“Rasanya?
Ingin kuakhiri segalanya. Toh, selama ini sendiri. Namun, bolehkah aku jujur?
Setidaknya satu orang saja bersikeras menahanku untuk tetap, di sini.”
***
Ia mencoba bertahan. Satu bulan, dua bulan, satu tahun,
dan tahun-tahun berikutnya hingga ia beranjak tua. Ia berteriak dalam dirinya
bahwa hidupnya selalu dikungkung dengan keterbatasan. Secara jasmani, ia sehat,
bugar, tak nampak penyakit signifikan yang terlihat dari fisiknya. Ia seharian
mampu berdiam di rumah, tak keluar sama sekali. Bahkan, ia mampu tak berkawan,
tak saling bercakap dengan orang lain. Ia sibuk ber-monolog di sangkarnya. Makhluk
hidup yang diciptakan lebih baik bahkan digadang-gadang lebih baik berkali-kali
lipat dibanding hewan maupun tumbuh-tumbuhan, mampu memeram seperti ayam yang
hendak menjaga telurnya. Ayam pun tak selamanya menelungkup di kandangnya.
Tapi, manusia yang satu ini benar-benar membuat orang lain tidak dapat berpikir
jernih atau menerka-nerka, “Kuat juga orang yang tinggal di sini, batang
hidungnya tak pernah nampak sekali pun.” Sampai-sampai, ada seorang tetangga
yang lewat mengatakan “Orang yang tinggal di sini masih hidup kan?” Miris. Ia
melihat para tetangga yang acap berhenti sejenak memandangi rumahnya. Jendela
adalah teropong hidupnya. Kain gorden berwarna hijau ditutupnya perlahan,
berjaga agar dari luar tak nampak bahwa ia sedang memandangi pemandangan luar
rumah yang dikerumuni oleh tetangga.
***
“Dulu El anak yang riang. El selalu bahagia. Hingga duduk
di bangku SMA, El yang dulu selalu meraih penghargaan dari sekolah. Kemampuan
akademis El tidak diragukan orang tuanya. Mereka yakin kalau El akan kuliah di
universitas ternama impian keluarga mereka.
Awalnya El mampu melewati itu
semua. Pada hari itu tiba, suatu kejadian yang tak pernah dibayangkan El
sebelumnya adalah, hari di mana ujian masuk universitas, El harus menempuh
perjalanan yang cukup jauh.
Ia sendirian. Ia kehausan. Ia mencari toko kecil,
namun tidak ketemu. Ia melihat sebuah supermarket di ujung jalan. Ternyata
letaknya di pemberhentian bus. Ramai sekali, saat itu. Saking ramainya, El
kesulitan menemukan jalan menuju supermarket itu. Setelah berjalan, bertabrakan
dengan bersesakan di antara orang yang cukup penuh pada saat itu, El akhirnya
menemukan supermarket.
Dari kejauhan, El melihat supermarket itu tak kalah
penuh dibanding jalanan yang ia lewati tadi. Ada apa ini? Kenapa hari ini ramai
akan orang? Pertanyaan itu yang muncul di benak El, sesaat ia sampai di depan
pintu supermarket. Pada saat itu, penglihatan El tiba-tiba memburam. Ia pening.
Kakinya tak berdiri stabil. Tangannya mendingin. Tubuhnya seakan hendak
terhempas jatuh.
Apakah El sakit? Padahal tadi pagi ia baik-baik saja, sehat
dan kuat untuk menghadapi perjalanan hari itu. El masuk ke supermarket, membuka
pintu dan pandangannya bagai terbalik. Dadanya sesak. El bagai kesulitan
menghirup oksigen. Namun, El tetap berjalan. Langkahnya melemah, tak mampu
menggerakkan maju kedua kaki nya itu. Tiba-tiba air matanya menetes. Kenapa ia
menangis? El terduduk di keramaian supermarket. Ia menangis sejadi-jadinya.
Meronta ingin keluar dari tempat itu. Seorang bapak menghampirinya. Ia
menenangkan El.
Ia membopong El keluar dari supermarket. El masih menangis,
histeris malah. Ketika hendak dibaringkan oleh bapak yang menolongnya tadi, El
malah melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Orang-orang kebingungan melihat
tingkat El. El keluar dari tempat yang sesak itu.”
“Dan sekarang, El di sini. Terlepas dari kumpulan
keramaian yang menyesakkan.”
Ia menekan tombol “OK” dan menyimpan rekaman monolog yang
berdurasi 5 menit. Ini hari terakhir El merekam kisah hidupnya melalui handy
cam. Mungkin sudah beribu video yang ia rekam dan simpan di handy cam pemberian
Oma nya saat ia duduk di bangku SMP. Dahulu, video yang ada di handy cam
umumnya berisi tempat-tempat wisata yang El kunjungi. Namun, kini tak ada
tempat yang ia kunjungi. Hanya rumah.
***
Aku mengikat tali sepatu sekencang mungkin. Tak ingin
tali sepatu ini merusak perjalanan kecilku. Bukan, ini perjalanan besar bagiku.
Mereka melihatku sembari berbisik. Aku tak ingin mempedulikan mereka. Aku
berjalan menatap lurus ke depan. Tak ingin melihat mereka yang hanya merusak
perjalanan besarku ini. Lumayan jauh, destinasiku. Setelah melihat peta, jarak
rumah dengan jembatan besar di tengah kota biasanya ditempuh 1 jam dengan
kendaraan, mungkin 2 jam dengan berjalan kaki? Entahlah. Yang penting aku
berjalan, hingga sampai.
Udara kali ini sejuk sekali. Sekali ini aku tersenyum
menghirup udara segar seperti ini. Ternyata Tuhan memberikanku kesejukan yang
luar biasa seperti ini. Tidak! Aku harus menyelesaikan semua! Jangan terlena,
El hanya karena udara.
Awan juga cerah. Tak mendung seperti biasanya, seperti
yang selalu aku lihat lewat jendela. Biru, warnanya. Biasanya, aku hanya
melihat langit-langit rumah berwarna coklat legam, hingga menggelapkan
pandanganku. Ternyata Tuhan menciptakan awan sebesar, sejernih dan sebiru yang luar biasa seperti ini. Ah!
Lagi-lagi aku terkagum pada sesuatu yang mampu menghalangi perjalanan besarku.
Setelah berjalan jauh, aku sampai di tujuan. Aku melihat
derasnya air yang melalui jembatan besar ini. Jalanan ramai dengan kendaraan.
Bunyi klakson memecah konsentrasiku.
Sekarangkah waktunya? Apakah kini saatnya?
Karena aku lelah bertahan. Aku mulai mengumpulkan keberanian yang telah
kukumpulkan sejak berminggu-minggu lamanya.
Kini, aku harus mengakhirinya. Aku
mempersiapkan semuanya. Bersiap untuk membuang semuanya. Kenangan, hujatan,
tekanan, kehidupan yang bahkan itu bukan aku. Aku membungkukkan diri agar lebih
mudah mengakhiri semuanya. Namun, tiba-tiba ada tangan yang menahanku. Ia
memelukku erat.
“Jangan, Nak... Kamu gak boleh mengakhiri dengan cara ini”
Ia menangis di punggungku seraya menggenggam tanganku
erat. Ayah? Ini suara Ayah.
“Ayah, ngapain di sini? Ayah ngikutin aku?”
“Iya, Nak...Ayah mohon jangan begini. Ayah minta maaf,
meninggalkanmu di rumah sendirian.”
Ayah menangis dan berlutut di hadapanku. Aku menjatuhkan
tas ke aspal dan meraih Ayah.
“Maksud Ayah apa? Jangan bilang ayah berpikiran kalo aku?
Aku mau lompat dari jembatan ini, itu maksud Ayah?”
“Iya Nak. Kamu jangan lompat, Ayah mohon, Nak...”
Aku tertawa kecil. Melihat Ayah yang benar-benar lemas,
aku meraih tangan Ayah.
“Yah, aku gak akan sebodoh itu. Aku kesini bukan untuk
bunuh diri, Yah. Aku cuma mau....”
Aku menunjukkan tas-ku. Penuh akan barang-barang lama.
“Ini apa, Nak? Kenapa kamu bawa semua buku-buku ini?”
“Aku gak akan berkutat dengan kehidupan lamaku, Yah...Aku
mau jadi El yang baru. Bukan menjadi seorang ilmuwan yang pandai ilmu eksak,
tapi sebagai El yang menjadi seorang seniman. Aku akan melukis hingga nanti,
Yah.”
“Tapi, El...Kamu...”
“Sekarang, aku udah gak apa-apa. Lihat? Aku sekarang
berada di keramaian, dan aku gak pingsan atau pusing. Jadi, Ayah tenang aja.
Aku yakin Ibu pasti setuju kalau aku seperti ini”
“Maafkan Ayah dan Ibu ya, Nak. Ini semua bukan
kesalahanmu, ini salah Ayah yang tidak menjaga dan melindungimu, dulu”
“Jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Yah...Waktu aku
hilang di keramaian dulu, aku juga masih kecil, dan seiring berjalannya waktu, aku
sembuh. Aku harus mampu bertahan di tengah-tengah orang. Yang aku butuhin hanya
satu, jangan tinggalin aku sendiri, sebelum aku ngebahagiain Ayah...Walaupun
Ibu udah gak sama kita lagi di sini, aku berharap Ibu tersenyum melihat kita di
sini. Tetap di sampingku, ya Yah...”
Aku memeluk Ayah erat. Ayah mengelus kepalaku. Seperti
saat kecil dulu. Dan kuharap hingga nanti....
ps : Kisah ini terinspirasi dari sebuah artikel mengenai sebuah
fobia yang disebut "Agorafobia" .
June, 14th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar