“Cinta itu
tidak buta. Ia mampu dilihat seseorang yang merasakan, tapi tidak bagi orang
yang tidak melihat dan merasakannya. (jd)”
***
Aku selalu menatapnya dari kejauhan. Bahkan dari kejauhan
saja aku sudah merasa bahagia. Ia berbeda dengan gadis yang lain. Setiap hari
rambutnya ditata dengan beragam bentuk. Dikepang, digerai, atau dikucir hingga
lehernya nya berjenjang nampak dari kejauhan. Kulitnya kuning langsat. Cerah
ketika ia berdiri di bawah sinar matahari. Ia selalu tersenyum merekah ketika
berlari pada jam pelajaran olahraga. Seperti burung bebas lepas terbang ke awan
tertinggi. Ia bukan gadis yang kemayu. Hobinya yang gemar bermain basket,
berlari hingga bersepeda membuat ia menjadi seseorang yang tangguh secara
fisik. Namun, pernah sekali aku melihatnya mengenakan gaun berwarna pink lembut
dengan rambutnya yang disematkan pita putih, mengubahnya menjadi seorang gadis
yang benar-benar sangat kemayu dan manis. Tapi, apapun yang dia kenakan, aku
selalu terpesona dengannya. Walau aku tak pernah tahu namanya.
***
“Halo, ini dengan siapa dan di mana?”
“Ya, haloo... Ini Miranda di sebuah rumah kecil di ujung
kota.”
“Hahaha...Oke Miranda yang tinggal di sebuah rumah kecil
di ujung kota, jadi apa ceritamu hari ini? Ada yang bisa kamu bagikan dengan
pendengar lainnya?”
“Hmm...entahlah, apakah ini sebuah cerita yang harus aku
bagikan, tapi ya, aku mengalami hari yang menyenangkan dan menyedihkan hari ini.”
“Oh iya? Wah, kenapa bisa merasakan dua hal sekaligus,
dan kalau kamu berkenan, mungkin salah satu cerita bisa kamu bagikan dengan
kita malam ini?”
“Yaa...mungkin itulah aku, ketika tertawa bisa menangis
kemudian. Hmm...hari ini aku menjadi lebih kuat. Kuat berlari, berlari dan
berlari. Bahkan pulang dari sekolah aku berlari. Aku bahagia kini aku bisa
berlari lebih kencang. Ketika melewati sebuah pabrik, langkahku terhenti.
Melihat ia dimaki, diteriaki, aku menangis. Aku menariknya keluar dari tempat
itu. Tapi, ia malah mendorongku hingga aku tersungkur. Dia malah mengatakan “Jangan
pernah ke sini. Ibu sudah susah, jangan bikin Ibu tambah susah. Pulang!”,
teriakannya membuat tangisku pecah. Yang bisa aku lakukan adalah menghapus air
mataku dan mengatakan “Iya, Bu. Ibu yang kuat. Aku menunggu di rumah ya, Bu”.
Begitulah dua cerita yang menyenangkan sekaligus menyedihkan yang aku alami
hari ini.”
“Oh...jadi kamu hari ini sudah lebih baikan kan?”
“Ya...lumayan...”
“Oke, kalau begitu, untuk membuat kamu lebih baik lagi,
kamu boleh request lagu yang kamu suka”
....................................
“Haloo... Miranda?Kamu masih di sana kan? Halooo”
Teleponnya terputus. Miranda menutup telepon terlebih
dahulu seperti biasa.
“Haloo.... Ini dengan siapa dimana?”
“Halo, ini dengan Banggas di sebuah rumah yang cukup
nyaman.”
“Oke, ini dari Banggas yang tinggal di rumah yang cukup
nyaman...Mungkin Banggas pernah ke sebuah rumah kecil di ujung kota?”
“Memangnya siapa yang tinggal di sana?Haha, bahkan aku
tidak pernah ke sana”
“Namanya Miranda, penelpon yang selalu menutup teleponnya
sebelum ia menyebutkan lagu yang ingin ia dengarkan.”
“Ah, yang tadi mengalami dua cerita sekaligus?Aku merasa
prihatin dengan dia, tapi dia perempuan yang tangguh, sepertinya.”
“Dari mana kamu tahu dia wanita yang tangguh? “
“Ia tetap menuruti apa kata Ibu nya bahkan ketika ia
tersungkur jatuh. Dan aku yakin dia mengucapkannya sambil tersenyum.”
“Oke...bisa juga..Mungkin kamu bisa memilihkan lagu
untuknya, setidaknya membuat ia bahagia setelah mendengar ini?”
“Entahlah, aku tidak tahu harus memilihkan lagu apa, atau
lagu instrument “A Shadow of Your Smile” mungkin cocok ?”
“Oke, boleh. Jadi lagu ini untuk siapa?”
“Miranda...”
***
Hari ini aku tahu namanya. Setelah 2 tahun menatapnya
dari kejauhan, akhirnya aku yakin kalau namanya Miranda. Ia gemar berlari, sama
dengan Miranda yang kudengar lewat radio itu. Suaranya lembut dan dalam namun
penuh semangat yang tersimpan. Suara itu sama terdengar dengan suaranya ketika
berbincang di lapangan olahraga. Ya, aku yakin dia Miranda yang kukagumi,
bahkan kucintai?
Mungkin, perkenalanku dengannya tidak bisa disebut
sebagai ”perkenalan”. Namun, aku sudah senang tahu siapa namanya, dan perasaan
ini makin lama, bertumbuh.
***
June 15th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar