“Aku memang
ditakdirkan untuk menunggumu. Setelah peluh ini habis seharian, ingatlah, aku
juga selalu mendoakanmu. Ketika aku lelah, aku hanya perlu bersandar di sini,
mengharapkanmu kembali.”
***
Tangannya yang mulai berkeriput, fisiknyanya kini kian
kurus, rambut yang makin memutih, tak pernah menyurutkannya untuk tetap
beraktivitas seperti saat ia muda dulu. Ia memang tidak muda lagi, tapi
semangatnya untuk bekerja bahkan kalah dari para pemuda. Sebenarnya, hidupnya
berkecukupan. Namun, alasan tidak ingin berdiam saja di hari tua-lah yang
menjadikan ia sebagai pekerja paling tua di pabrik ini. Pekerja di sini juga
kagum padanya. Ketika banyak pekerja yang mulai jatuh sakit karena tergoda
untuk menghisap tembakau, namun ia sudah berpuluh-puluh tahun tetap tak pernah
ingin mencobanya. Sesekali ia membantu pekerja dalam mem-packing linting rokok ini.
“Duh, Pakde. Ndak usah bantuin saya, mending Pakde duduk
saja. Nanti kelelahan.”ucap seorang pekerja kepada Bapak yang biasa dipanggil
Pakde.
“Ah, ndak apa-apa. Saya kalo duduk terus di atas makin
lelah. Jadi enakan kerja bersama di sini. Ya toh?”
“Bener juga sih Pakde. Tapi kan Pakde udah puluhan tahun
juga kerja di bagian ini, masa ndak bosan sih? Hehe”
“Bosan itu kalau dari awal memang tak niat kerja. Kalau
kita niat, ndak ada kata bosan itu. Karena sudah cinta pekerjaan. Wes wes,
lanjut kerja. Nanti habis dari pabrik datang ke rumah saya. Kita makan bersama.”
“Wah serius Pakde? Makan malam gratis ini..Hehe. Matur
Nuwun, Pakde”
“Iya.. Saya ke atas dulu ya.”
***
Ia kembali ke rumah lebih awal. Karena menjanjikan makan
malam dengan pekerja lainnya, persiapan memasak dilakukan segera setelah ia
sampai di rumah. Ia tidak pernah merasa lelah ketika sudah di rumah. Memasak
adalah obat kebahagiaan, baginya. Dalam hitungan 1 jam, masakan telah tersaji
di meja makan yang beralaskan taplak putih berenda. Ia tinggal menunggu para
rekan kerjanya yang lebih muda darinya selesai bekerja. Ia mengganti bajunya
dengan baju koko putih beserta sarung berwarna hijau. Pakaian ternyaman,
baginya. Bangku kayu yang disimpan di belakang pintu kamar diangkat keluar dan
diletakkan di teras rumahnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sana. Memang, jiwanya
tak pernah lelah, karena ia berusaha untuk membahagiakan dirinya. Namun, fisik
tidak mampu membohongi kenyataan. Ia nampak kelelahan. Setiap orang yang lalu
lalang di depan rumahnya yang memang menjadi akses para warga untuk berjalan
kaki, selalu ia sapa dengan nada suara
yang gembira.
“Ningsih, sudah pulang kerja? Hati-hati di jalan, cah ayu”
“Pak Sobri, besok mampir dulu ke rumah Pak. Kita obrolin
tentang pendirian taman baca untuk anak-anak”
“Assalamualaikum, Bu. Ndak berat bawaannya segitu Bu?
Sini saya bantu”
“Banggas sudah pulang dari pesantren? Alhamdulillah..”
“Ayo ayo sudah maghrib, cah bagus, pulang..nanti Ibumu cari”
Begitulah ia selalu menyapa warga sekitar. Suaranya yang
berat dan bersahaja selalu membuat orang merespon bahkan gemar berbincang
sebentar di depan rumahnya. Ia dikenal sebagai orang yang hangat. Walau kini
kelelahan, dia tetap menyapa.
“ Dodo, eh sudah balik dari Jakarta?”
“Eh, Pakde...Alhamdulillah Pakde, tadi sore sampai di
Jakarta terus lanjut naik bus.Pakde sehat?”
“Oh begitu, baguslah, si Mbok pengen ditengokin sama Dodo
katanya. Rindu Mbokmu, De...,Alhamdulillah Do, Pakde sehat. Yowes, Do. Si Mbok
nungguin tuh.Hati-hati cah bagus”
“Iya Pakde, Dodo pamit dulu. Assalamualaikum”
“Waallaikumsallam”
Setelah perbincangan singkat dengan Dodo, ia menyandarkan
kembali tubuhnya. Lalu, rekan kerja pabriknya akhirnya tiba juga.
“Duh, maaf Pakde, kita terlambat, jadi nungguin Pakdenya...Maaf
ya Pakde”
“Udah ndak apa-apa...Saya juga habis ngobrol sama
tetangga. Eh ayok makan, keburu dingin masakannya.”
“Wah, iya Pakde. Matur Nuwun Sanget Pakde.”
Mereka makan dengan lahapnya. Pakde seperti biasa hanya
makan dengan porsi yang sedikit.
“Loh kok Pakde makannya sedikit. Ayo tambah Pakde...”
“Sudah, kalian saja. Kalau habis masak biasanya kenyang
duluan, begitu dalilnya.”
“Pakde yang masak semua ini? Sendiri saja?”
“Iyaa...ini saya yang masak semua. Makanya, habiskan ya.
Mubazir kalau ndak habis”
Setelah makan malam selesai, mereka berbincang di teras
rumah. Pakde duduk di bangkunya, dan para pekerja lainnya duduk di lesehan
rotan panjang di samping Pakde.
“Pakde, maaf kalau saya nanya begini. Aryo belum nengokin
Pakde ya?”
Ketika mendengar kata Aryo, Pakde tersenyum kecil. Ia
terdiam dan mempersiapkan kata-katanya.
“Saya juga masih kuat menunggu, jadi Aryo biarkan saja
mengerjakan pekerjaannya. “
Semua terdiam. Mereka berpamitan pulang setelah
berbincang beberapa saat dengan Pakde. Pakde hanya duduk terdiam setelah
melihat para rekannya berpamitan pulang. Teras rumahnya terasa kosong. Tak ada
lagi suara.
***
7 Juni 1979 ( Pukul 19:04)
“Bapak, janji ya pulang jam 8? Aryo tungguin ya di sini.”
“Iya, bapak janji, Yo.. Oh iya, tunggu nya di bangku ini
aja. Biar hangat. Kalau di rotan nanti sakit badan Aryo. Tunggu bapak
ya...Bapak kerja dulu, Assalamualaikum”
Pukul 22:30
“Duh Yo..Kenapa tidur di sini, Nak? Ayo masuk”
“Loh bapak kenapa baru pulang? Kan janjinya jam 8.
Makanya Aryo tidur di sini, lebih hangat nungguin bapak pulang”
“ Maafin bapak, Nak. Tadi banyak kerjaan. Ayo masuk yuk,
tidur di kamar”
***
7 Juni 2015 ( Pukul 23:30)
Kini tak mengapa ku menunggunya di sini. Ia bahkan juga
begitu. Perihnya, aku sudah berjanji namun tidak ditepati. Beruntungnya aku tak
perlu harus menunggu sampai pada waktu yang telah dijanjikannya. Aku hanya
menunggunya pulang. Ya, hanya menunggunya. Aku tidak menunggu waktu ia pulang.
Aku hanya ingin menunggu kehadirannya, yang sudah 10 tahun tak menginjakkan
kaki di teras rumah ini. Benar kata Aryo, tertidur di bangku kayu ini ternyata lebih
hangat. Bapak akan tidur terlebih dahulu sambil menunggumu pulang ya, Nak...
June, 7th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 7
Enak banget dibacanya... :)
BalasHapus