Sabtu, 13 Juni 2015

Doa Tak Terbantah

“Dan, ingat, ketika kamu merasa beruntung, berarti doa ibumu didengar, oleh-Nya”

***


Ruangan ini sesak penuh orang. Bagai sejuta bahkan miliaran orang berkumpul di satu tempat, seakan tidak ada tempat lain yang dapat dituju. Aku juga satu dari orang-orang itu. Ini sudah kali ke berapa aku datang ke tempat seperti ini. Terbersit ingin mengetahui bagaimana rupaku apabila menghadapi hal seperti ini. Namun, aku dapat melihat diriku di wajah orang lain. Wajah penuh harapan namun tergurat ketidaksanggupan dan kelelahan yang mendera, tapi tidak ada pilihan lain, selain mencoba, berusaha dan mencoba lagi. Ini hidup yang sesungguhnya. Bukan ketika aku selama 4 tahun bergulat di dunia perkuliahan. Ternyata, itu bukan apa-apa. Kini perjuangan kian terpampang jelas. Antara usaha dan doa berjalan seiringan. Keberuntungan? Entahlah. Mungkin hanya segelintir yang dapat mengecap bagaimana rasa manisnya sebuah ‘keberuntungan’.

***

“Gimana, Nak...?”

“Udah aku apply kok, Bu ke beberapa perusahaan. Semoga kali ini aku dapet panggilan.”

“Ya sudah...makan dulu, lalu istirahat. Seharian ngeliling pasti capek toh?”

“Engga, Bu. Aku mau nyiapin CV untuk job fair hari minggu nanti”

“Jangan dipaksain, kamu istirahat dulu.”

“Udah gak apa-apa Bu. Aku harus dapet kerjaan secepatnya. Mau ditaro di mana muka aku di depan teman-teman yang udah kerja, kalo aku aja masih nganggur sampai sekarang.”

“Nak, usaha memang harus giat, tapi jangan lalai untuk jaga kesehatan. Kalau dipaksakan, nanti kamu sakit.”

“Kok malah didoain sakit sih Bu. Udah deh, aku mau nyiapin CV dulu.”

Agung menuju kamar dan tidak menghiraukan Ibu yang telah menyiapkan makan siang untuknya. Keinginan Agung untuk bekerja memang tidak mungkin ditahan oleh Ibu. Ia  bersyukur ketika Agung diberi semangat dan tekad yang kuat untuk mencari pekerjaan. Namun, Ibu selalu terdiam ketika Agung bahkan tidak mendengar permintaan sederhana Ibu.

Minggu pagi, Agung sudah bersiap untuk ke sebuah auditorium bursa kerja. Ia memang selalu bersemangat, pada awalnya. Ketika pulang ke rumah, wajah lesu selalu terlihat dan mulai mencemaskan Ibu.

“Bu, Agung berangkat dulu.”

“Iya, Gung. Kamu gak sarapan dulu?Ini udah disiapin. Biar kamu gak lemes nanti”

“Ibu kayak gak tau Agung aja, aku gak suka sarapan Bu. Udah ah, Bu. Keburu rame ntar”

“Tapi Gung...”

“Assalamualaikum”

Ibu hanya terdiam di depan pintu melihat Agung pergi. Ia tertegun melihat anaknya yang walaupun sedang kesusahan namun tak pernah mendengarkan ucapannya, sebagai Ibu.

***

“Saya denger, anaknya Bu Ani sudah kerja di perusahaan kredit yang besar itu loh. Wah, dulu pas kuliah dia biasa aja loh. Sama tuh kayak anaknya Bu Amna”

“Iya yah Bu. Padahal mereka rata-rata pas kuliah. Nah, anak Bu Sari malah belum kerja sampai sekarang. Pas kuliah, pinternya minta ampun. “

Agung yang baru pulang dari job fair mendengar percakapan tetangga di sekitar rumahnya.

“Eh udah pulang, Gung?”

“Udah.”

Jawaban Agung singkat, dibarengi dengan wajahnya yang kesal.

“Semoga kali ini lancar ya, Nak”

Agung tidak menjawab.

“Gung, usahamu insyaallah tak kurang, tapi ada yang kurang Nak”

“Apa Bu? Apalagi Bu? Aku udah berusaha untuk dapetin kerja, tolong Ibu ngertiin aku dulu, aku benar-benar capek”

“Kamu berdoa yang banyak. Minta sama Allah, usahamu gak akan sia-sia, Nak”

Agung berlalu tanpa menjawab ucapan Ibunya.

Sudah kali ke berapa Agung tidak mengacuhkan ucapan Ibunya. Ibu hanya bisa terduduk melihat Agung yang selalu tidak menghiraukannya.

***

“Ya Allah, apapun rencana-Mu, aku ikhlas. Apapun hasilnya, jadikanlah anakku menjadi seseorang yang lebih baik, lebih mengingat-Mu. Karena aku yakin Ya Allah, Engkau tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Mu. Berikanlah yang terbaik untuknya, Ya Allah. Amin”

***

“Atas nama Agung Henandar? Ini ada surat”

“ Oh iya, saya Pak...”

Jumat pagi ini cukup cerah. Agung mendapatkan sebuah surat yang tak pernah ia bayangkan.

“Ibuuuuuu......”

“Kenapa teriak-teriak Gung pagi-pagi gini”

“Aku diterima Bu”

“Alhamdulillah, Nak...”

Tangisan Ibu kali ini bahagia. Agung memeluk Ibunya erat.

“Ini semua karena doa Ibu...Terima Kasih Bu...”




June 13th 2015


RED

#NulisRandom2015 day 13



Tidak ada komentar:

Posting Komentar