“Tutur kata, jiwa
dan hatimu. Aku bisa jatuh padamu, karena ketiga hal itu. Ya, benar. Kali ini
aku tidak hanya merasa cinta, namun hati ini yang jatuh padamu. Ya, aku jatuh
hati padamu.“
(Intro)
Kami telah saling mengenal sejak 15 tahun yang lalu.
Ketika kami masih kanak-kanak, banyak kenangan terukir. Kami menyebut diri kami
saudara sehati. Ya, apapun yang kami suka, kami lakukan, kami selalu
bersama-sama. Kebahagiaan-nya pun, aku sebut sebagai kebahagiannku. Kami juga
menganggap kami saling memiliki. Entah itu waktu, kebersamaan, atau mungkin
hati? Mungkin.....Karena selama ini, itulah yang aku rasakan. Aku berjanji
untuk menemuinya setelah “adek” (ya, aku memang selalu memanggilnya begitu)
selesai kuliah. Jarak kantor dengan kampusnya pun tidak terlalu jauh. Bisa
dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Takdir-kah? Selalu berdekatan hingga kini
dengannya yang selalu kuanggap keluarga bagiku. Adik kecil-ku.
***
(Verse)
Hari ini aku bahagia! Banyak yang ingin kuceritakan
kepadanya. Setiap pertemuan dengannya adalah hal terindah yang patut kutunggu.
Sebenarnya hari ini “Aku kuliah kok hari ini” adalah kalimat bual yang
kukatakan padanya pagi ini. Aku hanya ingin melihat ia mendatangiku,
menghampiriku dan mengajakku pergi. By
the way, siapa dia? Mungkin aku sendiri pun tidak mampu mendeskripsikannya
lebih konkret. Ya, dia. Cukup dia. Kebanyakan orang ketika ditanya jika ada
seseorang yang sedang dekat alias pdkt, pasti menjawab “ Oh, teman kok.” atau “Oh,
itu kakak / abang aku kok”. Well, dia
benar-benar kakakku! Walaupun bukan sedarah namun, ia kakak sejiwa-ku.
“Kamu kenapa? Cerita sama aku. Aku gak akan ikut campur
masalah kamu, yang penting aku tahu kamu punya masalah dan kalau mau aku bantu,
itu lebih baik”. Kalimat itu selalu diucapkan kepadaku ketika ekspresi mumet, sumpek, badmood yang tidak bisa
kukendalikan. Selain kalimat penenang itu, terkadang dia bisa mengucapkan hal
ini ;
“Yaelah, masa’ gitu aja lo udah patah hati sih. Nih yah
gue kasih tau. Walaupun dia udah berbuat manis ke elo, bukan berarti dan ga
selalu berarti dia suka sama lo. Oke! Camkan dedek bayi! Don’t expect too much, even he’ll give you a big signal. Remember that.
“
Kalimat tamparan itu sering diucapkannya ketika aku
menjadi anak yang lemah akan patah hati atas ketidakpastian dilema asmara.
Namun, yang paling aku kagumi dari dia adalah ketika.....
“Nin, kamu gak sendirian. Ayah udah tenang dan kita harus
buat Ayah lebih tenang dan bahagia di sana. Nangis boleh, tapi mulai dari
sekarang yuk kita ubah kesulitan jadi kebahagiaan. Setiap masalah ada solusi.
Kita harus smart, kita harus kuat. No! Kamu harus kuat! Nina kuat J “
Dia vitamin C bagiku. Benar-benar memberikan semangat di
setiap hariku. Ketika Ayah satu-satunya orang yang paling kuandalkan, paling
melindungiku, meninggalkanku, Dia punya peran besar dalam serial hidupku. Ketika
aku kebingungan menentukan masa depan, dia malah sibuk menceritakan
mimpi-mimpinya dibanding mendengarkan keluh kesah anak ABG yang tak berkesudahan.
“Gue bakal mendaki 7 gunung, diving setiap bulan, voluntering
tiap minggu, apply beasiswa ke luar
negeri, bawa nyokap ke Mekkah, dan hmmmm.....”
Ketika dia
berhenti bercerita dan kebingungan ingin menyebutkan impian-impian besarnya,
disitulah aku lebih dan lebih mengangguminya. Matanya bersinar. Bak tertimbun
berbagai bintang-bintang yang gemerlapan di matanya, siap untuk memancarkan
sinarnya yang terang. Dan most of all,
impiannya tercapai. Makin kagumlah aku pada dia, lelaki yang kuanggap kakakku.
Pelindungku. Inspirasiku.
***
(Bridge)
Aku melewati jalan yang ramai dengan kendaraan yang sibuk
siang ini. Entah kenapa kabar ini ingin cepat-cepat kusampaikan kepadanya. Adik
kecilku. Aku yakin dia bahagia seperti apa yang kurasakan saat ini. #
Dia datang! Jaraknya tidak begitu jauh dengaku, dan dia
menghampiriku. Dia melemparkan senyumannya yang paling sumringah. Paling sumringah
di antara senyuman yang lain. Mungkin impian lainnya terwujud? Entahlah. Apapun
itu, kebahagiaanku hanya melihatnya saja sudah melampaui batas wajar. Terlalu
bahagia.
***
(Chorus)
“Duh sori bikin kamu nunggu lama Nin. Kenapa nunggu
disini sih, panas tau”
Senyumannya bagai payung yang meneduhkanku. Seraya
tangannya menutupi kepalaku yang memang kepanasan karena terik matahari siang
ini.
“Hehe, gak apa-apa Kak. Ntar kalo aku nunggu di dalem,
Kakak susah nyari aku-nya. Gedungnya gede kan.”
“Deuh, lagaknya. He’eh deh, yang kuliah di kampus ternama
plus gedungnya yang gedongan. Haha.”
“Eh kok tadi aku liat muka Kakak daritadi ga berhenti
senyum nih? Hmm curigaaa”
“Eitsss,ketauan yah? Keliatan seneng banget yah?Heheh,
iya ini aku mau ngabarin kabar gembira ke adek gueh yang paling bayi. Hahaha”
“Yaudah, kasih tau sekarang dong!! Penasarann ...”
“Ngga disini juga kali. Panas ih, ke kampus kamu aja yuk.
Biar adem dikit”
“Sambil jalan deh. Penasaran sumpahhh!!!”
Kami berjalan dengan lambat dan dia mulai mengatakan
kabar gembira yang membuatnya tersenyum hari ini.
“Gini loh Nin. Aku pernah cerita kan, ada impian besar
yang pengen aku capai, tapi belum kesebut waktu itu”
“Hmmm iyaa inget, terus impiannya apa? Dan kelanjutannya
gimana?”
“Nah itu, aku berharap bisa punya pendamping hidup dan
bisa nikah sama dia, yang aku harapin.”
Aku berhenti berjalan. Dan berhenti tersenyum.
“Hari ini, aku mau ketemu sama orang tuanya. Ya, akhirnya
kami direstuin.”
Aku terdiam. Tidak berjalan, bahkan tidak ada lagi
senyuman. Dan menatap kosong ke arahnya.
“Nin, akhirnya aku ga single
lagi. Hahahahahaha”
Aku masih terdiam. Terdiam bukan karena kabar yang
mengejutkan bagiku dan kabar gembira untuknya. Tapi, aku berusaha melihat
kebahagiaan yang tergurat di wajahnya. Di matanya. Inilah impian terbesarnya.
“Wah, selamat Kak. Aku bahagia, tapi aku kecewa sih.
Kenapa baru sekarang kakak cerita hal ini ke aku. Padahal itu impian terbesar
kakak. Hmmm....kakak gue ga jomblo lagi J “
***
(Ending)
Entah apa yang kurasakan. Kabar itu bagai gemuruh yang
diikuti dengan petir hebat yang mengguncang langitku. “Aku tidak suka, aku
tidak cinta, aku tidak ingin memilikinya” adalah sugesti yang mendadak kuucapkan
dalam pikiranku. Namun, benar adanya. Logika sulit mengalahkan perasaan.
Seberapa keras pikiran ini berusaha untuk mengajak perasaan keluar dari hal
yang tak mungkin kuraih, sekeras itulah perasaan ini bertahan. Tapi, sugesti
lainnya yang kuteriakkan pada diriku sendiri adalah “Aku mungkin mencintaimu,
tapi aku hanya jatuh hati padamu. Aku hanya jatuh hati padamu. Ya, cukup itu.
Namun jatuhnya hatiku padamu luar biasa rasanya. Karena kamu luar biasa J
June, 1st 2015
RED
#NulisRandom2015
Cerita cinta masa kecil ya... tapi ternyata Nin cuma sampai di sister-zone ya. Hehe.
BalasHapusSemoga Nin cepat menemukan pasangannya juga ya. aamiin ☺
Ditunggu komentarnya di stoples-cerita.blogspot.com yaaa... 👍
Salam kenal dan semangat nulis 😉
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita saya.Hehe iyaa, semoga ya amin.. Salam Kenal juga yaa
Hapus