Senin, 01 Juni 2015

Jatuh Hati

“Tutur kata, jiwa dan hatimu. Aku bisa jatuh padamu, karena ketiga hal itu. Ya, benar. Kali ini aku tidak hanya merasa cinta, namun hati ini yang jatuh padamu. Ya, aku jatuh hati padamu.“
***
(Intro)

Kami telah saling mengenal sejak 15 tahun yang lalu. Ketika kami masih kanak-kanak, banyak kenangan terukir. Kami menyebut diri kami saudara sehati. Ya, apapun yang kami suka, kami lakukan, kami selalu bersama-sama. Kebahagiaan-nya pun, aku sebut sebagai kebahagiannku. Kami juga menganggap kami saling memiliki. Entah itu waktu, kebersamaan, atau mungkin hati? Mungkin.....Karena selama ini, itulah yang aku rasakan. Aku berjanji untuk menemuinya setelah “adek” (ya, aku memang selalu memanggilnya begitu) selesai kuliah. Jarak kantor dengan kampusnya pun tidak terlalu jauh. Bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Takdir-kah? Selalu berdekatan hingga kini dengannya yang selalu kuanggap keluarga bagiku. Adik kecil-ku.

***

(Verse)

Hari ini aku bahagia! Banyak yang ingin kuceritakan kepadanya. Setiap pertemuan dengannya adalah hal terindah yang patut kutunggu. Sebenarnya hari ini “Aku kuliah kok hari ini” adalah kalimat bual yang kukatakan padanya pagi ini. Aku hanya ingin melihat ia mendatangiku, menghampiriku dan mengajakku pergi. By the way, siapa dia? Mungkin aku sendiri pun tidak mampu mendeskripsikannya lebih konkret. Ya, dia. Cukup dia. Kebanyakan orang ketika ditanya jika ada seseorang yang sedang dekat alias pdkt, pasti menjawab “ Oh, teman kok.” atau “Oh, itu kakak / abang aku kok”. Well, dia benar-benar kakakku! Walaupun bukan sedarah namun, ia kakak sejiwa-ku.

“Kamu kenapa? Cerita sama aku. Aku gak akan ikut campur masalah kamu, yang penting aku tahu kamu punya masalah dan kalau mau aku bantu, itu lebih baik”. Kalimat itu selalu diucapkan kepadaku ketika ekspresi mumet, sumpek, badmood yang tidak bisa kukendalikan. Selain kalimat penenang itu, terkadang dia bisa mengucapkan hal ini ;

“Yaelah, masa’ gitu aja lo udah patah hati sih. Nih yah gue kasih tau. Walaupun dia udah berbuat manis ke elo, bukan berarti dan ga selalu berarti dia suka sama lo. Oke! Camkan dedek bayi! Don’t expect too much, even he’ll give you a big signal. Remember that.

Kalimat tamparan itu sering diucapkannya ketika aku menjadi anak yang lemah akan patah hati atas ketidakpastian dilema asmara. Namun, yang paling aku kagumi dari dia adalah  ketika.....

“Nin, kamu gak sendirian. Ayah udah tenang dan kita harus buat Ayah lebih tenang dan bahagia di sana. Nangis boleh, tapi mulai dari sekarang yuk kita ubah kesulitan jadi kebahagiaan. Setiap masalah ada solusi. Kita harus smart, kita harus kuat. No! Kamu harus kuat! Nina kuat J
Dia vitamin C bagiku. Benar-benar memberikan semangat di setiap hariku. Ketika Ayah satu-satunya orang yang paling kuandalkan, paling melindungiku, meninggalkanku, Dia punya peran besar dalam serial hidupku. Ketika aku kebingungan menentukan masa depan, dia malah sibuk menceritakan mimpi-mimpinya dibanding mendengarkan keluh kesah anak ABG yang tak berkesudahan.

“Gue bakal mendaki 7 gunung, diving setiap bulan, voluntering tiap minggu, apply beasiswa ke luar negeri, bawa nyokap ke Mekkah, dan hmmmm.....”

 Ketika dia berhenti bercerita dan kebingungan ingin menyebutkan impian-impian besarnya, disitulah aku lebih dan lebih mengangguminya. Matanya bersinar. Bak tertimbun berbagai bintang-bintang yang gemerlapan di matanya, siap untuk memancarkan sinarnya yang terang. Dan most of all, impiannya tercapai. Makin kagumlah aku pada dia, lelaki yang kuanggap kakakku. Pelindungku. Inspirasiku.
***

(Bridge)

Aku melewati jalan yang ramai dengan kendaraan yang sibuk siang ini. Entah kenapa kabar ini ingin cepat-cepat kusampaikan kepadanya. Adik kecilku. Aku yakin dia bahagia seperti apa yang kurasakan saat ini. #
Dia datang! Jaraknya tidak begitu jauh dengaku, dan dia menghampiriku. Dia melemparkan senyumannya yang paling sumringah. Paling sumringah di antara senyuman yang lain. Mungkin impian lainnya terwujud? Entahlah. Apapun itu, kebahagiaanku hanya melihatnya saja sudah melampaui batas wajar. Terlalu bahagia.
***
(Chorus)

“Duh sori bikin kamu nunggu lama Nin. Kenapa nunggu disini sih, panas tau”

Senyumannya bagai payung yang meneduhkanku. Seraya tangannya menutupi kepalaku yang memang kepanasan karena terik matahari siang ini.

“Hehe, gak apa-apa Kak. Ntar kalo aku nunggu di dalem, Kakak susah nyari aku-nya. Gedungnya gede kan.”

“Deuh, lagaknya. He’eh deh, yang kuliah di kampus ternama plus gedungnya yang gedongan. Haha.”

“Eh kok tadi aku liat muka Kakak daritadi ga berhenti senyum nih? Hmm curigaaa”

“Eitsss,ketauan yah? Keliatan seneng banget yah?Heheh, iya ini aku mau ngabarin kabar gembira ke adek gueh yang paling bayi. Hahaha”

“Yaudah, kasih tau sekarang dong!! Penasarann ...”

“Ngga disini juga kali. Panas ih, ke kampus kamu aja yuk. Biar adem dikit”

“Sambil jalan deh. Penasaran sumpahhh!!!”

Kami berjalan dengan lambat dan dia mulai mengatakan kabar gembira yang membuatnya tersenyum hari ini.

“Gini loh Nin. Aku pernah cerita kan, ada impian besar yang pengen aku capai, tapi belum kesebut waktu itu”

“Hmmm iyaa inget, terus impiannya apa? Dan kelanjutannya gimana?”

“Nah itu, aku berharap bisa punya pendamping hidup dan bisa nikah sama dia, yang aku harapin.”
Aku berhenti berjalan. Dan berhenti tersenyum.

“Hari ini, aku mau ketemu sama orang tuanya. Ya, akhirnya kami direstuin.”

Aku terdiam. Tidak berjalan, bahkan tidak ada lagi senyuman. Dan menatap kosong ke arahnya.

“Nin, akhirnya aku ga single lagi. Hahahahahaha”

Aku masih terdiam. Terdiam bukan karena kabar yang mengejutkan bagiku dan kabar gembira untuknya. Tapi, aku berusaha melihat kebahagiaan yang tergurat di wajahnya. Di matanya. Inilah impian terbesarnya.

“Wah, selamat Kak. Aku bahagia, tapi aku kecewa sih. Kenapa baru sekarang kakak cerita hal ini ke aku. Padahal itu impian terbesar kakak. Hmmm....kakak gue ga jomblo lagi J

***

(Ending)

Entah apa yang kurasakan. Kabar itu bagai gemuruh yang diikuti dengan petir hebat yang mengguncang langitku. “Aku tidak suka, aku tidak cinta, aku tidak ingin memilikinya” adalah sugesti yang mendadak kuucapkan dalam pikiranku. Namun, benar adanya. Logika sulit mengalahkan perasaan. Seberapa keras pikiran ini berusaha untuk mengajak perasaan keluar dari hal yang tak mungkin kuraih, sekeras itulah perasaan ini bertahan. Tapi, sugesti lainnya yang kuteriakkan pada diriku sendiri adalah “Aku mungkin mencintaimu, tapi aku hanya jatuh hati padamu. Aku hanya jatuh hati padamu. Ya, cukup itu. Namun jatuhnya hatiku padamu luar biasa rasanya. Karena kamu luar biasa J


June, 1st 2015

RED
#NulisRandom2015

  

2 komentar:

  1. Cerita cinta masa kecil ya... tapi ternyata Nin cuma sampai di sister-zone ya. Hehe.
    Semoga Nin cepat menemukan pasangannya juga ya. aamiin ☺
    Ditunggu komentarnya di stoples-cerita.blogspot.com yaaa... 👍
    Salam kenal dan semangat nulis 😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita saya.Hehe iyaa, semoga ya amin.. Salam Kenal juga yaa

      Hapus