“ Nama itu do’a.
Percayalah. Berikan seapik mungkin, niscaya hidupmu langgeng, Nak....Dari Bapak
yang selalu mendoakan anak, cucu, cicit dan keturunan berikutnya untuk tetap,
membumi...........”
***
Kami dipertemukan oleh ikatan alam. Ikatan yang
ditakdirkan oleh Tuhan. Tak semuanya patut untuk disyukuri namun yang kuyakini, akhirnya begitu indah, aku bersyukur mengenalnya sungguh.
***
Terdengar klise ketika suatu pernikahan harus dilandaskan
oleh cinta. Bahkan mendengarkannya sudah seperti gombalan anak remaja. Namun,
baru kusadari, “hal” itu perlu adanya. Kami bertemu 25 tahun yang lalu.
Pertemuannya bisa kusebut tak terduga. Keinginan dan tekad yang kuat untuk
hanya menjadi wanita karir dalam kurun
waktu 3 tahun terbantahkan sudah, karena desakan konyol keluarga yang
meluluhlantakkan semuanya. Sebagai anak perempuan terkecil, melajang dan
idealis atas prinsip hidup cukup sulit memang menggoyahkan tekad yang telah
terbangun kokoh. Namun, apa daya, kalimat ini.....
“Nak, umur segini masih sendiri aja? Ndak ada niatan
berkeluarga seperti kakak-kakakmu? Toh, bapakmu ini sudah tua, kamu siapa yang
mau urus nanti? “
Detik pertama aku tersentuh. Detik kedua, aku luluh. Anak
mana yang tidak paham maksud perkataan seorang bapak yang kini hidup sendiri
dan masih memikirkan anak perempuannya yang masih belum berkeinginan untuk
berkeluarga. Sampai pada suatu titik dimana aku merasa jenuh mendengar kalimat
yang mengintimidasi keinginanku untuk berkarir. Ya, tergoyahkan sudah. Bapak
tanpa permisi mendatangkan seseorang untuk dikenalkan padaku. Habislah aku dan
tekadku.
Kisahnya sederhana, akhirnya aku menikah, hidup bersama
seseorang yang bahkan tak pernah tumbuh sebersit perasaan “memiliki” dan
menjalani kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga. Bahkan skenario ini
adalah skenario terburuk yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.
Kejadiannya pun terasa begitu cepat, bapak sakit-sakitan setelah aku menikah
dan pergi meninggalkanku selamanya. Kehidupanku? Entahlah. Bahkan aku tak bisa
menyebut jenis warna apa yang ada di kehidupanku saat itu. Aku mulai mencoba
mengenal dan memahami orang yang kini hidup bersamaku. Hal yang aku tahu
tentangnya sejauh ini hanya nama, pekerjaan dan siapa keluarganya. Sifatnya?
Karakternya? Kehidupan masa lalunya? Peduli apa. Itu yang terbersit di benakku.
Semenjak kepergian bapak, aku juga mencoba untuk memahami
mengapa bapak menggoyahkan tekadku dan mengambil langkah seribu untuk
menikahkanku. Dan harapanku, semoga aku tidak diskenariokan sebagai Siti
Nurbaya versi kini. Hari itu aku berdiam diri di rumah masa kecilku, tempat aku
masih merajut kisah manis bersama bapak dan ibu serta kakak-kakakku. Tanganku
pun tergelitik mengenang masa lalu, membuka lembaran-lembaran album dengan foto
lawas yang mengembalikan kenangan tempo dulu. Namun, ada kertas yang tak biasa
yang terselip di salah satu album itu. Sebuah kertas, dengan tulisan khas bapak
yang rapi nan apik lengkap dengan tinta tebal berwarna hitam. Aku tergerak
untuk membaca tiap katanya.
............................
.................................................
Aku meneteskan air mata.
***
“Bu....alhamdulillah, doa Ibu dikabulkan. Besok aku
diinterview oleh CEO dari kantor pusatnya.”.
“Alhamdulillah.... Begitu anakku semestinya. Berusaha
jangan putus, doa selalu jadi kekuatannya. “
“Iya, Bu. Insyaallah... Hmm... Oh iya Bu, tadi aku ketemu
Om Boy di kantor, tadi Om mau pergi rapat gitu, mungkin karena buru-buru jadi
pas aku sapa gak kedengeran kali ya Bu?Hmm..”
“Oh, mungkin seperti itu. Om –mu sibuk sepertinya.”
“Tapi, Bu.....”
“Tapi kenapa, Nak ?”
“Bukan hanya ke aku sih Bu, waktu itu temen sekantor aku
juga nyapa Om Boy malah Om Boy-nya pergi gitu aja, padahal duduk sebelahan.
Yah...mungkin Om lagi sibuk juga kali ya Bu ?”
“Hm.....mungkin begitu, Nak.”
“Heheh kok malah jadi ngomongin Om sih?Ya udah aku ganti
baju dulu ya Bu”
“Iya, Nak...”
..............................................
“Bu, masalah Ibu, Om Boy, Tante Trisa jangan dibiarin berlarut.
Ibu gak salah. Ibu berhak pertahanin rumah warisan Kakek. Kan wasiat Kakek
sendiri rumah gak boleh dijual. Tetap menjadi benar terkadang sulit Bu. Tapi,
Tuhan Maha Adil, Hakim dari segala hakim yang ada di dunia ini. Ibu tetap
mempertahankan ya, Bu. Aku dukung, hehe “
***
Sudah 10 tahun, aku tak ingin membahas rumah masa
kecilku. Terlalu perih memang ketika memperebutkan sesuatu padahal hal itu tak
sedikit pantas untuk diperebutkan. Bukannya tidak ingin turun “ke medan
pertempuran”, tapi terdengar kekanak-kanakan dan menunjukkan sikap maruk yang
bahkan Bapak dan Ibu-ku tak pernah mendidik hal itu kepada kami. Namun, ini
yang kupertanyakan, kemana Boy sang kakak yang bijak dan dewasa ketika Bapak
masih tegak berdiri dan Ibu yang selalu menyanjungnya, yang kini berbalik
terlalu haus akan rumah kecil yang bahkan tak sebanding dengan rumahnya kini.
Begitu juga Tris, kakak perempuanku yang telah kuanggap sebagai pengganti Ibu,
bertindak tenang, kemayu dan bersahaja, namun kini bersikeras ingin menjual
rumah ini. Apa yang ada di benak mereka itu yang tak kupaham.
***
...............................................
.
Aku meneteskan air mata.
Surat ini begitu bermakna namun mengguratkan kepedihan yang
terkungkung lama dan tak pernah terkuak di rumah masa kecilku ini.
22 Desember 1960
Semuanya lenyap.
Entah itu cita-cita, harapan serta asa yang telah jauh bagai membumbung ke
langit bagai terhempas ke dasar samudera. Tepat hari ini, perusahaanku
bangkrut. Apa yang telah kubangun selama ini begitu saja rubuh tak tersisa.
Entah apa yang akan menguatkanku. Inikah balasan dari Sang Kuasa bagi hamba-Nya
yang tak pernah melihat ke bawah? Bahkan penyesalan untuk selalu merasa di atas
kini hanya sia-sia. Ya, inilah bagian hidupku yang kalang kabut. Sedangkan Ibu
dari anak-anakku begitu tenang menghadapi cobaan ini. Ia menenangkan bahwa
semua akan baik-baik saja. Asal punya tekad dan kemauan tentu akan menghasilkan
yang diinginkan. Doa pun selalu kupanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Ampuni aku,
Kuatkan aku. Berikan kebahagiaan kepada kami, anak-anak kami, dan anak kami yang
akan lahir sebentar lagi. Ya, akan kuberi nama Wening, agar senantiasa tetap
tenang dalam keadaan apapun. Bahkan duka yang mendera atau halangan yang
berdatangan.
Tubuhku tersandar
di dinding yang tiba-tiba mendingin. Bahkan aku tak tahu Bapak pernah mengalami
kehidupan seperti itu. Tepat pada hari aku akan dilahirkan. Ternyata dibalik
aku yang tak mempedulikan kehidupanku yang digoyahkan Bapak pada awalnya dan
aku mencoba melewatinya, hingga kini aku berhadapan dengan ego kakak-kakakku
yang bahkan aku sendiri tak menganggap ini sebuah masalah yang harus
dipusingkan, aku tetap pada pendirianku. Bersikap tenang dan tidak gegabah yang
menemani setiap langkahku.
Dan kubaca isi
terakhir dari kertas itu....
“Tak
putus-putusnya kudoakan anak kami yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini,
agar tetap tangguh menghadapi dunia ini, dan menjadi seseorang yang tenang dan
bersahaja. Dan semoga kertas ini dibaca oleh anak-anakku kelak. Berikan seapik mungkin, niscaya
hidupmu langgeng, Nak..”
***
“Gimana
interviewnya, Nak?”
“Alhamdulillah,
berkat do’a Ibu, Makasi ya Bu”
Ia selalu menjawab
seperti itu. Pencapaian yang diraihnya tak pernah dibicarakan merinci. Selalu singkat.
Sampai suatu ketika ....
“Ibu Ning, saya
baru tahu loh dari Bu Mirna, anak Ibu pinter. Padahal anak saya kan deket yang
sama anak Ibu. “
“Maksud Bu Alya apa
yah?”
“Itu loh, Bumi
keterima di 2 perusahaan besar tapi malah masuk ke perusahaan yang di Jakarta
saja. Kalo anak saya pasti lebih milih perusahaan Jepang. Duh...sayang ya...”
“Oh kalau itu,
pilihan Bumi. Dia merasa belum pantas ke Jepang sepertinya. Dia juga kurang
fasih bahasa Jepang. Makanya Bumi lebih milih di Jakarta sesuai kemampuannya
nanti kalau sudah dapat pengalaman Bumi mau berencana kesana juga. Doain ya
Bu..”
Ya, itulah anakku.
Kuberi nama anakku Bumi.
RED
23:23
May 1st 2015
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBahasanya renyah, nice talk story. Salam kenal Mbak Red :)
BalasHapusWah, terima kasih sudah mampir dan membaca cerita saya. Terima kasih juga komentarnya :) Salam juga Mba Cahaya :))
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus