, semakin kuat keinginan untuk melupakannya, semakin
aku mengingatnya. Entah itu kesialan atau keberuntungan. Seberapa keras lagi
usaha ini harus kulakukan. Ya, tetap, It doesn’t work.
Maka, kusimpulkan untuk tidak melupakan. Apapun. Birakan
semuanya tetap teringat. Karena semuanya itu terlalu indah, melupakan bukan
perkara yang siapapun lakukan untuk meninggalkan kehidupan yang lalu. Kalaupun
semuanya itu pernah ada dan singgah di hidupmu, ya sudah.
Biarkan. Seiring
waktu, tanpa usaha, semua akan tertimbun dengan kenangan-kenangan lain yang
lebih indah dari yang lalu.
Karena, setelah patah hati, bukan usaha untuk melupakan
yang siapapun mesti segerakan. Buatlah kenangan yang lebih indah lagi, lebih
berarti dan lebih bisa dijaga dan dikenang untuk selamanya. Kenangan lalu yang
tak kalah indah? Hargai, dan berterima kasih pada dirimu sendiri, karena kamu
pernah berusaha membuat seseorang bahagia dan berbekas indah.
RED
April 7th 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar