“Kami disebut
serdadu anomali. Menyimpang dari yang asli. Apa salahnya berekspresi?
Setidaknya, kami punya nyali. Berdiri di kaki sendiri.”
***
Aku dilahirkan normal, kata Ibu. Apa yang Ibu ucapkan aku
selalu percaya, tentu saja! Namanya juga Ibu. Tak pernah membohongi darah
dagingnya (sebut saja kebohongan putih). Bahkan fisik ataupun mental, aku yakin
100% aman-aman saja. Namun, tak begitu di pandangan mereka. Ini yang membuat
aku geram. Kejadiannya 14 tahun yang lalu...
“Hen, ayo Bapak antar ke pelatihan di kampung sebelah.
Pencak silatnya terkenal, gurunya juga guru bapak dulu waktu seumur kamu. “
“Ah, enggak mau Pak, aku juga ndak minat ikut itu.”
“ Loh, kamu ini gimana sih, anak laki-laki harus pandai
bela diri. Biar laki”
“Ya kan ga mesti bela diri biar jadi laki, Pak. Pokoknya
aku ndak mau ah Pak.”
Percakapan itu terhenti dengan aksi pembangkangan
kecil-kecilan dariku. Bapak selalu menyerah ketika aku bilang tidak. Alasannya
karena aku anak satu-satunya, ingin menuruti apa mau si-anak. Namun, pertanyaan
yang sama kembali dilontarkan kepadaku seminggu berikutnya, dua minggu
berikutnya, dan bulan-bulan berikutnya. Bagaikan tak lelah mencoba, lagi dan
lagi.
Puncak yang membuat aku geram adalah setelah pilihanku
yang mengubah duniaku secara drastis dramatis, menjadi seorang.................
***
“Hen, kali ini kamu gak usah turunlah. Banyak yang protes
tuh, kamu terlalu jadi center point-nya.
Capek saya diprotes anak-anak yang lain”
“Loh, kenapa saya yang harus ngalah sih Mas? Saya kan
disini sama dengan mereka, punya hak tampil dan udah ada kontraknya juga kan.”
“Ya, kamu kan tahu sendiri, mereka kalo gak suka kamu
terus yang tampil bisa-bisa acaranya diboikot pula”
Benar adanya, pemboikotan terhadapku yang tak bersalah
terjadi sesaat setelah ultimatum yang tidak masuk akal itu. Bukan aku namanya
apabila berhenti karena gertakan macam itu. Hari penampilan pun aku bersikeras
datang, dan tampil. Aku berdiri di atas panggung dan semua rekan-rekanku
menatap dengan tatapan sinis. Begitu juga Mas Yadi. Aku bisa membaca ucapannya
dari tatapannya. “Kamu ngambil langkah yang salah, Hen.” Setelah penampilan aku
turun dari panggung, bergegas untuk bersiap pulang. Tidak ada yang menyapaku.
Tidak seperti penampilan-penampilan sebelumnya, aku yang selalu disalami,
diberi selamat, diberi sorakan gembira
atas penampilan hebat yang mengundang banyak penonton, namun kini auranya
berbeda. Semuanya dingin.
***
“Hen, tadi Yadi dateng ke rumah. Sudah berapa kali Bapak
ingetin kamu kan. Akhirnya begini.”
Ucapan Bapak membuat langkahku menuju kamar terhenti. “Akhirnya
begini?”. Ini bukan akhir, Pak.
“Hendra yakin semuanya bisa kembali seperti semula Pak. Percaya
sama Hendra.”
“Ini Yadi juga nitipin surat ke Bapak. “
Bapak memberikan surat kepadaku. Dengan berbagai macam
tulisan. Mungkin surat protes dari rekan-rekanku? Bahkan aku tidak peduli. Aku
mengambil dan menuju kamar dengan surat yang kugenggam. Ingin rasanya
kuremukkan kertas konyol ini. Entahlah, aku pikir ini surat dari para pengecut
yang tidak pernah ingin menghadapi sebuah peperangan. Hanya bermain di
belakang.
Surat itu benar-benar mengganggu-ku. Mengganggu
ketenangan tidurku malam ini. Kuputuskan menghadapi para pengecut – pengecut itu.
Membuka surat dan
...............................................................
***
Jalanan tampak
sepi. Namun tetap sehangat saat pertama kali aku kesini. Aku melangkah cepat
karena musim dingin yang sudah 5 tahun ini kulatih untuk kutempuh dan kulawan
namun masih merasa kalah akan cekaman dinginnya. Studio latihanku tidak jauh
dari apartemen mungil namun mencukupi semua kebutuhanku. Penampilanku kali ini
adalah penampilan yang ke 125 sebagai Penari Tradisional dari Indonesia yang
aku sendiri selalu dan sampai kini berperan sebagai wanita. Dan luar biasanya,
tidak ada yang protes. Tapi entahlah. Itu yang kurasakan selama disini.
“Hen, ready?”
“Always!"
Aku berdiri di atas panggung, menari dan menari.
Lenggokan tarianku selalu dibarengi dengan riuh tepuk tangan dari seluruh
penonton ini. Lautan orang di gedung opera yang disulap dengan dekorasi Jawa
benar-benar membuatku merinding. Dan, yang paling membuat tangisanku selalu
pecah adalah standing applause,
senyuman puas dari penonton, dan kekaguman yang terpancar dari wajah mereka.
“Woww, your
perfomance are awesome tonight! As always, Bro!”
“Hahaa...Yah,
it’s such a great night with an awesome spectator tonight. Thankyou!”
***
Malam ini kulalui dengan kebahagiaan yang memuncak. Ya,
setiap selesai menyelesaikan performa, setiap it juga senyum itu tersungging di
wajahku. Apartemen yang dilengkapi dengan perapian api menjadi temanku yang
paling hangat. Entah kenapa aku tergelitik untuk membuka kotak yang tergeletak
di ujung kamar. Ah, itu barang-barang yang kubawa dari Indonesia yang tak
sempat dan tak ada minat sama sekali untuk kuberesi bahkan untuk kubuka. Surat
itu. Masih ada di sini. Surat yang hampir mematikan nyaliku. Namun, kujadikan
amunisi bagiku. Untuk maju.
“Hen, Kita tau
lo punya potensi besar. Tapi bukan gini caranya untuk jadi hebat. Lo harus
memikirkan teman-teman lain. Dan lucunya, lo malah menjadi primadona penari
wanita di sanggar kita. Aneh gak sih? Teman-teman kita yang perempuan di sini
bahkan gak habis pikir akan “keserakahan “ lo. Lo ngerti kan maksud gue? Lo tau
kan harus berbuat apa? “
-Yadi
“Mas Hen, aku
gak punya kerjaan lagi. Aku gak tahu harus ngapain. Si mbok sakit terus. Mas
Hen jangan gini terus dong. Kalo Mas Hen yang tampil terus, kita gimana. Oh ya,
Mas Hen kan pria sejati, aku tahu kok.Pertimbangin lagi kalo Mas Hen masih mau
tetap jadi penari wanita di sini. Nasib aku gimana Mas Hen” -Indah
Masih banyak kalimat yang penuh sumpah serampah seperti
itu. Aku bahkan tidak merasa benci kepada mereka. Aku tertawa. Aku menertawakan
mereka yang bahkan tak paham atas kalimat mereka sendiri. Aku mengambil post
card di laci meja kayu. Aku menulis dan berniat untuk membalas kalimat singkat
atas surat 5 tahun yang lalu. Surat dari para pengecut? Hmm, “bukan. Surat dari
Sekelompok Keputusasaan yang tidak tahu kata Berusaha.”
Dear Sanggar Apik
..
Apa kabar
rekan penari semua? Saya harap semua dalam kondisi baik dan tetap optimis
menghadapi hidup. Maaf, saya tidak merespon surat yang 5 tahun lalu Mas Yadi
dan rekan-rekan berikan kepada Bapak. Saya mungkin dicaci maki, dijudge seperti
ini dan itu. Tapi berkat tidak melihat surat 5 tahun lalu ini, saya percaya
bahwa ada makna di balik ini semua. Setidaknya saya tidak menangis darah akan
surat yang diberikan kepada saya dan berangkat ke Inggris untuk mengembangkan
bakat saya. Tapi, syukur alhamdulillah saya berangkat dan memulai semuanya
dengan keteguhan hati saya untuk menjadi seseorang dan bukan karena
kalimat-kalimat rekan-rekan yang luar biasa. Terima Kasih telah menjadi salah
satu pilihan yang ada di antara pilihan yang saya pilih. Dan sekarang, This is
Me. Ini lah saya. Terima Kasih.
Regards,
Mahendara • Sakti
June 2th 2015
RED
#NulisRandom2015 (day 2)
Aku suka ide ceritnya kak, keren ><
BalasHapusWah, terima kasih ya sudah membaca cerita saya :) Terima Kasih juga komentarnya. Salam kenal yaa :))
BalasHapus