Selasa, 02 Juni 2015

ANOMALI MA•SA

“Kami disebut serdadu anomali. Menyimpang dari yang asli. Apa salahnya berekspresi? Setidaknya, kami punya nyali. Berdiri di kaki sendiri.”
***

Aku dilahirkan normal, kata Ibu. Apa yang Ibu ucapkan aku selalu percaya, tentu saja! Namanya juga Ibu. Tak pernah membohongi darah dagingnya (sebut saja kebohongan putih). Bahkan fisik ataupun mental, aku yakin 100% aman-aman saja. Namun, tak begitu di pandangan mereka. Ini yang membuat aku geram. Kejadiannya 14 tahun yang lalu...

“Hen, ayo Bapak antar ke pelatihan di kampung sebelah. Pencak silatnya terkenal, gurunya juga guru bapak dulu waktu seumur kamu. “

“Ah, enggak mau Pak, aku juga ndak minat ikut itu.”

“ Loh, kamu ini gimana sih, anak laki-laki harus pandai bela diri. Biar laki”

“Ya kan ga mesti bela diri biar jadi laki, Pak. Pokoknya aku ndak mau ah Pak.”

Percakapan itu terhenti dengan aksi pembangkangan kecil-kecilan dariku. Bapak selalu menyerah ketika aku bilang tidak. Alasannya karena aku anak satu-satunya, ingin menuruti apa mau si-anak. Namun, pertanyaan yang sama kembali dilontarkan kepadaku seminggu berikutnya, dua minggu berikutnya, dan bulan-bulan berikutnya. Bagaikan tak lelah mencoba, lagi dan lagi.

Puncak yang membuat aku geram adalah setelah pilihanku yang mengubah duniaku secara drastis dramatis, menjadi seorang.................

***

“Hen, kali ini kamu gak usah turunlah. Banyak yang protes tuh, kamu terlalu jadi center point-nya. Capek saya diprotes anak-anak yang lain”

“Loh, kenapa saya yang harus ngalah sih Mas? Saya kan disini sama dengan mereka, punya hak tampil dan udah ada kontraknya juga kan.”

“Ya, kamu kan tahu sendiri, mereka kalo gak suka kamu terus yang tampil bisa-bisa acaranya diboikot pula”

Benar adanya, pemboikotan terhadapku yang tak bersalah terjadi sesaat setelah ultimatum yang tidak masuk akal itu. Bukan aku namanya apabila berhenti karena gertakan macam itu. Hari penampilan pun aku bersikeras datang, dan tampil. Aku berdiri di atas panggung dan semua rekan-rekanku menatap dengan tatapan sinis. Begitu juga Mas Yadi. Aku bisa membaca ucapannya dari tatapannya. “Kamu ngambil langkah yang salah, Hen.” Setelah penampilan aku turun dari panggung, bergegas untuk bersiap pulang. Tidak ada yang menyapaku. Tidak seperti penampilan-penampilan sebelumnya, aku yang selalu disalami, diberi selamat, diberi  sorakan gembira atas penampilan hebat yang mengundang banyak penonton, namun kini auranya berbeda. Semuanya dingin.

***

“Hen, tadi Yadi dateng ke rumah. Sudah berapa kali Bapak ingetin kamu kan. Akhirnya begini.”

Ucapan Bapak membuat langkahku menuju kamar terhenti. “Akhirnya begini?”. Ini bukan akhir, Pak.

“Hendra yakin semuanya bisa kembali seperti semula Pak. Percaya sama Hendra.”

“Ini Yadi juga nitipin surat ke Bapak. “

Bapak memberikan surat kepadaku. Dengan berbagai macam tulisan. Mungkin surat protes dari rekan-rekanku? Bahkan aku tidak peduli. Aku mengambil dan menuju kamar dengan surat yang kugenggam. Ingin rasanya kuremukkan kertas konyol ini. Entahlah, aku pikir ini surat dari para pengecut yang tidak pernah ingin menghadapi sebuah peperangan. Hanya bermain di belakang.
Surat itu benar-benar mengganggu-ku. Mengganggu ketenangan tidurku malam ini. Kuputuskan menghadapi para pengecut – pengecut itu. Membuka surat dan ...............................................................

***
 Jalanan tampak sepi. Namun tetap sehangat saat pertama kali aku kesini. Aku melangkah cepat karena musim dingin yang sudah 5 tahun ini kulatih untuk kutempuh dan kulawan namun masih merasa kalah akan cekaman dinginnya. Studio latihanku tidak jauh dari apartemen mungil namun mencukupi semua kebutuhanku. Penampilanku kali ini adalah penampilan yang ke 125 sebagai Penari Tradisional dari Indonesia yang aku sendiri selalu dan sampai kini berperan sebagai wanita. Dan luar biasanya, tidak ada yang protes. Tapi entahlah. Itu yang kurasakan selama disini.

Hen, ready?”

“Always!"

Aku berdiri di atas panggung, menari dan menari. Lenggokan tarianku selalu dibarengi dengan riuh tepuk tangan dari seluruh penonton ini. Lautan orang di gedung opera yang disulap dengan dekorasi Jawa benar-benar membuatku merinding. Dan, yang paling membuat tangisanku selalu pecah adalah standing applause, senyuman puas dari penonton, dan kekaguman yang terpancar dari wajah mereka.

“Woww, your perfomance are awesome tonight! As always, Bro!”

“Hahaa...Yah, it’s such a great night with an awesome spectator tonight. Thankyou!”

***
Malam ini kulalui dengan kebahagiaan yang memuncak. Ya, setiap selesai menyelesaikan performa, setiap it juga senyum itu tersungging di wajahku. Apartemen yang dilengkapi dengan perapian api menjadi temanku yang paling hangat. Entah kenapa aku tergelitik untuk membuka kotak yang tergeletak di ujung kamar. Ah, itu barang-barang yang kubawa dari Indonesia yang tak sempat dan tak ada minat sama sekali untuk kuberesi bahkan untuk kubuka. Surat itu. Masih ada di sini. Surat yang hampir mematikan nyaliku. Namun, kujadikan amunisi bagiku. Untuk maju.

“Hen, Kita tau lo punya potensi besar. Tapi bukan gini caranya untuk jadi hebat. Lo harus memikirkan teman-teman lain. Dan lucunya, lo malah menjadi primadona penari wanita di sanggar kita. Aneh gak sih? Teman-teman kita yang perempuan di sini bahkan gak habis pikir akan “keserakahan “ lo. Lo ngerti kan maksud gue? Lo tau kan harus berbuat apa? “
-Yadi

“Mas Hen, aku gak punya kerjaan lagi. Aku gak tahu harus ngapain. Si mbok sakit terus. Mas Hen jangan gini terus dong. Kalo Mas Hen yang tampil terus, kita gimana. Oh ya, Mas Hen kan pria sejati, aku tahu kok.Pertimbangin lagi kalo Mas Hen masih mau tetap jadi penari wanita di sini. Nasib aku gimana Mas Hen” -Indah

Masih banyak kalimat yang penuh sumpah serampah seperti itu. Aku bahkan tidak merasa benci kepada mereka. Aku tertawa. Aku menertawakan mereka yang bahkan tak paham atas kalimat mereka sendiri. Aku mengambil post card di laci meja kayu. Aku menulis dan berniat untuk membalas kalimat singkat atas surat 5 tahun yang lalu. Surat dari para pengecut? Hmm, “bukan. Surat dari Sekelompok Keputusasaan yang tidak tahu kata Berusaha.”

Dear Sanggar Apik ..

Apa kabar rekan penari semua? Saya harap semua dalam kondisi baik dan tetap optimis menghadapi hidup. Maaf, saya tidak merespon surat yang 5 tahun lalu Mas Yadi dan rekan-rekan berikan kepada Bapak. Saya mungkin dicaci maki, dijudge seperti ini dan itu. Tapi berkat tidak melihat surat 5 tahun lalu ini, saya percaya bahwa ada makna di balik ini semua. Setidaknya saya tidak menangis darah akan surat yang diberikan kepada saya dan berangkat ke Inggris untuk mengembangkan bakat saya. Tapi, syukur alhamdulillah saya berangkat dan memulai semuanya dengan keteguhan hati saya untuk menjadi seseorang dan bukan karena kalimat-kalimat rekan-rekan yang luar biasa. Terima Kasih telah menjadi salah satu pilihan yang ada di antara pilihan yang saya pilih. Dan sekarang, This is Me. Ini lah saya. Terima Kasih.

Regards,
Mahendara • Sakti







 June 2th 2015

RED

#NulisRandom2015 (day 2)

2 komentar:

  1. Aku suka ide ceritnya kak, keren ><

    BalasHapus
  2. Wah, terima kasih ya sudah membaca cerita saya :) Terima Kasih juga komentarnya. Salam kenal yaa :))

    BalasHapus