“Karena yang
telah berusaha pada akhirnya tersakiti. Dan, menyesal-lah kini menjadi yang
menyapa, karena yang disapa belum tentu tetap ada atau bahkan setia.”
***
Menjadi pertama mungkin meninggalkan berjuta kenangan.
Pertama yang menghampiri, pertama yang mengenalkan diri, pertama yang memulai
segalanya. Situasi sederhana, ketika menulis pesan untuk seorang kawan karena
ada keperluan, sapa-lah ia. Lalu pada akhirnya ia meninggalkan percakapan
terlebih dahulu, dan tinggallah seorang diri, sebagai “penyapa pertama”. Ini
bukan soal yang lebih dulu memulai. Ini tentang siapa yang pada awalnya
berusaha, namun usaha itu perlu timbal balik yang setimpal. Mungkin ketika kata
“Hai” terucap, maka tak akan ada salahnya mengucapkan “Hai” kembali. Namun,
lucunya, seorang kawan mengucapkan “Hai” bukan pada jumpa pertama, tetapi......
***
“Kok aku lelah ya lama-lama minum ini semua? Aku udah
rajin olahraga, tapi rasanya masih sesak”
Ini bukan pertama kali May mengeluh. Ia hanya butuh waktu
2 jam saja untuk tidak mengeluh. Dua puluh dua jam sisanya? Digunakan untuk
berkeluh kesah. Entah itu kebanyakan obat-lah, makanan yang gizinya tak
terpenuhi-lah, olahraga yang tidak menghasilkan-lah, dan hal-hal lain bahkan
orang lain pun sebenarnya melihat perbedaan yang terjadi pada May. Sikap
seperti ini yang menyebabkan ia dijauhi teman-teman yang selalu dekat dengannya
lalu kini menjauh.
Haryo hanya bisa berdiri di depan pintu kamar May. Ia tak
pernah masuk. Mengetuk pintu saja belum pernah ia lakukan selama May dirawat di
rumah sakit. Walaupun mereka satu sekolah bahkan di kelas yang sama, Haryo dan
May tidak pernah berbicara. Bahkan satu kata pun. Haryo orang yang pendiam,
selalu menyendiri sedangkan May yang tidak ingin berbaur dengan orang pendiam
meskipun May cukup populer di sekolah. Sudah 3 bulan May dirawat, dan entah
kenapa Haryo menjenguk May. Maka, setiap ia datang ke rumah sakit, ia hanya
bisa berdiri di depan pintu kamar May.
***
“Nak? Kenapa berdiri di sini? Kamu temannya May?”
Seorang wanita paruh baya bertanya padaku. Aku bingung
harus menjawab apa. Jika kujawab ya, berarti aku harus masuk ruangan ini berkat
ibu ini. Tapi jika kujawab tidak, sebenarnya lebih aman. Tapi tidak masuk akal,
karena di lorong ini hanya ada kamar May.
“Hmm...iya Bu. Saya satu kelas dengan May.”
Oke. Habislah aku. Kenapa dijawab, Yo!
“Oh...ayo masuk. Mungkin May udah bangun.”
Aku berdiri kaku. Pertanyaan berikutnya, kalaupun aku
masuk, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kutanyakan? Sedangkan selama
ini saja aku tidak pernah berbicara dengannya.
“Ayo masuk, Nak”
“Ah, iya Bu...”
May sedang berbaring di sebuah tempat tidur yang cukup
besar untuk seorang pasien. Bisa kutebak, ini kamar VVIP. Ya, tidak heran, May
seorang anak dari keluarga yang ber-ada. Aku masih berdiri kebingungan. Kuputuskan
untuk berdiri menjauh.
“May, kamu masih tidur? Obatnya udah diminum?”
“Belum Ma...Kalau aku minum obat, aku tidur terus.
Sekarang juga udah pusing nih kalo aku minum obat.”
“Eh, diminum dong. Kalau istrihat kan makin bagus, May.
Ayo diminum”
“Udah nanti aja”
“Yaudah, nanti Mama suapin ya. Eh ini ada teman sekolah
kamu, katanya sekelas sama kamu juga.”
“Siapa? “
“Duh, Mama lupa nanya namanya, tapi itu udah masuk tuh.
Gak apa-apa kalau disuruh masuk kan?”
“Yaudah suruh masuk aja Ma”
Aku berjalan perlahan. Sambil memikirkan apa kata pertama
yang harus dilakukan. Jarakku makin dekat dengan May. Ia kebingungan. Wajahnya
tergurat jelas, mungkinkah dia lupa siapa aku? Bahkan aku tak pantas disebut
seorang teman, karena kami pun tak pernah berinteraksi selayaknya teman.
May menatapku diam. Mamanya meninggalkan kami berdua.
Keadaan kami dingin. Aku mencoba menyebutkan satu kata untuk memecahkan
keheningan.
Satu menit, dua menit dan menit kelima, aku memberanikan
diri.
“Hai”
May masih terdiam. Ia benar-benar diam. Matanya yang
memang sipit, makin terlihat tertutup karena efek obat yang katanya membuat
kantuk.
Aku mengulang sapaanku. Mungkin tidak terdengar oleh May.
“Hai...”
May tetap tidak merespon.
“May?”
Pikiranku berkecamuk. Ia tidak menjawab. Aku
mendekatinya. Ingin kupegang tangannya untuk memastikan dia baik-baik saja.
“May??”
May tidak bergerak. Masih bernafaskah dia?
Aku mencoba memegang nadinya. Mengecek nafasnya dari
hidung. Tak ada denyut nadi. Tak ada nafas yang berhembus.
“May?”
Aku berlari ke luar, memanggil dokter. May tidak mungkin
pergi, secepat ini.
***
Kami sudah menjadi teman sekelas sejak bangku sekolah
dasar. Aku memang selalu sendiri. Tak pernah berteman di sekolah. Namun,
pergaulanku di luar sekolah cukup luas. May terkenal baik di sekolah maupun di
luar sekolah. Ketika di sekolah, aku merasa tidak nyaman. Sendiri adalah
pilihan yang baik.
Tapi adakalanya aku ingin berteman di sekolah. Dan, May yang
selalu menghampiriku. Ia kadang menulis pesan untukku. “Mau makan siang bareng
gak?” Atau, “Tugas kelompok nanti mau bareng aku gak?”.
Dan aku tak pernah menjawab pesannya. Ia manis, cantik,
dan cerdas. Ia supel. Ia idola. Sedangkan untuk dekat dengannya, haruslah
menjadi seseorang terlebih dahulu di sekolah, baru-lah bisa dekat dengan May.
Maka, kuputuskan untuk menjauh dari May, karena aku tak pernah ingin berusaha.
Melihat dari jauh pun cukup.
Kini, aku bisa melihatnya dari dekat. Walau aku hanya
bisa ber-monolog, tapi tak mengapa. Dulu, aku yang tak pernah membalas
ucapannya, pertanyaannya. Sekarang, aku harus merasakan apa yang May rasakan. Aku
menabur bunga mawar di atas makamnya. Meletekkan satu tangkai mawar di atas
nisannya.
“Hai, May”
“Hai, senang rasanya bisa menyapa melalui ucapan, melalui
suara. Kamu gak perlu bales sapaan aku. Aku yakin kamu udah cukup bahagia di
sana. Gak perlu minum obat yang bikin kamu ngantuk terus. Hm...Kita teman, kan?”
June, 21th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar