Jumat, 01 Mei 2015

Kuberi Nama, Bumi

“ Nama itu do’a. Percayalah. Berikan seapik mungkin, niscaya hidupmu langgeng, Nak....Dari Bapak yang selalu mendoakan anak, cucu, cicit dan keturunan berikutnya untuk tetap, membumi...........”
***


Kami dipertemukan oleh ikatan alam. Ikatan yang ditakdirkan oleh Tuhan. Tak semuanya patut untuk disyukuri namun  yang kuyakini, akhirnya  begitu indah, aku bersyukur mengenalnya sungguh.
***

Terdengar klise ketika suatu pernikahan harus dilandaskan oleh cinta. Bahkan mendengarkannya sudah seperti gombalan anak remaja. Namun, baru kusadari, “hal” itu perlu adanya. Kami bertemu 25 tahun yang lalu. Pertemuannya bisa kusebut tak terduga. Keinginan dan tekad yang kuat untuk hanya menjadi  wanita karir dalam kurun waktu 3 tahun terbantahkan sudah, karena desakan konyol keluarga yang meluluhlantakkan semuanya. Sebagai anak perempuan terkecil, melajang dan idealis atas prinsip hidup cukup sulit memang menggoyahkan tekad yang telah terbangun kokoh. Namun, apa daya, kalimat ini.....

“Nak, umur segini masih sendiri aja? Ndak ada niatan berkeluarga seperti kakak-kakakmu? Toh, bapakmu ini sudah tua, kamu siapa yang mau urus nanti? “
Detik pertama aku tersentuh. Detik kedua, aku luluh. Anak mana yang tidak paham maksud perkataan seorang bapak yang kini hidup sendiri dan masih memikirkan anak perempuannya yang masih belum berkeinginan untuk berkeluarga. Sampai pada suatu titik dimana aku merasa jenuh mendengar kalimat yang mengintimidasi keinginanku untuk berkarir. Ya, tergoyahkan sudah. Bapak tanpa permisi mendatangkan seseorang untuk dikenalkan padaku. Habislah aku dan tekadku.
Kisahnya sederhana, akhirnya aku menikah, hidup bersama seseorang yang bahkan tak pernah tumbuh sebersit perasaan “memiliki” dan menjalani kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga. Bahkan skenario ini adalah skenario terburuk yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Kejadiannya pun terasa begitu cepat, bapak sakit-sakitan setelah aku menikah dan pergi meninggalkanku selamanya. Kehidupanku? Entahlah. Bahkan aku tak bisa menyebut jenis warna apa yang ada di kehidupanku saat itu. Aku mulai mencoba mengenal dan memahami orang yang kini hidup bersamaku. Hal yang aku tahu tentangnya sejauh ini hanya nama, pekerjaan dan siapa keluarganya. Sifatnya? Karakternya? Kehidupan masa lalunya? Peduli apa. Itu yang terbersit di benakku.

Semenjak kepergian bapak, aku juga mencoba untuk memahami mengapa bapak menggoyahkan tekadku dan mengambil langkah seribu untuk menikahkanku. Dan harapanku, semoga aku tidak diskenariokan sebagai Siti Nurbaya versi kini. Hari itu aku berdiam diri di rumah masa kecilku, tempat aku masih merajut kisah manis bersama bapak dan ibu serta kakak-kakakku. Tanganku pun tergelitik mengenang masa lalu, membuka lembaran-lembaran album dengan foto lawas yang mengembalikan kenangan tempo dulu. Namun, ada kertas yang tak biasa yang terselip di salah satu album itu. Sebuah kertas, dengan tulisan khas bapak yang rapi nan apik lengkap dengan tinta tebal berwarna hitam. Aku tergerak untuk membaca tiap katanya.
............................
.................................................
Aku meneteskan air mata.
***

“Bu....alhamdulillah, doa Ibu dikabulkan. Besok aku diinterview oleh CEO dari kantor pusatnya.”.
“Alhamdulillah.... Begitu anakku semestinya. Berusaha jangan putus, doa selalu jadi kekuatannya. “
“Iya, Bu. Insyaallah... Hmm... Oh iya Bu, tadi aku ketemu Om Boy di kantor, tadi Om mau pergi rapat gitu, mungkin karena buru-buru jadi pas aku sapa gak kedengeran kali ya Bu?Hmm..”
“Oh, mungkin seperti itu. Om –mu sibuk sepertinya.”
“Tapi, Bu.....”
“Tapi kenapa, Nak ?”
“Bukan hanya ke aku sih Bu, waktu itu temen sekantor aku juga nyapa Om Boy malah Om Boy-nya pergi gitu aja, padahal duduk sebelahan. Yah...mungkin Om lagi sibuk juga kali ya Bu ?”
“Hm.....mungkin begitu, Nak.”
“Heheh kok malah jadi ngomongin Om sih?Ya udah aku ganti baju dulu ya Bu”
“Iya, Nak...”
..............................................
“Bu, masalah Ibu, Om Boy, Tante Trisa jangan dibiarin berlarut. Ibu gak salah. Ibu berhak pertahanin rumah warisan Kakek. Kan wasiat Kakek sendiri rumah gak boleh dijual. Tetap menjadi benar terkadang sulit Bu. Tapi, Tuhan Maha Adil, Hakim dari segala hakim yang ada di dunia ini. Ibu tetap mempertahankan ya, Bu. Aku dukung, hehe “
***

Sudah 10 tahun, aku tak ingin membahas rumah masa kecilku. Terlalu perih memang ketika memperebutkan sesuatu padahal hal itu tak sedikit pantas untuk diperebutkan. Bukannya tidak ingin turun “ke medan pertempuran”, tapi terdengar kekanak-kanakan dan menunjukkan sikap maruk yang bahkan Bapak dan Ibu-ku tak pernah mendidik hal itu kepada kami. Namun, ini yang kupertanyakan, kemana Boy sang kakak yang bijak dan dewasa ketika Bapak masih tegak berdiri dan Ibu yang selalu menyanjungnya, yang kini berbalik terlalu haus akan rumah kecil yang bahkan tak sebanding dengan rumahnya kini. Begitu juga Tris, kakak perempuanku yang telah kuanggap sebagai pengganti Ibu, bertindak tenang, kemayu dan bersahaja, namun kini bersikeras ingin menjual rumah ini. Apa yang ada di benak mereka itu yang tak kupaham.
***

...............................................
.
Aku meneteskan air mata.

Surat ini begitu bermakna namun mengguratkan kepedihan yang terkungkung lama dan tak pernah terkuak di rumah masa kecilku ini.

22 Desember 1960
Semuanya lenyap. Entah itu cita-cita, harapan serta asa yang telah jauh bagai membumbung ke langit bagai terhempas ke dasar samudera. Tepat hari ini, perusahaanku bangkrut. Apa yang telah kubangun selama ini begitu saja rubuh tak tersisa. Entah apa yang akan menguatkanku. Inikah balasan dari Sang Kuasa bagi hamba-Nya yang tak pernah melihat ke bawah? Bahkan penyesalan untuk selalu merasa di atas kini hanya sia-sia. Ya, inilah bagian hidupku yang kalang kabut. Sedangkan Ibu dari anak-anakku begitu tenang menghadapi cobaan ini. Ia menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja. Asal punya tekad dan kemauan tentu akan menghasilkan yang diinginkan. Doa pun selalu kupanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Ampuni aku, Kuatkan aku. Berikan kebahagiaan kepada kami, anak-anak kami, dan anak kami yang akan lahir sebentar lagi. Ya, akan kuberi nama Wening, agar senantiasa tetap tenang dalam keadaan apapun. Bahkan duka yang mendera atau halangan yang berdatangan.
Tubuhku tersandar di dinding yang tiba-tiba mendingin. Bahkan aku tak tahu Bapak pernah mengalami kehidupan seperti itu. Tepat pada hari aku akan dilahirkan. Ternyata dibalik aku yang tak mempedulikan kehidupanku yang digoyahkan Bapak pada awalnya dan aku mencoba melewatinya, hingga kini aku berhadapan dengan ego kakak-kakakku yang bahkan aku sendiri tak menganggap ini sebuah masalah yang harus dipusingkan, aku tetap pada pendirianku. Bersikap tenang dan tidak gegabah yang menemani setiap langkahku.
Dan kubaca isi terakhir dari kertas itu....

“Tak putus-putusnya kudoakan anak kami yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini, agar tetap tangguh menghadapi dunia ini, dan menjadi seseorang yang tenang dan bersahaja. Dan semoga kertas ini dibaca oleh anak-anakku  kelak. Berikan seapik mungkin, niscaya hidupmu langgeng, Nak..”
***

“Gimana interviewnya, Nak?”
“Alhamdulillah, berkat do’a Ibu, Makasi ya Bu”

Ia selalu menjawab seperti itu. Pencapaian yang diraihnya tak pernah dibicarakan merinci. Selalu singkat. Sampai suatu ketika ....

“Ibu Ning, saya baru tahu loh dari Bu Mirna, anak Ibu pinter. Padahal anak saya kan deket yang sama anak Ibu. “
“Maksud Bu Alya apa yah?”
“Itu loh, Bumi keterima di 2 perusahaan besar tapi malah masuk ke perusahaan yang di Jakarta saja. Kalo anak saya pasti lebih milih perusahaan Jepang. Duh...sayang ya...”
“Oh kalau itu, pilihan Bumi. Dia merasa belum pantas ke Jepang sepertinya. Dia juga kurang fasih bahasa Jepang. Makanya Bumi lebih milih di Jakarta sesuai kemampuannya nanti kalau sudah dapat pengalaman Bumi mau berencana kesana juga. Doain ya Bu..”

Ya, itulah anakku. Kuberi nama anakku Bumi.

RED

23:23
May 1st 2015



4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Bahasanya renyah, nice talk story. Salam kenal Mbak Red :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, terima kasih sudah mampir dan membaca cerita saya. Terima kasih juga komentarnya :) Salam juga Mba Cahaya :))

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus